Adab dan Sunnah yang Dianjurkan Ketika Menghadiri Pemakaman Muslim

20 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Ketika seorang muslim meninggal dunia, menjadi kewajiban kolektif (fardhu kifayah) bagi muslim lainnya untuk mengurus jenazahnya, yang meliputi memandikan, mengkafani, menshalatkan, dan menguburkannya. Oleh sebab  itu, umat Islam perlu memahami adab dan sunnah yang dianjurkan ketika menghadiri pemakaman muslim.

“Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima: menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan orang yang bersin (dengan ucapan yarhamukallāh).” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini adalah landasan syariat mengurus jenazah dan takziyah.

Di sisi lain terdapat adab dan sunnah yang perlu dipahami umat Islam. Terdapat hadis sahih di mana Rasulullah SAW melarang keras umatnya mengiringi jenazah dengan ratapan atau rannah. Menangis sedih sangat diperbolehkan, namun meratap dilarang karena dapat mencederai keikhlasan penerimaan takdir.

Merujuk Buku Tuntunan Praktis Penyelenggaraan Jenazah karya Dra. Hj. Rahmiati, M.Ag dan sumber kredibel lainnya, berikut ini adalah adab dan sunnah ketika menghadiri pemakaman atau takziyah.

1. Adab dan Sunnah sebelum Berangkat ke Pemakaman

Sebelum berangkat, terdapat beberapa adab yang perlu diperhatikan:

1. Mempercepat Pengurusan Jenazah

Sunnah untuk menyegerakan seluruh proses pengurusan jenazah, termasuk pemakamannya. Dalam sebuah hadis, Nabi ﷺ bersabda: “Percepatlah pengurusan jenazah. Jika ia orang yang shalih, maka itu adalah kebaikan yang kalian segerakan untuknya. Dan jika ia bukan orang yang shalih, maka itu adalah keburukan yang kalian lepaskan dari pundak kalian.” (Muttafaq ‘Alaih).

Hal ini juga disebutkan dalam buku Tuntunan Praktis Penyelenggaraan Jenazah karya Dra. Hj. Rahmiati, M.Ag, bahwa mengubur jenazah adalah prosesi terakhir dari perawatan jenazah dan hukumnya adalah fardhu kifayah, sebagaimana hukum memandikan, mengkafani, dan menyalatkannya.

2. Mengikhlaskan Niat

Niatkan segala tindakan dalam mengiringi jenazah semata-mata untuk mendapatkan ridha Allah dan menjalankan hak seorang muslim, bukan karena riya atau ingin dipuji.

3. Mengenakan Pakaian yang Pantas

Kenakan pakaian yang bersih, menutup aurat, dan tidak mencolok. Pakaian putih adalah yang paling utama dan paling afdhol, sebagaimana dianjurkan dalam berbagai tuntunan sunnah.

2. Adab Selama Mengiringi Jenazah

Proses mengiringi jenazah dari rumah duka atau masjid menuju pemakaman memiliki tuntunan tersendiri:

1. Berjalan dengan Tenang dan Khusyuk

Dianjurkan untuk berjalan di belakang atau di samping keranda jenazah dengan langkah yang tenang, tidak terburu-buru, dan menjaga ketundukan. Hindari berbicara hal-hal duniawi yang tidak bermanfaat. Sebagai bentuk kekhusyukan, dianjurkan untuk menundukkan pandangan dan menjaga mata agar tidak berkelana ke sana kemari, sehingga hati lebih mudah meresapi makna duka dan kefanaan hidup.

2. Menghindari Tradisi yang Menyimpang

Islam melarang mengiringi jenazah dengan suara-suara keras, ratapan, tangisan histeris, atau disertai dengan api (seperti obor). Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dawud, Nabi ﷺ bersabda: “Janganlah jenazah diiringi dengan suara (keras) dan jangan pula dengan api.” (HR. Abu Dawud No. 3171). Praktik-praktik seperti ini adalah bentuk bid’ah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.

3. Berdiri Ketika Jenazah Lewat

Ketika jenazah lewat di hadapan seseorang, disunnahkan untuk berdiri sebagai bentuk penghormatan terhadap kematian yang dahsyat. Nabi ﷺ bersabda: “Jika kalian melihat jenazah, maka berdirilah. Dan barangsiapa yang mengiringi jenazah, janganlah dia duduk hingga jenazah itu diletakkan.” (HR. Bukhari No. 1310 dan Muslim No. 959).

Dalam riwayat lain, ketika para sahabat memberi tahu beliau bahwa jenazah yang lewat adalah seorang Yahudi, beliau tetap bersabda: “Sesungguhnya kematian itu adalah faza’ (dahsyat). Jika kalian melihat jenazah, maka berdirilah.” (HR. Muslim No. 960).

Imam an-Nawawi dalam Syarh al-Muhadzab menguatkan pendapat bahwa dianjurkan untuk berdiri ketika jenazah lewat, sebagai penghormatan kepada malaikat pencabut nyawa yang menyertainya.

3. Adab Saat Proses Pemakaman

Saat tiba di pemakaman hingga proses penguburan selesai, terdapat adab-adab yang perlu dijaga:

1.Mendoakan Jenazah dan Keluarga yang Ditinggal (Takziah)

Sebelum atau sesudah proses penguburan, dianjurkan untuk menyampaikan rasa belasungkawa (takziah) dan mendoakan keluarga yang ditinggalkan. Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menjelaskan, takziah adalah memberikan nasihat sabar kepada orang yang sedang mengalami musibah serta mendoakan mayit. Doa takziah yang diajarkan:

Arab: أَعْظَمَ اللهُ أَجْرَكَ وَأَحْسَنَ عَزَاءَكَ وَغَفَرَ لِمَيِّتِكَ

Latin: A‘dhamallāhu ajraka, wa aḥsana ‘azā’aka, wa ghafara limayyitika

Artinya: “Semoga Allah memperbesar pahalamu, menjadikan baik musibahmu, dan mengampuni jenazahmu.” (Lihat Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkār).

Atau bisa juga dengan doa yang diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ untuk putri beliau:

Arab: إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمَّى فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ

Latin: Innallāha mā akhadza, wa lahu mā a‘thā, wa kullu syai’in ‘indahu bi ajalin musammā, faltashbir waltahtasib

Artinya: “Sesungguhnya Allah memiliki apa yang Dia ambil dan Dia berikan. Segala sesuatu mempunyai masa yang telah ditetapkan di sisi-Nya. Hendaklah kamu bersabar dan mengharap pahala (dari Allah).” (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Menurunkan Jenazah ke Dalam Kubur

Jenazah hendaknya diturunkan dari arah kaki kubur. Saat meletakkan jenazah ke dalam liang lahat, dianjurkan untuk membaca:

Arab: بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَىٰ مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ

Latin: Bismillāhi wa ‘alā millati rasūlillāh

Artinya: “Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah.” (HR. At-Tirmidzi, dari Ali bin Abi Thalib).

3. Membaringkan Jenazah Menghadap Kiblat

Jenazah dimiringkan ke sisi kanan menghadap ke arah kiblat. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama bahwa kiblat adalah arah terhormat yang harus dihadapkan.

4. Menimbun Kubur

Setelah jenazah diletakkan, liang lahat ditutup dengan papan atau batu, lalu ditimbun dengan tanah. Disunnahkan meninggikan timbunan tanah kira-kira sejengkal agar dikenal sebagai tanda kuburan, namun tidak boleh dibangun secara permanen, ditembok, atau diberi hiasan berlebihan karena itu termasuk israf (pemborosan) dan bentuk kesombongan terhadap kematian (HR. Muslim).

5. Berdiri dan Mendoakan Setelah Penguburan

Setelah jenazah selesai dikubur, disunnahkan bagi yang hadir untuk berdiri di sisi kubur sejenak dan mendoakan almarhum. ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Apabila Nabi ﷺ telah selesai menguburkan jenazah, beliau berdiri di sisinya lalu bersabda: ‘Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian, dan mohonkanlah keteguhan untuknya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya (oleh malaikat).’” (HR. Abu Dawud No. 3221, Al-Hakim).

Doa yang dibaca: “Allāhumma-ghfir lahu” (Ya Allah, ampunilah dia) dan “Allāhumma tsabbit-hu” (Ya Allah, berilah keteguhan kepadanya).

6. Talqin Mayit (Perbedaan Pendapat)

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum menalqin (mengingatkan) mayit setelah dikubur. Sebagian ulama seperti al-Qadli Husain, al-Mutawalli, dan al-Rafi’i berpendapat bahwa talqin mayit setelah dikuburkan hukumnya sunnah dan sangat dianjurkan, karena mayit dapat memperoleh manfaat dari pemberitahuan tersebut.

Namun, Imam Malik menganggapnya makruh karena hadis yang menjadi landasannya dianggap lemah dan tradisi masyarakat Madinah tidak melakukan hal tersebut. Sementara itu, dalam Hasyiyah Raddul Mukhtar, Muhammad Amin Ibnu Abidin menyatakan bahwa tidak ada larangan untuk mentalqin mayit karena tidak mengandung kemudaratan, bahkan terdapat manfaat. Pendapat yang lebih hati-hati adalah dengan memperbanyak doa untuk almarhum daripada melakukan talqin yang diperselisihkan.

4. Adab Setelah Pemakaman, Ziarah Kubur

Ziarah kubur merupakan amalan yang sangat dianjurkan setelah pemakaman, karena mengingatkan pada kematian dan akhirat. Adapun adab-adabnya:

1. Meluruskan Niat

Niatkan ziarah untuk mendoakan ahli kubur, mengingat kematian, dan meningkatkan ketakwaan, bukan untuk meminta berkah atau menjadikan kuburan sebagai perantara. Hadis Nabi ﷺ menyebutkan: “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.” (Muttafaq ‘Alaih).

2. Mengucapkan Salam

Saat memasuki area pemakaman, ucapkan salam kepada penghuni kubur:

Arab: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ، وَأَتَاكُمْ مَا تُوعَدُونَ، غَداً مُؤَجَّلُونَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ

Latin: Assalāmu ‘alaikum dāra qaumin mu’minīn, wa atākum mā tū‘adūn, ghadan mu’ajjalūn, wa innā insyā-allāhu bikum lāhiqūn

Artinya: “Kesejahteraan semoga tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur dari kaum mukminin. Telah datang kepada kalian apa yang dijanjikan. Besok (kiamat) adalah waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian.” (HR. Muslim).

3. Melepas Alas Kaki

Dianjurkan untuk melepas sandal atau sepatu saat berjalan di antara kuburan. Dari Basyir bin al-Khashasiyah, Nabi ﷺ menegur seseorang yang berjalan di antara kuburan dengan memakai sandal: “Wahai pemakai dua sandal, lepaskanlah keduanya.” (HR. Bukhari, Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah).

4. Menghadap Kiblat

Saat duduk di sisi kubur, disunnahkan untuk menghadap kiblat (HR. Abu Dawud).

5. Tidak Duduk di Atas Kubur

Nabi ﷺ bersabda: “Seseorang duduk di atas bara api lebih baik baginya daripada duduk di atas kubur.” (HR. Muslim).

6. Mendoakan Ahli Kubur

Setelah salam, perbanyaklah doa untuk para penghuni kubur. Doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ saat berziarah ke pemakaman Baqi’:

Arab: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَهْلِ بَقِيعِ الْغَرْقَدِ

Latin: Allāhumma-ghfir li-ahli Baqī‘il-Gharqad

Artinya: “Ya Allah, ampunilah penghuni pemakaman Baqi’.”

7. Menghindari Hal-Hal yang Dilarang

Jangan meminta kepada ahli kubur atau menjadikan mereka sebagai perantara kepada Allah, karena hal ini bertentangan dengan tauhid (QS. Yunus: 106). Juga tidak perlu menabur bunga, menyalakan lilin, atau membaca surat panjang seperti Yasin dengan niat khusus, karena tidak ada contoh dari Rasulullah ﷺ mengenai hal tersebut.

Pertanyaan Seputar Adab Menghadiri Pemakaman

Apa yang harus dilakukan saat menghadiri pemakaman Muslim?

Jenazah juga harus dimakamkan sesegera mungkin, sebaiknya dalam waktu 24 jam setelah kematiannya. Siapa pun yang menghadiri pemakaman Muslim diharapkan berpakaian sopan dan sederhana dengan pakaian berwarna putih atau gelap . Baik untuk pria maupun wanita, pakaian mereka harus menutupi lutut. Jilbab juga dianjurkan untuk wanita.

Apa yang sebaiknya dikenakan oleh non-Muslim saat menghadiri pemakaman Muslim?

Tata krama di Pemakaman

Pria biasanya diharapkan mengenakan pakaian sederhana dan sopan, seperti setelan jas atau celana panjang dengan kemeja . Wanita harus mengenakan pakaian panjang dan longgar yang menutupi lengan dan kaki, dan jilbab sering dihargai sebagai tanda hormat, meskipun mungkin tidak diwajibkan.

Apa saja aturan untuk pemakaman Muslim?

Jenazah pertama-tama dimandikan dan dikafani dengan kain putih sederhana. Kemudian dilakukan salat jenazah, Salat al-jinazah. Kremasi jenazah sangat dilarang dalam Islam; jenazah dikuburkan tanpa peti mati dan disejajarkan tegak lurus dengan kiblat. Kepala juga boleh diputar menghadap kiblat .

Kalo ke pemakaman, apa yang harus dilakukan?

Ringkasan AIKe makam (ziarah kubur) bertujuan untuk mendoakan orang yang sudah meninggal sekaligus menjadi pengingat akan kematian agar kita lebih rajin beribadah.

5 hikmah menerapkan adab dan sunnah dalam takziah

1. Mendatangkan Ketenangan Hati bagi Keluarga yang Ditinggalkan

Dengan mengucapkan kata-kata penghiburan yang diajarkan Rasulullah ﷺ, seperti “Innallāha mā akhadza wa lahu mā a‘thā…”, keluarga yang berduka akan merasa bahwa musibah ini adalah ketetapan Allah yang pasti terjadi. Hal ini mengurangi beban kesedihan mereka dan menggantinya dengan kesabaran serta rasa pasrah kepada takdir Ilahi.

2. Memperoleh Pahala Besar dari Allah SWT

Takziah yang dilakukan sesuai sunnah adalah amalan yang sangat dianjurkan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah seorang mukmin bertakziah kepada saudaranya karena suatu musibah, kecuali Allah akan memakaikan kepadanya pakaian kemuliaan pada hari kiamat” (HR. Ibnu Majah). Pahala ini menjadi bekal berharga bagi orang yang hidup menuju akhirat.

3. Memperkuat Ukhuwah Islamiyah dan Solidaritas Sosial

Takziah mengajarkan umat Islam untuk hadir di tengah-tengah saudaranya yang tertimpa musibah, baik yang dikenal maupun tidak. Hal ini menumbuhkan rasa persaudaraan sejati, bahwa setiap muslim adalah satu tubuh; apabila satu anggota sakit, seluruh tubuh ikut merasakan. Tradisi ini juga mempererat hubungan silaturahmi antar warga dan tetangga.

4. Mengingatkan Diri Sendiri akan Kematian dan Akhirat

Ketika bertakziah, seseorang melihat langsung kematian orang lain dan mendengar kisah perpisahan. Hal ini menjadi pelajaran berharga untuk mengintrospeksi diri, mengurangi cinta berlebihan terhadap dunia, serta mempersiapkan bekal amal shalih untuk menghadapi kematiannya sendiri. Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menyebut ziarah kubur dan takziah sebagai pengingat (tadzkirah) yang paling efektif bagi hati yang lalai.

5. Mendoakan Jenazah dan Memohon Ampunan Baginya

Salah satu inti takziah adalah memohonkan ampunan bagi almarhum dan memohon keteguhan iman baginya. Doa dari orang-orang yang masih hidup sangat bermanfaat bagi jenazah, terutama saat ia sedang menghadapi pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur. Dengan demikian, takziah tidak hanya menghibur keluarga, tetapi juga menjadi hadiah amal jariyah bagi yang telah tiada.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |