Misinformasi Masih Jadi Tantangan Pemenuhan Gizi Anak

6 hours ago 3

ASOSIASI Perusahaan Produk Bernutrisi untuk Ibu dan Anak (APPNIA) menilai maraknya informasi yang tidak akurat mengenai gizi anak di media sosial masih menjadi tantangan dalam upaya memenuhi kebutuhan gizi anak Indonesia. Kondisi tersebut dinilai dapat mempengaruhi keputusan orang tua dalam memberikan asupan yang tepat bagi anak.

Direktur Eksekutif APPNIA Poppy Kumala mengatakan pemenuhan gizi tidak hanya bergantung pada ketersediaan pangan bergizi, tetapi juga akses orang tua terhadap informasi yang benar dan berbasis ilmu pengetahuan.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

"Pemenuhan gizi pada setiap tahap usia merupakan fondasi tumbuh kembang anak. Namun, fondasi tersebut hanya dapat terwujud apabila orang tua, khususnya ibu, memiliki akses terhadap edukasi gizi yang akurat dan berbasis ilmu pengetahuan," kata Poppy dalam puncak peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Makara Art Center, Universitas Indonesia, Depok akhir Juli 2026.

Menurut Poppy, derasnya arus informasi di media sosial membuat masyarakat semakin sulit membedakan informasi gizi yang dapat dipertanggungjawabkan dengan informasi yang tidak memiliki dasar ilmiah. "Saat ini banyak informasi beredar di media sosial dan kita tidak selalu bisa memastikan seberapa bertanggung jawab informasi tersebut," ujarnya.

Karena itu, APPNIA bersama perusahaan-perusahaan anggotanya menggandeng akademisi, dokter anak, dan berbagai pakar untuk memberikan edukasi kepada orang tua mengenai pemenuhan gizi serta pemilihan makanan yang sesuai dengan setiap tahap tumbuh kembang anak.

Poppy mengatakan kolaborasi antarpemangku kepentingan diperlukan agar edukasi gizi dapat menjangkau lebih banyak keluarga. "Kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan, mulai dari akademisi, pemerintah, hingga industri, harus bersinergi agar manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak keluarga," katanya.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam puncak peringatan Hari Anak Nasional 2026 yang mengusung tema "Sayang Anak, Lindungi, dan Bangun Masa Depan". Kegiatan yang dikemas dalam Festival Budaya Anak itu menjadi ruang bagi anak-anak menyampaikan aspirasi mereka, termasuk pentingnya pemenuhan gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan anak Indonesia.

Dalam aspirasi yang dibacakan, anak-anak juga meminta pemerintah memperkuat program pemenuhan gizi, memperluas edukasi mengenai gizi, serta meningkatkan akses terhadap makanan bergizi agar setiap anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan mengatakan pemenuhan hak anak, termasuk hak memperoleh gizi yang baik, memerlukan keterlibatan berbagai pihak.

"Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri karena hak anak harus dipenuhi semua pihak. Kolaborasi menjadi kunci," kata Veronica.

Menurut Veronica, komitmen tersebut sejalan dengan Asta Cita keempat Presiden yang menitikberatkan pembangunan sumber daya manusia melalui penguatan pendidikan, kesehatan, kesetaraan gender, serta peningkatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas.

Ia menambahkan perubahan tidak dapat diwujudkan secara instan, tetapi dapat memberikan dampak apabila pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat bekerja bersama.

"Perubahan memang tidak bisa terjadi dalam waktu singkat. Namun, ketika semua pihak yang memiliki komitmen dapat bekerja bersama, dampaknya akan nyata," ujarnya.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |