Bacaan Sholawat Nariyah Lengkap Arab Latin dan Artinya, Amalan Pembuka Pintu Kemudahan

5 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Sholawat Nariyah menempati posisi istimewa sebagai bacaan yang dipercaya mampu menjadi wasilah pembuka kemudahan dan pelepas segala kesulitan. Sholawat ini begitu populer di kalangan masyarakat, terutama ketika menghadapi problem hidup yang terasa sulit dipecahkan, karena di dalamnya terkandung doa yang komprehensif memohon pertolongan Allah SWT.

Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk bersholawat dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab [33]: 56).

Keutamaan sholawat dijanjikan langsung oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya: “Barang siapa yang bersholawat kepadaku sekali, maka Allah akan bersholawat kepadanya sepuluh kali.” (HR Muslim). Dalam riwayat lain, beliau bersabda: “Siapa membaca shalawat untukku, Allah akan membalasnya 10 kebaikan, diampuni 10 dosanya, dan ditambah 10 derajat baginya.”. Inilah keutamaan dasar yang melekat pada setiap bacaan sholawat, termasuk Sholawat Nariyah.

Mahmud Sami dalam kitab 70 Shalawat Pilihan menjelaskan bahwa sholawat pada hakikatnya adalah bentuk pengagungan kepada Nabi sekaligus pengakuan atas kedudukan beliau di sisi Allah. Sementara itu, Muhammad Taufiq Ali Yahya dalam 1001 Shalawat menempatkan Sholawat Nariyah sebagai salah satu sholawat yang paling populer dan banyak diamalkan karena fadhilahnya yang luar biasa.

Bacaan Sholawat Nariyah: Arab, Latin, dan Artinya

Perlu diketahui bahwa Sholawat Nariyah termasuk sholawat ghairu ma'tsurah yang disusun oleh ulama. Para ulama sepakat bahwa selama kandungannya adalah pujian kepada Nabi dan doa kebaikan, hukumnya boleh dan dianjurkan. Tidak ada larangan untuk mengamalkannya, sebagaimana telah diamalkan oleh para salafus saleh baik di Nusantara maupun di mancanegara.

Berikut adalah bacaan Sholawat Nariyah yang lengkap dengan tulisan Arab, latin, dan terjemahannya sebagaimana diriwayatkan dalam berbagai sumber.

Teks Arab: اَللّٰهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَــمَّدِ ࣙالَّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضٰى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلىٰ اٰلِهِ وِصَحْبِهِ فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَ نَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

Latin: Allâhumma shalli shalâtan kâmilatan wa sallim salâman tâmman 'alâ sayyidinâ Muḫammadinil-ladzî tanḫallu bihil-'uqadu wa tanfariju bihil-kurabu wa tuqḍâ bihil-ḫawâiju wa tunâlu bihir-raghâ'ibu wa ḫusnul-khawâtimi wa yustasqal-ghamâmu biwajhihil-karîmi wa 'alâ âlihi wa shaḫbihi fî kulli lamḫatin wa nafasin bi'adadi kulli ma'lûmilak(a).

Artinya: "Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat dirinya yang mulia hujan pun turun, dan semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau."

Kandungan Makna Mendalam Sholawat Nariyah

Sholawat Nariyah mengandung makna yang sangat dalam dan mencakup berbagai aspek kehidupan. Setiap frasa dalam sholawat ini memiliki pesan spiritual yang kuat.

1. "Shalâtan kâmilatan" (Shalawat yang Sempurna)

Ini adalah permohonan agar shalawat yang dipanjatkan kepada Nabi Muhammad SAW diberikan dalam bentuk yang paling sempurna, tanpa kekurangan. Kesempurnaan ini mencakup redaksi, waktu, dan penerimaan di sisi Allah SWT.

2. "Tanhallu bihil-'uqad" (Dengan sebab beliau semua kesulitan terpecahkan)

Frasa ini mengandung keyakinan bahwa Allah SWT akan memberikan jalan keluar dari segala permasalahan hidup melalui keberkahan Nabi Muhammad SAW. Ini adalah inti dari sholawat ini sebagai sholawat pelepas kesulitan atau tafrijiyah.

3. "Tanfariju bihil-kurab" (Dengan sebab beliau semua kesusahan dilenyapkan)

Sholawat ini menjadi doa agar segala bentuk kesedihan, kegelisahan, dan penderitaan hati dapat dihilangkan oleh Allah SWT.

4. "Tuqḍâ bihil-ḫawâij" (Dengan sebab beliau semua keperluan terpenuhi)

Ini adalah permohonan agar segala hajat dan kebutuhan, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi, dapat dikabulkan oleh Allah SWT.

5. "Tunâlu bihir-raghâ'ib wa ḫusnul-khawâtim" (Dengan sebab beliau semua yang didambakan dan husnul khatimah dapat diraih)

Frasa ini menggabungkan permohonan tercapainya segala keinginan dan harapan, serta permohonan agar diakhiri dengan kebaikan (husnul khatimah)—sebuah doa yang sangat mendalam bagi setiap Muslim.

6. "Yustasqal-ghamâmu biwajhihil-karîm" (Berkat dirinya yang mulia hujan pun turun)

Ini adalah pengakuan bahwa keberkahan Nabi Muhammad SAW sangat luas, bahkan hingga dapat menjadi sebab turunnya rahmat Allah berupa hujan bagi seluruh makhluk.

7. "Fî kulli lamḥatin wa nafasin bi'adadi kulli ma'lûmilak" (Di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan yang Engkau ketahui)

Bagian ini menunjukkan bahwa sholawat ini dipanjatkan secara terus-menerus dan tanpa batas, sebanyak pengetahuan Allah yang tak terhingga.

Riwayat Sholawat Nariyah

Pengarang Shalawat Nariyah adalah Syekh Ibrahim bin Muhammad bin Ali at-Tazi (wafat 866 H), seorang ulama sufi asal Kota Taza, Maroko. Di negeri asalnya, amalan ini juga sering disebut sebagai Shalawat Taziyah, sedangkan sebagian kitab sufi menamainya Shalawat Tafrijiyah.

Syekh Ibrahim at-Tazi hidup pada abad ke-9 Hijriah / ke-15 Masehi. Beliau dikenal sebagai seorang waliyullah yang memiliki kedalaman ilmu agama.

Sebagian masyarakat sempat keliru mengira pengarangnya adalah sesosok "Syekh Nariyah" atau sahabat nabi. Namun, sejarawan dan riset ilmiah menegaskan bahwa nama "Nariyah" berasal dari perubahan kata (tashif) dari nama kota asalnya, Taza (At-Tazi).

Kata Nariyah juga diartikan sebagai api karena doa ini dinilai cepat (mustajab) dalam mengabulkan hajat atau membakar kesulitan, bagaikan api yang cepat membakar.

Dalam kitab Khazinatul Asrar karya Sayyid Muhammad Haqqi An-Nazili dijelaskan, salah satu shalawat yang mustajab ialah shalawat Tafrijiyah Qurthubiyah, yang disebut orang Maroko dengan shalawat Nariyah karena jika mereka (umat Islam) mengharapkan apa yang dicita-citakan, atau ingin menolak yang tidak disukai, mereka berkumpul dalam satu majelis untuk membaca shalawat Nariyah ini sebanyak 4.444 kali, tercapailah apa yang dikehendaki dengan cepat (bi idznillah).

Fadhilah Sholawat Nariyah

1. Mendapatkan Jalan Keluar dari Setiap Permasalahan

Sholawat Nariyah dikenal sebagai sholawat tafrijiyah yang secara khusus berfungsi sebagai pelepas kesulitan. Orang yang mengamalkannya dengan istiqamah akan mendapatkan jalan keluar dari setiap permasalahan hidup. Imam Al-Qurthubi menyatakan bahwa barangsiapa membaca sholawat ini setiap hari sebanyak 41 kali atau 100 kali, Allah akan melapangkan kesulitannya dan memudahkan urusannya.

2. Melancarkan Rezeki yang Tidak Pernah Putus

Salah satu fadhilah paling terkenal dari sholawat ini adalah kemampuannya membuka pintu rezeki. Imam Ad-Dainuri sebagaimana dikutip dalam kitab Khazinatul Asrar menjelaskan: “Siapa membaca shalawat ini sehabis shalat (Fardhu) 11 kali digunakan sebagai wiridan maka rezekinya tidak akan putus, di samping mendapatkan pangkat kedudukan dan tingkatan orang kaya.”. Imam As-Sanusy juga menyatakan bahwa seakan-akan rezeki pembacanya turun langsung dari langit dan dikeluarkan oleh bumi.

3. Dijauhkan dari Segala Kejahatan dan Bencana

Sholawat Nariyah menjadi perisai spiritual yang melindungi pembacanya dari berbagai kejahatan, musibah, dan malapetaka. Dalam buku 70 Shalawat Pilihan karya Ustadz Mahmud Sami, dijelaskan bahwa sholawat yang dibaca dengan hati yang hadir dan penuh pengagungan akan menjadi benteng dari segala marabahaya.

4. Doa dan Hajat Dikabulkan dengan Cepat

Keistimewaan utama sholawat ini adalah kecepatan ijabah (terkabulnya doa). Dinamakan Nariyah (api) karena sifatnya yang seperti api—jika dibaca untuk suatu hajat, maka hajat itu akan cepat sekali terkabul. Jika umat Islam mengharapkan apa yang dicita-citakan atau ingin menolak yang tidak disukai, mereka berkumpul dalam satu majelis untuk membaca sholawat ini sebanyak 4.444 kali, maka apa yang dikehendaki akan tercapai dengan cepat.

5. Mendapat Syafaat dan Kedudukan Mulia

Secara umum, membaca sholawat kepada Rasulullah SAW akan mendatangkan syafaat di akhirat kelak dan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Ini adalah keutamaan yang melekat pada setiap sholawat yang dilantunkan dengan ikhlas.

Panduan Pengamalan Sholawat Nariyah

1. Jumlah dan Waktu Bacaan

Sholawat Nariyah dapat diamalkan dalam berbagai jumlah dan waktu, tergantung pada kebutuhan dan kondisi masing-masing. Dianjurkan membaca sholawat Nariyah 11 kali setiap selesai salat fardhu. Imam Ad-Dainuri menyatakan bahwa amalan ini akan menjadikan rezeki tidak pernah putus dan mengangkat kedudukan pembacanya.

Imam Al-Qurthubi juga menganjurkan membaca sebanyak 41 kali atau 100 kali setiap hari untuk melapangkan kesulitan.

Jika memiliki hajat yang mendesak atau ingin menolak bala, dianjurkan membaca sholawat Nariyah 4.444 kali dalam satu majelis. Ini adalah amalan yang disebutkan dalam kitab Khazinatul Asrar sebagai cara untuk mencapai apa yang dikehendaki dengan cepat.

Ada juga yang mengamalkannya sebanyak 313 kali (jumlah perjalanan para rasul) atau 1.000 kali untuk hajat tertentu.

2. Waktu Terbaik

Waktu terbaik untuk mengamalkan Sholawat Nariyah adalah:

• Setelah salat fardhu, terutama setelah salat Subuh dan Maghrib, sebagai wirid harian.

• Pada malam hari, terutama pada sepertiga malam terakhir, saat doa lebih mustajab.

• Pada hari Jumat, karena hari Jumat adalah penghulu segala hari dan sholawat di dalamnya memiliki keutamaan yang berlipat.

• Saat menghadapi kesulitan, kapan pun dan di mana pun, sebagai bentuk permohonan pertolongan Allah.

3. Tata Cara dan Niat

Dalam mengamalkan Sholawat Nariyah, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:

• Niat yang ikhlas: Membaca sholawat semata-mata karena Allah dan sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW.

• Kekhusyukan: Membaca dengan penuh penghayatan dan pemahaman akan makna yang terkandung di dalamnya.

• Konsistensi: Mengamalkannya secara rutin dan istiqamah, karena amalan yang sedikit namun terus-menerus lebih baik daripada amalan banyak namun hanya sesekali.

• Tawassul: Setelah membaca sholawat, dianjurkan untuk berdoa memohon hajat kepada Allah dengan bertawassul melalui Nabi Muhammad SAW.

Pertanyaan Seputar Sholawat Nariyah

1. Apa itu Sholawat Nariyah dan siapa yang menyusunnya?

Sholawat Nariyah adalah sholawat yang disusun oleh Syekh Nariyah, seorang sahabat Nabi yang hidup pada zaman Rasulullah SAW. Sholawat ini juga dikenal dengan nama Shalawat Tafrijiyah, Kamilah, dan Taziyah, serta sangat populer sebagai amalan pelepas kesulitan dan pembuka rezeki.

2. Mengapa sholawat ini dinamakan “Nariyah”?

Dinamakan Nariyah—dari kata nār yang berarti api—karena dua alasan: pertama, sholawat ini menjadi wasilah untuk memadamkan api fitnah, dan kedua, sifatnya yang seperti api yaitu jika dibaca untuk suatu hajat, maka hajat itu akan cepat sekali terkabul.

3. Berapa kali sebaiknya membaca Sholawat Nariyah untuk hajat tertentu?

Untuk wirid harian, dianjurkan 11 kali setiap selesai salat fardhu. Imam Al-Qurthubi menganjurkan 41 atau 100 kali sehari. Untuk hajat yang mendesak, dianjurkan 4.444 kali dalam satu majelis, atau 313 kali, atau 1.000 kali sesuai kebutuhan.

4. Apa keutamaan terbesar dari Sholawat Nariyah?

Keutamaan terbesarnya adalah sebagai sholawat tafrijiyah yang secara khusus berfungsi sebagai pelepas kesulitan, pembuka rezeki yang tidak pernah putus, dan doa yang cepat dikabulkan. Imam Ad-Dainuri menyatakan bahwa rezeki pembacanya tidak akan putus dan akan mendapatkan pangkat kedudukan yang tinggi.

5. Apakah Sholawat Nariyah termasuk bid’ah?

Tidak. Sholawat Nariyah termasuk sholawat ghairu ma'tsurah yang disusun oleh ulama dan tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan syariat. Para ulama besar seperti Imam Al-Qurthubi, Imam As-Sanusy, dan Sayyid Muhammad Haqqi An-Nazili telah mengamalkan dan mengajarkan sholawat ini.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |