6 Amalan yang Bisa Dilakukan pada Hari Tasyrik, Simak Penjelasan dan Tata Caranya

17 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Hari Raya Kurban telah berlalu, namun peluang meraih pahala besar dari Allah SWT masih terbuka lebar melalui tiga hari setelahnya yang dikenal sebagai Hari Tasyrik. Terdapat beragam amalan yang bisa dilakukan pada Hari Tasyrik dengan fadhilahnya sebagai hari istimewa.

Banyak yang mengira fase ini hanya masa libur biasa, padahal ia merupakan salah satu waktu terbaik untuk beribadah dalam setahun. Dari ibadah yang paling sederhana seperti makan dan minum, hingga amalan utama seperti memperbanyak takbir, semuanya bisa menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT pada hari-hari yang penuh berkah ini.

Hari Tasyrik merupakan tiga hari setelah Hari Raya Idul Adha, yakni tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijjah. Lantaran istimewa, terdapat kekhususan aturan syariat pada hari Tasyrik, termasuk amalan yang dilarang.

Merujuk ebook Amalan Awal Dzulhijjah hingga Hari Tasyrik, Muhammad Abduh Tuasikal, buku Asal Usul Hari Tasyrik, Aris Munandar, dan sumber kredibel lainnya, mari simak amalan-amalan yang bisa dilakukan di Hari Tasyrik.

1. Memperbanyak Takbir

Memperbanyak takbir merupakan amalan yang paling ditekankan pada hari Tasyrik. Para ulama membagi takbir menjadi dua kategori:

a. Takbir Muqayyad (Terikat Waktu)

Takbir muqayyad adalah takbir yang dibaca setiap selesai shalat fardhu lima waktu, dimulai sejak waktu Subuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga waktu Ashar pada hari Tasyrik terakhir (13 Dzulhijjah). Dalam hadits riwayat Al-Hakim disebutkan, "Rasulullah SAW membaca takbir sejak subuh di hari Arafah dan berhenti di Ashar terakhir Hari Tasyriq".

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa sahabat Ibnu Umar dan Abu Hurairah ra. biasa mengumandangkan takbir pada hari-hari Tasyrik. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani mengutip pandangan Imam Abu Hanifah bahwa amal pada hari Tasyrik adalah takbir setelah shalat. Ibnu Bathal dalam syarah Shahih Bukhari bahkan menyatakan bahwa dzikir takbir pada hari Tasyrik lebih utama daripada shalat sunnah.

Lafaz Takbir yang Dianjurkan:

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

"Allahu Akbar, Allahu Akbar, laa ilaha illallah, wallahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd."

b. Takbir Mutlak (Tidak Terikat Waktu)

Selain takbir setelah shalat, dianjurkan pula untuk memperbanyak takbir secara mutlak di mana saja dan kapan saja selama hari Tasyrik — di pasar, di masjid, di kendaraan, maupun di rumah. Sahabat Ibnu Umar ra. dan Abu Hurairah ra. biasa keluar ke pasar pada hari Tasyrik, lalu mereka bertakbir dan manusia pun ikut bertakbir.

2. Memperbanyak Dzikir

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya mengutip riwayat hadits yang menganjurkan umat Islam untuk membaca tahlil, tahmid, dan takbir pada hari Tasyrik. Dalam riwayat Ibnu Umar disebutkan tambahan:

فَأَكْثِرُوْا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّحْمِيْدِ وَالتَّكْبِيْرِ

Artinya: "Perbanyaklah tahlil, tahmid, dan takbir pada Hari Tasyrik."

Keempat bacaan dzikir ini (Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaha illallah, Allahu Akbar) memiliki keutamaan yang sangat besar. Membacanya di hari Tasyrik berarti menggabungkan keutamaan waktu istimewa dengan dzikir yang dicintai Allah SWT.

3. Memperbanyak Doa

Selain diperintahkan untuk banyak berdzikir, dianjurkan pula untuk memperbanyak doa pada hari Tasyrik. Para ulama Salaf sangat menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak doa selama hari Tasyrik. Abu Musa Al-Asy'ari dalam khutbahnya pada hari raya Idul Adha menyampaikan:

"Setelah hari raya ada tiga hari, di mana Allah menyebutnya dengan istilah 'hari-hari yang ditentukan'. Dan doa pada hari-hari itu tidak akan ditolak. Dengan demikian, perbesarlah harapan kalian."

Doa yang paling dianjurkan untuk diperbanyak adalah Doa Sapu Jagat yang termaktub dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 201:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka."

Doa ini mengandung seluruh kebaikan dunia dan akhirat, dan termasuk dzikir yang paling utama. Selain itu, dianjurkan pula memperbanyak istigfar (mohon ampun) dan sedekah selama hari Tasyrik.

4. Menyembelih Hewan Kurban

Kesempatan berqurban masih terbuka lebar pada hari-hari tasyrik. Menurut mayoritas ulama, termasuk Imam Nawawi, waktu penyembelihan kurban berlaku sampai tanggal 13 Dzulhijjah, yaitu hingga akhir hari tasyrik.

Ini menjadi kabar gembira bagi mereka yang belum sempat menyembelih kurban pada hari Idul Adha (10 Dzulhijjah). Ibadah kurban tetap sah dan berpahala jika dilakukan pada tanggal 11, 12, atau 13 Dzulhijjah. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Kautsar ayat 2:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Artinya: "Maka, laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!"

Ketika menyembelih kurban, dianjurkan untuk membaca tasmiyah (bismillah) dan takbir sebagai bentuk dzikir kepada Allah.

5. Makan dan Minum sebagai Bentuk Ibadah

Rasulullah SAW secara tegas menyatakan bahwa hari Tasyrik adalah hari makan dan minum. Aktivitas sehari-hari ini pun dapat bernilai ibadah jika diniatkan dengan benar. Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ

Artinya: "Hari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan berzikir kepada Allah."

Artinya, meski terlihat seperti hari-hari biasa, sebenarnya hari-hari ini adalah momen ibadah yang dapat mendekatkan kita kepada Allah — bahkan melalui aktivitas sehari-hari seperti makan dan minum, selama diniatkan untuk memperkuat diri dalam ketaatan kepada-Nya.

Disyariatkan untuk membaca basmalah (bismillah) ketika memulai makan dan minum, serta mengakhirinya dengan hamdalah (alhamdulillah).

6. Beragam Jenis Amal Ibadah Lainnya

Ibnu Hajar Al-Asqalani mengutip pendapat Ibnu Abi Jamrah bahwa Islam tidak menentukan amal atau dzikir tertentu pada hari Tasyrik. Menurut Ibnu Abi Jamrah, amal apa pun akan lebih utama jika dilakukan pada hari Tasyrik.

وَقال بن أبي جمرة الحديث دال على أن العمل في أيام التشريق أفضل من العمل في غيره

Artinya: "Ibnu Abi Jamrah mengatakan, 'Hadits ini menunjukkan bahwa amalan pada hari Tasyrik lebih utama daripada amalan di hari-hari lainnya.'"

Dengan demikian, segala bentuk amalan shalih, seperti membaca Al-Qur'an, bersedekah, beristighfar, beramar ma'ruf nahi mungkar, menyambung silaturahmi, dan seluruh bentuk ketaatan lainnya, sangat dianjurkan untuk diperbanyak pada hari Tasyrik. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari:

مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذِهِ

Artinya: "Tidak ada amal pada hari-hari ini yang lebih utama daripadanya di hari-hari ini."

Keistimewaan Hari Tasyrik

Hari Tasyrik memiliki sejumlah keistimewaan yang menjadikannya berbeda dari hari-hari biasa:

1. Waktu yang Agung di Sisi Allah SWT

Hari Tasyrik termasuk dalam "hari-hari yang terbilang" yang Allah sebutkan dalam Al-Qur'an dan diperintahkan untuk memperbanyak dzikir di dalamnya. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, Ibnu Abbas ra. menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "hari-hari yang terbilang" (الأيام المعدودات) adalah hari-hari Tasyrik.

2. Waktu Mustajab untuk Berdoa

Sebagaimana disebutkan para ulama Salaf, doa pada hari Tasyrik memiliki kedudukan istimewa dan tidak akan ditolak oleh Allah SWT.

3. Hari Raya Umat Islam

Rasulullah ﷺ menetapkan bahwa Hari Tasyrik adalah bagian dari hari raya umat Islam, sehingga dirayakan dengan suka cita dan dilarang berpuasa.

4. Waktu Ibadah saat Banyak Orang Lalai

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan salah satu keistimewaan hari Tasyrik adalah bahwa pada hari-hari ini kebanyakan orang lalai dalam beribadah, sehingga orang yang mengisinya dengan ibadah akan mendapatkan keutamaan yang lebih besar.

"Hari tasyrik mendapat keistimewaan untuk ibadah karena pada hari-hari ini merupakan waktu di mana kebanyakan orang lalai. Ini salah satu keutamaan yang terkandung di hari tasyrik."

5. Segala Amalan Mendapat Keutamaan Lebih Besar

Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani, hari Tasyrik merupakan waktu istimewa untuk ibadah sehingga apapun amal ibadah yang dilakukan pada waktu-waktu yang istimewa, ganjarannya juga istimewa.

Larangan di Hari Tasyrik

Satu-satunya larangan yang tegas pada hari Tasyrik adalah berpuasa. Larangan ini bersifat mutlak bagi seluruh umat Islam di luar jamaah haji, baik puasa sunnah (seperti puasa Senin-Kamis, puasa Daud, maupun puasa ayyamul bidh) maupun puasa wajib (seperti mengqadha puasa Ramadhan).

Larangan puasa pada hari Tasyrik didasarkan pada beberapa dalil yang kuat:

Hadits riwayat Imam Muslim: "Dari Nubaisyah Al-Hudzali ra., Rasulullah SAW bersabda, 'Hari-hari Tasyrik adalah hari-hari makan, minum, dan berzikir kepada Allah.'" (HR. Muslim)

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari: "Dari 'Aisyah dan Ibnu 'Umar ra., keduanya berkata: 'Tidak diberikan keringanan untuk berpuasa pada hari-hari Tasyrik kecuali bagi orang yang tidak mendapatkan hewan hadyu.'" (HR. Al-Bukhari)

Hadits riwayat Ahmad: "Jangan kalian melaksanakan ibadah puasa pada hari-hari ini (hari Tasyrik) karena ia adalah hari makan dan minum." (Riwayat Ahmad).

Pengecualian bagi Jamaah Haji Tamattu' yang Tidak Mendapatkan Hadyu

Meskipun secara umum puasa pada hari Tasyrik diharamkan, terdapat satu pengecualian yang diberikan syariat, yaitu bagi jamaah haji yang melaksanakan manasik tamattu' atau qiran dan tidak mendapatkan hewan hadyu (hewan kurban yang disembelih di tanah haram).

Ketika seorang jamaah haji memilih metode Tamattu' atau Qiran, mereka diwajibkan membayar dam (denda) berupa menyembelih seekor kambing. Jika mereka tidak mampu atau tidak memiliki hewan sembelihan, maka kewajibannya diganti dengan berpuasa selama 10 hari (3 hari di masa haji dan 7 hari setelah pulang ke kampung halaman).

Hanya dalam kondisi ini, puasa pada hari Tasyrik diperbolehkan, sebagaimana tercantum dalam hadits riwayat Bukhari di atas.

Implikasi bagi Puasa Ayyamul Bidh

Karena tanggal 13 Dzulhijjah termasuk hari Tasyrik, maka puasa Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, 15 Hijriah) pada bulan Dzulhijjah tidak diperbolehkan pada tanggal 13-nya.

Solusinya, puasa tiga hari (ayyamul bidh) pada bulan Dzulhijjah dapat dilakukan pada tanggal 14, 15, dan 16 Dzulhijjah, atau pada tanggal-tanggal lain yang bukan hari Tasyrik.

Mengapa Dilarang Berpuasa di Hari Tasyrik?

Ada beberapa alasan mengapa syariat menetapkan larangan puasa pada hari Tasyrik:

1. Hari Tasyrik adalah Hari Raya Umat Islam

Hari Tasyrik merupakan bagian dari hari raya umat Islam. Secara syariah, hari raya umat Islam ada empat macam: Idul Fitri, Idul Adha, hari Tasyrik (11-13 Dzulhijjah), dan hari Jumat. Di keempat hari raya ini, umat Islam diharamkan untuk berpuasa.

2. Larangan Berdasarkan Ijma' Ulama

Sayyid Abu Bakar Syatha dalam kitab I'anatuth Thalibin menjelaskan bahwa keharaman puasa pada hari raya Idul Adha dan hari Tasyrik merupakan ijma' (kesepakatan bulat) para ulama yang bersandar pada larangan dari Rasulullah ﷺ.

"Landasan hukum asal mengenai keharaman berpuasa pada kedua hari raya tersebut adalah ijma (kesepakatan bulat para ulama) yang bersandar pada larangan dari Pembuat Syariat (Nabi Muhammad SAW), sebagaimana tercantum dalam hadis riwayat Syaikhain (Al-Bukhari dan Muslim)." (I'anatuth Thalibin, II: 309)

3. Hari Makan, Minum, dan Dzikir

Rasulullah ﷺ secara langsung mendefinisikan hari Tasyrik sebagai hari makan, minum, dan berzikir — bukan hari berpuasa. Aktivitas berpuasa justru berarti menahan diri dari makan dan minum, sehingga bertentangan dengan definisi tersebut.

4. Menikmati Hidangan Kurban

Dilarang berpuasa agar umat Islam dapat menikmati daging kurban yang melimpah sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Allah SWT. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah SWT sekaligus penyempurna ibadah kurban itu sendiri.

Hikmah Larangan Berpuasa di Hari Tasyrik

Di balik larangan puasa yang tampak sederhana, tersimpan berbagai hikmah yang sangat mendalam:

1. Hikmah Sosial: Makan Bersama untuk Mempererat Ukhuwah

Islam adalah agama yang penuh harmoni. Ada waktu untuk menahan diri, seperti di bulan Ramadhan, namun ada pula waktu di mana umat Islam dianjurkan untuk menikmati hidup bersama. Dengan dianjurkannya makan dan minum bersama serta dilarangnya puasa, umat Islam didorong untuk berkumpul, bersilaturahmi, dan saling berbagi kebahagiaan. Hidangan daging kurban yang melimpah menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan antar sesama muslim, baik dengan keluarga, tetangga, maupun fakir miskin.

2. Bentuk Kasih Sayang Allah kepada Umat-Nya

Hari Tasyrik merupakan bentuk kasih sayang Allah SWT kepada umat-Nya dengan memberikan peluang untuk menikmati hidangan hari kurban dan tidak dibebani dengan puasa. Setelah sebulan penuh di bulan Ramadhan dan rangkaian ibadah haji yang melelahkan, Allah memberikan kesempatan untuk memulihkan tenaga dengan menikmati makanan yang halal lagi baik.

3. Menyeimbangkan Ibadah: Antara Menahan Diri dan Bersyukur

Larangan puasa pada hari Tasyrik mengajarkan umat Islam tentang keseimbangan dalam beribadah. Islam tidak hanya mengajarkan pengendalian diri (seperti puasa), tetapi juga mengajarkan untuk bersyukur dan menikmati nikmat Allah secara wajar. Seorang muslim hendaknya mampu menyeimbangkan antara ibadah pengendalian diri dan ibadah yang bersifat merayakan nikmat Allah. Keduanya sama-sama bernilai ibadah jika diniatkan dengan benar.

4. Memperkuat Tubuh untuk Beribadah

Makan dan minum pada hari raya dapat menolong seorang muslim untuk berdzikir dan melakukan ketaatan kepada Allah SWT. Dengan memenuhi kebutuhan fisik secara layak, seorang hamba akan lebih bersemangat dalam menjalankan ibadah-ibadah lainnya. Inilah yang disebutkan dalam hadits bahwa hari Tasyrik adalah hari makan, minum, DAN berdzikir kepada Allah — tiga kegiatan yang saling terkait dan saling mendukung. 

Pertanyaan Seputar Amalan di Hari Tasyrik

Apa amalan di hari tasyrik?

Amalan utama di hari Tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah) adalah bersyukur dan mendekatkan diri kepada Allah

Bagaimana hukum melaksanakan puasa di hari Tasyrik 11 12 13 Dzulhijjah?

Hukum melaksanakan puasa di hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) adalah haram. Berdasarkan kesepakatan para ulama, umat Islam dilarang keras berpuasa pada hari-hari tersebut karena merupakan waktu untuk bersenang-senang menyantap hidangan kurban.

Kegiatan apa yang dilakukan pada hari tasyrik?

Pada Hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Zulhijah), umat Islam disunnahkan memperbanyak zikir, bertakbir, dan menyembelih hewan kurban. Hari ini juga merupakan waktu bagi jemaah haji melontar jumrah di Mina. Umat Islam diharamkan berpuasa dan dianjurkan menikmati makan serta minum sebagai bentuk rasa syukur

Apa yang tidak boleh dilakukan di hari Tasyrik?

Larangan utama yang tidak boleh dilakukan pada hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Zulhijjah) adalah berpuasa. Umat Islam diharamkan atau dilarang melaksanakan segala jenis puasa pada periode ini, baik itu puasa wajib maupun puasa sunnah (seperti puasa Daud, puasa Senin-Kamis, atau puasa qadha).

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |