Liputan6.com, Jakarta Memahami contoh mad thobi'i dalam Al-Qur'an merupakan langkah awal yang penting bagi setiap muslim dalam mempelajari ilmu tajwid. Mad thobi'i atau madd alami adalah pemanjangan bunyi vokal dasar selama dua harakat ketika huruf mad mengikuti sebuah vokal.
Mad thobi'i merujuk pada "pemanjangan alami" bunyi vokal tertentu saat membaca Al-Quran, dan disebut "asli" (yang berarti asli atau alami) karena merupakan bentuk pemanjangan paling dasar tanpa adanya syarat atau sebab khusus. Mempelajari berbagai contoh mad thobi'i secara rutin akan melatih lidah dan pendengaran sehingga bacaan Al-Quran menjadi lebih tartil.
Pengertian Mad Thobi'i dalam Ilmu Tajwid
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3133006/original/061991800_1589907669-2642086.jpg)
Perbesar
Secara bahasa, madd (مَدّ) berarti "perpanjangan" atau "peregangan." Dalam ilmu tajwid, madd merujuk pada sistem pemanjangan bunyi vokal yang bersifat wajib dan dianjurkan, yang merupakan bagian dari cara Al-Quran diturunkan dan ditransmisikan. Istilah thobi'i sendiri berasal dari kata bahasa Arab thabi'iy (طبيعي) yang bermakna alami atau biasa. Dengan demikian, mad thobi'i adalah pemanjangan suara huruf mad secara alami tanpa dipengaruhi oleh hamzah atau sukun setelahnya.
Mengacu pada penjelasan Madinah Arabic, mad thobi'i bisa juga disebut al-madd al-asli (المدّ الأصلي) yang berarti pemanjangan asli, atau al-madd al-tabee'i (المد الطبيعي) yang bermakna pemanjangan alami. Kedua istilah ini merujuk pada konsep yang sama, yakni pemanjangan bunyi vokal yang paling mendasar dalam sistem tajwid Al-Quran.
Mad thobi'i mendapat namanya dari fakta bahwa ia merupakan bagian integral dari keberadaan huruf dan tidak bergantung pada kehadiran hamzah (ء) atau sukun (ْ). Artinya, tanpa pemanjangan ini, identitas huruf mad akan hilang dan bisa mengubah struktur serta makna kata dalam Al-Quran. Hal ini dapat diamati pada perbedaan antara kata سَجَدَ dan سَاجِد, di mana alif pada سَاجِد tidak bisa eksis tanpa kehadiran mad thobi'i.
Baca juga: Tajwid adalah Ilmu Tentang Cara Membaca Al-Quran yang Benar, Kenali Macamnya
Huruf Mad dan Syarat Terjadinya Mad Thobi'i
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3108176/original/099514400_1587459746-close-up-of-text-on-paper-318451__1_.jpg)
Perbesar
Berdasarkan kaidah tajwid, terdapat tiga huruf spesifik dalam alfabet Arab yang terkait dengan mad thobi'i, dikenal sebagai huruf mad (حروف المد), yaitu alif (ا), ya (ي), dan waw (و), di mana alif dikaitkan dengan bunyi vokal "a" (seperti pada kata "father"). Masing-masing huruf memiliki syarat tertentu agar tergolong sebagai mad thobi'i. Berikut penjelasannya:
- Alif (ا) setelah fathah — Agar alif berfungsi sebagai mad thobi'i, ia harus didahului oleh huruf berharakat fathah. Contohnya, kata "مَا" (maa) dalam Al-Quran: huruf mim (م) berharakat fathah diikuti alif (ا), menghasilkan pemanjangan alami bunyi "a" selama dua harakat.
- Ya sukun (يْ) setelah kasrah — Ya dikaitkan dengan bunyi vokal "ii" (seperti pada kata "see"). Agar ya berfungsi sebagai mad thobi'i, ia harus didahului oleh huruf berharakat kasrah. Contohnya, kata "فِي" (fii) dalam Al-Quran: huruf fa (ف) berharakat kasrah diikuti ya (ي), menghasilkan pemanjangan bunyi "ii" selama dua harakat.
- Waw sukun (وْ) setelah dammah — Waw dikaitkan dengan bunyi vokal "uu" (seperti pada kata "moon"). Agar waw berperan sebagai mad thobi'i, ia harus didahului oleh huruf berharakat dammah. Contohnya terdapat pada kata يَقُوْلُ dan نُوْحِيْهَا.
Sebagaimana dikutip dari eQuran Coaching, ketika huruf mad (alif, waw, ya) diikuti oleh konsonan, mad thobi'i berlaku — tahan bunyi vokal tersebut selama tepat 2 harakat dengan pemanjangan yang alami dan nyaman. Syarat utama yang harus diperhatikan adalah huruf mad tidak boleh diikuti oleh hamzah atau sukun, karena jika demikian maka hukumnya berubah menjadi mad far'i.
Contoh Mad Thobi'i dalam Al-Quran
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3414108/original/026366700_1617013495-Ilustrasi_membaca_Alquran.jpg)
Perbesar
Setelah memahami pengertian dan syaratnya, kini saatnya menelaah langsung contoh-contoh penerapan mad thobi'i dalam ayat Al-Quran. Mad thobi'i dianggap sebagai bentuk mad yang paling sederhana, namun merupakan aspek yang tak terpisahkan dari bacaan Al-Quran yang benar. Berikut sejumlah contoh yang dikategorikan berdasarkan huruf mad yang digunakan:
Contoh Mad Thobi'i dengan Huruf Alif
- QS Asy-Syu'ara ayat 3 — pada kata بَاخِعٌ (baakhi'un), terdapat fathah diikuti alif, sehingga bunyi "aa" dipanjangkan 2 harakat.
- QS Al-Fatihah ayat 4 — pada kata مَالِكِ (maaliki), harakat fathah pada huruf mim diikuti alif menghasilkan pemanjangan alami.
- QS Ali Imran ayat 191 — pada kata رَبَّنَا (rabbanaa), fathah diikuti alif di akhir kata menjadikannya contoh mad thobi'i.
Contoh Mad Thobi'i dengan Huruf Ya
- QS An-Nas ayat 5 — pada kata فِيْ (fii), huruf fa berharakat kasrah bertemu ya sukun, dibaca panjang 2 harakat.
- QS Al-Ahzab ayat 8 — pada kata الصَّادِقِيْنَ (ash-shaadiqiin), kasrah diikuti ya sukun merupakan bentuk mad thobi'i.
- QS Al-Baqarah ayat 2 — pada kata فِيْهِ (fiihi), terdapat kasrah diikuti ya sukun.
Contoh Mad Thobi'i dengan Huruf Waw
- QS An-Nas ayat 5 — pada kata صُدُوْرِ (shuduur), harakat dammah diikuti waw sukun menghasilkan bunyi "uu" selama 2 harakat.
- QS Al-Baqarah ayat 3 — pada kata يُؤْمِنُوْنَ (yu'minuun), dammah diikuti waw sukun.
- QS Al-Ikhlas ayat 3 — pada kata يُوْلَدْ (yuulad), dammah bertemu waw sukun menjadikannya contoh mad thobi'i.
Baca juga: Hukum Tajwid Al-Fatihah Lengkap Ayat 1-7 Beserta Penjelasannya
Cara Membaca Mad Thobi'i yang Benar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4637084/original/096773700_1699244185-pexels-alena-darmel-8164752.jpg)
Perbesar
Mad thobi'i dibaca selama 2 harakat, yakni menahan bunyi vokal selama dua ketukan. Panjang ini setara dengan waktu yang dibutuhkan untuk mengatakan "ah" dua kali dengan tempo yang stabil. Dalam praktiknya, para guru tajwid biasanya mengajarkan murid untuk menggunakan gerakan jari atau ketukan tangan sebagai pengukur harakat agar durasi bacaan tetap konsisten. Penting untuk memastikan bahwa panjang bacaan tidak kurang dan tidak lebih dari 2 harakat.
Seorang pembaca yang memperpanjang mad thobi'i melampaui dua harakat dalam situasi yang tidak memerlukan perpanjangan justru menghadirkan bunyi yang tidak terdapat dalam Al-Quran. Sebaliknya, memendekkan bacaan juga dianggap sebagai kesalahan. Hitungan harakat pada mad harus konsisten sepanjang bacaan — seorang murid yang bervariasi antara 2 dan 4 harakat untuk mad thobi'i berarti belum menguasai aturan tersebut.
Merujuk penjelasan eQuran Coaching, latihan waktu mad thobi'i dapat dilakukan dengan: (1) menggunakan metronom pada 60 BPM, (2) menghitung "satu-dua" dengan suara saat menahan vokal, (3) merekam diri sendiri dan membandingkan dengan qari ahli, (4) berlatih di depan cermin untuk mengamati posisi mulut, dan (5) mulai perlahan lalu secara bertahap meningkatkan kecepatan sambil mempertahankan durasi 2 harakat. Metode ini sangat membantu bagi pemula yang baru belajar membaca Al-Quran secara tartil.
Baca juga: Doa Sebelum Mengaji dan Setelahnya, Pahami Keutamaan Membaca Al-Quran
Perbedaan Mad Thobi'i dengan Mad Far'i
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7252351/original/009956800_1780038326-masjid-maba-QCXL8wjqAWA-unsplash.jpg)
Perbesar
Dalam ilmu tajwid, hukum mad secara garis besar terbagi menjadi dua kategori utama: mad thobi'i dan mad far'i. Memahami perbedaan keduanya akan membantu pembaca Al-Quran menerapkan durasi pemanjangan yang tepat pada setiap bacaan:
- Sebab pemanjangan — Mad thobi'i adalah bentuk pemanjangan paling dasar yang terjadi secara alami tanpa sebab khusus seperti hamzah (ء) atau sukun (ْ) yang mengikutinya. Sementara itu, mad far'i terjadi karena adanya sebab tertentu, yaitu hamzah atau sukun yang muncul setelah huruf mad.
- Durasi pemanjangan — Mad thobi'i selalu tetap pada 2 harakat, tanpa variasi. Mad far'i dapat dipanjangkan lebih dari dua harakat, tergantung jenis spesifiknya, mulai dari 4 hingga 6 harakat.
- Jumlah jenis — Mad thobi'i bersifat tunggal, sedangkan mad far'i terbagi menjadi 14 jenis, meliputi mad wajib muttasil, mad jaiz munfasil, mad lazim, mad badal, mad arid lissukun, dan lainnya.
- Fleksibilitas — Mad thobi'i (2 harakat), mad wajib muttasil (minimal 4 harakat), dan mad lazim (6 harakat) bersifat tetap di semua kecepatan bacaan — tidak boleh diperpendek dalam bacaan hadr. Beberapa jenis mad far'i lainnya memiliki fleksibilitas tertentu.
- Peran — Mad thobi'i adalah fondasi dari semua aturan mad lainnya; menguasainya dengan benar memastikan bacaan menjadi merdu dan akurat.
- Dampak pada makna — Jika mad thobi'i dihilangkan, makna kata berubah atau menjadi tidak benar. Sementara pada mad far'i, kesalahan durasi bisa menyebabkan bacaan keluar dari riwayat yang sahih.
Baca juga: 16 Jenis-Jenis Hukum Tajwid, Lengkap dengan Penjelasan dan Contohnya
Abu Ubaid al-Qasim bin Salam (774–838 M) adalah orang pertama yang mengembangkan sistem tajwid tertulis, memberikan nama pada aturan-aturan tajwid dan menuangkannya dalam bukunya yang berjudul al-Qiraat. Sistem inilah yang kemudian menjadi dasar bagi seluruh kaidah tajwid yang dipelajari hingga saat ini, termasuk aturan mad thobi'i.
Seperti yang diberitakan Islamway, mayoritas ulama sepakat bahwa menerapkan aturan tajwid Al-Quran sehingga kesalahan jelas dapat dihindari merupakan kewajiban individu (fardhu 'ain) bagi setiap muslim yang telah menghafal sebagian atau seluruh Al-Quran. Hal ini menegaskan betapa pentingnya menguasai mad thobi'i sebagai landasan utama bacaan yang benar.
Baca juga: Alif Lam Qomariyah, Huruf, Hukum Bacaan Tajwid dan Contohnya
Baca juga: 20 Contoh Bacaan Iqlab dalam Al-Quran, Berikut Hukum Tajwidnya
Selain memahami perbedaan mad thobi'i dan mad far'i, muslim juga perlu mengenali kesalahan umum yang sering terjadi. Kesalahan-kesalahan tersebut meliputi: durasi yang tidak konsisten, terlalu pendek (tidak menahan selama 2 harakat penuh), terlalu panjang (menahan lebih dari 2 harakat), bunyi yang dipaksakan, artikulasi yang buruk, dan salah mengidentifikasi mad thobi'i sebagai mad far'i. Memperbaiki kesalahan ini membutuhkan latihan yang konsisten, idealnya di bawah bimbingan guru tajwid yang berkompeten.
Baca juga: Hukum Tajwid Surat Ali Imran Ayat 190-191 Beserta Penjelasannya
Baca juga: Pengertian Mad Thobi'i, Berikut Hukum Bacaan dan Contohnya dari Al-Quran
Baca juga: Macam-Macam Mad Bacaan Tajwid Al-Quran, Dilengkapi Penjelasan dan Cara Bacanya
Pertanyaan Seputar Contoh Mad Thobi'i dalam Al-Qur'an
1. Berapa panjang bacaan mad thobi'i?
Mad thobi'i dibaca selama tepat 2 harakat atau setara 2 ketukan. Panjang ini bersifat tetap dan tidak boleh ditambah maupun dikurangi. Konsistensi durasi ini harus dijaga baik saat membaca dengan tempo lambat (tartil) maupun cepat (hadr), karena mad thobi'i termasuk jenis mad yang durasinya tidak berubah di kecepatan bacaan mana pun.
2. Apa perbedaan utama mad thobi'i dengan mad wajib muttasil?
Mad thobi'i terjadi ketika huruf mad tidak diikuti hamzah atau sukun, dan dibaca sepanjang 2 harakat saja. Sementara itu, mad wajib muttasil terjadi ketika huruf mad diikuti oleh hamzah dalam satu kata yang sama, dan pemanjangan biasanya 4 atau 5 harakat serta bersifat wajib. Keduanya jelas berbeda dari segi sebab dan durasi pemanjangan.
3. Apakah mempelajari mad thobi'i hukumnya wajib?
Pemula perlu mempelajari jenis mad ini secara menyeluruh sebelum melanjutkan ke jenis pemanjangan yang lebih kompleks, karena siapa pun yang belajar membaca Al-Quran dengan benar harus terlebih dahulu menguasai mad. Sebagaimana diungkapkan para ulama tajwid, mempelajari ilmu tajwid hukumnya fardhu kifayah, sedangkan mengamalkannya saat membaca Al-Quran adalah fardhu 'ain bagi setiap muslim.
Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang oleh redaksi dengan menggunakan Artificial Intelligence

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516199/original/047486400_1782441653-aywdu79BUqmPavVwKF3xH9TbbwopHGprEBudTc3z.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8529935/original/092429300_1782461999-the-dancing-rain-kVjvzOG5WCg-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516258/original/037618800_1782441704-BS49NX9mOZPDyoBVgIPIJ4B3SsROxtH1NzZFBEFv.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4758315/original/039700600_1709260395-front-view-person-reading-from-holy-book.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516255/original/025301400_1782455492-91dcc1a2-b2cb-4929-bafd-688428382ab0.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3426408/original/005688900_1618209714-WhatsApp_Image_2021-04-12_at_08.22.59.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4449837/original/055086300_1685614290-WhatsApp_Image_2023-06-01_at_17.06.22.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4433582/original/003374600_1684488413-20230519135602__fpdl.in__high-angle-woman-holding-beads-meditating_23-2148847546_normal.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5102724/original/068820500_1737446861-1737445502460_cara-sholat-taubat-untuk-perempuan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8510289/original/067759500_1782432838-WhatsApp_Image_2026-06-25_at_18.15.34.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3488842/original/008089600_1624273563-teeth-5536858_640.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501800/original/006278100_1770956928-unnamed__12_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3239983/original/044887600_1600257707-20200916-Ojol-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4861241/original/046142300_1718179339-raka-dwi-wicaksana-Jbk_Tce8Z1U-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5534795/original/014528000_1773892938-khutbah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3516536/original/071123800_1626851248-pexels-mikhail-nilov-7582420.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4783488/original/041264600_1711352368-Ilustrasi_bulan_purnama__masjid__Islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3141446/original/078371000_1591071405-15263.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3309137/original/055065200_1606475068-nurhan-yC70QqvrPRk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5415138/original/047923100_1763361872-Gemini_Generated_Image_4jbcgr4jbcgr4jbc.png)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4382809/original/074926600_1680593144-top-view-hand-holding-silver-coins.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4016804/original/046265400_1652067919-KPK_4.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518326/original/022972500_1772505463-bantuan_bibit_ayam_-klaim_link_pendaftaran.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518245/original/007067800_1772495256-1.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2800821/original/002869500_1557387809-IMG_20190509_113107.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523086/original/018748500_1772788951-cpns_imigrasi.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515623/original/045243200_1772182225-dinas_perhubungan_-_klaim_facebook_cpns.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460744/original/090622000_1767280272-fabio_lefundes.jpg)
