:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4783488/original/041264600_1711352368-Ilustrasi_bulan_purnama__masjid__Islami.jpg)
Perbesar
Liputan6.com, Jakarta - Muharram menjadi salah satu dari empat bulan yang dimuliakan dalam Islam. Lantas, mengapa Muharram disebut sebagai salah satu bulan haram dalam Islam?
Pemahaman ini penting mengingat Bulan Muharram memiliki kedudukan istimewa dalam syariat Islam. Muharram bukan sekadar penanda awal tahun baru Hijriah, namun terdapat keistimewaan yang tak dimiliki oleh bulan lainnya.
Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Buku Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram menjelaskan, status bulan haram ini memiliki landasan yang kuat, meliputi dalil Al-Qur'an dan sunnah. Selain itu, terdapat berbagai peristiwa besar di zaman nabi dan rasul yang menyebabkan statusnya menjadi begitu istimewa.
Menukil penafsiran Ibnu Abbas bahwa pada bulan-bulan tersebut, dosa dari sebuah kemaksiatan akan dilipatgandakan siksanya, begitu pula pahala amal shalih.
Merujuk berbagai sumber kredibel, artikel ini akan mengulas alasan mengapa Muharram disebut sebagai salah satu bulan haram dalam Islam, meliputi dalil, aspek histori, hingga amalan-amalan yang dianjurkan.
1. Ketetapan Allah Sejak Penciptaan Alam Semesta
Status "haram" atau suci pada bulan Muharram bersumber langsung dari Al-Qur'an. Kata "haram" dalam konteks ini tidak bermakna "sesuatu yang dilarang karena buruk", melainkan bermakna "suci, mulia, dan sangat dihormati" (sebagaimana penyebutan Masjidil Haram atau Tanah Haram).
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu..." (QS. At-Taubah: 36).
Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menjelaskan bahwa ketetapan ini merupakan syariat yang telah dihormati sejak zaman Nabi Ibrahim AS dan terus dipertahankan keagungannya hingga syariat Nabi Muhammad SAW.
Hal ini kemudian diperkuat melalui Sabda Rasulullah dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. “Satu tahun itu ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram, tiga bulan secara berurutan: Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta Rajab yang berada di antara Jumada dan Sya'ban.” (HR. Bukhari).
2. Alasan Linguistik dan Historis Penamaan "Muharram"
Secara etimologi (bahasa), kata "Muharram" berasal dari akar kata harama-yahrimu-tahriman yang berarti diharamkan, dicegah, atau disucikan.
Ustadz Said Yai dalam bukunya menguraikan alasan historis mengapa bulan ini disebut Muharram dan dimasukkan ke dalam kelompok bulan haram. Pada masa Arab Jahiliyah yang sering diwarnai pertikaian antarkabilah, terdapat kesepakatan kuat untuk melakukan gencatan senjata pada empat bulan tertentu. Bulan-bulan tersebut adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
- Dzulqa'dah: Bulan persiapan umat berdiam diri (qa'ada) dari perang untuk berangkat haji.
- Dzulhijjah: Bulan pelaksanaan ibadah haji.
- Muharram: Bulan kepulangan para jamaah haji ke daerah masing-masing.
Status Muharram diharamkan dari peperangan bertujuan untuk memberikan jaminan keamanan bagi para peziarah Baitullah yang sedang dalam perjalanan pulang. Islam kemudian mengafirmasi dan menyempurnakan tradisi gencatan senjata ini dengan larangan berbuat zalim dalam bentuk apa pun.
3. Pelipatgandaan Amal dan Dosa
Alasan lain mengapa bulan ini sangat ditekankan kesuciannya adalah karena adanya konsekuensi hukum yang melekat di dalamnya. Status "bulan haram" membawa efek pelipatgandaan, baik untuk amal kebaikan maupun keburukan.
Syaikh Al-Munajjid menukil penafsiran dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma terkait ayat "maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu". Ibnu Abbas menjelaskan bahwa Allah mengkhususkan empat bulan ini sebagai bulan yang mulia.
Segala bentuk kemaksiatan (kezaliman) yang dilakukan di bulan Muharram dosanya akan dilipatgandakan dan jauh lebih besar dibandingkan jika dilakukan di bulan lain. Sebaliknya, amal shalih (seperti puasa, sedekah, dan shalat) yang dikerjakan di bulan Muharram akan diganjar dengan pahala yang jauh lebih melimpah.
Pandangan ini diperkuat oleh Imam Al-Baghawi dalam tafsirnya Ma'alimut Tanzil, yang menyatakan bahwa amal saleh yang dilakukan di bulan haram akan mendapatkan pahala yang lebih agung, dan perilaku zalim akan dianggap lebih besar dosanya.
4. Menyandang Gelar "Syahrullah"
Keagungan Muharram sebagai bulan haram semakin dipertegas oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dengan memberikan gelar kehormatan yang tidak diberikan kepada bulan-bulan suci lainnya, yakni Syahrullah (Bulan Allah).
Rasulullah SAW bersabda: "Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam." (HR. Muslim).
Dalam literatur ulama, penyandaran (idhafah) nama suatu bulan langsung kepada Asma Allah berfungsi sebagai bentuk pengagungan yang luar biasa (idhafatut ta'zhim).
Meskipun seluruh bulan adalah milik Allah, pengkhususan penyebutan Muharram sebagai "Bulan Allah" menandakan bahwa kesucian bulan ini benar-benar mutlak dan syariat puasa di dalamnya memiliki kedudukan tertinggi setelah puasa wajib di bulan Ramadhan.
Mengetahui status agung ini menuntut setiap Muslim untuk lebih mawas diri menjaga lisan dan perbuatan, serta menjadikannya sebagai momentum emas untuk mendulang pahala di "Bulan Allah" yang penuh keberkahan ini.
Amalan yang Dianjurkan di Bulan Muharram
1. Memperbanyak Puasa Sunnah
Rasulullah SAW menegaskan bahwa puasa yang paling utama setelah puasa wajib di bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram. Umat Islam sangat dianjurkan untuk memperbanyak hari berpuasa di bulan ini melebihi bulan-bulan lainnya.
2. Melaksanakan Puasa Asyura (10 Muharram)
Ini adalah amalan inti di bulan Muharram. Puasa pada tanggal 10 Muharram sangat dianjurkan karena memiliki fadhilah agung, yakni janji dari Allah untuk menghapuskan dosa-dosa kecil yang dilakukan selama satu tahun ke belakang.
3. Mengiringi Asyura dengan Puasa Tasu'a (9 Muharram) atau 11 Muharram
Syariat menganjurkan agar puasa tanggal 10 Muharram diiringi dengan puasa pada tanggal 9 Muharram (Tasu'a) atau tanggal 11 Muharram. Tujuannya adalah untuk menyelisihi kebiasaan umat Yahudi dan Nasrani yang juga mengagungkan tanggal 10 Muharram.
4. Memperbaharui Taubat Nasuha dan Istighfar
Karena puasa Asyura secara spesifik menghapuskan dosa kecil, maka amalan penting yang harus menyertainya adalah taubat nasuha untuk memohon ampunan atas dosa-dosa besar. Awal tahun Hijriah adalah waktu terbaik untuk kembali kepada Allah dengan penuh penyesalan.
5. Memperbanyak Sedekah dan Kedermawanan
Muharram adalah bagian dari Asyhurul Hurum (bulan-bulan suci) di mana setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Memperbanyak sedekah kepada fakir miskin, menyantuni anak yatim, dan memberikan nafkah kelapangan untuk keluarga sangat dianjurkan, asalkan tidak diikat dengan keyakinan tolak bala atau mitos kesialan.
6. Menahan Diri dari Kezaliman dan Maksiat
Sebagai bulan haram, Allah melarang keras perbuatan zalim di bulan Muharram. Termasuk di dalamnya menahan lisan dari ghibah, dusta, serta menjauhi maksiat fisik, karena dosa yang dilakukan di bulan ini siksanya akan dilipatgandakan.
Hikmah Melaksanakan Amalan Sunnah di Bulan Muharram
1. Peleburan Dosa dan Pembersihan Jiwa (Tazkiyatun Nufus)
Melalui perpaduan puasa Asyura dan taubat, seorang Muslim mendapatkan kesempatan emas untuk menggugurkan noda-noda dosa setahun penuh. Hikmahnya, jiwa menjadi kembali suci, ringan, dan siap menjalani lembaran tahun baru dengan catatan amal yang bersih.
2. Penegasan Identitas dan Integritas Umat Islam
Anjuran puasa Tasu'a (9 Muharram) memuat hikmah mukhalafah (menyelisihi ibadah umat lain). Hal ini melatih umat Islam untuk memiliki kebanggaan dan keteguhan identitas bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang mandiri dan sempurna.
3. Pemurnian Akidah dari Khurafat
Dengan sibuk melakukan amalan yang shahih (seperti puasa dan sedekah ikhlas), umat Islam terselamatkan dari tradisi-tradisi bid'ah dan mitos kesialan bulan Suro. Hikmahnya, tauhid menjadi semakin kokoh karena keyakinan akan nasib dan perlindungan hanya digantungkan kepada Allah.
4. Momentum Penjaga Keistiqamahan
Berada tepat setelah bulan Dzulhijjah (musim haji dan kurban), amalan di bulan Muharram berfungsi sebagai penjaga ritme ketaatan. Hikmahnya, hal ini melatih umat Islam untuk konsisten (istiqamah) dalam beribadah, membuktikan bahwa ketakwaan mereka tidak berhenti hanya setelah musim ibadah besar usai.
5. Meningkatkan Kepekaan Sosial
Memperbanyak sedekah dan meluaskan nafkah bagi keluarga di bulan ini menumbuhkan rasa empati. Hikmahnya, jurang kesenjangan sosial dapat ditekan, ukhuwah Islamiyah semakin erat, dan kasih sayang di tengah umat tersebar secara nyata.
Pertanyaan Seputar Mengapa Muharram Disebut Sebagai Salah Satu Bulan Haram
Apa 4 larangan di bulan Muharram?
Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan suci (bulan haram) yang dimuliakan dalam Islam. Umat Muslim sangat dianjurkan memperbanyak ibadah dan menjauhi perbuatan yang dilarang.
Mengapa 1 suro disebut angker?
Malam 1 Suro disebut angker karena dipercaya sebagai "lebarannya makhluk gaib," di mana diyakini banyak makhluk halus berkeliaran akibat terbukanya portal gaib. Selain itu, bulan ini dianggap sakral, sehingga berbagai pantangan seperti keluar rumah atau menggelar hajatan diyakini dapat mendatangkan kesialan.
Mengapa bulan Muharram dimuliakan Allah?
Bulan Muharram dimuliakan Allah karena termasuk dalam Asyhurul Hurum (empat bulan suci), di mana Allah mengharamkan segala bentuk kezaliman dan peperangan. Bulan ini juga dijuluki Syahrullah (Bulan Allah), menjadi momentum awal tahun Hijriyah, serta sarat akan peristiwa bersejarah bagi para nabi.
Kejadian apa yang terjadi di bulan Muharram?
Bulan Muharram adalah salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam, di mana tanggal 1 Muharram ditetapkan sebagai awal tahun baru kalender Hijriah. Bulan ini menjadi sangat istimewa karena di dalamnya.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3488842/original/008089600_1624273563-teeth-5536858_640.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501800/original/006278100_1770956928-unnamed__12_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3239983/original/044887600_1600257707-20200916-Ojol-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4861241/original/046142300_1718179339-raka-dwi-wicaksana-Jbk_Tce8Z1U-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5534795/original/014528000_1773892938-khutbah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3516536/original/071123800_1626851248-pexels-mikhail-nilov-7582420.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3141446/original/078371000_1591071405-15263.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3309137/original/055065200_1606475068-nurhan-yC70QqvrPRk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5415138/original/047923100_1763361872-Gemini_Generated_Image_4jbcgr4jbcgr4jbc.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3977835/original/066021800_1648524608-pexels-ahmed-aqtai-2233416_1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3285859/original/062073000_1604404965-20201103-pembebasan-tarif-bea-masuk-permudah-umkm-ekspor-produk-ke-AS-ANGGA-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4976559/original/079775500_1729596649-nama-nama-surga-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4104854/original/037203900_1659064080-6398519.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4109197/original/057496800_1659407820-muslim-family-having-good-time-outdoors.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4433582/original/003374600_1684488413-20230519135602__fpdl.in__high-angle-woman-holding-beads-meditating_23-2148847546_normal.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5154985/original/052470100_1741423981-ede81875d15153fbe260c34e41fda1ef.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3337095/original/079976700_1609328703-20201230-Rupiah-Ditutup-Menguat-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4863406/original/036872700_1718344791-21918.jpg)












:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4382809/original/074926600_1680593144-top-view-hand-holding-silver-coins.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4016804/original/046265400_1652067919-KPK_4.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518245/original/007067800_1772495256-1.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518326/original/022972500_1772505463-bantuan_bibit_ayam_-klaim_link_pendaftaran.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2800821/original/002869500_1557387809-IMG_20190509_113107.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523086/original/018748500_1772788951-cpns_imigrasi.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515623/original/045243200_1772182225-dinas_perhubungan_-_klaim_facebook_cpns.jpg)
