8 Amalan Sederhana di Hari Asyura yang Sering Terlupakan, Lengkap Dalil dan Penjelasan Ulama

6 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram merupakan salah satu momentum spiritual yang paling dinanti oleh umat Islam. Di hari agung ini, mayoritas umat Islam berlomba-lomba melaksanakan ibadah puasa sunnah karena keutamaan penghapusan dosa yang dijanjikannya. Namun tanpa disadari, masih terdapat beragam amalan sederhana di Hari Asyura yang sering terlupakan.

Pada 10 Muharram, seringkali umat Islam fokus pada ibadah utamanya, yaitu puasa Asyura, yang keutamaannya begitu luar biasa, yakni menghapus dosa setahun lampau. Akibatnya, sejumlah amalan sederhana kerap luput dari perhatian.

Merujuk Ebook Bimbingan Islam Seputar Bulan Muharram, Tim Bimbingan Islam, buku Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, penerjemah Abu Salma Muhammad Rachdie, dan literatur lainnya, berikut ini adalah amalan-amalan sederhana di hari Asyura yang sering terlupakan, lengkap dengan dalil dan penjelasan para ulama.

1. Mengiringi Asyura dengan Puasa Tasu'a

Banyak kaum muslimin yang hanya terfokus untuk berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja. Padahal, ada satu amalan pelengkap yang sangat dianjurkan oleh syariat, yakni puasa Tasu'a pada tanggal 9 Muharram. Mengabaikan puasa pada hari kesembilan ini berarti melewatkan satu tujuan penting dalam syariat: mukhalafah (menyelisihi) tradisi umat lain.

Rasulullah SAW bersabda: "Seandainya aku masih hidup tahun depan, niscaya sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan." (HR. Muslim).

Dalam Buku Bulan Muharram dan Keutamaan Berpuasa di Dalamnya karya Said Yai, dan didukung oleh Ebook Bimbingan Islam Seputar Bulan Muharram (Tim Bimbingan Islam), dijelaskan bahwa cita-cita Rasulullah di akhir hayat beliau adalah menambah satu hari puasa di tanggal 9.

Tujuannya sangat jelas, yakni agar tata cara ibadah umat Islam memiliki kemandirian identitas dan tidak menyerupai ibadah orang Yahudi yang hanya mengagungkan tanggal 10 Muharram saja. Menghidupkan puasa Tasu'a adalah amalan sederhana yang menjadi benteng kemurnian sunnah.

2. Memperbaharui Taubat Nasuha untuk Dosa Besar

Euforia berpuasa Asyura sering kali membuat seorang muslim merasa "aman" karena meyakini seluruh dosanya selama setahun telah terhapus. Amalan batin yang kerap terlupakan di hari ini adalah kewajiban untuk melakukan taubat nasuha, karena puasa Asyura memiliki batasan dalam hal pengampunan.

Rasulullah SAW bersabda: "Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar ia menghapuskan dosa tahun yang berlalu." (HR. Muslim).

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Buku Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram (Penerjemah: Abu Salma Muhammad Rachdie, S.Si) menggarisbawahi poin krusial dengan menukil fatwa Imam An-Nawawi. Syaikh Al-Munajjid menegaskan bahwa penghapusan dosa yang dimaksud dalam hadits tersebut secara mutlak hanya berlaku untuk dosa-dosa kecil (shagha'ir).

Adapun untuk dosa-dosa besar seperti riba, durhaka kepada orang tua, atau memakan harta anak yatim, syariat menuntut adanya taubat khusus yang tulus. Oleh karena itu, amalan terpenting di hari Asyura bukan sekadar menahan lapar, melainkan memperbanyak istighfar dan menyesali dosa-dosa besar secara sungguh-sungguh.

3. Menahan Diri dari Kezaliman Lisan dan Perbuatan

Fokus umat Islam sering kali hanya tertuju pada ibadah ritual (mahdhah) seperti puasa atau dzikir. Akibatnya, amalan sederhana berupa menahan lisan dari ghibah (menggunjing), dusta, atau menahan tangan dari berbuat zalim justru sering diabaikan, padahal 10 Muharram berada di dalam zona waktu yang sangat sakral.

Allah berfirman: "...maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu." (QS. At-Taubah: 36).

Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman dalam karyanya, Muharram Bulan Keramat, Mitos atau Realita?, menyoroti makna mendalam dari larangan berbuat zalim di bulan haram (termasuk di dalamnya hari Asyura).

Beliau mengutip penafsiran dari sahabat Abdullah bin Abbas yang menyatakan bahwa melakukan kemaksiatan atau menzalimi orang lain di bulan Muharram, dosa dan kemurkaannya akan dilipatgandakan oleh Allah.

Menahan diri dari membicarakan keburukan orang lain saat sedang berpuasa Asyura adalah amalan sederhana yang sangat berat timbangannya untuk menjaga keutuhan pahala ibadah.

4. Manjauhkan Diri dari Ritual Tolak Bala (Khurafat)

Di beberapa lapisan masyarakat, datangnya bulan Muharram (atau Suro) kerap disambut dengan kepanikan dan berbagai ritual ruwatan atau sedekah bumi penolak bala. Amalan sederhana yang sering dilupakan—yang justru merupakan inti dari ajaran Islam—adalah bersikap biasa dan menggantungkan tawakal secara total hanya kepada Allah.

Rasulullah bersabda: "Barangsiapa yang mengada-adakan suatu urusan (agama) dalam perkara kami ini yang bukan berasal darinya, maka amalan tersebut tertolak." (HR. Bukhari dan Muslim).

Kembali merujuk pada pemaparan Abu Abdillah Syahrul Fatwa dalam Buku Muharram Bulan Keramat, Mitos atau Realita?, amalan paling mendasar di hari Asyura adalah memurnikan tauhid. Meyakini bahwa hari Asyura bisa mendatangkan kesialan, larangan membangun rumah, atau pantangan melangsungkan pernikahan adalah bentuk tathayyur yang diharamkan.

Menepis keyakinan-keyakinan tak berdasar tersebut dan menggantinya dengan keyakinan lurus bahwa seluruh hari adalah milik Allah, merupakan "amalan hati" yang paling agung di bulan Muharram.

5. Berpuasa pada 11 Muharram (Penyempurna Mukhalafah)

Sering kali seorang muslim tertinggal atau berhalangan untuk melaksanakan puasa Tasu'a pada tanggal 9 Muharram. Banyak yang kemudian merasa pasrah dan hanya berpuasa di tanggal 10 saja. Padahal, syariat memberikan solusi sederhana yang kerap dilupakan agar nilai mukhalafah (menyelisihi ibadah Ahli Kitab) tetap teraih.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengklasifikasikan tingkatan puasa Asyura, di mana tingkatan yang paling sempurna adalah berpuasa pada tanggal 9, 10, dan 11 Muharram.

Jika tidak mampu, maka tanggal 9 dan 10. Jika terlewat tanggal 9, maka dianjurkan tanggal 10 dan 11.

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Buku Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram menjelaskan bahwa tujuan utama penambahan hari sebelum atau sesudah tanggal 10 adalah agar umat Islam tidak sama persis dengan ibadah orang Yahudi.

Menambah puasa di tanggal 11 Muharram adalah amalan sederhana sebagai ikhtiar penyelamat bagi mereka yang luput melaksanakan puasa Tasu'a.

6. Memperbanyak Amal Shalih Umum Tanpa Pengkhususan

Ada kecenderungan di masyarakat untuk mencari-cari amalan yang sifatnya "instan" di hari Asyura, seperti keyakinan bahwa bersedekah pada 10 Muharram akan melipatgandakan rezeki setahun penuh, atau keharusan mengusap kepala anak yatim secara khusus pada hari tersebut.

Padahal, amalan sederhana yang paling benar adalah memperbanyak amal shalih secara umum tanpa meyakini fadhilah khusus yang tidak ada dalilnya.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan... di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu..." (QS. At-Taubah: 36).

Tim Bimbingan Islam dalam panduannya menguraikan bahwa bulan Muharram secara keseluruhan adalah Asyhurul Hurum. Memperbanyak sedekah, tilawah Al-Qur'an, dan shalat sunnah sangat dianjurkan kapan saja sepanjang bulan ini.

Mengamalkan kebaikan-kebaikan ini pada 10 Muharram tanpa membatasi dengan keyakinan pahala tertentu (yang berasal dari hadits dhaif) adalah wujud ketaatan yang lurus dan murni.

7. Meninggalkan Amalan Tak Bersanad

Terkadang, suatu amalan bukan berbentuk perbuatan (fi'liyyah), melainkan berbentuk meninggalkan sesuatu (tarkiyyah). Menghindari ritual-ritual perayaan Asyura yang diada-adakan merupakan amalan mulia penjaga tauhid yang sangat sering diabaikan.

Rasulullah bersabda: "Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak." (HR. Muslim).

Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman dalam Muharram Bulan Keramat, Mitos atau Realita? menyoroti fenomena ritual Asyura seperti tradisi memakai celak mata khusus, membuat bubur Asyura dengan keyakinan fadhilah tertentu, atau mandi khusus tolak bala.

Beliau menegaskan bahwa riwayat yang menganjurkan hal-hal tersebut adalah palsu (maudhu'). Mengedukasi diri sendiri dan keluarga untuk "menahan diri" dari praktik-praktik tak bersanad ini adalah amalan sederhana yang justru menyelamatkan akidah umat.

8. Menyempurnakan Puasa dengan Doa Berbuka yang Shahih

Banyak umat Islam yang berpuasa Asyura dengan penuh semangat, namun ketika waktu maghrib tiba, mereka tergesa-gesa berbuka tanpa memanjatkan doa yang diajarkan oleh Nabi.

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Latin: "Dzahabazh zhama'u wabtallatil 'uruuqu wa tsabatal ajru in syaa Allah."

Artinya: Telah hilang rasa haus, telah basah urat-urat, dan telah pasti ganjaran, dengan kehendak Allah. (HR. Abu Daud).

Ustadz Said Yai dalam Buku Bulan Muharram dan Keutamaan Berpuasa di Dalamnya mengingatkan agar kesempurnaan puasa Asyura ditutup dengan adab yang sempurna pula.

Membaca doa berbuka puasa yang shahih setelah meneguk air merupakan wujud rasa syukur sekaligus permohonan agar janji Allah (yakni dihapuskannya dosa setahun yang berlalu) benar-benar ditetapkan bagi kita. Amalan yang memakan waktu kurang dari sepuluh detik ini sangat sering terlupakan di tengah hiruk-pikuk hidangan berbuka.

Hikmah Amalan Sederhana di Hari Asyura

Melaksanakan berbagai amalan sederhana di hari Asyura—seperti mengiringinya dengan puasa Tasu'a, menahan lisan, memperbaharui taubat, hingga meninggalkan mitos—meski terkesan ringan, sejatinya menyimpan nilai spiritual yang sangat mendalam.

Berikut adalah 5 hikmah utama dari pelaksanaan amalan-amalan sederhana tersebut:

1. Menjaga Kemurnian Akidah dan Sunnah (Tazkiyatul Aqidah)

Amalan sederhana seperti meninggalkan ritual tolak bala atau mengiringi puasa Asyura dengan puasa Tasu'a (sebagai wujud mukhalafah atau menyelisihi ibadah umat lain) melatih seorang Muslim untuk tegak di atas dalil yang shahih. Hikmahnya, akidah akan tetap bersih dari noda khurafat (mitos) dan ibadah terjaga dari praktik yang tidak ada tuntunannya (bid'ah).

2. Meraih Pengampunan Dosa secara Menyeluruh

Banyak yang mengira puasa Asyura otomatis menghapus seluruh dosa. Dengan amalan sederhana berupa memperbaharui taubat nasuha (menyesali dosa besar) saat berpuasa, seorang hamba menyempurnakan penghapusan dosanya. Hikmahnya, ia tidak hanya diampuni dari dosa-dosa kecil, tetapi juga mendapat peluang besar diampuni dari dosa-dosa besar yang selama ini mengganjal di hati.

3. Melatih Pengendalian Diri yang Hakiki

Hari Asyura berada di dalam bulan haram yang dilipatgandakan nilai keburukan jika berbuat maksiat. Amalan sederhana menahan lisan dari ghibah, dusta, dan kezaliman mengajarkan bahwa hakikat ketaatan bukan sebatas menahan lapar dan haus, melainkan menahan seluruh anggota tubuh dari hal-hal yang mendatangkan kemurkaan Allah.

4. Menyempurnakan Pahala Ibadah (Itmamul Ajr)

Hal-hal kecil yang sering terlupakan, seperti membaca doa berbuka puasa yang shahih (Dzahabazh zhama'u...) atau menambah puasa pada tanggal 11 Muharram jika terlewat tanggal 9, berfungsi sebagai penyempurna. Hikmahnya, amalan-amalan pendukung ini bertindak layaknya "pagar" pelindung yang memastikan pahala ibadah utama Asyura dapat diraih secara utuh dan maksimal tanpa cacat.

5. Memupuk Tawakal dan Kepasrahan Total Kepada Allah

Dengan meninggalkan pantangan-pantangan bulan Suro (seperti takut membangun rumah atau bepergian) dan menggantinya dengan memperbanyak amal shalih serta dzikir ma'tsur, seorang Muslim sedang memupuk rasa tawakal. Hikmahnya, hati menjadi jauh lebih tenang dan berani menghadapi kehidupan, karena ia yakin sepenuhnya bahwa keselamatan dan mudarat hanya datang dari ketetapan Allah semata.

Pertanyaan Seputar Amalan Sederhana Hari Asyura yang Sering Dilupakan

Apakah puasa Asyura adalah salah satu amalan yang dianjurkan pada bulan Muharram?

Puasa pada tanggal 10 Muharram (Asyura) merupakan amalan yang paling utama, sebagaimana dijelaskan dalam hadis shahih riwayat Muslim: “Puasa Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162).

Peristiwa penting apa yang terjadi pada hari Asyura menurut sejarah Islam?

Pada hari Asyura juga Allah memberi taubat kepada Adam dan diampunkan dosa Nabi Daud, juga kembalinya kerajaan Nabi Sulaiman pada hari Asyura dan kiamat akan terjadi pada hari Asyura.”

Amalan keistimewaan apa saja yang dapat dilakukan pada bulan Muharram?

Menambah nafkah keluarga. Memotong kuku. Mengusap kepala anak yatim. Membaca Surat al-Ikhlas sebanyak 1000 kali.

Apa saja 10 hal penting di bulan Muharram?

Tanggal sepuluh Muharram dikenal sebagai Asyura, hari peringatan penting dalam Islam . Bagi Muslim Sunni, Asyura menandai terbelahnya Laut Merah oleh Musa dan keselamatan Bani Israel.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |