Ratusan Akademisi dan Aktivis Bahas Masalah Bangsa Hari Ini

4 hours ago 4

RATUSAN akademisi Perguruan Tinggi dan aktivis berkumpul membahas masalah bangsa di Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta Pusat, Senin, 13 April 2026. Panitia sekaligus Dewan Guru Besar UI Teddy Prasetyono mengatakan tujuan kegiatan ini untuk membangun suatu pemikiran baru.

"Serta menghasilkan bahan pelajaran dalam rangka mendampingi dan menguatkan warga masyarakat, terutama kelompok miskin, rentan dan perempuan," kata dia dalam keterangan resmi, Senin, 13 April 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Kegiatan ini diadakan oleh Forum Intelektual Antardisiplin (FIAD) dengan format Focus Group Discussion (FGD) bertema "Intelektual Antardisiplin Berbicara tentang Indonesia Hari Ini". FIAD mengundang beberapa akademisi dari berbagai Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta. Diundang pula sejumlah aktivis dari berbagai latar belakang. 

Berdasarkan daftar undangan, beberapa akademisi yang hadir di antaranya Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Tjandra Yoga Aditama, Akademisi STF Driyarkara Agustinus Setyo Wibowo, Dosen UNJ Ubedilah Badrun, Guru besar hukum tata negara Universitas Padjadjaran Susi Dwi Harijanti, dosen hukum tata negara Universitas Andalas (Unand) Feri Amsari, dan Guru Besar UGM Zainal Arifin Mochtar. Ada pula sejumlah aktivis seperti Pengacara LBH Jakarta Daniel Winarta, Ketua YLBHI Muhammad Isnur, dan Marzuki Darusman. 

Mereka akan membahas masalah bangsa. Beberapa isu yang dibahas yakni ekonomi, pangan, kesehatan, energi dan sumber daya alam, hukum, sosial, kultural, dan pendidikan tinggi. Isu itu akan dibahas dalam format 7 kelompok diskusi. 

Teddy berkata hasil dari FGD ini bisa dimanfaatkan untuk ditindaklanjuti dalam rangka mendampingi masyarakat. Masyarakat dan komunitas bisa didorong untuk menggali pengetahuan lokalnya sendiri dalam mengahadapi masalah. Misalnya, kata Teddy, ketika harus menghadapi kekurangan bahan makanan, krisis BBM dan gas, dan berbagai layanan publik. "Bagaimana mereka bisa menggali sumber makanan dan energi lokal, agar tetap bisa melangsungkan kehidupan bersama." kata dia. 

Dia mengatakan para akademisi dan aktivis berkumpul bukan untuk melakukan kegiatan politik praktis. Mereka sedang menjalankan gerakan moral dan mandat universitas yaitu memproduksi ilmu pengetahuan hingga pengetahuan sosial-humaniora untuk kemaslahatan umat manusia. 

"Universitas adalah lembaga khusus, yang tidak bisa disamakan dengan lembaga apapun baik politik maupun bisnis," kata dia. 

Dia pun mempertanyakan sikap kekuasaan dalam memposisikan ilmuwan dan aktivis hari ini. Pun mempertanyakan pengabaian hasil riset, data berbasis bukti, berbagai rekomendasi ilmiah, dan pendapat akademik dalam pengambilan keputusan.

"Tidak mau mendengar, membiarkan terjadinya kesalahan tata kelola. Terus sibuk membuat kebijakan dan program atas nama rakyat. Namun, sesungguhnya bertujuan populis dan demi status quo kekuasaan," kata dia. 

Padahal, para akademisi universitas ikut bertanggungjawab mengatasi berbagai persoalan dalam masyarakat. Pun berkolaborasi dengan intelektual publik, pemerintah, pasar, masyarakat luas dan berbagai stakeholder lain.

Menurut dia, di banyak negara, hampir tidak ada kebijakan publik yang tidak berlandaskan riset dan rekomendasi ilmiah. Apalagi, ada banyak orang Indonesia pintar di dalam kampus maupun masyarakat luas.

"Ada banyak ilmuwan menghasilkan produk saintek dalam bidang kesehatan, keteknikan, rekomendasi penting dalam bidang sosial kemasyarakatan," kata dia. 

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |