UEA Tuding Iran Lakukan Serangan, Picu Kebakaran di Kilang

13 hours ago 5

UNI Emirat Arab (UEA) menuduh Iran menyerang negara itu dengan rentetan rudal dan drone pada Senin 4 Mei 2026. Serangan itu membakar kilang minyak di emirat Fujairah bagian timur dan melukai tiga warga negara India.

Serangan tersebut seperti dilaporkan Al Jazeera menandai serangan pertama terhadap UEA sejak Iran dan Amerika Serikat menyepakati gencatan senjata pada 8 April.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Kementerian Pertahanan UEA mengatakan pertahanan udaranya "menangkap" 12 rudal balistik, tiga rudal jelajah, dan empat drone yang diduga diluncurkan dari Iran sepanjang hari.

Kementerian Luar Negeri UEA mengutuk "dengan keras serangan yang menargetkan situs dan fasilitas sipil di negara itu".

Mereka mengatakan tidak akan mentolerir ancaman apa pun terhadap keamanan dan kedaulatan UEA. Kemlu UEA juga memperingatkan bahwa mereka memiliki "hak penuh dan sah untuk menanggapi" serangan tersebut.

Iran Bantah Tuduhan UEA

Iran tidak pernah dan saat ini tidak berencana menyerang Uni Emirat Arab (UEA), lapor media penyiaran IRIB pada Senin seperti dilansir Antara, mengutip sumber militer senior di tengah laporan insiden keamanan di wilayah Teluk.

“Iran tidak pernah memiliki dan tidak memiliki rencana untuk menyerang UEA,” kata sumber tersebut kepada media pemerintah Iran itu seraya menegaskan posisi resmi Teheran terkait tuduhan keterlibatan.

Sumber tersebut mengaitkan insiden serangan di UEA dengan “petualangan militer AS yang bertujuan untuk menciptakan jalur bagi transit ilegal kapal melalui jalur air terlarang Selat Hormuz”.

Sumber tersebut menambahkan bahwa “militer AS harus bertanggung jawab atas hal ini”.

Kantor berita semi-resmi Tasnim kemudian mengutip sumber lain yang tidak disebutkan namanya yang memperingatkan bahwa jika “UEA mengambil tindakan yang tidak bijaksana, semua kepentingannya akan menjadi sasaran Iran”.

‘Pembajakan Maritim’

Serangan-serangan itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump meluncurkan upaya baru, Project Freedom, untuk mengawal kapal tanker yang terdampar melalui Selat Hormuz. Perairan ini merupakan jalur energi vital yang sebagian besar telah ditutup sejak serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari.

Komando militer terpadu Iran telah memperingatkan kapal-kapal komersial agar tidak menerima tawaran AS. Teheran menegaskan bahwa pasukan Amerika "akan diserang jika mereka bermaksud mendekati dan memasuki Selat Hormuz".

Serangan terhadap UEA dimulai setelah media Iran melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah mencegah kapal perang AS memasuki Selat Hormuz “dengan peringatan yang tegas dan cepat”. Kantor berita Fars kemudian mengutip dua sumber lokal yang mengatakan bahwa dua rudal menghantam fregat AS di dekat pulau Jask di Iran.

Namun, militer AS membantah klaim tersebut.

Tak lama kemudian, UEA mengumumkan bahwa Iran telah meluncurkan dua drone ke sebuah kapal tanker yang berafiliasi dengan Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi (ADNOC) yang sedang melewati selat tersebut.

Penasihat presiden UEA, Anwar Gargash, mengutuk serangan terhadap kapal tanker minyak Barakah sebagai "pembajakan maritime." Sementara ADNOC mengatakan bahwa tidak ada yang terluka dan kapal tersebut tidak sedang bermuatan.

Serangan rudal pun menyusul. Emirat Fujairah mengatakan sebuah drone yang diduga dari Iran memicu "kebakaran besar" di Zona Industri Perminyakan Fujairah. Dikatakan tiga warga negara India mengalami luka sedang selama serangan tersebut dan dibawa ke rumah sakit.

Natasha Turak, seorang jurnalis yang berbasis di Dubai, mengatakan bahwa UEA telah menjadi negara Teluk pertama yang merasakan dampak dari ketegangan yang kembali meningkat antara AS dan Iran.

“Kami mendengar peringatan rudal pertama kali berdering di telepon kami untuk pertama kalinya dalam hampir sebulan sejak gencatan senjata yang rapuh itu ditetapkan. Dan saya akan mengatakan bahwa orang-orang di sini merasakan banyak kekecewaan, kemarahan, frustrasi, tetapi mereka tidak sepenuhnya terkejut,” katanya kepada Al Jazeera.

“Itu terutama karena pendorong utama perang ini dan poin-poin utama yang menjadi kendala antara AS dan Iran belum terselesaikan,” katanya.

Negosiasi antara Iran dan AS telah menemui jalan buntu sejak gencatan senjata dimulai pada 8 April, dengan program nuklir Teheran dan cengkeramannya di Selat Hormuz tetap menjadi poin perselisihan utama.

Gencatan senjata, yang dicapai melalui mediasi Pakistan, diikuti oleh pembicaraan langsung di Islamabad pada 11 April, tetapi tidak ada kesepakatan yang dicapai tentang perdamaian abadi.

Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata tanpa menetapkan tenggat waktu baru, setelah permintaan dari Pakistan.

Kecaman Global

Kementerian Pendidikan UEA mengumumkan pembelajaran jarak jauh untuk semua sekolah negeri dan swasta di seluruh negeri hingga Jumat Mei 2026, dengan alasan perlunya memastikan “keselamatan dan kesejahteraan komunitas pendidikan”.

Serangan yang kembali terjadi tersebut menuai kecaman keras dari seluruh dunia, terutama dari negara-negara Teluk sekutu Amerika.

Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Safadi, mengutuk "serangan brutal" tersebut dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab, Sheikh Abdullah bin Zayed Al Nahyan, menurut kantor berita Petra Yordania.

Bahrain menyebutnya sebagai "eskalasi berbahaya yang mengancam keamanan dan stabilitas kawasan" dan merupakan pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata.

Presiden Uni Eropa Ursula von der Leyen mengklaim serangan tersebut merupakan "pelanggaran nyata terhadap kedaulatan dan hukum internasional".

"Serangan-serangan ini tidak dapat diterima," katanya di media sosial, menambahkan bahwa "keamanan di kawasan [Teluk] memiliki konsekuensi langsung bagi Eropa".

Uni Eropa akan bekerja sama dengan para mitranya "dalam de-eskalasi dan resolusi diplomatik, untuk mengakhiri tindakan brutal rezim Iran. Baik terhadap negara-negara tetangganya maupun rakyatnya sendiri," katanya.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |