9 Adab Menggunakan Media Sosial, Simak Dalil dan Penjelasannya

1 day ago 6
  • Apa itu adab menggunakan media sosial?
  • Mengapa umat Islam perlu adab dalam bermedia sosial?
  • Apa saja adab utama yang harus diperhatikan muslim dalam bermedia sosial?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Pesatnya perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berinteraksi. Media sosial yang awalnya dirancang sebagai alat komunikasi, kini menjadi ruang publik virtual yang tak terpisahkan dari keseharian. Untuk itu, umat Islam perlu memahami adab menggunakan media sosial.

Data menunjukkan pengguna aktif media sosial di Indonesia mencapai 160 juta jiwa. Namun, di balik kemudahan akses informasi dan silaturahmi, ancaman hoaks, ujaran kebencian, perundungan siber, dan pornografi mengintai.

Dalam konteks inilah, Islam menawarkan kerangka adab, yakni seperangkat etika yang membentengi pengguna dari perilaku destruktif, sekaligus mengubah media sosial menjadi ladang pahala dan kemaslahatan bersama.

Artikel ini menyajikan panduan komprehensif tentang adab menggunakan media sosial berdasarkan Al-Qur’an, hadis, serta pandangan ulama yang dihimpun dari berbagai sumber, terutama dari Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (Kemdikbud, 2021), Ebook Menguatkan Iman dengan Adab Menggunakan Media Sosial (Rian Hidayat), dan Adab & Fiqih Bermedia Sosial (Ir. Munawar, Ph.D.).

Berdasarkan dalil-dalil di atas dan penjelasan para ulama, setidaknya terdapat sembilan adab utama yang harus diperhatikan setiap muslim dalam bermedia sosial.

1. Niat yang Baik (Ikhlas)

Dalam Islam, niat menentukan nilai suatu perbuatan. Imam al-Zarnuji dalam kitab Ta’lim al-Muta’alim menjelaskan bahwa banyak perbuatan yang secara lahiriah duniawi, tetapi karena niat yang baik dapat menjadi amal akhirat (bernilai ibadah). Sebaliknya, amal ibadah pun bisa kehilangan pahalanya jika niatnya tidak baik.

Dengan demikian, setiap unggahan, komentar, atau interaksi di media sosial hendaknya diniatkan untuk lillāhi ta’āla, misalnya untuk menyebarkan kebaikan, menambah ilmu, mempererat silaturahmi, atau berdakwah. Ketika niat diluruskan, setiap aktivitas digital dapat menjadi ladang pahala.

2. Memilih Teman yang Baik

Di media sosial, kita akan bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Pilihlah teman yang baik untuk menambah silaturahmi, berbagi informasi positif, dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Apabila ada teman yang mengajak kepada kemungkaran, beranilah mengatakan “TIDAK”..

Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam berbagai kitabnya menekankan bahwa persahabatan memiliki pengaruh kuat dalam membentuk baik atau buruknya seseorang. Dalam dunia digital, lingkaran pertemanan dapat membentuk pola pikir, gaya hidup, bahkan keyakinan penggunanya.

3. Meneliti Kebenaran Informasi (Tabayun)

Inilah adab yang paling fundamental di era hoaks. “Saring sebelum sharing” adalah prinsip yang harus dipegang teguh. Setiap berita yang diterima—betapapun menariknya—wajib diverifikasi terlebih dahulu. Jangan sampai kita termasuk dalam golongan yang disebutkan dalam QS. Al-Hujurat/49: 6, yaitu menyesali perbuatan karena menyebarkan informasi tanpa klarifikasi.

Fatwa MUI menegaskan bahwa hoaks bukan hanya informasi palsu, tetapi juga dosa sosial dan pelanggaran moral. Dalam literatur kitab salaf pun dijelaskan keharaman memproduksi dan menyebarkan propaganda yang menebar kebencian dan adu domba.

4. Menyampaikan Informasi Tanpa Rekayasa atau Manipulasi

Berita bohong (hoaks) sering kali berawal dari pengeditan, rekayasa, dan manipulasi informasi. Islam melarang perbuatan ini dengan tegas. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Hajj/22: 30, “Jauhilah olehmu perkataan-perkataan dusta”. Seorang muslim yang baik tidak boleh merekayasa fakta demi sensasi atau kepentingan tertentu.

5. Mengajak kepada Kebaikan (Dakwah Digital)

Media sosial adalah ladang dakwah yang sangat luas. Dengan data 160 juta pengguna aktif, setiap unggahan positif berpotensi menjangkau jutaan orang. Nabi Muhammad Saw. bersabda:

“Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim).

Oleh karena itu, muslim didorong untuk aktif memposting kegiatan positif, meluruskan informasi hoaks, dan membuat konten yang menebar perdamaian. Media sosial dapat menjadi sarana amar ma’ruf nahi munkar yang efektif.

6. Menyampaikan Informasi dan Komentar dengan Cara yang Baik

Allah Swt. berfirman dalam QS. An-Nahl/16: 125: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik...”.

Ayat ini mengajarkan bahwa cara menyampaikan pesan sama pentingnya dengan isi pesan itu sendiri. Bahkan dalam debat atau perbedaan pendapat sekalipun, seorang muslim harus tetap menggunakan bahasa yang santun, tidak kasar, dan tidak merendahkan lawan bicara.

7. Menghindari Bahasa yang Menyakiti atau Menghina

Rasulullah Saw. bersabda: “Janganlah kalian saling hasad (iri dengki), saling menipu, saling membenci, saling acuh tak acuh... Cukuplah seseorang dinilai buruk jika ia merendahkan saudaranya yang muslim.” (HR. Muslim).

Dalam konteks media sosial, segala bentuk ujaran kebencian (hate speech), cacian, makian, dan penghinaan terhadap orang lain—baik secara personal maupun kelompok—adalah perbuatan yang sangat tercela. Hal ini dapat menumbuhkan permusuhan dan pertikaian, baik di dunia nyata maupun maya.

8. Bersikap Bijak

Rasulullah Saw. bersabda: “Sebagian dari kebaikan Islam seseorang adalah ia meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Al-Tirmidzi).

Bijak dalam bermedia sosial berarti memahami bahwa setiap orang memiliki latar belakang, karakter, pengetahuan, dan pola pikir yang berbeda. Oleh karena itu, kirimlah informasi dengan hati-hati agar tidak ada pihak yang tersinggung.

Selain itu, menjauhi segala hal yang tidak bermanfaat, seperti debat kusir, konten ghibah, atau berita sensasi tanpa faedah, merupakan ciri muslim yang baik.

Rasulullah Saw. bersabda: “Kalimat yang mengandung hikmah (kebaikan) adalah sesuatu yang hilang dari orang mukmin. Maka ketika seorang mukmin menemukannya, ia lebih berhak untuk mengambilnya.” (HR. Al-Tirmidzi).

Hadis ini memotivasi umat Islam untuk terus mencari dan mengambil kebaikan dari segala sumber, termasuk media sosial. Seorang mukmin tidak hanya cukup mengajarkan kebaikan, tetapi harus selalu mencari kebaikan-kebaikan baru dengan semangat seperti mencari barang yang hilang.

Pengertian dan Pentingnya Adab dalam Bermedia Sosial

Secara bahasa, adab berarti adat istiadat, kebiasaan, dan etiket yang ditiru dari figur teladan. Secara istilah, adab adalah kebiasaan dan aturan tingkah laku praktis yang mengandung muatan nilai baik, diwariskan antargenerasi.

Sementara itu, media sosial adalah media berbasis internet yang memungkinkan pengguna berinteraksi, mempresentasikan diri kepada khalayak luas atau terbatas, serta mendorong persepsi interaksi dengan orang lain.

Dengan demikian, adab menggunakan media sosial adalah sikap dan perilaku yang harus dikedepankan ketika berinteraksi dengan orang lain di dunia maya.

Media sosial sangat memengaruhi kehidupan; dari bangun tidur hingga menjelang tidur, gawai berada dalam genggaman. Dampak positifnya jelas: kemudahan berkomunikasi, bersilaturahmi, mengakses informasi, serta sarana belajar dan berbisnis.

Namun, data Kementerian Kominfo per 5 Mei 2020 mencatat 1.401 konten hoaks dan disinformasi terkait Covid-19 saja beredar di masyarakat. Begitu pula dengan ujaran kebencian, dari sepuluh ribu tayangan konten, terdapat sepuluh hingga sebelas unggahan yang mengandung kebencian.

Kerusakan yang ditimbulkan media sosial bukan pada teknologinya, melainkan pada niat dan perilaku penggunanya. Sebagaimana dijelaskan Rian Hidayat, adab diperlukan untuk menghindari dampak negatif yang merugikan diri sendiri dan orang lain, sehingga semua pengguna merasa aman, nyaman, dan lebih bermanfaat. Tanpa adab, media sosial berpotensi menjadi ruang fitnah, adu domba, dan penghancur kehormatan.

Dalil Naqli Adab Menggunakan Media Sosial

Meskipun di masa Nabi Muhammad Saw. belum ada media sosial, Al-Qur’an dan hadis telah memberikan rambu-rambu interaksi yang sangat relevan dengan dunia digital.

1. QS. Al-Hujurat/49: 6 (Perintah Tabayun)

Allah Swt. berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat/49: 6).

Ayat ini menjadi dasar utama prinsip tabayun (verifikasi) sebelum menyebarkan berita. Dalam konteks media sosial, setiap informasi yang diterima—baik berupa teks, foto, maupun video—harus dicek kebenarannya. Verifikasi dapat dilakukan dengan menanyakan langsung kepada sumber atau merujuk pada sumber resmi yang terpercaya. Sikap reaktif tanpa tabayun dapat menimbulkan kerugian bagi banyak pihak.

2. Hadis Riwayat Muslim: Keamanan Lisan dan Tangan

Rasulullah Saw. bersabda: “Seorang muslim yang paling baik adalah seorang muslim yang orang lain merasa aman dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Muslim).

Dalam konteks media sosial, “lisan” dan “tangan” mencakup setiap status, komentar, unggahan, dan pesan yang dikirimkan. Hadis ini menegaskan bahwa standar kebaikan seorang muslim adalah ketika orang lain merasa aman dari segala bentuk gangguan yang ditimbulkan melalui media sosial.

3. QS. Al-Hujurat/49: 12 (Larangan Su’udzan, Tajassus, Ghibah)

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain...” (QS. Al-Hujurat/49: 12).

Ayat ini melarang tiga perilaku yang sangat umum di media sosial: buruk sangka (su’udzan), mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus), dan menggunjing (ghibah).

4. Hadis Riwayat Al-Bukhari: Perumpamaan Teman

Nabi Saw. bersabda: “Perumpamaan teman duduk yang baik dengan teman duduk yang buruk adalah seperti penjual minyak misik (yang wangi) dan seorang pandai besi...” (HR. Al-Bukhari).

Hadis ini mengajarkan pentingnya memilih teman yang baik di media sosial. Teman yang baik akan memberikan pengaruh positif, sedangkan teman yang buruk dapat membahayakan akhlak dan keimanan.

5. Hadis Arbain ke-1: Niat sebagai Penentu Amal

Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya...” (HR. Muslim).

Hadis ini menjadi fondasi bahwa niat yang baik adalah kunci keberkahan dalam setiap aktivitas, termasuk bermedia sosial.

Hikmah Menjaga Adab Bermedia Sosial

Menjaga adab dalam bermedia sosial bukan sekadar kepatuhan formal terhadap aturan agama, melainkan membawa manfaat nyata dalam kehidupan. Berdasarkan penjelasan Rian Hidayat dan buku PAI Kemdikbud, setidaknya terdapat lima hikmah utama:

1. Terhindar dari Berita Hoaks

Dengan membiasakan tabayun sebelum menyebarkan informasi, seorang muslim akan terhindar dari jebakan hoaks yang dapat merusak reputasi, memicu konflik, dan bahkan membahayakan keselamatan orang lain.

2. Mendapatkan Kepercayaan dari Orang Lain

Pengguna media sosial yang konsisten menyampaikan informasi yang benar, menggunakan bahasa santun, dan menghormati orang lain akan mendapatkan kepercayaan dari komunitasnya. Kepercayaan ini adalah modal sosial yang sangat berharga.

3. Orang Lain Merasa Nyaman Bersilaturahmi di Media Sosial

Ketika setiap pengguna menjaga lisannya dari ghibah, ujaran kebencian, dan cacian, media sosial menjadi ruang yang nyaman untuk bersilaturahmi. Ukhuwah Islamiyah dapat terbangun dan terpelihara dengan baik.

4. Terjalin Hubungan yang Harmonis dengan Sesama

Adab yang baik mencegah kesalahpahaman dan konflik. Perbedaan pendapat dapat dikelola secara dewasa tanpa harus memutus hubungan persaudaraan.

5. Terhindar dari Tindakan Diskriminatif (SARA)

Menghindari unggahan dan komentar yang menyinggung suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) menjaga kerukunan nasional dan mencegah perpecahan di tengah masyarakat yang majemuk.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |