12 Kebiasaan Sunnah Rasulullah di Hari Raya Kurban yang Jarang Dibahas

1 day ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Di balik kemeriahan Hari Raya Idul Adha yang identik dengan pemotongan hewan kurban dan santapan daging, terdapat jejak-jejak sunnah Rasulullah SAW yang seringkali terlupakan. Untuk itu, umat Islam perlu mengetahui kebiasaan sunnah Rasulullah di Hari Raya Kurban yang jarang dibahas.

Sunnah-sunnah ini mungkin tampak sepele, namun menyimpan hikmah mendalam dan pahala besar yang sayang untuk dilewatkan. Amalan itu mungkin tampak kecil dan sederhana, tetapi bobotnya sangat berat di sisi Allah SWT.

Dengan menghidupkan kembali jejak-jejak Nabi yang jarang dibahas ini, semoga Idul Adha menjadi lebih bermakna, tidak hanya sebagai tradisi tahunan, tetapi sebagai momentum transformasi spiritual yang sesungguhnya

Merujuk ebook Bekal-bekal di Dalam Menyambut Idul Adha karya Ustadz Abū Salmâ al-Atsarî, Jurnal Wawasan As-Sunnah tentang Qurban dan Idul Adha oleh Sulidar, dan sumber kredibel lainnya, berikut ini adalah beragam kebiasaan Rasulullah yang perlu diteladani.

1. Menghidupkan Malam Hari Raya dengan Ibadah

Salah satu sunnah yang mulai ditinggalkan adalah anjuran untuk menghidupkan malam 10 Dzulhijjah. Al-Qadhi Husayn meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa menghidupkan malam shalat ‘ied itu dengan shalat Isya’ secara berjamaah dan berniat untuk melaksanakan shalat Subuh juga secara berjamaah.

Para ulama dari berbagai mazhab, seperti Imam asy-Syafi’i, menganjurkan untuk memperbanyak ibadah pada malam tersebut sebagai bentuk kegembiraan menyambut hari kemenangan sekaligus mendekatkan diri kepada Allah SWT.

2. Mandi Sebelum Berangkat ke Tempat Shalat

Kebiasaan sunnah ini sering diabaikan, padahal memiliki keutamaan yang besar. Disunnahkan bagi seluruh umat Islam—laki-laki maupun perempuan, baik yang akan melaksanakan shalat Id maupun yang sedang berhalangan (uzur syar’i)—untuk mandi sebelum berangkat ke tempat shalat.

Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa mandi pada hari raya disunnahkan sebagai bentuk membersihkan diri dan memuliakan hari besar Islam, sebagaimana halnya yang dianjurkan pada hari Jumat. Waktu pelaksanaannya dapat dimulai setelah masuk waktu Subuh, atau bahkan sejak pertengahan malam.

3. Tidak Makan Sebelum Shalat Idul Adha

Berbeda dengan Idul Fitri yang disunnahkan makan terlebih dahulu, pada Idul Adha Rasulullah ﷺ justru mencontohkan untuk tidak makan hingga selesai shalat. Ustaz Adi Hidayat menjelaskan, “Saat Idul Fitri, makan dulu baru jalan shalat, namun saat Idul Adha beliau berangkat tidak makan dulu, setelah pulang baru makan”.

Dalil yang mendasari sunnah ini adalah hadits dari Buraidah RA, bahwa “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak keluar pada hari raya Idul Fitri hingga makan (terlebih dahulu), dan tidak makan pada hari raya Idul Adha hingga selesai shalat” (HR. Ahmad). Hal ini karena seseorang yang berkurban akan menyantap hasil kurbannya setelah shalat.

4. Berjalan Kaki dan Melalui Jalan yang Berbeda

Rasulullah ﷺ mengajarkan untuk berangkat ke tempat shalat Id dengan berjalan kaki, bukan menggunakan kendaraan, serta mengambil jalan yang berbeda antara pergi dan pulang. “Nabi ﷺ ketika shalat ‘ied, beliau lewat jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang,” (HR. Bukhari No. 986).

Dalam riwayat lain disebutkan, “Rasulullah ﷺ biasa berangkat sholat ‘ied dengan berjalan kaki, begitu pula ketika pulang juga dengan berjalan kaki,” (HR. Ibnu Majah No. 1295).

Hikmah di balik kebiasaan ini adalah untuk memperbanyak syiar Islam di berbagai penjuru serta agar kedua jalan tersebut kelak menjadi saksi atas dzikir dan takbir yang dipanjatkan.

5. Mengenakan Pakaian Terbaik dan Wewangian

Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa pada hari raya disunnahkan membersihkan tubuh. Disunnahkan pula untuk memakai pakaian yang terbaik yang dimiliki serta wewangian sebagai bentuk penghormatan terhadap hari besar Islam dan rasa syukur kepada Allah SWT.

6. Memperbanyak Takbir, Tahlil, dan Tahmid

Rasulullah SAW bersabda, “Tiada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan lebih dicintai-Nya untuk beramal di dalamnya daripada sepuluh hari pertama Dzulhijjah, maka perbanyaklah membaca tahlil, takbir, dan tahmid di dalamnya” (HR. Ahmad).

Sunnah ini sering dilupakan karena hanya dikerjakan secara massal saat menjelang shalat Id. Padahal, takbir pada Idul Adha terbagi menjadi dua jenis:

a. Takbir Mutlak (Mursal)

Takbir yang dikumandangkan kapan saja dan di mana saja, dimulai sejak terbenamnya matahari pada tanggal 9 Dzulhijjah hingga khatib selesai khutbah pada shalat Id. Bahkan, dalam riwayat disebutkan bahwa para sahabat keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah seraya mengumandangkan takbir, sehingga Mina bergemuruh dengan suara takbir.

b. Takbir Muqayyad

Takbir yang dianjurkan untuk dilantunkan setelah shalat fardhu lima waktu, terutama setelah shalat berjamaah, pada hari-hari Tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah).

7. Larangan Puasa di Hari Tasyrik

Sebuah sunnah yang sering disalahpahami: umat Islam dilarang berpuasa pada hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah). Larangan ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ bahwa hari Tasyrik adalah waktu untuk makan, minum, dan mengingat Allah SWT.

Ironisnya, tidak sedikit kaum muslimin yang justru berpuasa pada hari-hari tersebut karena keliru menganggapnya sebagai puasa sunnah.

8. Adab Khusus bagi yang Berkurban: Tidak Memotong Rambut dan Kuku

Sunnah yang paling jarang dibahas adalah larangan bagi orang yang berniat berkurban untuk memotong rambut dan kukunya sejak memasuki bulan Dzulhijjah hingga hewan kurbannya disembelih. Hadits dari Ummu Salamah RA menyatakan, “Apabila telah masuk sepuluh hari (bulan Dzulhijjah) dan salah seorang di antara kalian hendak berkurban, maka janganlah ia mencabut rambut dan kukunya sebelum ia selesai berkurban”.

Mayoritas ulama memandang larangan ini bersifat makruh (tidak haram). Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menjelaskan bahwa hikmahnya adalah agar seluruh anggota tubuh orang yang berkurban turut serta dalam ibadah dengan cara tidak dipotong, sehingga ia kelak dibebaskan dari api neraka. Ibnu Hazm dan Imam Ahmad bin Hanbal bahkan berpendapat bahwa hukumnya haram.

9. Tidak Ada Shalat Sunnah Sebelum dan Sesudah Shalat Idul Adha

Ustadz Firanda Andirja menjelaskan bahwa shalat nafilah sebelum atau sesudah shalat ‘ied tidak diajarkan oleh Nabi SAW. Dalam riwayat Ibnu ‘Umar diterangkan bahwa pada hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), beliau tidak shalat apa pun sebelum dan sesudahnya, dan ia mengikuti apa yang dilakukan oleh Nabi SAW.

Hal ini berbeda dengan kebiasaan sebagian masyarakat yang langsung melaksanakan shalat sunnah rawatib setelah salam Id. Sunnah yang tepat adalah langsung mendengarkan khutbah yang disampaikan oleh khatib.

10. Khutbah Disampaikan Setelah Shalat, Bukan Sebelumnya

Sunnah lain yang perlu diluruskan adalah urutan pelaksanaan: khutbah Idul Adha dilaksanakan setelah shalat, berbeda dengan khutbah Jumat yang dilaksanakan sebelum shalat.

Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata, “Aku menyaksikan shalat ‘iedul fitri bersama Rasulullah ﷺ, dan Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsman, dan mereka semua shalat sebelum khutbah.” (HR. Bukhari dan Muslim) [Buku Panduan Lengkap Shalat Hari Raya, Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc., MA., hlm. 19].

Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab menegaskan bahwa khutbah setelah shalat adalah sunnah muakkadah yang telah menjadi ijma’ para sahabat.

11. Membagikan Daging Kurban dalam Keadaan Mentah

Sunnah yang sering diabaikan dalam praktik pembagian kurban adalah anjuran untuk membagikan daging dalam keadaan mentah (belum dimasak). Syaikh Muhammad Ibn Ahmad al-Syatiri menjelaskan, “Daging korban itu perlu diagihkan dalam keadaan mentah, dengan daging-daging yang tidak rosak, dan daripada daging korban yang sunat”.

Dalam Kitab Fathul Mu’in dan I’anatut Thalibin dijelaskan, wajib menyedekahkan daging kurban dalam keadaan mentah, walaupun hanya kepada satu orang fakir dari kurban sunnah. Hal ini memberikan kebebasan bagi penerima untuk mengolah daging sesuai kebutuhan mereka.

12. Mempererat Silaturahmi dan Membesarkan Hati Keluarga

Kebiasaan Rasulullah SAW yang tak kalah penting adalah memanfaatkan momen Idul Adha untuk memperkuat ikatan keluarga. Pola kehidupan Nabi Ibrahim AS dalam membangun keluarga besarnya diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai suri tauladan yang dilanjutkan oleh Rasulullah SAW, bukan saja dalam urusan ibadah mahdah, namun menyangkut berbagai aspek kehidupan keluarga.

Kesunnahan untuk saling mengunjungi, bermaaf-maafan, dan berbagi kebahagiaan dengan sanak saudara adalah cerminan dari semangat Idul Adha.

Hikmah Mengamalkan Sunnah Rasulullah

1. Mendidik Jiwa

Mandi, memakai pakaian terbaik, dan berjalan kaki ke tempat shalat mengajarkan penghormatan terhadap simbol-simbol agama serta melatih kesabaran dan ketawadhuan.

2. Melatih Pengendalian Diri

Tidak makan sebelum shalat dan tidak memotong rambut/kuku melatih jiwa untuk mendahulukan ketaatan kepada Allah dibandingkan kepuasan pribadi.

3. Memperkuat Persaudaraan

Berangkat dan pulang melalui jalan berbeda memungkinkan bertemu lebih banyak orang, menyebarkan salam, dan mempererat ukhuwah Islamiyah.

4. Menyempurnakan Tawakal

Berjalan kaki, tidak menggunakan kendaraan, mengajarkan bahwa kekuatan sejati berasal dari Allah, sembari tetap berusaha dan bertawakal.

5. Menjaga Kemurnian Ibadah

Tidak ada shalat sunnah sebelum/sesudah Id dan khutbah setelah shalat mengajarkan untuk mengikuti tuntunan Nabi secara persis, tanpa tambahan yang tidak dicontohkan.

Pertanyaan Seputar Sunnah yang Dilakukan Rasulullah saat Idul Adha

Apa saja sunah-sunnah dalam kurban?

Hukum kurban adalah sunah muakkad (sangat dianjurkan) bagi umat Islam yang mampu. Ibadah ini sangat sarat akan keutamaan dan pahala, terutama bagi mereka yang hendak melaksanakannya di bulan Dzulhijjah.

Apa saja 6 amalan sunnah sebelum sholat Idul Adha?

Berikut adalah beberapa amalan sunnah yang dapat dilakukan pada Idul Adha:Memperbanyak Takbir. ...Mandi Besar. ...Mengenakan Pakaian Terbaik. ...Menggunakan Wewangian. ...Tidak Makan Sebelum Shalat Idul Adha. ...Berangkat Shalat Idul Adha Lebih Awal. ...Berjalan Menuju Tempat Shalat Idul Adha. ...Melewati Jalan Berbeda Saat Pulang.

Apa saja yang tidak boleh dilakukan saat kurban?

Bagi orang yang berkurban (shahibul qurban), dilarang memotong rambut dan kuku sejak tanggal 1 Zulhijah hingga hewan kurban disembelih. Bagi pelaksana kurban dan panitia, dilarang menjual daging atau kulit hewan kurban, memberikan daging sebagai upah jagal, dan menyembelih tanpa menyebut nama Allah.

Qs al kautsar ayat 2 memerintahkan berkurban. Apa tujuan utama dari ibadah kurban?

QS. Al-Kautsar ayat 2 memerintahkan umat Islam untuk menyembelih hewan ternak (seperti unta, sapi, atau kambing).

Apa sunnah yang hendaknya dikerjakan ketika berkurban 2 saja?

Tapi, jangan cuma fokus pada hewan kurban, perhatikan juga sunnah-sunnah berikut ini.Pilih Hewan Gemuk dan Berkualitas. Bukan asal potong. ...2. Jangan Potong Rambut dan Kuku. ...3. Sembelih Sendiri atau Saksikan Langsung. ...4. Baca Basmalah dan Zikir Saat Menyembelih. ...Makan Daging Kurban. ...6. Kurban Dilakukan Setelah Salat Id.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |