Kapan 1 Muharram 2026? Simak Jadwal, Keutamaan dan Amalan-amalannya

2 days ago 18

Liputan6.com, Jakarta - Bulan Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah yang sarat dengan makna spiritual dan sejarah. Tahun ini, umat Islam akan memasuki tahun baru 1448 Hijriah. Oleh sebab itu, banyak muslim mulai mencari tahu, kapan 1 Muharram 2026?

Muharram memiliki kedudukan agung sebagai bulan suci. Surah At-Taubah ayat 36: "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan... di antaranya ada empat bulan haram." Ayat ini secara tegas melarang keras segala tindakan kezaliman di dalamnya.

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab Lathaif Al-Ma'arif menjelaskan bahwa penyebutan Muharram sebagai "Syahrullah" membuktikan kekhususan dan kemuliaannya. Kesucian bulan ini merupakan murni ketetapan langsung dari Allah.

Merujuk Buku Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, penerjemah Abu Salma Muhammad Rachdie, S.Si, Bulan Muharram dan Keutamaan Berpuasa di Dalamnya, Said Yai, Kalender Hijriah Indonesia 2026, terbitan Kemenag dan sumber lainnya, berikut ini jadwal 1 Muharram 2026, kedudukannya dalam Islam, keutamaan hingga amalan-amalannya.

Kaum Muslimin dianjurkan memperbanyak ibadah, terutama puasa sunah. Mari kita jadikan bulan suci ini sebagai momentum terbaik untuk muhasabah.

Jadwal 1 Muharram 2026

Berdasar Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), tanggal 1 Muharram 1448 Hijriah ditetapkan jatuh pada hari Selasa, 16 Juni 2026.

Senada itu, Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) 1 Muharram juga jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026.

Tanggal ini juga tercantum dalam berbagai rujukan kalender Islam lainnya, menandai pergantian tahun yang menjadi momen refleksi dan introspeksi diri bagi setiap Muslim.

Setelah mengetahui hari dan tanggal jatuhnya 1 Muharram dalam kalender Masehi, umat Islam juga perlu memahami kedudukan, keutamaan, serta amalan yang dianjurkan di bulan suci Muharram berdasarkan dalil-dalil sahih serta pandangan para ulama terkemuka.

Kedudukan Bulan Muharram dalam Islam

Bulan Muharram memegang posisi yang sangat luhur dan sakral di dalam tata kelola waktu Islam. Secara kebahasaan, Al-Muharram memiliki arti "waktu yang diharamkan" atau disucikan. Nama ini disematkan sebagai penguat atas kemuliaan dan keharamannya.

Di zaman Jahiliyah, bulan ini awalnya disebut dengan nama Shafar Al-Awwal, namun setelah fajar Islam terbit, Rasulullah SAW menamakannya sebagai bulan Al-Muharram.

Secara syariat, kedudukan utama Muharram dapat ditinjau dari dua status besarnya:

Muharram sebagai Bagian dari Empat Bulan Suci (Asyhurul Hurum)

Muharram adalah salah satu dari empat bulan yang secara khusus disucikan oleh Allah SWT. Di dalam bulan-bulan ini, segala bentuk kezaliman dan perbuatan dosa dilarang keras karena sanksinya menjadi jauh lebih besar dibandingkan bulan lainnya.

Firman Allah dalam Al-Qur'an Surah At-Taubah ayat 36: "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menganiaya diri kalian sendiri di dalamnya..."

Muharram sebagai Syahrullah (Bulan Allah)

Rasulullah SAW secara khusus menyandarkan bulan Muharram kepada nama Allah dengan sebutan Syahrullah. Penyandaran (idhafah) ini bersifat pengagungan (tasyrif), yang menunjukkan bahwa bulan ini memiliki kekhususan yang tidak dimiliki oleh mayoritas bulan lainnya.

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa penamaan Syahrullah Al-Muharram merupakan bentuk pelabelan yang menunjukkan keagungan, karena tidak ada bulan lain yang disandarkan langsung kepada nama Allah selain bulan Ramadan dan bulan Muharram.

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab Lathaif Al-Ma'arif menjelaskan bahwa rahasia disandarkannya bulan Muharram kepada Allah adalah karena penetapan kesucian bulan ini murni berasal dari Allah langsung, berbeda dengan kaum Jahiliyah yang sering kali mengubah-ubah kesucian bulan (disebut An-Nasi').

Qatadah rahimahullah berkata: “Sesungguhnya berbuat zalim di bulan-bulan haram ini lebih besar dosa dan balasannya dibandingkan bulan-bulan lainnya. Meskipun kezaliman dalam setiap keadaan itu besar dosanya, tetapi Allah menjadikan kezaliman di beberapa kondisi lebih besar lagi dengan kehendak-Nya.” (Tafsir Ibnu Abi Hatim VI/1793).

Keutamaan Bulan Muharram

1. Sebaik-baik Bulan untuk Puasa Sunah setelah Ramadhan

Rasulullah SAWbersabda: “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah berpuasa di bulan Allah (Syahrullah) al-Muharram.” (HR. Muslim no. 1982)

Dalam hadis ini, Nabi SAW menyandarkan bulan Muharram kepada Allah dengan penyandaran yang menunjukkan pemuliaan dan pengagungan. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis ini merupakan motivasi (targhib) untuk memperbanyak puasa di bulan Muharram, meskipun Nabi ﷺ sendiri tidak pernah berpuasa sebulan penuh secara sempurna kecuali di bulan Ramadhan.

2. Keutamaan Hari ‘Asyura (10 Muharram)

Keistimewaan terbesar di bulan Muharram terletak pada hari kesepuluh, yang dikenal sebagai hari ‘Asyura. Rasulullah SAW bersabda:

“Puasa di hari ‘Asyura, saya berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan (dosa) setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)

Para ulama menjelaskan bahwa dosa yang diampuni adalah dosa-dosa kecil, bukan dosa besar. Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab menegaskan: “Puasa ‘Asyura menggugurkan dosa setahun, puasa ‘Arafah menggugurkan dosa dua tahun. Apabila ditemukan dosa-dosa kecil, maka akan digugurkan. Jika tidak ada dosa kecil, maka akan ditetapkan kebaikan baginya dan diangkat derajatnya. Namun apabila didapati dosa besar tanpa disertai dosa kecil, maka kami harapkan dapat meringankan dosa besarnya.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa juga menegaskan bahwa pengguguran dosa melalui amalan seperti puasa ‘Asyura hanya berlaku untuk dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar memerlukan taubat nasuha (taubat yang sungguh-sungguh).

3. Hari Diselamatkannya Nabi Musa dan Bani Israil

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa ketika Nabi SAW tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Beliau bertanya, “Hari apa ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah hari yang agung, di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir‘aun beserta bala tentaranya. Maka Musa berpuasa sebagai bentuk rasa syukur.”

Mendengar itu, Rasulullah SAW bersabda, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Maka beliau pun berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. (HR. Bukhari no. 2002).

Amalan-Amalan yang Dianjurkan di Bulan Muharram

1. Memperbanyak Puasa Sunah

Berdasarkan hadis Rasulullah ﷺ di atas, dianjurkan untuk memperbanyak puasa sunah di sepanjang bulan Muharram. Meskipun tidak mencapai sebulan penuh, semakin banyak hari yang dipuasai, semakin besar pahalanya.

2. Puasa ‘Asyura (10 Muharram) dan Puasa Tasu‘a (9 Muharram)

Para ulama menganjurkan untuk berpuasa pada tanggal 10 Muharram (‘Asyura). Namun yang lebih utama adalah berpuasa juga pada tanggal 9 Muharram (Tasu‘a) sebagai bentuk penyelisihan terhadap orang-orang Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 saja.

Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: Ketika Rasulullah ﷺ berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa, para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Kalau begitu tahun depan kita berpuasa di hari kesembilan.” Namun beliau tidak sempat sampai tahun depan karena wafat. (HR. Muslim no. 1916)

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid dalam kitab Keutamaan ‘Asyura dan Bulan Muharram menjelaskan bahwa puasa ‘Asyura memiliki beberapa tingkatan:

  • Tingkat terendah: berpuasa hanya pada tanggal 10 Muharram saja.
  • Tingkat yang lebih utama: berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram.
  • Tingkat yang paling sempurna: berpuasa pada tanggal 9, 10, dan 11 Muharram, sebagaimana disebutkan oleh sebagian ulama fikih.

Pendapat yang kuat—sebagaimana ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah—membolehkan puasa hanya pada tanggal 10 Muharram, karena itulah yang dilakukan Rasulullah ﷺ selama beliau hidup.

3. Memperbanyak Sedekah dan Santunan Anak Yatim

Bulan Muharram juga menjadi momentum untuk memperbanyak kepedulian sosial. Kementerian Agama RI menyebutkan bahwa salah satu amalan utama di bulan Muharram adalah menyantuni anak yatim, karena amalan ini merupakan sunnah yang dicontohkan Rasulullah ﷺ.

4. Introspeksi Diri dan Hijrah Menuju Kebaikan

Tahun baru Hijriah mengingatkan umat Islam pada peristiwa hijrah Nabi ﷺ dari Makkah ke Madinah, yang menjadi tonggak awal penanggalan Islam. Secara maknawi, hijrah berarti meninggalkan segala hal yang dilarang Allah menuju ketaatan, dari kemaksiatan menuju kebaikan. Kemenag RI menyebutkan bahwa momen tahun baru Islam merupakan sarana untuk memperkokoh ukhuwah Islamiah (persaudaraan) sehingga dapat menghindari perpecahan dan perbedaan pemahaman sesama umat Islam.

Hal-Hal yang Perlu Dihindari di Bulan Muharram

1. Menyerupai Yahudi dan Nasrani

Rasulullah SAW melarang keras umatnya untuk menyerupai Ahli Kitab. Salah satu bentuknya adalah merayakan hari ‘Asyura sebagai hari raya atau perayaan layaknya Idulfitri. Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa orang-orang Yahudi menjadikan ‘Asyura sebagai hari perayaan, mereka memakaikan perhiasan kepada kaum wanitanya di hari itu. Maka Nabi SAW bersabda, “Berpuasalah kalian!” sebagai bentuk penyelisihan terhadap kebiasaan mereka.

2. Menjadikan ‘Asyura sebagai Hari Berkabung

Sebagian golongan (terutama Syi‘ah) menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari berkabung atas wafatnya Husain bin ‘Ali radhiallahu ‘anhu di Karbala. Mereka melakukan perbuatan yang bertentangan dengan syariat, seperti menampar-nampar pipi, merobek-robek baju, dan berteriak-teriak seperti teriakan orang-orang di masa Jahiliah. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bukan termasuk golonganku orang yang menampar-nampar pipinya, merobek-robek baju, dan berteriak-teriak seperti teriakan orang-orang di masa Jahiliah.” (HR. Bukhari no. 1294)

3. Ritual Mistik dan Klenik

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Keutamaan ‘Asyura dan Bulan Muharram karya Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid, sebagian masyarakat menjadikan bulan ini sebagai bulan yang dikeramatkan dengan melakukan ritual-ritual berbau kesyirikan, seperti melakukan nyadran, mencuci benda-benda pusaka, atau meyakini pantangan menikah. Semua ini tidak memiliki landasan dalam syariat.

4. Amalan Palsu yang Diklaim Khusus untuk Hari ‘Asyura

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan dengan tegas: “Tidak ada satu pun hadits Nabi ﷺ yang sahih yang menerangkan keutamaan khusus untuk bercelak, mandi, memakai pacar (inai), bersalam-salaman, memasak bebijian (bubur), atau menampakkan keceriaan di hari ‘Asyura. Semua riwayat yang menyebut hal-hal tersebut adalah dusta dan palsu atas nama Nabi ﷺ.” (Majmu’ al-Fatawa).

Pertanyaan Seputar Bulan Muharram

1 Muharam 2026 jatuh pada tanggal berapa?

Tanggal 1 Muharram dan awal tahun baru Hijriah akan jatuh pada hari Selasa, 16 Juni 2026, tergantung pada penampakan bulan.

Kapan bulan Muharram dimulai pada tahun 2026?

Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Islam (juga dikenal sebagai kalender Lunar atau Hijriah). Kalender Islam didasarkan pada 12 bulan lunar, dan penampakan bulan baru menentukan awal bulan baru. Pada tahun 2026, Muharram diperkirakan akan dimulai pada hari Selasa, 16 Juni 2026

1 Muharram 1447 hari apa?

Sesuai kalender pemerintah, 27 Juni 2025 adalah hari libur 1 Muharam Tahun Baru Islam 1447 Hijriah. Merujuk laman Majelis Ulama Indonesia, 1 Muharram adalah hari pertama dalam kalender Islam.

1 Syawal 2026 jatuh pada tanggal berapa?

Berdasarkan sidang isbat di Auditorium Kementerian agama Jakarta Pusat, pemerintah menetapkan bahwa, 1 Dzulhijjah 1447 Hijriyah jatuh pada hari Senin, bertepatan dengan tanggal 18 Mei 2026.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |