IHSG Ditutup Melemah, Pasar Wait and See Menanti Gubernur BI

8 hours ago 1

INDEKS Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia pada Senin sore ditutup melemah. IHSG ditutup melemah 10,65 poin atau 0,17 persen ke posisi 6.185,78. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 2,23 poin atau 0,36 persen ke posisi 612,56.

Dibuka melemah, seperti dikutip dari Antara, Senin, 27 Juli 2026, IHSG betah di teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Dari dalam negeri, pelaku pasar cenderung bersikap wait and see menantikan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang definitif pascapengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI dan menetapkan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI.

Meskipun pergantian itu sebagai upaya menjaga kepercayaan pasar terhadap peran keberlangsungan dan berkesinambungan tugas BI untuk meredam volatilitas pasar keuangan dalam negeri, namun Nico mengatakan pelaku pasar khawatir hal itu akan menyebabkan ketidakpastian arah kebijakan moneter, independensi BI, serta stabilitas rupiah.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, dua sektor menguat, yaitu dipimpin sektor industri yang naik sebesar 0,72 persen, diikuti oleh sektor teknologi yang naik sebesar 0,33 persen.

Sedangkan delapan sektor melemah, yaitu sektor infrastruktur turun paling dalam sebesar 1,29 persen, diikuti oleh sektor properti dan sektor energi yang turun masing-masing sebesar 0,75 persen dan 0,66 persen.

Adapun saham-saham yang mengalami penguatan harga terbesar, yaitu DMMX, BAJA, ZONE, TAMA, dan MCAS. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni KDTN, ARKO, MLPT, OMRE dan OILS.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.790.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 26,00 miliar lembar saham senilai Rp 12,12 triliun. Sebanyak 318 saham naik, 360 saham menurun dan 287 tidak bergerak nilainya.

Dari eksternal, pelaku pasar juga bersikap wait and see terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed.

"Sentimen terangkat oleh meredanya ketegangan geopolitik setelah Amerika Serikat (AS) menghentikan serangan terhadap Iran pada akhir pekan, dan Iran mengatakan bahwa mereka telah menghentikan serangan balasan terhadap sekutu AS di kawasan itu," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus dalam kajiannya di Jakarta, Senin.

Dari mancanegara, Nico mengatakan, meredanya konflik antara AS dengan Iran menyebabkan penurunan harga minyak mentah global, yang meredakan kekhawatiran terhadap pasokan energi dan inflasi.

Pada pekan ini, pelaku pasar akan mencermati hasil pertemuan bank sentral AS The Fed dalam Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28-29 Juli 2026, yang akan menentukan arah kebijakan suku bunga acuannya.

Selain itu, pelaku pasar akan mencermati arah kebijakan Bank of Japan (BoJ) dan Bank of England (BoE), data inflasi PCE AS, data pertumbuhan ekonomi AS kuartal II 2026, data durable goods orders AS, rapat Politbiro China, serta PMI manufaktur China

Sementara, dari Cina, National Bureau of Statistics (NBS) merilis data industrial profit masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 18,7 persen, meskipun mengalami perlambatan pertumbuhan jika dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 18,8 persen.

Di sisi lain, pelaku pasar akan memperhatikan pertemuan Politbiro pada akhir pekan. Presiden Cina Xi Jinping dan para pembuat kebijakan utama lainnya diharapkan akan menguraikan prioritas untuk paruh kedua tahun ini.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei menguat 0,66 persen ke 65.038,00, indeks Shanghai menguat 1,15 persen ke 3.858,25, indeks Hang Seng menguat 0,98 persen ke 25.207,18, indeks Kospi menguat 0,97 persen ke 6.755,75, dan indeks Strait Times menguat 0,55 persen ke 5.619,20.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |