Bencana Sumatera Picu Kerentanan Remaja Perempuan

2 hours ago 2

RISET terbaru Plan Indonesia mengungkap kerentanan serius yang dialami remaja perempuan setelah bencana Sumatera. Alih-alih pulih, sebagian dari mereka justru menghadapi situasi yang semakin tidak aman, sulit mengakses bantuan, hingga terancam putus sekolah.

Temuan itu tertuang dalam riset Girls in Crisis (2026) yang dilakukan di Aceh Tamiang, Tapanuli Selatan, dan Agam. Studi mixed-methods tersebut melibatkan 110 responden survei serta 94 remaja perempuan berusia 10–19 tahun. Hasilnya menunjukkan pemulihan pascabencana belum berjalan setara dan memperparah ketimpangan gender yang sudah ada sebelumnya.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Direktur Eksekutif Plan Indonesia Dini Widiastuti mengatakan remaja perempuan menghadapi kerentanan berlapis akibat hilangnya ruang aman dan hak dasar secara bersamaan. “Hanya 46,36 persen yang merasa sepenuhnya aman. Di pengungsian, bahkan 60 persen merasa tidak aman,” kata Dini.

Riset juga mencatat 62,5 persen anak usia 10–14 tahun kehilangan dokumen identitas setelah bencana. Kondisi ini memperumit akses mereka terhadap bantuan formal dan layanan dasar.

Di sektor pendidikan, tekanan ekonomi menjadi faktor utama. Sebanyak 41,82 persen remaja perempuan sudah mengalami kendala biaya sebelum bencana, sementara 15,45 persen lainnya kini terancam putus sekolah akibat penurunan pendapatan orang tua. Di lapangan, banyak dari mereka tidak mampu membayar ongkos sekolah, sementara perlengkapan belajar hilang tersapu banjir.

Dalam aspek perlindungan, sebanyak 87,27 persen remaja perempuan mengetahui mekanisme pelaporan kekerasan. Namun hanya 26,04 persen yang memanfaatkan jalur formal seperti kepolisian. Mayoritas masih bergantung pada keluarga dan teman dekat untuk mengadu.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, kesadaran remaja perempuan terhadap hak-haknya mulai meningkat. Sebanyak 39,1 persen responden usia 15–19 tahun mengidentifikasi perkawinan anak sebagai bentuk kekerasan. Selain itu, 98,18 persen responden masih bersekolah dan menyatakan keinginan untuk melanjutkan pendidikan serta mengembangkan diri.

Salah satu responden, Najwa (14) dari Pidie Jaya, Aceh, mengatakan tetap bersemangat melanjutkan sekolah meski terdampak bencana. “Saya ingin terus belajar dan meraih cita-cita. Pendidikan sangat penting untuk masa depan,” ujarnya.

Melalui riset ini, Plan Indonesia mendorong pemerintah dan pemangku kepentingan mengintegrasikan perspektif gender dalam seluruh tahapan penanggulangan bencana, mulai dari mitigasi hingga pemulihan. Organisasi tersebut juga memperkuat Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) di sejumlah wilayah di Aceh untuk memastikan mekanisme pelaporan kekerasan lebih mudah diakses.

Sekretaris Daerah Aceh M. Nasir menyatakan temuan riset ini menjadi masukan penting bagi pemerintah daerah. “Ini akan memperkuat kebijakan penanganan bencana yang lebih responsif terhadap kebutuhan anak dan perempuan,” katanya.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |