INFO TEMPO - Memegang ijazah perguruan tinggi dulu dianggap sebagai tiket aman menuju dunia kerja. Hari ini, asumsi itu mulai goyah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Mei 2026 menunjukkan kenyataan yang cukup mengejutkan: tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi justru lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.
Pengangguran Sarjana di Atas Rata-Rata Nasional
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2026, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional tercatat 4,68 persen, atau setara 7,24 juta orang dari total 154,91 juta angkatan kerja. Namun, jika dipecah menurut jenjang pendidikan, lulusan pendidikan tinggi (Diploma IV hingga S3) mencatat TPT sebesar 6,13 persen, lebih tinggi dari angka nasional.
Artinya, gelar akademik tidak lagi otomatis menjadi jaminan. Bahkan, laporan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) pada akhir 2025 mencatat puluhan ribu lulusan sarjana dan pascasarjana masuk kategori pencari kerja yang putus asa, yaitu mereka yang merasa tidak mungkin lagi mendapatkan pekerjaan. Tren ini, menurut laporan tersebut, menandakan persoalan struktural di pasar kerja, bukan sekadar angka statistik sesaat.
Yang Dicari Perusahaan Bergeser ke Keterampilan
Pergeseran ini sebenarnya punya benang merah yang jelas. Banyak perusahaan kini lebih mengutamakan keterampilan yang langsung bisa dipakai dibandingkan sekadar latar belakang pendidikan formal. Pola rekrutmen berbasis keterampilan ini membuat kandidat yang punya kemampuan praktis dan portofolio nyata sering kali lebih dilirik daripada yang hanya mengandalkan ijazah.
Di sinilah keterampilan digital memegang peran penting. Transformasi digital yang merata di hampir semua sektor membuat perusahaan, dari korporasi besar hingga usaha kecil menengah, membutuhkan tenaga yang paham cara kerja pemasaran di era digital. Belanja iklan digital secara global pun terus tumbuh dan diproyeksikan mendekati angka satu triliun dolar, mendorong permintaan terhadap tenaga yang menguasai bidang ini.
Peserta bootcamp digital marketing mengikuti sesi pembelajaran. Dok. Dokumentasi Digibos
Digital Marketing, Keterampilan yang Realistis Dipelajari
Di antara berbagai keterampilan digital, digital marketing menjadi salah satu yang paling realistis dikuasai dalam waktu relatif singkat. Berbeda dengan bidang seperti pemrograman yang membutuhkan waktu belajar panjang, fondasi digital marketing seperti SEO, pengelolaan media sosial, dan iklan berbayar bisa dipelajari secara bertahap tanpa harus menempuh gelar khusus.
Yang membuatnya menarik, bidang ini berbasis hasil yang terukur. Seseorang bisa membuktikan kemampuannya melalui portofolio kampanye nyata, bukan sekadar nilai akademik. Inilah yang dicari perusahaan ketika merekrut tenaga pemasaran digital.
Bagi yang ingin memulai, tersedia berbagai sumber untuk belajar digital marketing dari nol secara terstruktur. Salah satunya adalah program bootcamp yang dirancang membimbing peserta dari dasar hingga siap kerja, lengkap dengan praktik langsung dan pendampingan mentor dari industri. Pendekatan terstruktur seperti ini membantu menghindari pola belajar yang terpotong-potong, yang sering membuat pemula bingung menyusun strategi secara utuh.
Membangun Bekal yang Tepat
Persoalan pengangguran lulusan perguruan tinggi memang kompleks dan tidak bisa diselesaikan dalam semalam. Namun di tingkat individu, langkah paling konkret yang bisa diambil adalah membekali diri dengan keterampilan yang benar-benar dibutuhkan pasar.
Untuk memahami gambaran besarnya, mempelajari panduan digital marketing dari awal bisa menjadi titik mulai yang baik sebelum memutuskan jalur yang ingin ditekuni. Dari situ, seseorang bisa mengenali bidang mana yang paling sesuai dengan minat dan kekuatannya, apakah SEO, media sosial, iklan berbayar, atau penulisan konten.
Mentor praktisi memberikan pendampingan kepada peserta. Dok. Dokumentasi Digibos
Bagi yang ingin menjelajahi lebih jauh berbagai program dan sumber belajar yang tersedia, platform edukasi digital marketing seperti Digibos bisa menjadi titik awal untuk mengenal bidang ini lebih dalam. Dengan begitu, langkah menuju karier digital bisa dimulai secara bertahap, sesuai kesiapan masing-masing.
Pada akhirnya, di tengah pasar kerja yang semakin kompetitif, yang membedakan bukan lagi sekadar ada atau tidaknya gelar, melainkan keterampilan nyata yang bisa Anda tunjukkan dan buktikan. Dan untuk keterampilan digital, kesempatan untuk memulainya terbuka lebar bagi siapa saja yang mau belajar. (*)





































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4016804/original/046265400_1652067919-KPK_4.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4382809/original/074926600_1680593144-top-view-hand-holding-silver-coins.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518245/original/007067800_1772495256-1.jpg)



