15 Amalan Sunnah di Rumah yang Sering Dianggap Sepele, Ringan tapi Bertabur Fadhilah

13 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah rutinitas kehidupan modern, banyak amalan sunnah di rumah yang sering dianggap sepele dan terabaikan. Padahal, kediaman seorang Muslim seharusnya menjadi ruang pertama yang konsisten menghidupkan nilai profetik dalam keseharian.

Rasulullah SAW mewariskan teladan meraih keberkahan di tempat tinggal. Tentang masuk rumah misalnya, Nabi SAW bersabda: "Jika seseorang memasuki rumahnya dan menyebut nama Allah saat masuk dan saat makan, maka setan berkata: 'Tidak ada tempat bermalam bagi kalian'." (HR. Muslim).

Dr. Abdullah bin Hamod Al-Forih dalam Buku Sunnah dan Dzikir Harian Nabi SAW menegaskan bahwa rutinitas sederhana seperti mengucap basmalah adalah amalan pelindung. Kebiasaan tersebut terbukti efektif mengundang para malaikat rahmat ke tengah keluarga. Menghidupkan kembali sunnah ini merupakan wujud cinta nyata kepada sang teladan.

Merujuk berbagai literatur klasik dan kontemporer, berikut ini adalah berbagai amalan sunnah di rumah yang sering dianggap sepele, sehingga banyak ditinggalkan.

1. Mengucapkan Salam Ketika Memasuki Rumah yang Kosong maupun Berpenghuni

Seringkali seseorang masuk ke dalam rumahnya sendiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun, terutama jika rumah dalam keadaan kosong. Padahal, mengucapkan salam adalah benteng pertama bagi kediaman seorang Muslim.

Rasulullah SAW bersabda, "Jika seseorang memasuki rumahnya dan menyebut nama Allah saat masuk dan saat makan, maka setan berkata (kepada teman-temannya), 'Tidak ada tempat bermalam dan tidak ada makan malam bagi kalian'." (HR. Muslim).

Dr. Abdullah bin Hamod Al-Forih dalam karyanya menekankan bahwa sunnah ini sangat ditekankan (muakkadah). Jika rumah kosong, ulama mengajarkan untuk membaca, "Assalamu 'alaina wa 'ala 'ibadillahis shalihin" (Keselamatan semoga dilimpahkan kepada kami dan hamba-hamba Allah yang saleh). Amalan ini secara harfiah menutup akses energi negatif dan mengundang para malaikat rahmat ke dalam ruang keluarga.

2. Terlibat Aktif Membantu Pekerjaan Rumah Tangga

Terdapat stigma di sebagian masyarakat bahwa pekerjaan rumah tangga (seperti menyapu atau mencuci) menjatuhkan wibawa seorang kepala keluarga. Faktanya, Nabi SAW adalah sosok yang paling rajin membantu keluarganya.

Ketika Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha ditanya mengenai apa yang dilakukan Nabi SAW di dalam rumahnya, beliau menjawab, "Beliau selalu membantu pekerjaan keluarganya (istrinya), dan jika datang waktu shalat, beliau keluar untuk melaksanakan shalat." (HR. Bukhari).

Para ulama klasik dan kontemporer, termasuk Abdullah Hamud al Furaij, menafsirkan hadis ini sebagai bukti puncak tawadhu (kerendahan hati) Rasulullah. Meluangkan waktu untuk merapikan rumah, menjahit pakaian yang robek, atau memperbaiki perabotan bukanlah hal yang merendahkan martabat, melainkan ibadah yang memupuk harmoni, empati, dan meruntuhkan ego sektoral di dalam rumah tangga.

3. Mengibaskan Tempat Tidur Sebelum Membaringkan Tubuh

Membersihkan kasur sebelum tidur mungkin terdengar seperti kebiasaan bersih-bersih biasa, namun dalam Islam, hal ini memiliki dimensi ritual perlindungan.

Rasulullah SAW bersabda, "Apabila salah seorang dari kalian hendak tidur di tempat tidurnya, hendaklah ia mengibaskan tempat tidurnya dengan ujung sarungnya (kainnya), karena sesungguhnya ia tidak tahu apa yang tertinggal di atas tempat tidurnya setelah ia bangun." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dr. Abdullah bin Hamod Al-Forih menjelaskan bahwa sunnah ini dilakukan dengan mengibaskan kasur sebanyak tiga kali sambil membaca Basmalah. Secara medis dan higienis, hal ini menyingkirkan debu, serangga, atau kotoran. Secara spiritual, ini adalah bentuk tawakal yang melepaskan perlindungan diri dari gangguan fisik maupun tak kasat mata saat manusia berada dalam kondisi paling lemah (tertidur).

4. Mendahulukan Bagian Kanan Saat Beraktivitas Ringan (Tayamun)

Memakai sandal, menyisir rambut, atau mengenakan pakaian di dalam rumah sering dilakukan secara asal-asalan. Padahal, memulai dengan anggota tubuh bagian kanan adalah sunnah yang bernilai pahala.

"Nabi SAW sangat menyukai mendahulukan yang kanan (Tayamun) dalam segala urusannya; ketika bersuci, menyisir rambut, dan memakai sandal." (HR. Bukhari dan Muslim).

Abdullah Hamud al Furaij dalam Sunnah-Sunnah Sehari-hari merinci bahwa mendahulukan yang kanan berlaku untuk segala hal yang bersifat mulia atau bersih. Sebaliknya, saat melepas pakaian, melepas sandal, atau masuk ke kamar mandi (hal-hal yang bersifat menyingkirkan kotoran), disunnahkan memulai dari bagian kiri. Konsistensi menjaga ritme kanan-kiri ini melatih kesadaran penuh (mindfulness) seorang Muslim dalam setiap detik aktivitasnya.

5. Minum Sambil Duduk dan Mengambil Napas di Luar Gelas

Di tengah ketergesa-gesaan, minum sambil berdiri dan menenggak air dalam satu tarikan napas kerap terjadi. Ini bertentangan dengan adab yang diajarkan di dalam rumah Islam.

Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah ada di antara kalian yang minum sambil berdiri." (HR. Muslim). Dalam riwayat lain disebutkan, "Rasulullah SAW bernapas tiga kali saat minum (di luar wadah)." (HR. Bukhari dan Muslim).

Sunnah minum ini menggabungkan adab kesopanan dan manfaat kesehatan. Mengambil napas tiga kali di luar gelas mencegah masuknya karbon dioksida dari embusan napas kembali ke dalam air. Sementara itu, minum sambil duduk memberikan waktu bagi organ pencernaan dan ginjal untuk merespons cairan secara perlahan tanpa menimbulkan tekanan tiba-tiba pada organ dalam.

6. Bersiwak Sesaat Setelah Memasuki Rumah

Membersihkan gigi tidak hanya disunnahkan saat bangun tidur atau hendak shalat, tetapi juga saat seseorang baru saja tiba di rumah dari luar.

Dari Syuraih bin Hani, ia bertanya kepada Aisyah radhiyallahu 'anha, "Apakah yang pertama kali dilakukan oleh Nabi SAW apabila beliau memasuki rumahnya?" Aisyah menjawab: "Bersiwak." (HR. Muslim).

Amalan ini adalah bentuk penghormatan dan etika (adab) kepada anggota keluarga. Mulut yang bersih dan napas yang segar akan menciptakan kenyamanan saat bertegur sapa atau bercengkerama dengan istri dan anak-anak di rumah.

Kesibukan di malam hari sering membuat penghuni rumah lupa menutup panci, gelas, atau membiarkan pintu terbuka. Padahal, menutup rapat akses-akses tersebut di malam hari adalah sunnah pelindung.

Rasulullah SAW bersabda, "Tutuplah pintu-pintu dan sebutlah nama Allah, karena setan tidak dapat membuka pintu yang tertutup. Tutuplah wadah-wadah airmu dan sebutlah nama Allah. Tutuplah bejana-bejana makananmu dan sebutlah nama Allah, sekalipun kamu hanya meletakkan sesuatu di atasnya..." (HR. Bukhari dan Muslim).

Menyertakan ucapan Bismillah saat menutup pintu dan wadah berfungsi sebagai perisai ganda. Selain mencegah masuknya hewan pemicu penyakit (hama), tindakan ini menutup akses bagi setan dan mencegah turunnya wabah penyakit yang menurut kepercayaan Islam turun pada malam-malam tertentu.

8. Memungut Makanan yang Jatuh dan Memakannya

Di era modern, makanan yang jatuh sering kali langsung dibuang dengan dalih kebersihan. Namun, syariat mengajarkan nilai apresiasi yang tinggi terhadap rezeki.

Rasulullah SAW bersabda, "Jika suapan makanan salah seorang dari kalian jatuh, maka ambillah dan bersihkan kotorannya, lalu makanlah dan jangan membiarkannya untuk setan." (HR. Muslim).

Abdullah Hamud al Furaij dalam Ebook Sunnah-Sunnah Sehari-hari, menyoroti bahwa sunnah ini adalah bentuk perlawanan terhadap sifat arogan dan mubazir. Dengan membersihkan bagian yang kotor dan tetap memakannya (selama jatuh di tempat yang relatif aman/bukan najis kotoran), seorang Muslim menunjukkan ketawadhuan dan rasa syukur mutlak atas rezeki sekecil apa pun.

9. Menjilati Jari Jemari Setelah Makan

Sebelum mencuci tangan, terdapat sunnah spesifik yang sering dianggap kurang etis oleh standar perjamuan modern, yakni membersihkan sisa makanan di jari dengan mulut.

"Nabi SAW apabila selesai makan, beliau menjilati ketiga jarinya." (HR. Muslim). Beliau juga bersabda, "Sesungguhnya kalian tidak mengetahui di bagian makanan mana letak keberkahannya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Keberkahan (bertambahnya kebaikan) dari sebuah makanan sering kali tersembunyi pada sisa-sisa terakhirnya. Menjilati jari memastikan tidak ada nutrisi dan keberkahan yang terbuang sia-sia.

10. Tidur dalam Keadaan Suci (Berwudhu)

Berwudhu sebelum merebahkan diri di kasur adalah investasi spiritual luar biasa yang sering dilewatkan karena rasa kantuk yang berat.

"Apabila engkau hendak mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk shalat." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam literatur sunnah dijelaskan bahwa barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka seorang malaikat akan bermalam di dalam pakaiannya (di dekatnya). Setiap kali orang tersebut berbolak-balik di waktu malam, malaikat itu akan mendoakan: "Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini karena ia tidur dalam keadaan suci."

11. Berbaring ke Sisi Kanan Saat Memulai Tidur

Posisi tidur memiliki panduan ergonomis dan teologis di dalam Islam, di mana tubuh dianjurkan menghadap atau bertumpu pada sisi kanan.

"Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu." (HR. Bukhari dan Muslim).

Menurut para ulama, posisi miring ke kanan mengingatkan manusia pada posisi jenazah di liang lahad, sehingga memicu kesadaran akan kematian (muraqabah). Secara medis medis, posisi ini meringankan beban jantung (yang berada di sebelah kiri) sehingga ritme pompa darah menjadi lebih stabil saat beristirahat.

12. Meruqyah Diri Sendiri Sebelum Tidur

Menjadikan tempat tidur sebagai benteng pertahanan spiritual adalah kebiasaan harian Nabi SAW melalui bacaan surah-surah perlindungan.

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, "Apabila Rasulullah SAW hendak tidur di tempat tidurnya setiap malam, beliau menyatukan kedua telapak tangannya, lalu meniupnya dan membaca: Qul Huwallahu Ahad, Qul A'udzu birabbil Falaq, dan Qul A'udzu birabbin Naas. Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangannya ke seluruh tubuhnya..." (HR. Bukhari).

Amalan yang diulang hingga tiga kali ini adalah ruqyah syar'iyyah mandiri. Ini memberikan proteksi penuh bagi jiwa dari ancaman sihir, dengki, dan gangguan makhluk halus selama manusia tidak sadarkan diri.

13. Segera Tidur Setelah Shalat Isya (Tidak Begadang)

Manajemen waktu di malam hari sangat menentukan produktivitas esok hari. Mengobrol atau begadang tanpa tujuan syar'i (seperti menuntut ilmu atau melayani tamu) adalah hal yang dihindari.

"Bahwasanya Nabi SAW membenci tidur sebelum (shalat) Isya dan mengobrol setelahnya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Larangan makruh ini bertujuan menjaga ritme sirkadian tubuh. Tidur lebih awal memastikan seseorang memiliki kebugaran prima untuk bangun melaksanakan shalat malam (Tahajud) dan tidak melewatkan shalat Subuh berjamaah.

14. Berdoa dan Menjaga Posisi Kaki Saat Masuk-Keluar Kamar Mandi

Bahkan untuk urusan membuang hajat di area privat rumah, syariat mengatur detail adabnya untuk menjaga kesucian dan keselamatan.

Saat masuk WC, Nabi membaca: "Allahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khabaits" (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan) (HR. Bukhari dan Muslim).

Disunnahkan masuk mendahulukan kaki kiri dan keluar mendahulukan kaki kanan (kebalikan dari aktivitas mulia). Doa tersebut menjadi tirai penutup aurat dari pandangan jin, mengingat kamar mandi adalah tempat yang disukai oleh entitas negatif.

15. Berdoa Saat Melangkahkan Kaki Keluar Rumah

Amalan meninggalkan rumah ini sering kali diabaikan karena terburu-buru, padahal ini adalah kunci keselamatan seharian penuh di luar rumah.

"Barangsiapa yang ketika keluar dari rumahnya membaca: Bismillahi tawakkaltu 'alallah, laa hawla wa laa quwwata illa billah (Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada-Nya, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah), maka akan dikatakan kepadanya: Engkau telah diberi petunjuk, dicukupkan, dan dilindungi. Setan pun akan menyingkir darinya." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Melafalkan doa ini mengundang intervensi langsung dari Allah melalui malaikat-Nya. Seseorang yang mengamalkan ini dipastikan mendapat bimbingan dalam setiap keputusannya hari itu, dilancarkan urusannya, dan dijauhkan dari marabahaya fisik maupun tipu daya.

Menghidupkan rangkaian sunnah di dalam rumah ini sejatinya adalah proses mengundang kehadiran Allah SWT dalam setiap detail kehidupan tangga. Tindakan yang tampaknya "sepele" ini justru menjadi pembuktian cinta seorang hamba kepada Nabi-Nya, yang kelak membuahkan ketenangan batin dan keberkahan bagi seluruh penghuni rumah.

Fadhilah Menghidupkan Sunnah di Rumah

1. Mengundang Kecintaan dan Ampunan Allah SWT

Keutamaan tertinggi dari mengamalkan sunnah adalah meraih cinta Sang Pencipta. Berdasarkan firman Allah dalam Surah Ali 'Imran ayat 31, mengikuti jejak langkah Rasulullah SAW merupakan syarat mutlak agar seorang hamba dicintai dan diampuni dosa-dosanya oleh Allah. Rumah yang di dalamnya hidup amalan sunnah akan menjadi magnet bagi turunnya rahmat Ilahi.

2. Membentengi Rumah dari Gangguan Setan

Amalan sunnah seperti mengucapkan salam saat masuk rumah, membaca Basmalah sebelum makan dan menutup wadah, serta meruqyah diri sebelum tidur berfungsi sebagai perisai spiritual. Rumah yang dipenuhi adab-adab ini tidak akan bisa dimasuki atau dijadikan tempat bermalam oleh setan, sehingga penghuninya terhindar dari gangguan dan penyakit hati.

3. Menciptakan Harmoni dan Kedamaian Keluarga

Sunnah Nabi SAW sangat mengedepankan akhlak mulia di dalam rumah tangga, seperti membantu pekerjaan istri, tersenyum, dan bersiwak agar aroma mulut tetap segar saat berinteraksi. Kebiasaan-kebiasaan ini secara psikologis meruntuhkan ego, meningkatkan empati, dan menciptakan suasana keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

4. Mengubah Kebiasaan Mubah Menjadi Ibadah Berpahala

Aktivitas sehari-hari seperti makan, minum, tidur, hingga masuk kamar mandi pada dasarnya adalah hal yang mubah (netral). Namun, dengan meniatkan diri mengikuti tata cara (sunnah) Rasulullah—seperti mendahulukan bagian kanan, minum sambil duduk, dan berdoa—seluruh rutinitas duniawi tersebut secara otomatis bernilai ibadah dan mendatangkan pahala yang berlipat ganda.

5. Mengundang Kehadiran Malaikat Rahmat

Rumah yang penghuninya terbiasa menjaga kesucian (seperti tidur dalam keadaan berwudhu) dan mengamalkan dzikir harian akan menjadi tempat yang nyaman bagi para malaikat rahmat. Kehadiran malaikat ini membawa ketenangan batin (sakinah) bagi penghuni rumah dan mendatangkan doa-doa ampunan dari makhluk suci tersebut.

6. Menjaga Stabilitas Kesehatan Fisik dan Mental

Banyak sunnah di rumah yang berimplikasi langsung pada kesehatan, seperti tidur di awal malam, berbaring ke sisi kanan, menjaga kebersihan mulut dengan siwak, dan makan perlahan. Rutinitas ini tidak hanya menjaga kebugaran jasmani agar siap beribadah, tetapi juga menstabilkan emosi dan meredakan stres (kesehatan mental) di tengah tekanan kehidupan sehari-hari.

Pertanyaan Seputar Amalan Sunnah

Amalan sunnah apa saja yang kerap Anda kerjakan?

5 Sunnah Harian Rasulullah yang Sering TerlupakanMembaca Doa Masuk dan Keluar Rumah.2. Bersiwak atau Membersihkan Gigi.Membaca Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas Sebelum Tidur.Mengucapkan Salam.Duduk Berdzikir Setelah Shalat Subuh.

Amalan apa yang pahalanya paling besar?

Amalan yang paling besar pahalanya sangat beragam, tergantung pada bobot keikhlasan, kedekatan pelaksanaannya dengan Allah SWT, serta dampaknya bagi umat manusia.

Amal apa yang paling disukai Allah?

Amalan yang paling dicintai Allah adalah salat tepat pada waktunya, berbakti kepada orang tua, serta jihad di jalan Allah. Selain itu, Allah sangat menyukai amalan yang dilakukan secara konsisten (rutin) meskipun jumlahnya sedikit, serta memberikan manfaat dan kebahagiaan kepada orang lain.

Apa saja 12 sunnah yang umum?

1. Pandangan yang benar adalah bahwa shalat sunnah rutin terdiri dari dua belas rakaat: 2 rakaat sebelum Subuh; 4 rakaat sebelum Dzuhur, dengan 2 salam, dan 2 rakaat setelahnya; 2 rakaat setelah Maghrib; dan 2 rakaat setelah Isya .

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |