Letak Geografis Indonesia Bisa Tingkatkan Nilai Tawar Bangsa

3 hours ago 3

SALAH satu pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) sekaligus peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dewi Fortuna Anwar mengatakan bahwa letak geografis dan sumber daya alam Indonesia dapat dijadikan daya tawar di dunia internasional. "Keuntungan tersebut bermanfaat sebagai alat tekanan politik dan ekonomi," katanya dalam diskusi bertajuk “Mid Year Geopolitical and Economic Outlook 2026” di Sekretariat FPCI, Jakarta, Jumat, 19 Januari 2026.

Dewi membandingkan kondisi Indonesia dengan Iran yang mengawal Selat Hormuz. Dalam Perang Iran, Selat Hormuz memiliki peran penting dalam dunia Internasional. "Perang zaman sekarang tidak hanya mengandalkan sistem pertahanan/peralatan militer canggih saja," katanya.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Dia menilai selama ini Indonesia cenderung menganggap letak geografis sebagai sesuatu yang netral. Namun yang kita saksikan saat ini adalah keuntungan geografis dapat dimanfaatkan dalam situasi konflik. 

“Saya tentu tidak ingin Indonesia menggunakan posisi geografisnya sebagai alat tekanan politik, tetapi kita perlu menyadari bahwa kemampuan itu ada,” kata dia. 

Ia juga menambahkan komoditas lain yang juga bisa menjadi daya tawar Indonesia adalah energi. Menurut Dewi, energi adalah instrumen yang sangat kuat untuk menjadi alat tekanan politik dan ekonomi. 

Lebih lanjut, situasi ini tidak sesederhana hitam dan putih, di mana kekuatan besar akan selalu mendominasi negara yang lemah. Kata dia, kondisi seperti ini yang membentuk tatanan atau bahkan ketidakteraturan.

Ia mengingatkan jika sebuah negara bergantung pada satu sumber pasokan energi hingga menyebabkan ketergantungan, hal ini dapat menjadi sumber kerentanan. Ia menyebutkan bahwa perlu menyebarkan risiko dengan cara mendiversifikasi sumber energi dan pasokan, khususnya Indonesia.

Peneliti politik dari BRIN itu menyebutkan saat ini Amerika Serikat mulai menjauh dari agenda transisi energi. Isu tersebut mulai ditinggalkan. Sementara itu, negara-negara yang berhasil mencapai ketahanan energi adalah mereka yang memiliki sumber energi beragam. 

Selain itu, negara-negara yang terlibat dalam perdagangan dan kerja sama internasional, maju lebih cepat dibanding negara yg menutup diri dari dunia. Akan tetapi dia menegaskan karena adanya kerentanan dalam rantai pasok global, baik akibat pandemi, bencana alam, maupun konflik, negara-negara tetap perlu menyebarkan risiko. Artinya, penting sekali untuk mendiversifikasi sumber pasar energi tidak hanya dari satu negara saja.

“Indonesia perlu terus melakukan diversifikasi dan pada saat yang sama memperdalam kerja sama dengan berbagai pihak. Dengan kata lain, kita perlu membangun ketahanan melalui kerja sama,” ujarnya.

Diskusi publik yang dihelat FPCI kali ini diharapkan dapat mengkaji tren-tren utama yang membentuk lanskap global. Pada paruh pertama tahun ini serta menilai implikasinya terhadap kebijakan luar negeri dan prioritas ekonomi Indonesia.

Diskusi ini juga akan merefleksikan pilihan-pilihan strategis yang dihadapi Indonesia dalam menentukan arah kebijakannya untuk sisa tahun 2026. Selain itu, acara ini dihadiri oleh salah satu pendiri FPCI dan peneliti BRIN Dewi Fortuna Anwar, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan, dan Senior Economist dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF). 

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |