Efek Komisi Ojol, GoTo Ungkap Penyesuaian Bisnis Mobilitas

1 day ago 4

TEMPO IMPACT - Perusahaan induk Gojek dan GoPay, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo), mengungkapkan perusahaan akan menyesuaikan target bisnis mobilitas (mobility), yang memayungi layanan GoRide, GoCar, dan delivery sebagai efek dari implementasi komisi 8 persen. Meski demikian, GoTo tidak mengubah pedoman kinerja grup secara tahunan, ditopang oleh kinerja bisnis fintech GoPay yang terus menunjukkan pertumbuhan.

Dalam siaran resmi laporan kinerja keuangan kuartal II 2026, GoTo mengungkapkan perseroan menurunkan pedoman kinerja layanan on-demand services untuk setahun penuh menjadi Rp 1,4-1,5 triliun, dari sebelumnya Rp 1,7-1,8 triliun, sebagai dampak dari implementasi komisi 8 persen, Di sisi lain, kinerja fintech atau GoPay diprediksi akan menopang sehingga GoTo menaikkan pedoman kinerja fintech untuk setahun penuh menjadi Rp 1,7-1,8 triliun, dari sebelumnya Rp 1,4-1,5 triliun.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Dengan strategi ini GoTo tidak mengubah pedoman EBITDA grup yang disesuaikan untuk setahun penuh, yakni masih di angka Rp 3,2-3,4 triliun. Direktur Utama GoTo Hans Patuwo memastikan perusahaan mampu mengatasi dampak kebijakan skema bagi hasil baru yang ditetapkan pemerintah.

“Struktur ini berlaku untuk bisnis transportasi roda dua Gojek, yang menyumbang sekitar 7 persen dari pendapatan bersih grup. Namun, setelah satu bulan berjalan, kondisi bisnis tetap stabil. Penyesuaian ini tidak mudah, tapi kami percaya bisa mengatasi dampaknya,” ucap Hans seperti dikutip dari keterangan tertulis, Senin 3 Agustus 2026.

Sebelumnya, dalam laporan keuangan kuartal II 2026, GoTo kembali mencetak laba bersih pada kuartal II 2026 sebesar Rp 252 miliar. GoTo mencatatkan peningkatan gross transaction value (GTV) inti sebesar 83 persen secara tahunan, menjadi Rp 164 triliun dan pendapatan bersih yang meningkat 31 persen year-on-year menjadi Rp 5,7 triliun.

Performa tersebut ditopang oleh llni bisnis fintech alias layanan keuangan GoPay yang menunjukkan laju pertumbuhan pesat. Hal ini terlihat dari GTV inti fintech yang meroket hingga 82 persen secara tahunan (YoY) dan nilai transaksi bruto yang mencapai Rp 288 triliun sepanjang Januari hingga Juni 2026.

Pendapatan bersih dari lini bisnis fintech tercatat melonjak hingga 55 persen YoY, mencapai Rp 4 triliun pada semester I 2026. EBITDA yang disesuaikan untuk sektor fintech melonjak drastis hingga 526 persen YoY, mencapai Rp 845 miliar.

“Bisnis fintech kami juga terus menunjukkan kinerja yang unggul. Kini profitabilitasnya telah melebihi bisnis on-demand services untuk pertama kalinya. Hal ini menunjukkan kekuatan dan keseimbangan ekosistem kami,” ujar Hans.

Selain mempertahankan kinerja, GoTo tetap berkomitmen meningkatkan kesejahteraan mitra. Hans menyebutkan capaian yang diraih perseroan akan kembali diinvestasikan ke ekosistem GoTo untuk mendukung mitra driver melalui berbagai program Apresiasi Mitra.

“Seiring dengan berkembangnya ekosistem, kami terus berinvestasi untuk mendukung pelanggan kami, termasuk mendukung mitra driver Gojek, di antaranya melalui perluasan program Apresiasi Mitra, mulai dari BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, beasiswa, hingga umrah gratis. Bagi kami, kesuksesan tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tapi juga dari kemajuan semua pihak di dalam ekosistem GoTo,” tutur Hans

Diketahui sebelumnya, berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026, Gojek sebagai aplikator berhak mendapat komisi 8 persen dari biaya perjalanan angkutan penumpang roda dua, turun dari sebelumnya sebesar 20 persen. (*)

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |