8 Keutamaan Membaca Tahmid setelah Penyembelihan Kurban, Penyempurna Ibadah

13 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Ibadah kurban merupakan wujud ketakwaan seorang hamba kepada Allah SWT. Dalam proses penyembelihan yang sesuai syariat, terdapat sunnah mulia yang acapkali terlewatkan. Oleh karena itu, memahami keutamaan membaca tahmid setelah penyembelihan kurban sangat penting untuk menyempurnakan adab beribadah.

Kalimat tahmid menjadi bentuk rasa syukur atas nikmat beribadah dengan hewan ternak. Bahwa hewan kurban kita adalah karunia Allah SWT, yang akan kembali kepada-Nya.

Allah berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 36: "Demikianlah Kami telah menundukkannya untukmu, mudah-mudahan kamu bersyukur".

Imam Ibnu Katsir di dalam kitab Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim menegaskan bahwa perwujudan syukur mencakup lisan dan perbuatan. Melafalkan tahmid usai menyembelih kurban adalah bentuk pengakuan atas pertolongan-Nya.

Merangkum Buku Pedoman Penyelenggaraan Kurban yang Syar'i & Higienis Metode HCCP, Jakarta Islamic Center, Buku Saku Fikih Qurban, Inisiatif Zakat Indonesia dan sumber relevan lain, berikut ini adalah ulasan keutamaan membaca tahmid setelah menyembelih hewan kurban.

Setiap zikir yang dianjurkan dalam ibadah memiliki fadhilah khusus. Berikut adalah keutamaan utama membaca tahmid setelah penyembelihan hewan kurban yang disisipi dalil serta penjelasan ulama di setiap poinnya:

1. Perwujudan Syukur atas Penundukan (Tashkhir) Hewan Ternak

Allah SWT telah menundukkan hewan yang bertubuh besar seperti sapi, kerbau, atau unta agar patuh dan dapat disembelih oleh manusia demi kemaslahatan ibadah. Membaca tahmid merupakan pengakuan bahwa tanpa pertolongan-Nya, manusia tidak memiliki kemampuan untuk menguasai hewan tersebut.

Firman Allah SWT:

كذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: "Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur." 

Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim, menjelaskan bahwa ungkapan syukur yang dimaksud dalam ayat ini mencakup lisan dan perbuatan. Membaca Alhamdulillah setelah penyembelihan adalah bentuk syukur lisan paling utama karena Allah telah memudahkan proses penundukan hewan tersebut sehingga penyembelihan berjalan lancar tanpa bahaya.

2. Merealisasikan Perintah Zikir pada Hari-Hari Tasyrik dan Nahr

Hari Raya Idul Adha (Nahr) dan Hari Tasyrik adalah momentum yang disyariatkan penuh dengan zikir, makan, dan minum. Membaca tahmid tepat setelah menyembelih menggenapkan rangkaian zikir harian kurban.

Nabi SAW beliau bersabda:

إِنَّهَا أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Artinya: "Sesungguhnya hari-hari itu (Nahr dan Tasyrik) adalah hari untuk makan, minum, dan berzikir kepada Allah 'Azza wa Jalla." (HR. Ahmad). 

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab memaparkan bahwa zikir yang dimaksud dalam hari-hari nahr tidak terbatas pada takbiran saja. Disunnahkan melafalkan tahmid setelah menyembelih sebagai bagian dari dzikrullah yang menghidupkan syiar ibadah kurban. Ketika hewan telah disembelih, kalimat Alhamdulillah menandai tuntasnya satu perintah syariat penyembelihan.

3. Mengikuti Sunnah dan Adab Generasi Salafus Shalih

Membaca tahmid setelah menyembelih merupakan penyempurnaan dari zikir sebelum menyembelih (basmalah dan takbir). Menyandingkan basmalah di awal dan tahmid di akhir adalah adab tertinggi dalam setiap perkara kebaikan.

Dalil Hadits Riwayat Imam Muslim:

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقَرْنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ

Artinya: "Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam berkurban dengan dua kambing kibasy berwarna putih lagi panjang tanduknya, beliau menyembelihnya dengan tangan beliau sendiri yang mulia seraya membaca basmalah dan bertakbir..." (HR. Muslim). 

Meskipun hadits di atas secara tekstual menekankan pembacaan basmalah (tasmiyah) dan takbir di awal penyembelihan , Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari menyebutkan bahwa para ulama menyukai (menyukai hukumnya sunnah/mustahab) agar pembacaan zikir diakhiri dengan tahmid dan doa penerimaan kurban (Allahumma taqabbal minni/min falan).

Hal ini meniru perilaku para sahabat yang senantiasa memuji Allah atas tuntasnya suatu amal ketaatan.

4. Tahmid sebagai Kalimat yang Paling Dicintai Allah dan Sedekah

Tahmid memiliki kedudukan yang sangat istimewa di sisi Allah SWT. Kalimat "Alhamdulillah" merupakan bentuk pujian yang sempurna kepada Allah, yang mengandung pengakuan bahwa segala kebaikan, nikmat, dan keutamaan semata-mata berasal dari-Nya.

Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya sebaik-baik doa adalah 'Alhamdulillah'." (HR Tirmidzi).

Hadits ini menunjukkan betapa agungnya kalimat tahmid di hadapan Allah, bahkan disebut sebagai sebaik-baik doa yang dapat dipanjatkan seorang hamba. Dalam konteks penyembelihan kurban, mengucapkan tahmid berarti seorang muslim tidak hanya melaksanakan ritual fisik, tetapi juga memanjatkan doa terbaik yang diajarkan Rasulullah SAW, yang tentunya akan lebih dikabulkan oleh Allah SWT.

Salah satu keutamaan besar dari membaca tahmid adalah bahwa ia dinilai sebagai sedekah di sisi Allah SWT. Hal ini sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW: "Sesungguhnya, tiap-tiap tasbih adalah sedekah, tiap-tiap tahmid adalah sedekah, tiap-tiap tahlil adalah sedekah, dan tiap-tiap takbir adalah sedekah." (HR Muslim).

Dengan demikian, ketika seorang muslim melafalkan tahmid setelah menyembelih hewan kurban, ia tidak hanya menyempurnakan rangkaian ibadah, tetapi juga telah bersedekah dengan lisannya.

Dalam kitab Al-Wafi karya Musthafa Dib Al-Bugha, dijelaskan bahwa amalan dzikir seperti tasbih, takbir, tahmid, dan tahlil termasuk dalam kategori al-baqiyat ash-shalihât (amalan-amalan kekal yang saleh), yang pahalanya lebih baik di sisi Allah dan lebih baik untuk dijadikan harapan.

Nilai sedekah dari lisan ini menjadi pelengkap sempurna bagi ibadah kurban yang identik dengan pengorbanan harta, menunjukkan bahwa ibadah kurban melibatkan seluruh aspek diri seorang muslim: hati, lisan, dan harta.

5. Tahmid sebagai Wujud Pengagungan dan Rasa Syukur di Hari-hari Mulia

Membaca tahmid setelah penyembelihan kurban juga merupakan bentuk pengamalan perintah Allah SWT untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tertentu. Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 203: "Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah pada hari yang telah ditentukan."

Dalam buku Irsyadul Anam fi Tarjamati Arkanil Islam karya Sayid Utsman bin Yahya dan Tausyih ala Ibni Qasim karya Syekh M Nawawi bin Umar Banten, dijelaskan secara rinci bahwa rangkaian bacaan doa menyembelih hewan kurban terdiri dari basmalah, shalawat, takbir tiga kali, tahmid sekali, dan doa penyembelihan.

Para ulama dari kalangan Syafi'iyyah menjelaskan bahwa takbir dan tahmid ini diucapkan sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT dan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan.

Lafal lengkap yang dianjurkan adalah:

Bacaan Arab:اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ

Latin:Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar, walillāhil hamd

Artinya:"Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan segala puji bagi Allah."

Takbir berarti mengagungkan Allah, sementara tahmid berarti mensyukuri-Nya. Keduanya bukan untuk Allah — karena Allah sudah Maha Agung tanpa bacaan kita — melainkan untuk kebaikan dan kebahagiaan kita sendiri sebagai hamba-Nya.

6. Bentuk Keseimbangan Jiwa

Membaca tahmid setelah penyembelihan hewan kurban bukanlah sekadar tradisi, melainkan bagian dari tuntunan sunnah yang bersumber dari kitab-kitab fikih klasik. Dalam kitab Tausyih ala Ibni Qasim, Syekh M Nawawi Banten menjelaskan urutan doa yang dianjurkan sebelum menghadapkan hewan kurban ke kiblat dan menggoreskan pisau: membaca bismillah secara sempurna, membaca shalawat kepada Rasulullah SAW, kemudian bertakbir tiga kali.

Setelah itu, sesaat sebelum menyembelih, dianjurkan membaca doa: "Allāhumma hādzihī minka wa ilaika, fataqabbal minnī yā karīm".

Dengan melafalkan tahmid, seorang muslim telah menjalankan ibadah kurban sesuai dengan tuntunan sunnah yang diajarkan oleh para ulama salaf. Hal ini menjadikan seluruh rangkaian ibadah lebih sempurna dan lebih bernilai di sisi Allah SWT.

Secara psikologis, takbir dan tahmid memiliki dampak yang mendalam bagi jiwa seorang muslim. Ketika seorang hamba mengagungkan Allah dengan takbir, ia menyadari betapa kecil dan lemahnya dirinya di hadapan kebesaran Allah. Kesadaran ini akan menumbuhkan rasa takut (khauf) yang sehat, yang mencegahnya dari perbuatan maksiat.

Di sisi lain, ketika ia memuji Allah dengan tahmid, ia mengingat segala nikmat dan karunia yang telah Allah limpahkan, sehingga tumbuhlah rasa harap (raja') yang mendalam akan rahmat dan ampunan-Nya.

Keseimbangan antara khauf dan raja' inilah yang membentuk kepribadian muslim yang tangguh dan seimbang. Takbir dan tahmid melatih kita menjadi manusia yang tidak patah hati ketika ditimpa musibah, dan tidak sombong ketika memiliki segalanya.

Dalam konteks ibadah kurban, keseimbangan ini sangat penting, karena di satu sisi seorang muslim harus rela berkorban dengan hartanya, tetapi di sisi lain ia harus tetap optimis bahwa pengorbanannya akan diterima dan diganjar dengan pahala yang berlipat ganda.

7. Kekhususan Tahmid di 10 Hari Pertama Dzulhijah dan Tasyrik

Tidak semua waktu memiliki keistimewaan yang sama di sisi Allah. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah waktu yang paling utama untuk beramal saleh, bahkan melebihi jihad di jalan Allah (kecuali jihad yang berakhir dengan syahid).

Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada hari-hari di mana amal saleh pada waktu itu lebih dicintai oleh Allah melebihi amal saleh yang dilakukan pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah." (HR Bukhari no. 969).

Salah satu bentuk amal saleh yang sangat dianjurkan untuk diperbanyak pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah adalah membaca tahlil, takbir, dan tahmid. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid di hari-hari itu." (HR Ahmad dan Al-Baihaqi).

Syaikh Hanin Tamam, Guru Besar Fiqih Universitas Al-Azhar Kairo, menjelaskan bahwa pahala dzikir berupa takbir, tahmid, dan tahlil sangat utama di sisi Allah SWT dan akan diganjar dengan surga Allah.

Dengan demikian, ketika seorang muslim menyembelih hewan kurban yang dilengkapi dengan bacaan tahmid, ia telah mengamalkan dzikir pada waktu yang paling utama (10 Dzulhijjah), sehingga pahalanya menjadi berlipat ganda.

Amalan membaca tahmid tidak hanya dianjurkan saat penyembelihan pada tanggal 10 Dzulhijjah, tetapi juga dilanjutkan pada hari-hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah). Hari Tasyrik adalah hari yang paling agung di sisi Allah SWT setelah hari kurban.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Sesungguhnya hari-hari yang paling agung di sisi Allah SWT adalah hari kurban (Idul Adha), kemudian hari al-qarr (hari setelah Idul Adha)." (HR Abu Dawud).

Dalam kitab Fathul Bari bi Syarhi Shahihil Bukhari, Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa salah satu keutamaan Hari Tasyrik adalah waktu yang istimewa untuk ibadah karena pada hari tersebut kebanyakan orang lalai. Beliau juga mengutip riwayat dari Ibnu Umar yang berisi anjuran: "Perbanyaklah tahlil, tahmid, dan takbir pada Hari Tasyrik." (Al-Asqalani, 2004 M/1424 H).

Oleh karena itu, mengucapkan tahmid saat penyembelihan kurban pada 10 Dzulhijjah sekaligus menjadi pintu untuk terus memperbanyak dzikir pada hari-hari Tasyrik yang mulia.

8. Tahmid Membawa Keberkahan pada Daging Kurban yang akan Dibagikan

Salah satu aspek penting yang sering luput dari perhatian adalah bahwa bacaan doa dan dzikir yang mengiringi proses penyembelihan dapat memberikan berkah pada daging kurban yang akan dinikmati oleh para penerima.

Membaca takbir tiga kali dan tahmid sekali merupakan bagian dari rangkaian doa yang dianjurkan saat menyembelih hewan kurban. Doa ini mengingatkan bahwa seluruh ibadah kurban adalah bentuk pengagungan kepada Allah SWT dan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan.

Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menjelaskan bahwa pada hari raya kurban, dzikir seperti tahmid dan takbir dianjurkan untuk diucapkan berulang-ulang, baik saat duduk, berjalan, maupun di dalam masjid. Ketika penyembelihan diiringi dengan tahmid, maka daging kurban yang dihasilkan tidak hanya halal dan thayyib secara fisik, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai spiritual yang akan membawa keberkahan bagi orang-orang yang mengkonsumsinya.

Menurut jumhur ulama, rangkaian bacaan yang terdiri dari basmalah, shalawat, takbir tiga kali, dan tahmid sekali, serta doa penyembelihan merupakan rangkaian yang dianjurkan (sunnah) saat menyembelih hewan kurban.

Meskipun sahnya penyembelihan hanya membutuhkan bacaan basmalah (menurut mayoritas ulama), namun menyempurnakan rangkaian dengan shalawat, takbir, dan tahmid akan menambah nilai ibadah dan mendatangkan pahala yang lebih besar.

Sebagaimana dinukil dari kitab Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah, rangkaian dzikir ini merupakan bentuk penghormatan kepada Rasulullah SAW sekaligus pengagungan kepada Allah SWT. Dengan menyempurnakan sunnah-sunnah ini, seorang muslim menunjukkan kesungguhannya dalam beribadah dan keinginannya untuk meraih ridha Allah secara maksimal.

Filosofi Tahmid dalam Kurban

Terdapat kaitan erat antara tahmid dengan ibadah kurban. Salah satunya tercermin dalam perintah berkurban dalam Surat Al-Kautsar ayat 2:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Artinya: "Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.".

Surat ini diturunkan sebagai penghibur bagi Rasulullah SAW atas karunia telaga Al-Kautsar dan nikmat yang berlimpah. Konteks kalimat "Wanhar" (dan sembelihlah kurban) merupakan bentuk ketundukan dan rasa syukur mutlak atas nikmat besar tersebut.

Oleh karena itu, ketika pisau selesai memutuskan urat leher hewan kurban, secara filosoifis kalimat Tahmid (Alhamdulillah) menjadi penanda yang mengaitkan ibadah fisik tersebut dengan rasa syukur batiniah.

Pequrban menyadari bahwa harta yang ia keluarkan dan hewan yang dikorbankan adalah milik Allah, dan kembali kepada Allah demi mengharap keridaan-Nya semata.

Pertanyaan Seputar Keutamaan Membaca Tahmid

Apa keutamaan membaca tahmid?

Membaca tahmid (Alhamdulillah) adalah amalan ringan yang sangat dicintai Allah. Keutamaannya meliputi pemberat timbangan amal, penghapus dosa, dan kunci turunnya keberkahan.

Berapa kali kita disunnahkan membaca istighfar, tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil?

Kita disunnahkan membaca kelima dzikir tersebut (istighfar, tasbih, tahmid, takbir, tahlil) dengan jumlah yang bervariasi sesuai dengan waktu dan tuntunan dari Rasulullah SAW.

Kapan kita dianjurkan mengucapkan bacaan tahmid?

Tahmid (membaca "Alhamdulillah") diucapkan sebagai bentuk puji syukur kepada Allah SWT. Umat Islam sangat dianjurkan untuk melafalkannya dalam berbagai kondisi,

Tasbih malaikat 100x dibaca kapan?

Tasbih malaikat (lafadz: Subhanallah wa bi hamdihi, subhanallahil 'azhim) dibaca sebanyak 100x pada waktu sebelum sholat Subuh (setelah adzan). Menurut ijazahan para ulama, amalan rutin ini diyakini sebagai pembuka pintu rezeki dan penghapus dosa.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |