Refleksi Hari Kartini, Adinia Wirasti: Perempuan Harus Berani Menulis Jalan Hidupnya Sendiri

3 hours ago 6

CANTIKA.COMJakarta - Peringatan Hari Kartini tahun ini dimaknai secara mendalam oleh aktris Adinia Wirasti. Melalui unggahan di Instagram, ia membagikan refleksi tentang perjuangan perempuan, kesempatan, serta makna kebebasan yang kini bisa dirasakan perempuan Indonesia.

Dalam pesannya, Adinia menyoroti bahwa kesempatan yang dinikmati perempuan saat ini bukanlah sesuatu yang hadir begitu saja. Ia mengingatkan bahwa hak untuk belajar, berkarya, hingga bersuara merupakan hasil dari perjuangan panjang sosok seperti Raden Ajeng Kartini, yang dahulu berani bermimpi di tengah keterbatasan.

"Perempuan harus berani bermimpi dan memperjuangkan haknya,” menjadi semangat yang menurutnya masih relevan hingga kini. Kartini telah membuka jalan agar perempuan tidak lagi sekadar menjadi bayang-bayang, tetapi mampu hadir sebagai sosok yang bersinar dengan pilihan hidupnya sendiri," tulis pemeran dalam film Hidup Ini Terlalu Banyak Kamu ini. 

Adinia juga menyoroti bahwa perempuan masa kini hidup dalam ruang yang dulu hanya bisa dibayangkan. Kesempatan untuk menentukan jalan hidup, menempuh pendidikan, hingga menyuarakan pendapat adalah bentuk kemajuan yang patut disyukuri.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa perjuangan belum sepenuhnya selesai. Di balik kemajuan tersebut, masih ada batasan-batasan tak kasatmata, seperti ekspektasi sosial, standar yang tidak adil, hingga suara perempuan yang terkadang masih dipandang sebelah mata. “Kita berjalan di antara dua dunia yang sudah terbuka dan yang masih harus diperjuangkan,” tulisnya.

Dalam refleksinya, Adinia mengajak perempuan untuk terus berani mengekspresikan diri dan menentukan arah hidupnya tanpa rasa takut. Ia menekankan pentingnya menulis kisah hidup sendiri dengan penuh keberanian dan keyakinan.

Sebagai seorang aktris, Adinia mengaku bersyukur dapat menghadirkan berbagai karakter perempuan melalui seni peran. Baginya, hal tersebut menjadi bagian dari kontribusi untuk menjaga semangat Kartini tetap hidup di era modern.

Menutup pesannya, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada perempuan-perempuan terdahulu yang telah membuka jalan, sekaligus mengajak generasi saat ini untuk terus saling mendukung. Ia juga menegaskan pentingnya menjaga semangat perjuangan bagi perempuan di masa depan.

Momentum Hari Kartini, menurut Adinia, bukan sekadar perayaan, tetapi juga pengingat bahwa setiap perempuan memiliki peran dalam melanjutkan perjuangan dengan cara, suara, dan jalannya masing-masing.

Mengenal Sosok Kartini 

Potret Raden Ajeng Kartini yang terdokumentasi di Wereldmuseum Amsterdam, Belanda, sekitar tahun 1890-1904. Dok. Wereldmuseum Amsterdam

Banyak orang mengenal sosok Kartini sebagai pahlawan pembela perempuan atau yang gencar mencanangkan emansipasi di Indonesia. Raden Ajeng Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879, dan meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904, pada umur 25 tahun.

Tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Kartini diketahui sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Pada akhirnya, sosok itu dikenal sebagai perempuan yang tegas, berambisi, dan bertekad mencapai keinginannya. Padahal, banyak hal lain yang ada dalam diri Kartini.

Kartini berasal dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa. Ia merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara segera setelah Kartini lahir.

Kartini adalah putri dari istri pertama, tapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kiai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengku Buwana VI.

Garis keturunan Bupati Sosroningrat bahkan dapat ditilik kembali ke istana Kerajaan Majapahit. Semenjak Pangeran Dangirin menjadi bupati Surabaya pada abad ke-18, nenek moyang Sosroningrat mengisi banyak posisi penting di Pangreh Praja.

Ayah Kartini pada mulanya seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristrikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.

Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari semua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun dan dikenal pada pertengahan abad ke-19 sebagai salah satu bupati pertama yang memberi pendidikan Barat kepada anak-anaknya.

Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini dibolehkan bersekolah di Europese Lagere School (ELS). Di sini Kartini belajar bahasa Belanda. Namun setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena perempuan pada masa itu mesti dipingit setelah mengalami menstruasi pertama.

Lantaran Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi karena ia melihat perempuan pribumi berada pada status sosial rendah.

ECKA PRAMITA | TEMPO

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |