7 Keutamaan Bersedekah di Bulan Muharram yang Jarang Dibahas

5 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Bulan Muharram hadir menyapa umat Islam sebagai pembuka lembaran kalender Hijriah. Pada bulan mulia ini, dianjurkan memperbanyak amal dan ibadah, salah satunya adalah sedekah. Maka itu, penting bagi umat Islam mengetahui keutamaan bersedekah di bulan Muharram yang jarang dibahas.

Perlu dipahami, bulan ini sangat lekat dengan anjuran ibadah puasa, khususnya puasa Tasu'a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram). Akibatnya, seringkali amalan berpahala besar lainnya justru terlupakan.

Merujuk Buku Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram karya Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid (Penerjemah: Abu Salma Muhammad Rachdie, S.Si), bersedekah di bulan Muharram merupakan ikhtiar pengagungan terhadap bulan suci (Asyhurul Hurum). Dengan menyisihkan sebagian rezeki di bulan ini secara ikhlas dan sesuai tuntunan sunnah, seorang Muslim sejatinya sedang membangun pondasi keberkahan yang kokoh untuk mengarungi tahun yang baru.

Secara syariat, memperbanyak sedekah di bulan Muharram memiliki dimensi keutamaan yang sangat luas. Merangkum berbagai literatur otoritatif, berikut adalah ulasan sistematis mengenai keutamaan bersedekah di bulan Muharram.

1. Pelipatgandaan Pahala

Banyak umat Islam beranggapan bahwa pelipatgandaan pahala sedekah hanya terjadi di bulan Ramadhan. Padahal, Muharram berstatus sebagai salah satu dari empat bulan suci (Asyhurul Hurum).

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan... di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu..." (QS. At-Taubah: 36).

Ustadz Said Yai dalam bukunya menggarisbawahi makna dari Asyhurul Hurum. Beliau menukil penafsiran dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma yang menyatakan bahwa di bulan-bulan haram ini, perbuatan dosa akan dilipatgandakan siksanya, dan sebaliknya, perbuatan amal shalih (termasuk sedekah) akan dilipatgandakan pahalanya secara luar biasa oleh Allah.

Bersedekah di hari-hari Muharram, kapan pun waktunya, adalah investasi akhirat yang sangat menguntungkan namun sering terabaikan karena masyarakat terlalu terpaku menunggu bulan Ramadhan.

2. Kolaborasi Sempurna: Penggabungan Puasa dan Sedekah

Keutamaan yang jarang dibahas selanjutnya adalah efek spiritual dari menggabungkan ibadah puasa Muharram dengan sedekah (memberi makan).

Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya." Seorang Arab Badui berdiri dan bertanya, "Bagi siapakah kamar-kamar itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Bagi orang yang berkata baik, memberi makan (bersedekah), rajin berpuasa, dan shalat karena Allah di malam hari pada saat manusia sedang tidur." (HR. Tirmidzi).

Para ulama, termasuk Ibnu Rajab Al-Hanbali yang karyanya sering dirujuk dalam panduan bulan Muharram, menjelaskan bahwa menggabungkan puasa Asyura dengan bersedekah (terutama membagikan makanan untuk orang yang berbuka puasa) adalah jalan pintas menuju surga tertinggi.

Kolaborasi ini menyatukan dua jenis ibadah: menahan hawa nafsu (puasa) dan kedermawanan sosial (sedekah), yang secara efektif membersihkan jiwa dari sifat kikir dan egois.

3. Sedekah, Meluruskan Keyakinan Keliru

Satu pembahasan krusial yang diangkat secara tajam oleh para ulama adalah meluruskan niat bersedekah di bulan Muharram, agar terhindar dari keyakinan-keyakinan yang keliru.

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Buku Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram memberikan porsi khusus untuk membahas hal ini. Di masyarakat, kerap beredar keyakinan bahwa bersedekah secara khusus di hari Asyura (10 Muharram) dengan cara tertentu—misalnya mengusap kepala anak yatim atau membuat bubur khusus—akan mendatangkan rezeki setahun penuh.

Syaikh Al-Munajjid dengan tegas menukil pandangan pakar hadits bahwa riwayat-riwayat yang mengkhususkan fadhilah sedekah dengan ritual tertentu di hari Asyura adalah dhaif (lemah) bahkan maudhu' (palsu).

Keutamaan yang sebenarnya justru terletak pada pemurnian niat. Bersedekah di sepanjang bulan Muharram menjadi sangat utama jika dilakukan secara umum tanpa membatasi diri pada tanggal 10 saja, tanpa mempercayai mitos tolak bala, dan murni mengharap ridha Allah atas kemuliaan bulan haram. Inilah amalan kedermawanan yang sejalan dengan tuntunan tauhid yang murni.

4. Kemandirian Umat

Meskipun syariat tidak mengkhususkan, pergantian tahun baru Islam di bulan Muharram merupakan momentum psikologis yang sangat baik untuk memulai kebiasaan baru.

Dalam berbagai literatur, dianjurkan agar umat Islam menjadikan Muharram sebagai titik tolak kedermawanan. Ketika banyak orang merayakan tahun baru dengan hura-hura, seorang Muslim yang cerdas memutar hartanya untuk menyantuni fakir miskin dan mendukung lembaga pendidikan Islam.

Sedekah di awal tahun ini menjadi wujud syukur bahwa Allah masih memberikan umur panjang untuk memasuki lembaran tahun Hijriah yang baru.

Bersedekah di bulan Muharram adalah bukti ketaatan. Sedekah bukan sekadar transfer harta, melainkan manifestasi pengagungan terhadap bulan suci (Asyhurul Hurum), penyempurna ibadah puasa, dan ujian untuk memurnikan niat dari berbagai mitos yang tidak berdasar.

Dengan menyisihkan sebagian rezeki di bulan ini secara ikhlas dan sesuai tuntunan sunnah, seorang Muslim sejatinya sedang membangun pondasi keberkahan yang kokoh untuk mengarungi tahun yang baru.

5. Sedekah sebagai "Tolak Bala" Syar'i

Masyarakat di berbagai daerah kerap menyambut Muharram (Suro) dengan ketakutan akan datangnya bala atau kesialan. Akibatnya, mereka melakukan sedekah yang salah kaprah, seperti sedekah bumi, melarung makanan ke laut, atau memotong hewan untuk sesajen dengan niat tolak bala.

Islam mengajarkan bahwa penolak bala yang hakiki bukanlah ritual adat, melainkan sedekah tathawwu' (sunnah) yang diberikan kepada fakir miskin dengan ikhlas.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya sedekah secara rahasia dapat memadamkan kemurkaan Rabb (Allah) dan menolak kematian yang buruk (su'ul khatimah)." (HR. Tirmidzi).

Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman dalam bukunya menyoroti betapa pentingnya mengalihkan kebiasaan masyarakat dari "sedekah khurafat" menuju sedekah syar'i.

Menyalurkan harta untuk kaum dhuafa di bulan Muharram adalah ikhtiar nyata dan bertauhid untuk mengundang perlindungan Allah, sekaligus mematahkan mitos kesialan bulan Suro.

6. Keistiqamahan Amal

Bulan Muharram hadir tepat setelah Dzulhijjah, bulan di mana umat Islam secara masif mengeluarkan harta untuk membeli hewan kurban dan menunaikan ibadah haji. Sering kali, setelah Dzulhijjah berlalu, grafik kedermawanan umat menurun drastis.

Bersedekah di bulan Muharram menjadi parameter utama keistiqamahan (konsistensi) seorang Muslim dalam mengorbankan hartanya.

"Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (terus-menerus) walaupun itu sedikit." (HR. Muslim).

Tim Bimbingan Islam mengisyaratkan bahwa ibadah di bulan Muharram berfungsi sebagai penjaga ritme keshalihan. Seseorang yang tetap ringan tangan bersedekah di bulan Muharram membuktikan bahwa kedermawanannya saat berkurban di bulan Dzulhijjah bukan sekadar euforia musiman, melainkan telah menjadi karakter tauhid yang mendarah daging.

7. Meraih Rahmat Allah

Fokus pemberitaan dan kajian agama sering kali mengarahkan segala bentuk amal kebaikan (puasa, dzikir, sedekah) hanya pada tanggal 10 Muharram. Hal ini membuat hari-hari lain di bulan Muharram seolah kehilangan nilainya.

Keutamaan bersedekah di bulan Muharram bersifat membentang sepanjang bulan, mulai dari tanggal 1 hingga hari terakhir bulan tersebut.

Berpijak pada kaidah tafsir Ibnu Abbas mengenai pelipatgandaan amal di Asyhurul Hurum, Syaikh Al-Munajjid dan para ulama kontemporer menekankan bahwa umat Islam diberikan keluasan waktu yang luar biasa. Jika seseorang tidak memiliki harta lebih untuk disedekahkan pada hari Asyura, ia tidak kehilangan momen.

Seorang muslim dapat bersedekah pada pertengahan bulan atau akhir bulan Muharram dan tetap mendulang pelipatgandaan pahala bulan haram. Pemahaman ini membebaskan umat dari penyempitan makna ibadah dan mencegah pengkultusan tanggal tertentu di luar batas syariat.

Pertanyaan Seputar Keutamaan Bersedekah di Bulan Muharram yang Jarang Dibahas

Keistimewaan sedekah di bulan Muharram?

Sedekah di bulan Muharram sangat istimewa karena dilakukan pada salah satu bulan haram (bulan yang dimuliakan), di mana pahala amal kebaikan akan dilipatgandakan. Sedekah pada waktu ini diyakini memiliki keutamaan setara dengan sedekah setahun penuh, melindungi diri dari musibah, dan menghapus dosa-dosa.

3 Contoh sedekah yang Tidak Diterima Allah?

Allah tidak akan menerima sedekah jika amal tersebut didasari oleh riya (pamer), bersumber dari harta yang haram, atau diiringi dengan perbuatan mengungkit-ungkit pemberian yang menyakiti hati penerimanya.

3 Jenis sedekah Terdahsyat?

Dalam ajaran Islam, sedekah paling dahsyat dan memiliki keutamaan luar biasa bukanlah sekadar tentang seberapa besar jumlahnya, melainkan tentang ketulusan, kondisi saat memberi, dan dampaknya.

Apa 4 larangan di bulan Muharram?

Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan suci (bulan haram) yang dimuliakan dalam Islam. Karena kemuliaannya, umat Muslim sangat dianjurkan untuk memperbanyak amalan baik dan menjauhi perbuatan dosa.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |