Liputan6.com, Jakarta - Pada 10 hari pertama Dzulhijjah, umat Islam dianjurkan meningkatkan amal dan ibadahnya. Salah satunya adalah dengan berpuasa. Pertanyaan yang kerap muncul, apakah puasa dzulhijjah harus 9 hari?
Keutamaan puasa di 10 hari pertama Dzulhijah ini ditegaskan dalam hadits riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada hari di mana amal shalih di dalamnya lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari pertama Dzulhijjah."
Hadits riwayat Abu Daud menyebutkan, "Rasulullah SAW biasa melaksanakan puasa pada sembilan hari awal Dzulhijjah, hari Asyura, dan tiga hari setiap bulannya."
Imam An-Nawawi melalui kitabnya Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab memberikan penjelasan terkait hal ini. Beliau menegaskan bahwa berpuasa secara penuh pada sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah hukumnya adalah sangat disunnahkan (sunnah syadidah) bagi seluruh umat Islam.
Terkait pertanyaan, apakah puasa Dzulhijjah harus sembilan hari, merujuk literatur klasik dan kontemporer, berikut ulasannya.
Apakah Puasa Dzulhijjah Harus 9 Hari?
Para ulama dari empat madzhab utama, Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, dan Hanabilah, bersepakat bahwa puasa pada tanggal 1 hingga 9 bulan Dzulhijjah hukumnya sunnah, bukan wajib. Tidak ada perselisihan di antara mereka dalam hal ini.
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin rahimahullah menjelaskan bahwa puasa pada hari-hari tersebut, atau setidaknya pada sebagiannya, terutama hari Arafah, merupakan amalan sunnah yang sangat dianjurkan.
Dengan demikian, menjawab pertanyaan “apakah puasa Dzulhijjah harus 9 hari?” maka jawabannya adalah: tidak wajib. Karena status hukumnya adalah sunnah, setiap Muslim diberikan kelonggaran untuk menjalankannya sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing.
Sangat diperbolehkan bagi seorang Muslim untuk berpuasa sesuai dengan kemampuannya, baik hanya beberapa hari saja, tidak berurutan, atau bahkan hanya berpuasa pada hari Arafah saja.
Dasar Kesunnahan Puasa Dzulhijjah
Kesunnahan puasa ini bertumpu pada landasan dalil yang kuat, terutama hadits Rasulullah SAW tentang keutamaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah secara umum.
Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada hari di mana amal saleh pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah.” (HR. Al-Bukhari, dari Ibnu Abbas)
Bahkan amalan ini disebut lebih utama daripada jihad fi sabilillah, kecuali jihad seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali lagi.
Amalan saleh yang dimaksud dalam hadits ini bersifat umum, mencakup berbagai bentuk ibadah seperti shalat, sedekah, dzikir, dan termasuk di dalamnya adalah puasa.
Imam Al-Mardawi rahimahullah dalam kitab al-Inshaf menyatakan kesunnahan puasa pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, yang secara teknis berarti puasa pada sembilan hari pertama karena hari kesepuluh adalah hari raya yang diharamkan untuk berpuasa.
Boleh Dilakukan Sebatas Kemampuan
Umat Islam dianjurkan melaksanakan puasa di awal Dzulhijjah. Meski tak bisa melaksanakannya secara penuh sembilan hari, seseorang diperbolehkah melaksanakannya dan tidak harus berurutan.
Para ulama fikih mengingatkan kita tentang sebuah kaidah yang sangat penting: “Apa yang tidak mampu diraih seluruhnya, jangan ditinggalkan seluruhnya.”
Kaidah ini memberikan motivasi besar, jika Anda tidak mampu berpuasa penuh 9 hari, janganlah Anda meninggalkannya sama sekali. Lakukanlah puasa sebanyak yang Anda sanggupi. Bahkan, melakukan puasa di beberapa hari saja, apalagi jika itu adalah hari Arafah, jauh lebih utama daripada tidak melakukan puasa sama sekali.
Kaidah ini selaras dengan firman Allah SWT: “Bertakwalah kamu kepada Allah sekuat kemampuanmu! Dengarkanlah, taatlah, dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu! Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung..” (QS. At-Taghabun [64]: 16).
Dalam tafsir Wajiz dijelaskan, Dalam menjalani hidup dan kehidupan ini, Allah memberikan bimbingan. Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu, karena Allah tidak membebani manusia kecuali sesuai dengan kesanggupannya; dan dengarlah ayat-ayat Allah, serta taatlah kepada-Nya.
Anjuran Puasa Dzulhijjah Berdasar Pelaksanaan
Berdasarkan penjelasan para ulama, seseorang boleh melaksanakan puasa Dzulhijjah sebatas kemampuannya:
- Paling utama: Berpuasa 9 hari penuh (1-9 Dzulhijjah). Inilah kesempurnaan yang dianjurkan bagi mereka yang mampu.
- Sangat utama: Berpuasa pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) saja. Inilah amalan yang paling ditekankan jika hanya mampu memilih satu hari.
- Utama: Berpuasa pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah), karena keutamaannya menghapus dosa setahun yang lalu.
- Baik: Berpuasa pada tanggal 1-7 Dzulhijjah, baik sebagian maupun seluruhnya.
- Minimal: Jika tidak mampu berpuasa sama sekali, maka perbanyaklah amalan saleh lainnya seperti dzikir, takbir, tahlil, tahmid, dan sedekah.
Setiap hari di bulan Dzulhijjah memiliki keistimewaan masing-masing. Namun, puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah memiliki keutamaan yang paling istimewa. Rasulullah SAW bersabda: “Berpuasa pada hari Arafah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya.” (HR. Muslim)
Syaikh al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa penghapusan dosa di sini adalah untuk dosa-dosa kecil, bukan dosa besar yang tetap memerlukan taubat khusus.
Niat Puasa Dzulhijjah: Arab, Latin dan Artinya
Untuk menjalankan ibadah ini, berikut adalah lafal niat yang dapat dibaca pada malam hari sebelum fajar atau pada siang hari (bagi yang belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa).
1. Niat Puasa Dzulhijjah (1-7 Dzulhijjah)
نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ ذِي الْحِجَّةِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma syahri dzil hijjah sunnatan lillâhi ta’âlâ
Artinya: “Saya niat puasa sunnah bulan Dzulhijjah karena Allah ta’âlâ.”
2. Niat Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah)
نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillâhi ta’âlâ
Artinya: “Saya niat puasa sunnah Tawiyah karena Allah ta’âlâ.”
3. Niat Puasa Arafah (9 Dzulhijjah)
نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma arafata sunnatan lillâhi ta’âlâ
Artinya: “Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah ta’âlâ.”
Pertanyaan Seputar Puasa Dzulhijjah
Apakah boleh puasa Dzulhijjah tidak full 9 hari?
Boleh, puasa sunah di bulan Dzulhijjah tidak harus dilakukan penuh selama 9 hari berturut-turut. Anda bisa berpuasa sesuai dengan kemampuan, baik itu beberapa hari saja maupun hanya satu hari.
Apakah puasa Dzulhijjah harus berturut-turut?
Puasa Dzulhijjah tidak harus dilakukan secara berturut-turut dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah. Umat Islam diperbolehkan mengerjakannya secara terpisah, beberapa hari saja, bahkan hanya satu hari.
Berapa hari puasa yang dianjurkan di bulan Dzulhijjah?
Puasa yang dianjurkan di bulan Dzulhijjah adalah 9 hari, yang dimulai dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah. Dari periode tersebut, terdapat dua puasa sunah utama yang sangat ditekankan, yaitu:
Instagram·Muhammad Nuzul Dzikri +1Puasa Tarwiyah: Dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah.Puasa Arafah: Dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah.
Apakah boleh puasa Idul Adha hanya 1 hari?
Boleh, umat Islam sangat dianjurkan untuk melakukan puasa satu hari saja sebelum hari raya, yang dikenal dengan Puasa Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah). Ibadah ini bersifat berdiri sendiri dan hukumnya sunah muakkad (sangat dianjurkan) bagi yang tidak sedang menunaikan ibadah haji, dengan keutamaan menghapus dosa dua tahun.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4437264/original/001657600_1684817338-izuddin-helmi-adnan-JFirQekVo3U-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5158448/original/019123000_1741665178-kata-kata-ijab-kabul.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5525602/original/003097400_1773046669-unnamed__54_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6457587/original/090285500_1779321221-20150925102649-kumandang-takbir-idul-adha-1436-h-dari-berbagai-penjuru-dunia-012-nfi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1336023/original/016338800_1472887334-20160903-Idul-Adha-Jakarta-Qurban-YR2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4433582/original/003374600_1684488413-20230519135602__fpdl.in__high-angle-woman-holding-beads-meditating_23-2148847546_normal.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3515648/original/043308100_1626760051-20210720-Pemotongan-Hewan-Kurban-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5450229/original/030945800_1766134797-unnamed__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3516535/original/022805800_1626851247-pexels-photo-6587473.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3516488/original/076834800_1626849309-pexels-asifgraphy-4348424.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3516536/original/071123800_1626851248-pexels-mikhail-nilov-7582420.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4478171/original/051039000_1687492216-hari_tasyrik.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4449837/original/055086300_1685614290-WhatsApp_Image_2023-06-01_at_17.06.22.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5597928/original/080198400_1778159546-kartun-nabi-telanjang-diunggah-ke-facebook.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456521/original/033087800_1766898100-Gemini_Generated_Image_xyevcgxyevcgxyev_2.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3430346/original/057356100_1618535827-coffee-cup-with-different-dried-fruits-nuts.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4482816/original/057401700_1687846159-Kekhusyukan_jemaah_haji_panjatkan_doa_di_Jabal_Rahmah-AP__7_.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4174191/original/099991100_1664358430-bacaan-doa-setelah-adzan-beserta-arti-dan-keutamaannya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5385863/original/035777200_1760946460-KIP_Kuliah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502852/original/043074800_1771048777-4.jpg)
















