Liputan6.com, Jakarta - Puasa sunnah di bulan Muharram menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Di antaranya adalah puasa Tasu'a dan Asyura. Lantas, apa makna puasa Tasua dan Asyura bagi umat Islam?
Rangkaian ibadah sunnah pada tanggal sembilan dan sepuluh ini sejatinya bukan sekadar rutinitas menahan lapar. Secara historis, amalan agung ini merupakan manifestasi rasa syukur terdalam atas kemenangan tauhid. Hal tersebut dipertegas oleh sabda Rasulullah, "Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa tahun yang berlalu."
Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Buku Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram menegaskan bahwa puasa ini merupakan wujud peleburan dosa. Puasa Tasu'a disyariatkan secara khusus untuk menyelisihi tradisi peribadatan golongan lain.
Oleh karena itu, menghidupkan kedua sunnah ini merupakan ikhtiar terbaik guna menyucikan jiwa. Merangkum literatur kredibel, berikut ini adalah makna puasa Tasua dan Asyura bagi umat Islam.
1. Puasa Asyura Wujud Syukur atas Kemenangan Tauhid
Puasa Asyura memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Pelaksanaannya mengandung dua makna fundamental bagi seorang Muslim: sebagai wujud syukur dan sarana pembersihan jiwa.
Secara historis, 10 Muharram adalah hari di mana Allah menenggelamkan Fir'aun dan menyelamatkan Nabi Musa beserta Bani Israil. Nabi Musa mengekspresikan rasa syukurnya dengan berpuasa pada hari tersebut.
Ketika Rasulullah tiba di Madinah dan melihat orang Yahudi berpuasa Asyura, beliau bertanya alasannya. Mereka menjawab, "Ini adalah hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa berpuasa pada hari itu." Nabi bersabda, "Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian." (HR. Bukhari dan Muslim).
Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Buku Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram (Penerjemah: Abu Salma Muhammad Rachdie, S.Si) menjelaskan bahwa makna pertama dari puasa Asyura adalah manifestasi rasa syukur (syukriyyah).
Umat Islam berpuasa untuk merayakan kemenangan hakiki, yakni menangnya tauhid atas kezaliman. Hadits ini juga menegaskan bahwa umat Nabi Muhammad adalah pewaris sah dari ajaran kemurnian tauhid seluruh nabi, termasuk Nabi Musa.
2. Puasa Asyura Sarana Peleburan Dosa Setahun Silam
Makna kedua dari puasa Asyura adalah tazkiyatun nufus (penyucian jiwa) melalui janji pengampunan dosa dari Allah.
Rasulullah SAW bersabda, "Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar Ia menghapuskan dosa tahun yang berlalu." (HR. Muslim).
Syaikh Al-Munajjid menguraikan bahwa puasa ini bermakna sebagai pelebur dosa (kaffarah). Namun, beliau menukil penjelasan para ulama bahwa dosa yang dihapuskan secara otomatis adalah dosa-dosa kecil. Adapun untuk dosa besar, seorang Muslim harus memaknai Asyura dengan memperbaharui taubat nasuha kepada Allah.
Lalu bagaimana dengan dosa besar? Di sinilah letak kesempurnaan makna penyucian jiwa. Untuk melebur dosa besar, seorang Muslim secara mutlak diwajibkan untuk mengiringi pelaksanaan puasa Asyura dengan memperbaharui taubat nasuha.
Melalui perpaduan ketaatan berpuasa dan rasa penyesalan mendalam, hari Asyura benar-benar menjadi sebuah momentum spiritual paling komprehensif bagi para hamba untuk bisa kembali bersih dan suci sepenuhnya di hadapan Allah Yang Maha Pengampun lagi Penyayang.
3. Makna Puasa Tasu'a (9 Muharram), Penegasan Identitas
Jika Asyura adalah inti dari syariat ini, maka Tasu'a (puasa di hari kesembilan) hadir sebagai penyempurna. Puasa Tasu'a memiliki makna strategis dalam menjaga kemurnian identitas ibadah umat Islam.
Makna paling utama dari puasa Tasu'a adalah untuk menyelisihi (mukhalafah) tradisi umat Yahudi dan Nasrani yang juga mengagungkan tanggal 10 Muharram.
Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda: "Seandainya aku masih hidup tahun depan, niscaya sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan (Tasu'a)." (HR. Muslim).
Ustadz Said Yai dalam Buku Bulan Muharram dan Keutamaan Berpuasa di Dalamnya menjelaskan secara komprehensif bahwa syariat Islam menjunjung tinggi kemandirian identitas.
Puasa Tasu'a bermakna agar umat Islam tidak mengekor atau menyerupai ibadah agama lain (tasyabbuh). Dengan menambah puasa di hari kesembilan, ibadah umat Islam memiliki karakter yang khas dan terbedakan dari Ahli Kitab yang hanya berpuasa di hari kesepuluh.
4. Langkah Kehati-hatian (Ihtiyath)
Selain sebagai pembeda, Syaikh Al-Munajjid dalam Buku Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram juga menambahkan bahwa puasa Tasu'a bermakna sebagai langkah antisipasi. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Buku Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram menjelaskan bahwa puasa Tasu'a pada sembilan Muharram memiliki dimensi ihtiyath atau kehati-hatian.
Dalam kalender Hijriah, penetapan awal bulan sangat bergantung pada rukyatul hilal. Terkadang, faktor cuaca mendung atau keterbatasan penglihatan membuat penetapan satu Muharram berpotensi meleset satu hari.
Pergeseran tersebut otomatis berdampak pada jadwal jatuhnya sepuluh Muharram. Karena itu, syariat menganjurkan berpuasa sejak tanggal sembilan sebagai langkah antisipasi yang cerdas. Seandainya tanggal sembilan yang diyakini manusia ternyata pada hakikatnya adalah tanggal sepuluh di sisi Allah, maka seorang Muslim dipastikan tidak tertinggal fadhilah Asyura. Ia tetap berhasil meraih janji agung berupa pengampunan dosa satu tahun silam.
Sikap ihtiyath ini merepresentasikan puncak kesungguhan, ketelitian, dan keseriusan hati umat Islam dalam memburu rahmat Ilahi. Puasa Tasu'a menjadi benteng pelindung tangguh yang mengeliminasi keraguan, memastikan ibadah penghapus dosa tersebut benar-benar tertunaikan secara utuh tanpa ada celah kesalahan hitungan manusiawi sedikit pun di dalamnya.
Makna Integratif Puasa Tasua dan Asyura dalam Islam
Penggabungan puasa Tasu'a dan Asyura membentuk satu kesatuan makna yang utuh bagi umat Islam. Rangkaian ibadah ini tidak berdiri sendiri sebagai ritual fisik semata, melainkan:
- Simbol Ketundukan: Bukti ketaatan dan rasa syukur atas nikmat pertolongan Allah kepada para pembawa panji tauhid.
- Momentum Evaluasi: Sarana terbaik di awal tahun Hijriah untuk menggugurkan dosa-dosa setahun yang lalu melalui amalan puasa dan istighfar.
- Integritas Akidah: Penegasan sikap bahwa umat Islam memiliki syariat yang independen dan senantiasa berusaha menyelisihi jalan orang-orang di luar Islam dalam hal peribadatan.
Dengan memahami makna komprehensif ini, seorang Muslim dapat menjalankan ibadah puasa di bulan Muharram dengan penuh kesadaran spiritual, tidak sekadar ikut-ikutan, melainkan tegak di atas dalil dan keilmuan yang lurus.
Hikmah Puasa Tasua dan Asyura
1. Penghapus Dosa Kecil dan Pemurnian Jiwa
Makna paling fundamental dari puasa Asyura adalah sebagai sarana pembersihan dosa-dosa kecil. Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid dalam bukunya 33 Faidah Seputar Asyura dan Muharram menjelaskan bahwa puasa Asyura itu menggugurkan seluruh dosa-dosa kecil, bukan menggugurkan dosa-dosa besar.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menegaskan bahwa jika seseorang memiliki dosa kecil, maka puasa ini akan menggugurkannya. Jika tidak memiliki dosa kecil, maka akan ditetapkan kebaikan baginya dan diangkat derajatnya. Namun jika memiliki dosa besar tanpa dosa kecil, maka puasa ini diharapkan dapat meringankan dosa besarnya.
2. Bentuk Syukur kepada Allah
Puasa Asyura mengajarkan umat Islam untuk mensyukuri nikmat Allah dengan amal nyata. Peristiwa keselamatan Nabi Musa AS dari kejaran Fir‘aun menjadi pengingat bahwa syukur tidak cukup hanya dengan lisan, tetapi harus diwujudkan dalam perbuatan.
3. Penegasan Identitas dan Menyelisihi Ahli Kitab
Puasa Tasu’a memiliki makna strategis sebagai pembeda identitas umat Islam. Dengan berpuasa pada tanggal 9 dan 10, umat Islam tidak menyerupai kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 saja.
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (4:245) menjelaskan bahwa keinginan Rasulullah ﷺ untuk berpuasa pada tanggal 9 dimaksudkan agar tidak persis seperti yang dilakukan oleh umat pada masa sebelumnya, yakni Yahudi dan Nasrani.
4. Keteladanan dan Penguatan Spiritual
Puasa Tasu’a dan Asyura adalah bentuk keteladanan kepada Rasulullah ﷺ dan penghormatan terhadap sejarah para nabi. Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid menjelaskan bahwa Hari Asyura merupakan momentum untuk memperbarui taubat, memperbanyak amal saleh, serta memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.
5. Pelatihan Pengendalian Diri dan Kesabaran
Puasa pada hakikatnya adalah latihan pengendalian diri. Dengan menahan lapar dan dahaga, seorang muslim melatih diri untuk menjaga lisan, hati, dan perbuatan, sehingga puasa tidak hanya menjadi ritual fisik, tetapi juga spiritual.
6. Momentum Muhasabah dan Perbaikan Diri
Dengan menjalankan puasa ini, umat Islam diajak untuk merenungi kesalahan di masa lalu, memperbaiki diri, dan memperbarui tekad untuk menjadi hamba yang lebih taat. Puasa Tasu’a menjadi pelengkap keutamaan puasa Asyura, memperkuat ikhtiar dalam meraih rahmat dan ampunan Allah SWT.
Pertanyaan Seputar Makna Puasa Tasua dan Asyura bagi Umat Islam
Mengapa Rasulullah menganjurkan puasa pada hari Tasua dan Asyura?
Rasulullah SAW menganjurkan puasa pada hari Tasu'a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram) untuk menghapus dosa setahun yang lalu, mensyukuri keselamatan Nabi Musa dan Bani Israil dari Firaun, dan membedakan amalan umat Islam dengan kaum Yahudi.
Jika seseorang hanya melakukan puasa Asyura tanpa Tasua, apakah ibadahnya tetap diterima?
Kabar baiknya, mayoritas ulama menjelaskan bahwa puasa Asyura tanpa puasa Tasua tetap sah dan tetap mendapatkan keutamaan puasa Asyura. Namun memang terdapat rincian dan anjuran yang perlu dipahami agar ibadah yang dilakukan semakin sempurna.
Kapankah umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan puasa Asyura?
Puasa Asyura dilaksanakan pada 10 Muharram. Di tahun 2024 ini, jika merujuk pada kalender Islam hijriyah oleh Kemenag RI, maka puasa Asyura dapat dilakukan pada hari Jumat, 16 Juli 2024.
Puasa Tasua dan Asyura apakah boleh digabung dengan puasa ganti?
Menggabungkan puasa sunah dan wajib secara sekaligus tidaklah diperbolehkan, seperti niat puasa Asyura dan qada Ramadan.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4697387/original/030929900_1703459328-WhatsApp_Image_2023-12-24_at_19.10.30.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4928386/original/099219200_1724670818-Ilustrasi_mencari_pekerjaan__lowongan_kerja.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5383864/original/030469300_1760697190-Berdoa_sebelum_bekerja.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501800/original/006278100_1770956928-unnamed__12_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3309137/original/055065200_1606475068-nurhan-yC70QqvrPRk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4783490/original/017319600_1711352573-Ilustrasi_bulan_purnama__masjid__Islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4993864/original/039284000_1730895141-senyum-adalah-sedekah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4783488/original/041264600_1711352368-Ilustrasi_bulan_purnama__masjid__Islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3381462/original/019627800_1613720800-wooden-spoon-fork-as-clock-hands-white-plate_49149-1007.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3536452/original/004647800_1628579709-bottom-view-erishte-bowl-different-stuffs-bowls-grey-background_140725-108117.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3430346/original/057356100_1618535827-coffee-cup-with-different-dried-fruits-nuts.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4780649/original/094862900_1711077046-masjid-pogung-raya-9nkMRXMvZiI-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3081754/original/022995900_1584692954-20200320-Suasana-Salat-Jumat-di--Masjid-Agung-Al-Azhar-Jakarta-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4889994/original/071009200_1720767600-pexels-zeynep-sude-emek-193601188-20785719.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8263683/original/_Disabilitas__Landis__PPIH_Arab_Saudi__Rika_Novianti_mengatakan__tim_Landis_memiliki_tugas_memantau_terhadap_jemaah_haji_kategori_risiko_tinggi_yang_membutuhkan_bantuan_dalam_aktivitas_sehari-hari.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4749999/original/079429500_1708587393-masjid-pogung-raya-owQ3N7FZgIM-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8262410/original/082401200_1781787644-Pelaksana_Lansia_dan_Disabilitas__Landis__melakukan_pelayanan_terhadap_jemaah_haji_Indonesia.__dok._Landis_Sektor_5_PPIH_Daker_Makkah____.jpg)

















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4016804/original/046265400_1652067919-KPK_4.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4382809/original/074926600_1680593144-top-view-hand-holding-silver-coins.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518245/original/007067800_1772495256-1.jpg)



