Bacaan Surat Al-Qashash Ayat 24 Lengkap, Doa Nabi Musa Memohon Kebaikan dan Hikmahnya

5 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Surat Al-Qashash ayat 24 merupakan salah satu ayat yang paling masyhur dalam Al-Qur'an, memuat doa yang dipanjatkan Nabi Musa AS saat berada dalam kondisi paling rentan: kelelahan, kelaparan, dan jauh dari kampung halaman. Ayat ini kerap menjadi rujukan umat Islam ketika menghadapi kesulitan hidup, terutama dalam hal rezeki dan jodoh.

Dalam kajian tafsir klasik, ayat ini menjadi salah satu fragmen penting dari rangkaian kisah Nabi Musa yang oleh Imam Ahmad bin Muhammad al-Sawi bahkan disebut sebagai ‘Surat Musa’ karena memuat kehidupan Nabi Musa sejak kecil hingga dewasa.

Dalam kitab Hasyiyah al-Sawi 'ala Tafsir al-Jalalain, al-Sawi menjelaskan ayat ini dengan pendekatan analitis yang kaya akan tinjauan bahasa, fikih, nahwu, saraf, dan ragam qira'at. Al-Sawi, yang merupakan ulama bermazhab Maliki dan tokoh sufi Khalwatiyyah asal Mesir, menafsirkan ayat ini bukan sekadar doa, melainkan sebagai cermin akhlak mulia seorang nabi yang tetap menjaga adab kepada Allah meskipun berada di puncak kesulitan.

Kandungan ayat ini menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan konteks sosial saat ini. Banyak umat Islam yang menjadikan doa Nabi Musa sebagai amalan untuk memohon jodoh, rezeki, dan pekerjaan.

Namun, para ulama mengingatkan bahwa esensi doa ini bukanlah sekadar permintaan, melainkan pengakuan akan kebutuhan kepada Allah. Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah bacaan, tafsir, kandungan, asbabun nuzul, dan hikmah dari Surat Al-Qashash ayat 24.

Bacaan Surat Al-Qashash Ayat 24

Arab: فَسَقٰى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلّٰىٓ اِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ اِنِّيْ لِمَآ اَنْزَلْتَ اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ ٢٤

Latin: Fa saqā lahumā ṡumma tawallā ilaẓ-ẓilli fa qāla rabbi innī limā anzalta ilayya min khairin faqīr

Artinya: "Maka, dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua perempuan itu. Dia kemudian berpindah ke tempat yang teduh, lalu berdoa, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan (rezeki) yang Engkau turunkan kepadaku.'"

Tafsir Surat Al-Qashash Ayat 24

Ayat ini menceritakan kelanjutan perjalanan Nabi Musa setelah melarikan diri dari Mesir. Ia tiba di Madyan dan menjumpai sumber air yang dipadati para penggembala. Di belakang kerumunan itu, ia melihat dua perempuan yang menghambat ternaknya agar tidak bergabung dengan kambing penggembala lain. Kedua perempuan itu adalah putri Nabi Syu'aib.

Nabi Musa, yang saat itu dalam kondisi sangat lapar dan kelelahan, tetap bergegas menolong keduanya. Ia mengangkat batu besar penutup sumur yang biasanya hanya dapat diangkat oleh sepuluh orang, lalu memberi minum ternak kedua perempuan itu.

Setelah selesai menolong, Nabi Musa tidak mengharapkan imbalan apa pun. Ia berlalu dan berteduh di bawah pohon. Dalam kondisi fisik yang lemah dan perut yang kosong—konon ia belum makan selama tujuh hari, Nabi Musa tidak mengeluh atau meminta pertolongan kepada manusia. Sebaliknya, ia menengadahkan tangan dan berdoa dengan kalimat yang penuh adab: "Rabbi innī limā anzalta ilayya min khairin faqīr" ("Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku).

Imam al-Sawi dalam Hasyiyah al-Sawi 'ala Tafsir al-Jalalain menjelaskan bahwa doa ini mencerminkan kemuliaan jiwa Nabi Musa. Ia tidak menyebutkan secara spesifik apa yang ia butuhkan, melainkan hanya mengakui kebutuhannya secara mutlak kepada Allah.

Al-Sawi juga menyoroti bahwa ayat ini menunjukkan kekuatan fisik Nabi Musa yang luar biasa, namun di saat yang sama ia tetap bersikap lembut dan penuh tawakal. Tafsir al-Muyassar menambahkan bahwa Nabi Musa sangat membutuhkan kebaikan apa pun yang Allah berikan, seperti makanan, karena ia sudah didera rasa lapar.

Kandungan Surat Al-Qashash Ayat 24

1. Keikhlasan dalam Berbuat Baik

Nabi Musa menolong kedua putri Nabi Syu'aib tanpa mengharapkan balasan. Ia tidak menyebutkan jasa atau meminta imbalan. Sikap ini mengajarkan bahwa amal kebaikan sejati adalah yang dilakukan semata-mata karena Allah, bukan karena pamrih atau harapan akan pujian manusia.

2. Adab dalam Berdoa

Meskipun dalam kondisi sangat membutuhkan, Nabi Musa tidak meminta secara spesifik. Ia hanya mengakui kebutuhannya kepada Allah dengan kalimat yang penuh kerendahan hati. Ini menunjukkan bahwa doa yang paling baik adalah doa yang disertai pengakuan akan kelemahan diri dan penyerahan total kepada Allah.

3. Tawakal Setelah Ikhtiar

Nabi Musa terlebih dahulu berusaha menolong kedua perempuan itu dengan mengangkat batu dan memberi minum ternak. Setelah ikhtiar maksimal dilakukan, barulah ia berdoa dan bertawakal. Ayat ini mengajarkan bahwa doa bukanlah pengganti usaha, melainkan pelengkap dari usaha yang telah dilakukan.

4. Kebutuhan Mutlak kepada Allah

Kalimat "limā anzalta ilayya min khairin faqīr" mengandung pengakuan bahwa manusia, sekuat dan sehebat apa pun, tetap membutuhkan pertolongan Allah. Nabi Musa yang dikenal kuat dan perkasa tetap mengakui bahwa dirinya adalah hamba yang faqir di hadapan Allah.

5. Kebaikan yang Tidak Terduga

Setelah doa ini, Allah mengabulkan permohonan Nabi Musa dengan cara yang tidak ia duga: ia diundang ke rumah Nabi Syu'aib, diberi makan, dan kemudian dinikahkan dengan salah satu putrinya. Ini menunjukkan bahwa Allah sering kali memberikan kebaikan jauh lebih besar dari apa yang diminta hamba-Nya.

Asbabun Nuzul Surat Al-Qashash

Surat Al-Qashash secara umum diturunkan di Makkah (Makkiyah) dan merupakan salah satu surat yang turun pada periode kedua kenabian, sekitar tahun 615-619 M. Surat ini diturunkan untuk menguatkan hati Nabi Muhammad SAW dan para sahabat yang saat itu mengalami penindasan dari kaum kafir Quraisy.

Imam al-Sawi dalam tafsirnya menyebutkan bahwa surat ini diturunkan karena kerinduan Nabi Muhammad terhadap tanah kelahirannya, Mekkah, sehingga Allah menurunkan surat ini sebagai pelipur lara dan sinyal bahwa kelak Nabi Muhammad dapat kembali ke Mekkah.

Adapun secara khusus, tidak terdapat riwayat yang menyebutkan sebab turunnya ayat 24 secara spesifik. Ayat ini merupakan bagian dari rangkaian kisah Nabi Musa yang diturunkan untuk memberikan pelajaran dan hiburan kepada Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.

Kisah Nabi Musa yang harus meninggalkan kampung halaman dan menghadapi berbagai kesulitan menjadi cermin bagi Nabi Muhammad yang juga harus hijrah dan menghadapi tekanan dari kaum Quraisy.

Hikmah Memahami Surat Al-Qashash Ayat 24

1. Mengajarkan Keikhlasan dan Ketulusan dalam Menolong

Nabi Musa menolong kedua putri Nabi Syu'aib tanpa mengharapkan balasan. Ini menjadi pelajaran bahwa setiap kebaikan seharusnya dilakukan dengan tulus, bukan karena mengharapkan imbalan atau pujian. Keikhlasan adalah kunci dari setiap amal yang bernilai di sisi Allah.

2. Menumbuhkan Sikap Tawakal dan Berserah Diri kepada Allah

Doa Nabi Musa mengajarkan bahwa ketika semua usaha telah dilakukan, langkah berikutnya adalah bertawakal kepada Allah. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menyerahkan hasil kepada Allah setelah berusaha semaksimal mungkin.

3. Menghidupkan Adab dalam Berdoa

Nabi Musa tidak meminta secara spesifik dalam doanya. Ia hanya mengakui kebutuhannya kepada Allah. Ini mengajarkan bahwa doa yang baik adalah doa yang disertai kerendahan hati dan pengakuan akan kebesaran Allah. Adab dalam berdoa menjadi cerminan kualitas iman seseorang.

4. Menyadari Bahwa Kebutuhan kepada Allah Bersifat Mutlak

Sekuat dan sehebat apa pun manusia, ia tetap membutuhkan pertolongan Allah. Nabi Musa yang mampu mengangkat batu besar sendirian tetap mengakui bahwa dirinya adalah hamba yang faqir di hadapan Allah. Kesadaran ini menjadi dasar dari sikap rendah hati dan tidak sombong.

5. Meyakini Bahwa Allah Memberi Kebaikan di Waktu yang Tepat

Setelah berdoa, Nabi Musa tidak langsung mendapatkan apa yang ia butuhkan. Namun, Allah kemudian memberinya kebaikan yang jauh lebih besar dari apa yang ia bayangkan: tempat tinggal, makanan, keluarga, dan bahkan tongkat yang kelak menjadi mukjizat. Hikmah ini mengajarkan bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik pada waktu yang tepat.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |