Aksi Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal, Dorong Perempuan Gampong Pimpin Aksi Iklim

4 hours ago 4

CANTIKA.COM, Jakarta - Krisis iklim bukan sekadar wacana teknokratis di meja seminar. Bagi Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal, isu lingkungan adalah pertaruhan hidup sehari-hari warga, dari ketahanan pangan rumah tangga hingga pengelolaan sampah di sudut-sudut gampong atau desa.

Melalui pendekatan inklusif yang menempatkan perempuan sebagai aktor utama, Banda Aceh berhasil menyabet penghargaan internasional CityNet SDG Awards 2025 dan menggalakkan puluhan Program Kampung Iklim (ProKlim).

Berikut penuturan lengkap Illiza Sa'aduddin Djamal mengenai strategi membangun kota tangguh iklim, ekonomi sirkular, sampai peran kepemimpinan para perempuan Banda Aceh.

1. Di antara sederet agenda pembangunan, mengapa isu pelestarian lingkungan dan ketahanan iklim termasuk prioritas Ibu dalam memimpin Kota Banda Aceh?

Illiza Sa’aduddin Djamal: Sebagai kota pesisir dengan luas terbatas, Banda Aceh sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Suhu udara di Banda Aceh pernah menyentuh angka terpanas, sehingga adaptasi iklim bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Bagi kami, isu lingkungan tidak berdiri sendiri. Ketika kita bersama-sama membenahi lingkungan seperti mengelola sampah organik menjadi kompos atau menggalakkan urban farming, dampaknya langsung terasa pada ketahanan pangan dan penghematan biaya rumah tangga warga.

2. Boleh dielaborasi bagaimana perjalanan Program Kampung Iklim (ProKlim) dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat seperti Waste Collecting Point (WCP) yang berkembang di Banda Aceh?

Illiza Sa’aduddin Djamal: Perjalanan ProKlim, kami mulai secara konsisten sejak 2019. Dari yang awalnya satu lokasi, kini di tahun 2026 sudah berkembang pesat menjadi 64 lokasi ProKlim yang terdaftar di Sistem Registrasi Nasional (SRN-PPI), mencakup ProKlim Utama dan Madya.

ProKlim ini ditopang oleh ekosistem pengelolaan sampah berbasis komunitas melalui Waste Collecting Point (WCP). Kami mengadopsi sistem WCP dari Higashishima, Jepang, untuk mengubah perilaku warga agar memilah sampah langsung dari sumbernya.

Saat ini, sudah beroperasi 39 depo WCP di 19 gampong, didukung puluhan Bank Sampah dan Rumah Kompos. Target kami antara lain mereduksi sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sekaligus memutar roda ekonomi warga.

(Paling kiri) Illiza Sa'aduddin Djamal, Wali Kota Banda Aceh. Foto: Dok. Pribadi

3. Tantangan terbesar aksi lingkungan adalah konsistensi. Bagaimana strategi Ibu mendorong gampong-gampong agar aksi adaptasi iklim ini bertransformasi menjadi kebiasaan harian warga?

Illiza Sa’aduddin Djamal: Langkah pertama kami mengubah perilaku sehari-hari melalui pendekatan kebermanfaatan yang nyata. Kalau kita bicara soal "sampah" atau "isu iklim" secara teoritis, warga sulit tergerak.

Tapi begitu mereka merasakan dampak dari aksi nyata, misalnya sampah dapur diolah jadi kompos untuk menanam cabai atau serai, lalu hasilnya mereka hemat belanja harian atau bisa dijual menjadi produk teh dan herbal, kesadaran itu tumbuh alami.

Kami juga menerapkan konsep ProKlim Lestari. Gampong yang sudah maju dan meraih penghargaan, seperti Kota Baru, diwajibkan membina 10 gampong di sekitarnya. Jadi ada transfer pengetahuan dan budaya gotong royong antar-gampong.

Ketika aksi lingkungan sudah menjadi gaya hidup dan norma sosial masyarakat, orang akan malu kalau membuang sampah sembarangan.

4. Aceh merupakan kawasan rawan bencana. Bagaimana integrasi program ProKlim dan keterlibatan komunitas dalam kesiapsiagaan serta mitigasi bencana di tingkat lokal?

Illiza Sa’aduddin Djamal: Banda Aceh membangun konsep Kota Tangguh Bencana yang disosialisasikan hingga ke level rumah tangga. Melalui komunitas warga dan kelompok perempuan, kami mengedukasi mitigasi risiko bencana sejak dini, seperti lokasi evakuasi, bagaimana mengamankan dokumen, hingga respons cepat saat darurat.

Edukasi kesiapsiagaan yang dipegang oleh ibu-ibu jauh lebih cepat terinternalisasi ke anak-anak dan anggota keluarga lainnya dibanding sekadar imbauan formal.

5. Banda Aceh mendorong penyusunan strategi iklim responsif gender. Berdasarkan pengalaman Ibu, mengapa keterlibatan perempuan menjadi kunci krusial keberhasilan program lingkungan?

Illiza Sa’aduddin Djamal: Perempuan itu kunci multiplier effect. Ketika kami melibatkan para perempuan berdampak membuka pintu-pintu perubahan lainnya. Perempuan punya daya rekat sosial yang kuat, teliti, dan memiliki semangat gotong royong yang tinggi.

Di Banda Aceh, kami memiliki instrumen khusus bernama Musyawarah Rencana Aksi Perempuan (MUSRENA). Melalui MUSRENA, suara dan kebutuhan perempuan diakomodasi langsung dalam perencanaan anggaran kota.

Impact-nya, penggerak utama Bank Sampah, pemilahan plastik, hingga budidaya tanaman pangan di gampong-gampong mayoritas adalah kelompok perempuan. Perempuan juga berani menegur jika ada pelanggaran lingkungan di sekitarnya. Tanpa keterlibatan aktif perempuan, program lingkungan hanya akan berhenti di atas kertas.

(Ketiga dari kiri) Illiza Sa'aduddin Djamal, Wali Kota Banda Aceh. Foto: Dok. Pribadi

6. Melalui program Sekolah Adiwiyata dan kerja sama seperti sanitasi tahan iklim, sejauh mana investasi pada generasi muda mampu membentuk karakter peduli lingkungan?

Illiza Sa’aduddin Djamal: Penerapan budaya sehat lebih mudah diintervensi sejak dini. Kami mendorong pembentukan Sekolah Adiwiyata dari tingkat dasar hingga menengah, saat ini sudah ada puluhan sekolah berstatus Adiwiyata Kota, Provinsi, hingga Nasional. Di sekolah, anak-anak diajarkan pemilahan sampah, sanitasi sehat, hingga pemanfaatan ruang hijau.

Kami juga meluncurkan program pendukung seperti Dokter Saweu Sikula untuk deteksi kesehatan anak dan integrasi pendidikan karakter. Anak-anak yang terbiasa hidup bersih di sekolah akan membawa habit tersebut ke rumah dan menjadi pelopor perubahan bagi orang tuanya.

7. Untuk mewujudkan kota rendah karbon, Banda Aceh bekerja sama dengan akademisi dan berbagai lembaga. Bagaimana cara menjembatani riset akademis agar aplikatif di lapangan?

Illiza Sa’aduddin Djamal: Pendekatannya harus kolaboratif dan berbasis solusi praktis (quadruple helix). Pemerintah Kota memfasilitasi antara hasil riset akademisi (seperti PRPI-ACCI USK) dengan kebutuhan riil masyarakat gampong.

Riset tentang pengolahan limbah organik atau pengembangan tanaman ekonomis, kami terjemahkan menjadi modul pelatihan sederhana yang bisa langsung dipraktikkan oleh kader lingkungan dan kelompok tani perempuan.

(Ketiga dari kiri) Illiza Sa'aduddin Djamal, Wali Kota Banda Aceh. Foto: Dok. Pribadi

8. Mendorong perubahan masyarakat tentu bukan pekerjaan mudah. Pengalaman apa yang paling berkesan bagi Ibu saat berhadapan dengan skeptisisme warga?

Illiza Sa’aduddin Djamal: Momen paling berkesan adalah ketika awal-awal menggerakkan pemilahan sampah dan penataan kantor atau gampong. Banyak yang skeptis dan menganggap limbah tidak ada harganya. Yang kami lakukan menunjukkan bukti nyata (proof of concept), tidak sekadar konsep di atas kertas.

Saat warga melihat olahan limbah plastik atau kain perca bisa dirangkai jadi produk bernilai jual, atau saat olahan limbah serai dan bunga di pekarangan bisa diracik jadi minuman herbal yang diminati pasar, skeptisisme itu runtuh.

Kuncinya ada pada kepemimpinan yang turun langsung, mendengar, dan konsisten memberi ruang apresiasi bagi warga yang sudah memulai perubahan.

9. Bagi masyarakat pada umumnya, isu iklim sering dianggap sekunder dibanding kebutuhan ekonomi. Bagaimana strategi Ibu menyelaraskan pelestarian lingkungan dengan peningkatan ekonomi warga?

Illiza Sa’aduddin Djamal: Kami mendorong lewat konsep Ekonomi Sirkular (Circular Economy). Lingkungan yang terjaga harus menghasilkan insentif ekonomi. Di Banda Aceh, sampah kardus dan plastik yang dikumpulkan melalui WCP dan Bank Sampah memiliki nilai ekonomi per kilogram yang bisa menambah pendapatan dapur warga.

Selain itu, kami mengembangkan program Green Economy unggulan seperti "Banda Aceh Kota Parfum". Aceh menghasilkan nilam (patchouli) kualitas terbaik dunia. Melalui hilirisasi industri nilam dan pemberdayaan UMKM lokal, kami tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi menciptakan produk parfum bernilai tambah tinggi yang menyerap tenaga kerja dan menggerakkan ekonomi lokal.

10. Berdasarkan pengalaman di dunia politik dan tata kelola pemerintahan selama lebih dari 20 tahun, apa tiga fondasi utama kepemimpinan seorang Illiza Sa'aduddin Djamal?

Illiza Sa’aduddin Djamal: Keberanian mengambil keputusan berbasis keadilan sosial. Pentingnya berani membuat kebijakan afirmatif yang memihak masyarakat rentan dan keterlibatan perempuan.

Konsistensi dan keteladanan salah satu landasan kepemimpinan saya. Perubahan budaya tidak bisa instan, pemimpin-lah yang harus konsisten mengawal proses dan memberi contoh dalam tindakan sehari-hari.

Dan pentingnya kolaborasi inklusif. Kami menyadari bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Keberhasilan kota ditentukan oleh kekuatan sinergi antara pemerintah, masyarakat gampong, akademisi, komunitas, dan sektor swasta.

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |