Liputan6.com, Jakarta - Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia memperingati bulan pertama dalam kalender Hijriah, yaitu Muharram sekaligus sebagai tahun Baru Islam. Di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, bulan ini lebih akrab dengan sebutan Bulan Suro. Lantas, Muharram apakah bulan Suro?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita mesti memahami Muharram dan kedudukannya dalam Islam, sekaligus mengetahui Suro dalam perspektif tradisi (urf). Dari pengertian keduanya dan proses sinkretis, terdapat benang merah yang menghubungkan keduanya. Namun begitu, di sisi lain, terdapat berbagai tradisi lolak yang tidak sesuai dengan syariat.
Artikel ini akan mengupas hakikat Muharram sebagai bulan suci, akulturasi sehingga menjadi 'Suro' dalam tradisi Jawa dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, merujuk Jurnal Bulan Suro dalam Perspektif Islam dan Tradisi Bulan Suro di Pulau Jawa, Za'farullah Jamaly dan Jenang Sura: Akulturasi antara Tradisi Lokal Jawa dan Nilai-Nilai Islam, Sofi Ghoniyah, Buku Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, Penerjemah Abu Salma Muhammad Rachdie, S.Si, serta literatur klasik dan kontemporer lainnya.
Muharram dalam Perspektif Islam
Dalam ajaran Islam, Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram (suci) yang disebutkan dalam Al-Qur’an (QS. At-Taubah: 36), selain Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Bulan ini mendapatkan gelar istimewa sebagai Syahrullah (Bulan Allah), sebuah bentuk pemuliaan yang tidak diberikan kepada bulan lainnya.
Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam bukunya Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram menjelaskan bahwa penyandaran nama bulan ini kepada Allah menunjukkan keagungan dan kesuciannya.
Pada bulan-bulan haram, umat Islam dilarang keras menzalimi diri sendiri karena dosa yang diperbuat di dalamnya dinilai lebih besar dibandingkan bulan-bulan biasa. Sebaliknya, amal saleh yang dilakukan juga dilipatgandakan pahalanya.
Terdapat berbagai amalan di bulan Muharram. Rasulullah ﷺ bersabda: "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, Muharram." (HR. Muslim).
Hadits ini menunjukkan keutamaan memperbanyak puasa sunnah di bulan Muharram. Meskipun demikian, para ulama menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah berpuasa sebulan penuh di luar Ramadhan. Oleh karena itu, hadits ini dimaknai sebagai motivasi untuk memperbanyak puasa, bukan mewajibkannya.
Keistimewaan puncak bulan Muharram terletak pada hari ke-10, yang dikenal sebagai Hari 'Asyura. Rasulullah SAW bersabda: "Dan puasa di hari 'Asyura, saya berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim).
Dari sinilah akar perbedaan mendasar antara syariat Islam dan tradisi lokal mulai terlihat. Dalam Islam, 'Asyura adalah hari rahmat, di mana Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Atas kejadian itu, Nabi Musa berpuasa sebagai tanda syukur, dan Rasulullah SAW melanjutkan tradisi tersebut serta memerintahkan umatnya untuk menyelisihi kaum Yahudi dengan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram.
Suro dalam Perspektif Tradisi Jawa
Merujuk jurnal Bulan Suro dalam Perspektif Islam dan Tradisi Bulan Suro di Pulau Jawa oleh Za'farullah Jamaly (UIN Walisongo), istilah ini lahir dari akulturasi budaya yang sistematis pada masa Kesultanan Mataram Islam. Suro adalah nama lokal untuk bulan Muharram dalam penanggalan Jawa.
Sultan Agung Hanyakrakusuma, pada tahun 1633 M, mengganti penanggalan Saka (Hindu) dengan kalender Hijriah. Bulan Muharram kemudian disepadankan dengan bulan pertama dalam penanggalan Jawa, yang dinamakan Suro. Ini adalah upaya strategis untuk menyatukan basis budaya Jawa yang sudah mengakar dengan nilai-nilai Islam.
Jika dalam Islam Muharram adalah bulan suci untuk meningkatkan ibadah, dalam tradisi Jawa, Suro memiliki nuansa wingit (keramat penuh misteri) dan sakral magis.
Masyarakat Jawa meyakini bahwa bulan Suro adalah bulan milik Allah (Gusti Allah) yang begitu agung sehingga manusia biasa dianggap "tidak mampu" atau "terlalu lemah" untuk mengadakan hajatan besar seperti pernikahan, khitanan, atau pindah rumah. Konsekuensi jika melanggar pantangan ini dipercaya akan mendatangkan musibah atau malapetaka.
Keyakinan ini menimbulkan fenomena unik: hanya raja atau sultan (yang dianggap sebagai wakil Allah) yang "berhak" mengadakan acara besar di bulan Suro. Rakyat biasa cenderung menghindari acara-acara sakral pada bulan ini.
Ragam Tradisi dan Ritual Suro di Jawa
Berbeda dengan kesederhanaan ibadah dalam Islam, tradisi Suro di Jawa melahirkan beragam ritual yang kaya akan simbolisme. Tradisi ini lahir sebagai bentuk akulturasi untuk mengadopsi tradisi Islam ke budaya Jawa.
Namun begitu, dalam pelaksanaannya, terdapat berbagai tradisi yang sekilas lalu 'mirip' dengan tradisi Islam, namun berbeda di tingkat aksinya.
Perlu dipahami, Islam masuk ke Indonesia (Pulau Jawa), di mana tradisi dan budayanya sudah mengakar kuat. Islam masuk tidak serta merta menghapus keseluruh tradisi, namun secara halus memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam berbagai tradisi lokal.
Berikut contohnya:
- Tirakat dan Ruwatan: Melakukan puasa atau laku spiritual untuk membersihkan diri.
- Jamasan Pusaka: Mencuci benda-benda pusaka keraton dan keris.
- Larangan (Pamali): Larangan menikah adalah yang paling kuat. Selain itu, ada pantangan berdasarkan weton dan urutan kelahiran (misalnya jilu atau lusan).
Akulturasi Budaya Lokal dengan Islam
Berdasarkan penelitian Sofi Ghoniyah (UIII) dalam jurnal Jenang Sura: Akulturasi antara Tradisi Lokal Jawa dan Nilai-Nilai Islam, tradisi ini adalah jembatan antara kearifan lokal dan syariat. Contohnya:
1. Tradisi Bubur Sura
Masyarakat Jawa meyakini bahwa pembuatan Jenang Sura (bubur yang terbuat dari berbagai macam biji-bijian) untuk mengenang peristiwa berlabuhnya Kapal Nabi Nuh di bulan Muharram.
Setelah selamat dari banjir bandang, Nabi Nuh dan pengikutnya mengumpulkan sisa bekal yang tersisa (berupa 7 macam biji-bijian) dan memasaknya menjadi bubur.
2 Nilai-Nilai Islam yang Terkandung
Para ulama (Walisongo) tidak serta-merta menghapus ritual membuat bubur, tetapi mengisinya dengan nilai-nilai tauhid:
- Pelajaran Sejarah (Ibrah): Tradisi ini menjadi media pengingat kisah Nabi Nuh, mengajarkan bahwa keselamatan datang dari iman dan ketakwaan, sementara kekufuran membawa kehancuran.
- Ekspresi Syukur: Warna putih jenang melambangkan kebersihan dan tekad untuk bertaubat. Membagikan jenang adalah bentuk syukur atas nikmat Allah di tahun yang baru.
- Solidaritas Sosial (Sedekah): Mirip dengan ajaran Islam tentang hak tetangga, jenang sura dibagikan kepada kerabat dan tetangga sebagai perekat silaturahmi.
Sikap Ulama terhadap Berbagai Tradisi Muharram
Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan tegas melarang praktik-praktik yang tidak bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah, seperti:
- Bercelak mata dengan keyakinan tertentu.
- Mandi besar khusus di hari Asyura untuk keselamatan.
- Menampakkan kesedihan berlebihan (seperti yang dilakukan Syiah atas syahidnya Husain di Karbala) atau kegembiraan berlebihan (menjadikannya hari raya dengan memasak makanan khusus untuk "perayaan").
Menurut Syaikhul Islam, semua riwayat tentang keutamaan ritual-ritual khusus di hari Asyura selain puasa adalah palsu dan dusta.
Tetaplah berpegang pada tuntunan Rasulullah ﷺ di bulan ini:
- Perbanyak puasa sunnah (terutama 9, 10, 11 Muharram).
- Jauhi dosa karena konsekuensinya lebih berat di bulan suci.
- Jangan terjerumus pada ritual bid'ah atau khurafat yang tidak diajarkan syariat.
Jika ingin membuat Jenang Sura, niatkan sebagai bentuk sedekah dan silaturahmi kepada tetangga, serta mengingatkan keluarga akan sejarah Nabi Nuh, bukan karena takut pada "angker"-nya bulan Suro.
Dengan pemahaman ini, umat Islam di Jawa dapat mempertahankan tradisi leluhur yang indah tanpa kehilangan kemurnian akidah. Muharram adalah bulan berkah, dan Suro adalah pintu budaya untuk memasukinya.
Pertanyaan Seputar Bulan Muharram
Muharram sama Suro apakah sama?
Muharram dan Suro adalah dua hal yang sama dari segi penanggalan, yakni sama-sama merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah dan kalender Jawa. Namun, keduanya memiliki perbedaan signifikan dalam hal penyebutan, makna, dan tradisi perayaannya.
1 Muharram itu artinya apa?
1 Muharram adalah Tahun Baru Islam atau hari pertama dalam penanggalan kalender Hijriah. Secara bahasa, kata "Muharram" berarti sesuatu yang diharamkan atau disucikan.
Bulan Suro itu bulan apa?
Bulan Suro adalah sebutan untuk bulan Muharram dalam penanggalan Islam (Hijriyah) yang sekaligus menjadi bulan pertama dalam sistem kalender Jawa. Pergantian tahun ini biasa diperingati masyarakat dengan berbagai tradisi sakral seperti Malam Satu Suro.
Bulan Muharram termasuk bulan apa?
Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam sistem kalender Hijriyah (kalender Islam).

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3243956/original/072932600_1600665128-photo-1493894473891-10fc1e5dbd22__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3108177/original/030261700_1587459748-299786-P7FMQK-120.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3430878/original/058976400_1618561327-20210416-Itikaf-Masjid-Kubah-Emas-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4370308/original/064241200_1679646015-Shalot-Jumat-Pertama-Ramadhan-Di-Masjid-Istiqlal-Angga-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4374521/original/081753100_1679993733-ed-us-iXUXMn_-nh8-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407952/original/091057200_1762758448-amalan_sebelum_tidur_3.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510686/original/040009700_1771835145-unnamed__28_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4467383/original/024435300_1686815470-suhyeon-choi-NIZeg731LxM-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5525602/original/003097400_1773046669-unnamed__54_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5450229/original/030945800_1766134797-unnamed__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4775811/original/052863100_1710738724-Ilustrasi_anak__ibu__sahur__buka_puasa__Islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6470090/original/081962400_1779331661-ribuan-umat-islam-di-kediri-berdoa-bersama-sambut-1-muharram.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4780649/original/094862900_1711077046-masjid-pogung-raya-9nkMRXMvZiI-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5022295/original/011704300_1732602641-habis-muharram-bulan-apa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5484508/original/089372800_1769436147-Wamenhaj_Dahnil_Anzar_Simanjuntak_di_Asrama_Haji_Pondok_Gede__Jakarta__26_Januari_2026.__dok_Media_Center_Haji_2026__2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4437264/original/001657600_1684817338-izuddin-helmi-adnan-JFirQekVo3U-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5158448/original/019123000_1741665178-kata-kata-ijab-kabul.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502852/original/043074800_1771048777-4.jpg)

















