Liputan6.com, Jakarta - Dalam pandangan Islam, tidur bukanlah sekadar berhenti beraktivitas atau mengistirahatkan tubuh. Tidur adalah amaliah yang bernilai ibadah, apabila didasari adab Islam dan akan membawa keberkahan. Oleh sebab itu, umat Islam perlu mengetahui empat amalan sebelum tidur yang diajarkan Rasulullah SAW.
Di sisi lain, dalam khazanah Islam, tidur adalah saudara kecil kematian. “Apabila seseorang tidur, maka ruhnya dicabut oleh Allah, dan apabila ia bangun, Allah mengembalikannya kembali.” (HR Bukhari)
Momen menjelang tidur adalah saat yang sangat penting, sebuah kesempatan untuk menutup hari dengan amalan-amalan yang mendatangkan pahala sekaligus membentengi diri dari gangguan hingga pagi tiba. Mendekatkan diri kepada Allah, bahkan dalam aktivitas tidur sekalipun, akan mengantarkan seorang hamba pada kecintaan Rabb-nya.
Merujuk Buku Sunnah dan Dzikir Harian Nabi SAW karya Dr. Abdullah bin Hamod Al-Forih, Hadiah Indah: Penjelasan Tentang Sunnah-Sunnah Sehari-hari oleh Abdullah Hamud al Furaij), serta sumber lainnya, berikut adalah empat amalan utama yang diajarkan Rasulullah SAW sebelum beranjak tidur.
1. Berwudhu Sebelum Tidur
Amalan pertama yang diajarkan Rasulullah adalah berwudhu seperti wudhu untuk shalat. Beliau bersabda:
Dari Al-Bara’ bin Azib radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila engkau hendak mendatangi pembaringanmu (tidur), maka berwudhulah terlebih dahulu sebagaimana wudhumu untuk melakukan shalat, lalu berbaringlah pada sisi kananmu…” (HR Bukhari no. 247, Muslim no. 2710).
Dalam Buku Hadiah Indah dijelaskan bahwa di antara hikmah berwudhu sebelum tidur adalah:
- Membersihkan diri dari dosa-dosa kecil dan menjaga kesucian spiritual.
- Jika seorang muslim meninggal dunia pada malam itu dalam keadaan suci (berwudhu), maka ia dianggap meninggal dalam keadaan husnul khatimah.
- Tidur dalam keadaan suci menjaga agar mimpinya lebih benar dan tidak dipermainkan setan.
Doa Setelah Wudhu:
Arab: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
Latin: Asyhadu an lā ilāha illallāhu wahdahu lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasūluh.
Artinya: “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa berwudhu dengan sempurna lalu mengucapkan doa ini, maka akan dibukakan baginya delapan pintu surga, ia boleh masuk melalui pintu mana pun yang ia kehendaki.” (HR Muslim no. 234).
2. Mengibaskan Tempat Tidur dan Membaca Doa
Amalan sederhana namun sarat makna ini seringkali terlewatkan. Rasulullah mengajarkan untuk mengibaskan tempat tidur sebelum merebahkan diri.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian hendak beranjak menuju tempat tidurnya, maka hendaknya ia mengibaskan tempat tidurnya dengan bagian ujung kainnya (sarungnya), karena ia tidak tahu apa yang telah menempatinya sejak ia tinggalkan…” (HR Bukhari no. 6320, Muslim no. 2714).
Dalam Sunnah dan Dzikir Harian Nabi SAW, dijelaskan bahwa tindakan mengibaskan tempat tidur dilakukan untuk membersihkan tempat tidur dari debu, kotoran, atau bahkan hewan kecil seperti semut, kalajengking, atau ular yang mungkin bersembunyi di sana. Disunnahkan dilakukan tiga kali sambil mengucapkan bismillah.
Doa Sebelum Tidur:
Arab: بِاسْمِكَ رَبِّي وَضَعْتُ جَنْبِي، وَبِكَ أَرْفَعُهُ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ
Latin:Bismika rabbī wadha‘tu janbī, wa bika arfa‘uhu, in amsakta nafsī farhamhā, wa in arsaltahā fahfazhhā bimā tahfazhu bihi ‘ibādakaṣ-ṣāliḥīn.
Artinya: “Dengan menyebut nama-Mu, wahai Tuhanku, aku membaringkan tubuhku, dan dengan izin-Mu aku mengangkatnya (bangun kembali). Jika Engkau menahan jiwaku (mencabut nyawaku), maka rahmatilah ia. Dan jika Engkau melepaskannya (membiarkanku hidup), maka jagalah ia, sebagaimana Engkau menjaga hamba-hamba-Mu yang saleh.” (HR Bukhari no. 6302, Muslim no. 2714).
3. Membaca Ayat Kursi
Ini adalah amalan yang paling masyhur dan memiliki keutamaan luar biasa. Rasulullah ﷺ mengajarkan Ayat Kursi sebagai benteng perlindungan dari setan hingga pagi hari.
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: “Rasulullah ﷺ mempercayakan aku menjaga zakat Ramadhan. Lalu datanglah seseorang kepadaku… ia berkata: ‘Jika engkau hendak tidur, bacalah Ayat Kursi, maka akan senantiasa ada penjagaan dari Allah untukmu, dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi.’ Kemudian Nabi ﷺ bersabda: ‘Dia benar meskipun dia pendusta, itu adalah setan.’” (HR Bukhari no. 2311).
Teks Ayat Kursi (QS. Al-Baqarah: 255):
ٱللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌۭ وَلَا نَوْمٌۭ ۚ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍۢ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ
Latin: Allāhu lā ilāha illā huwal-ḥayyul-qayyūm, lā takhudhuhū sinatuw wa lā nawm, lahū mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man dzal-ladzī yasyfa‘u ‘indahū illā bi idznih, ya‘lamu mā bayna aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭūna bi syaiim min ‘ilmihī illā bimā syā, wasi‘a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā yaūduhū ḥifẓuhumā, wa huwal-‘aliyyul-‘aẓīm.
Artinya: “Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang di langit dan apa yang di bumi. Siapa yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya? Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu pun tentang ilmu-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Agung.”
Dalam Hadiah Indah, Abdullah Hamud al Furaij menjelaskan bahwa membaca Ayat Kursi akan menjadikan pembacanya berada dalam perlindungan Allah dan dijaga dari gangguan setan hingga pagi hari. Mengingat setan selalu berusaha mengganggu manusia di malam hari, Ayat Kursi adalah perisai yang kokoh.
Membaca Dua Ayat Terakhir Surat Al-Baqarah
Tidak hanya Ayat Kursi, dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah juga memiliki keistimewaan luar biasa jika dibaca pada malam hari.
Dari Abu Mas’ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah pada malam hari, maka keduanya akan mencukupinya.” (HR Bukhari no. 4008, Muslim no. 807).
Teks Dua Ayat Terakhir Surat Al-Baqarah (QS. Al-Baqarah: 285-286):
Arab (Ayat 285): آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
Latin (Ayat 285): Āmanar-rasūlu bimā unzila ilaihi mir-rabbihi wal-muminūn, kullun āmana billāhi wa malāikatihī wa kutubihī wa rusulihī, lā nufarriqu baina aḥadim mir-rusulih, wa qālū sami‘nā wa aṭa‘nā, ghufrānaka rabbanā wa ilaikal-maṣīr.
Artinya (Ayat 285): “Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata): ‘Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.’ Dan mereka berkata: ‘Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.’”
Arab (Ayat 286): لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
Latin (Ayat 286): Lā yukallifullāhu nafsan illā wus‘ahā, lahā mā kasabat wa ‘alaihā maktasabat, rabbanā lā tuākhidznā in nasīnā aw akhṭanā, rabbanā wa lā taḥmil ‘alainā iṣran kamā ḥamaltahū ‘alal-ladzīna min qablinā, rabbanā wa lā tuḥammilnā mā lā ṭāqata lanā bih, wa‘fu ‘annā, waghfir lanā, warḥamnā, anta maulānā fanṣurnā ‘alal-qaumil-kāfirīn.
Artinya (Ayat 286): “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi kaum yang kafir.’”
Dalam Buku Sunnah dan Dzikir Harian Nabi SAW, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa makna “akan mencukupinya” (kaffaahu) mencakup beberapa hal: ia akan dicukupkan dari shalat malam (sebagian ulama berpendapat bahwa dua ayat ini menggantikan qiyamul lail), dijaga dari setan, dan terhindar dari berbagai keburukan. Ini adalah salah satu amalan yang paling utama sebelum tidur.
Amalan Pelangkap: Membaca Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas
Ini adalah amalan pelengkap sekaligus penyempurna perisai diri. Rasulullah ﷺ melakukannya setiap malam. Dari Aisyah RA, ia berkata: “Biasanya Nabi ﷺ ketika hendak beranjak menuju tempat tidurnya pada setiap malam, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya, kemudian meniupnya (dengan sedikit air liur) seraya membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangannya ke sekujur tubuh yang bisa dijangkau, dimulai dari kepala, lalu wajah, dan bagian depan tubuh. Beliau melakukan hal itu sebanyak tiga kali.”
Surah Al-Ikhlas (QS. 112):
Arab: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ ﴿٤﴾
Latin: Qul huwallāhu aḥad, Allāhuṣ-ṣamad, lam yalid wa lam yūlad, wa lam yakul lahū kufuwan aḥad.
Artinya: “Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”
Surah Al-Falaq (QS. 113):
Arab: قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ﴿١﴾ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ﴿٢﴾ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ﴿٣﴾ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ ﴿٤﴾ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴿٥﴾
Latin: Qul a‘ūdzu birabbil-falaq, min syarri mā khalaq, wa min syarri ghāsiqin idzā waqab, wa min syarrin-naffātsāti fil-‘uqad, wa min syarri ḥāsidin idzā ḥasad.
Artinya: “Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar), dari kejahatan makhluk-Nya, dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dari kejahatan wanita-wanita (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.”
Surah An-Nas (QS. 114):
Arab: قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ﴿١﴾ مَلِكِ النَّاسِ ﴿٢﴾ إِلَٰهِ النَّاسِ ﴿٣﴾ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ﴿٤﴾ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ ﴿٥﴾ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ﴿٦﴾
Latin: Qul a‘ūdzu birabbin-nās, malikin-nās, ilāhin-nās, min syarril-waswāsil-khannās, alladzī yuwaswisu fī ṣudūrin-nās, minal-jinnati wan-nās.
Artinya: “Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.”
Dalam Hadiah Indah, Abdullah Hamud al Furaij menjelaskan bahwa tiupan yang disertai sedikit air liur (yang telah bercampur dengan bacaan ayat suci) inilah yang mengandung keberkahan. Ini adalah tindakan preventif, membersihkan energi negatif dan memohon perlindungan dari segala kejahatan makhluk Allah.
Beliau juga menyebutkan bahwa jika seseorang merasa sakit, ia dapat meniupkan bacaan yang sama pada tangannya lalu mengusapkan ke bagian yang sakit, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah ketika beliau sakit.
Pertanyaan Seputar Amalan Sebelum Tidur
Berikut lima hikmah mengamalkan sunnah Rasulullah SAW sebelum tidur:
1. Mendapat perlindungan dari gangguan setan sepanjang malam
Dengan membaca Ayat Kursi dan surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, serta An-Nas sebelum tidur, seorang muslim berada dalam penjagaan Allah sehingga setan tidak dapat mendekatinya hingga pagi hari.
2. Meninggal dalam keadaan suci dan husnul khatimah
Berwudhu sebelum tidur membuat tubuh dan jiwa dalam keadaan bersih, sehingga jika ajal menjemput di malam itu, ia meninggal dalam keadaan fitrah dan siap menghadap Allah.
3. Tempat tidur menjadi bersih dan aman dari bahaya
Mengibaskan tempat tidur dengan membaca basmalah membersihkannya dari debu, kotoran, atau hewan kecil berbisa yang bisa membahayakan saat tidur.
4. Mendapatkan pahala seperti shalat malam
Membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah sebelum tidur akan mencukupi seseorang dari keutamaan qiyamul lail, sebagaimana dijelaskan oleh Imam An-Nawawi.
5. Tidur bernilai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah
Dengan mengamalkan rangkaian sunnah tidur, aktivitas tidur yang semula hanya kebutuhan fisik berubah menjadi amalan yang mendatangkan pahala dan kecintaan Allah.
People Also Ask:
4 Amalan Sebelum tidur Apa Saja?
Ada 4 amalan utama sebelum tidur yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW agar tidur bernilai ibadah dan mendatangkan keberkahan.
Apa yang dianjurkan nabi Muhammad sebelum tidur?
Nabi Muhammad SAW menganjurkan serangkaian amalan sunnah sebelum tidur agar istirahat bernilai ibadah dan mendapat perlindungan.
Apa pesan Rasulullah kepada Aisyah sebelum tidur malam?
Rasulullah SAW berpesan kepada Aisyah RA untuk tidak tidur sebelum mengerjakan empat amalan utama, yaitu mengkhatamkan Al-Qur'an, mendapatkan syafaat para nabi, meminta ridha sesama Muslim, serta melaksanakan haji dan umrah. Beliau mengajarkan cara ringan untuk meraih pahala besar tersebut.
Rasulullah sebelum tidur membaca surat apa?
Rasulullah SAW biasa membaca Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas (Al-Mu'awwidzatain) serta Ayat Kursi (Surat Al-Baqarah ayat 255) sebelum tidur. Beliau juga rutin membaca Surat Al-Kafirun dan dua ayat terakhir Surat Al-Baqarah.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5102627/original/058220500_1737446569-1737444761877_cara-mandi-wajib-haid.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3195813/original/076650300_1596187131-20200731-Hagia-Sophia-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3243956/original/072932600_1600665128-photo-1493894473891-10fc1e5dbd22__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3108177/original/030261700_1587459748-299786-P7FMQK-120.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3430878/original/058976400_1618561327-20210416-Itikaf-Masjid-Kubah-Emas-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4370308/original/064241200_1679646015-Shalot-Jumat-Pertama-Ramadhan-Di-Masjid-Istiqlal-Angga-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4374521/original/081753100_1679993733-ed-us-iXUXMn_-nh8-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510686/original/040009700_1771835145-unnamed__28_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4467383/original/024435300_1686815470-suhyeon-choi-NIZeg731LxM-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5525602/original/003097400_1773046669-unnamed__54_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5450229/original/030945800_1766134797-unnamed__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4775811/original/052863100_1710738724-Ilustrasi_anak__ibu__sahur__buka_puasa__Islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6470090/original/081962400_1779331661-ribuan-umat-islam-di-kediri-berdoa-bersama-sambut-1-muharram.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4780649/original/094862900_1711077046-masjid-pogung-raya-9nkMRXMvZiI-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5022295/original/011704300_1732602641-habis-muharram-bulan-apa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6470730/original/058445600_1779332176-1-suro-keraton-surakarta-kirab-9-kebo-bule-dan-9-pusaka.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5484508/original/089372800_1769436147-Wamenhaj_Dahnil_Anzar_Simanjuntak_di_Asrama_Haji_Pondok_Gede__Jakarta__26_Januari_2026.__dok_Media_Center_Haji_2026__2.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502852/original/043074800_1771048777-4.jpg)

















