Arti Surah Al-Ma'un, Ciri-Ciri Pendusta Agama dalam Perspektif Tafsir Tematik

14 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Arti surah Al Ma'un secara bahasa adalah "barang-barang yang berguna" atau "bantuan penting". Surat ke-107 dalam Al-Qur'an ini terdiri dari tujuh ayat dan tergolong surat Makkiyah yang diturunkan di Mekkah.

Nama lain surat ini antara lain Ara'aitallazi, Ad-Din, dan Al-Yatim. Surat ini mengangkat tema sentral tentang ciri-ciri orang yang mendustakan agama dan hari pembalasan, dengan kritik tajam terhadap mereka yang mengabaikan dimensi sosial dalam beragama.

Menurut jumhur ulama tafsir surat ini menjadi cermin bagi umat Islam untuk mengevaluasi kualitas keimanan melalui perilaku sosial. Fahrur Rasyid dalam jurnal Tafsir Maudhu'i Surat Al-Ma'un menjelaskan bahwa surat ini mengandung penjelasan tentang akhlak orang-orang yang mendustakan agama dan akhirat, sebagai bentuk peringatan untuk orang-orang yang beriman dan celaan atas orang-orang kafir.

Sementara M. Tohir Ritonga dalam Tafsir Surah Al-Ma'un menegaskan bahwa surat ini menjelaskan hakikat para pendusta agama dan mendustakan hari pembalasan, dengan karakter utama mereka adalah sewenang-wenang kepada anak yatim dan tidak mau menolong orang miskin.

Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah ulasan mendalam mengenai Surah Al-Maun, meliputi arti, tafsir, makna mendalam dan kandungannya, hingga hikmahnya untuk umat Islam.

Surah Al-Ma'un: Arab, Latin, dan Artinya

Berikut bacaan lengkap Surah Al-Ma'un ayat 1-7 beserta tulisan Arab, latin, dan terjemahannya:

Ayat 1

أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ

Latin: Ara'aitalladzii yukadzdzibu bid diin

Artinya: "Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?"

Ayat 2

فَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلْيَتِيمَ

Latin: Fa dzaalikalladzii yadu''ul yatiim

Artinya: "Itulah orang yang menghardik anak yatim"

Ayat 3

وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ

Latin: Wa laa yahudzdzu 'alaa tha'aamil miskiin

Artinya: "Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin"

Ayat 4

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ

Latin: Fa wailul lil mushalliin

Artinya: "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat"

Ayat 5

ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

Latin: Alladziina hum 'an shalaatihim saahuun

Artinya: "(Yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya"

Ayat 6

ٱلَّذِينَ هُمْ يُرَآءُونَ

Latin: Alladziina hum yuraa'uun

Artinya: "Orang-orang yang berbuat riya"

Ayat 7

وَيَمْنَعُونَ ٱلْمَاعُونَ

Latin: Wa yamna'uunal maa'uun

Artinya: "Dan enggan (menolong dengan) barang berguna"

Tafsir Surah Al-Ma'un: Penjelasan Per Ayat

Ayat 1: Pertanyaan Retoris tentang Pendusta Agama

Allah mengawali surat ini dengan pertanyaan retoris menggunakan hamzah istifham yang mengandung makna keheranan (ta'ajjub). Menurut Fahrur Rasyid, kalimat al-dîn dalam ayat ini bermakna al-ma'ad (tempat kembali atau akhirat), al-jazâ (balasan), dan al-tsawab (pahala).

Syaikh Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam Shafwah At-Tafasir menjelaskan bahwa kata tanya pada ayat ini menunjukkan keheranan dan keingintahuan: apakah Engkau mengetahui orang yang mendustakan hari pembalasan dan hisab pada hari Kiamat?

Ayat 2: Menghardik Anak Yatim

Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam Al-Quran menjelaskan bahwa kata yadu'' bermakna menghalangi dari haknya, sementara Imam Qatadah menafsirkannya sebagai menghardik dan menganiaya.

Dalam kitab Hadaiq Ar-Ruhi war Raihan, dijelaskan bahwa maksudnya adalah menolak dengan tolakan yang kasar dan mencela dengan celaan yang buruk apabila anak yatim datang meminta sesuatu, karena menganggapnya hina dan sombong kepadanya.

Fahrur Rasyid mengutip para ahli tafsir bahwa kata menghardik adalah berlaku sewenang-wenang, tidak memberikan hak, dan menganiaya. Oleh karena itu, orang yang menghardik anak yatim disebut sebagai pendusta agama. Mereka tidak percaya dengan hari pembalasan dan menganggap bantuan kepada anak yatim tidak akan menguntungkan.

Ayat 3: Tidak Menganjurkan Memberi Makan Orang Miskin

Imam Ar-Razi dalam Tafsir Al-Kabir mengajukan pertanyaan menarik: mengapa Allah berfirman "tidak menganjurkan memberi makan orang miskin" dan tidak "tidak memberi makan orang miskin"? Jawabannya: apabila seseorang menahan anak yatim dari haknya, maka bagaimana mungkin ia mau memberi makan orang miskin dengan hartanya sendiri? Bahkan dengan harta orang lain pun ia bakhil.

Ayat 4-5: Kecelakaan bagi Orang yang Lalai dari Shalatnya

M. Tohir Ritonga dalam Tafsir Surah Al-Ma'un mengutip beberapa penafsiran ulama tentang makna "lalai dari shalat":

• Imam Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas: orang yang shalat tidak mengharapkan balasan dan jika meninggalkannya tidak takut siksaan.

• Ibnu Abbas juga menyatakan: orang-orang yang melambat-lambatkan shalat dari waktunya.

• Abu 'Aliyah: mereka tidak shalat pada waktunya, tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya.

• Ibnu Abbas: mereka adalah orang-orang munafik yang meninggalkan shalat ketika sendiri dan mengerjakannya ketika bersama-sama.

Imam Al-Qurthubi dan Ibnu Katsir mengomentari perkataan 'Atha: "Segala puji bagi Allah yang mengatakan ''an shalatihim'' (dari shalatnya) tidak ''fi shalatihim'' (dalam shalatnya)."

Perbedaan ini sangat subtil: makna 'an' bahwa mereka lalai dari shalat sehingga meninggalkannya dan kurang perhatian kepadanya—itu adalah perbuatan orang munafik atau fasik.

Sedangkan makna 'fi' bahwa kelalaian itu datang kepada mereka dengan was-was syaitan atau bisikan nafsu, dan hal demikian tidak lepas dari setiap muslim.

Ayat 6: Orang-Orang yang Berbuat Riya

Imam Al-Qurthubi mendefinisikan riya sebagai "mengharap benda dunia dengan ibadah dan asalnya mencari kedudukan pada hati manusia". Beliau menyebutkan empat tingkatan riya:

• Memperbagus penampilan dengan maksud mendapat pujian dan kedudukan.

• Riya dengan memakai pakaian lusut agar dipandang sebagai orang zuhud.

• Riya dengan perkataan, menunjukkan kebencian kepada ahli dunia dan menyatakan penyesalan karena meninggalkan kebaikan.

• Riya dengan menyatakan shalat dan sedekah serta membaguskan shalat karena mengharap pujian manusia.

Ayat 7: Enggan Menolong dengan Barang Berguna

Imam Al-Qurthubi mencatat setidaknya dua belas penafsiran tentang makna al-ma'un, di antaranya:

• Zakat harta (riwayat Adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas).

• Harta (menurut bahasa Quraisy, diungkapkan oleh Ibnu Syihab dan Sa'id bin Al-Musayyib).

• Perkakas rumah seperti kapak, periuk, kuali, dan timba (pendapat Ibnu Mas'ud).

• Segala yang memiliki manfaat, sekalipun kecil (Az-Zujaj).

• Meminjamkan (riwayat dari Ibnu Abbas).

'Ikrimah menyatakan bahwa puncak al-ma'un adalah zakat harta dan yang paling rendah adalah ayak tepung, timba, dan benang. Pendapat ini sangat baik karena mencakup semua pendapat di atas dan semuanya kembali kepada satu: meninggalkan menolong dengan harta atau manfaat.

Asbabun Nuzul Surah Al-Ma'un

Para ulama berbeda pendapat mengenai sebab turunnya surat Al-Ma'un. Berikut beberapa riwayat yang tercatat:

• Riwayat dari Ibnu Abbas: Ayat ini turun berkenaan dengan Al-'Ash bin Wa'il As-Sahmi.

• Riwayat dari As-Saddi: Ayat ini turun berkenaan dengan Walid bin Al-Mughirah.

• Riwayat dari Ibnu Juraij: Ayat ini turun berkenaan dengan Abu Sufyan. Setiap minggu ia menyembelih seekor unta. Ketika ada anak yatim meminta sebagian dagingnya, Abu Sufyan menghardiknya dengan tongkatnya. Maka Allah menurunkan surat ini.

• Riwayat lain: Ada yang mengatakan ayat ini turun mengenai Abu Jahal. Abu Jahal pernah diamanahi anak yatim. Anak yatim tersebut mendatanginya dalam keadaan telanjang dan meminta hartanya sendiri, namun Abu Jahal menolaknya dan tidak memperdulikannya.

Riwayat dari Ibnu Abbas (tentang ayat 4-7): Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang munafik. Mereka memamerkan shalat kepada orang-orang mukmin (ria) dan meninggalkannya apabila tidak ada yang melihat.

Imam Al-Wahidi dalam Asbab An-Nuzul menyatakan: "Tidak mungkin mengetahui tafsir ayat tanpa memperhatikan kisahnya dan penjelasan sebab turunnya." Imam Ibnu Daqiq Al-'Id juga menegaskan: "Penjelasan sebab turun adalah cara tepat dalam memahami makna-makna Al-Qur'an."

Imam Ibnu Taimiyah berkata: "Mengetahui sebab turun dapat membantu memahami ayat, sesungguhnya mengetahui sebab akan mewariskan pengetahuan dengan yang disebabkan (ayat)."

Makna Mendalam dan Kandungan Surah Al-Ma'un

Surat Al-Ma'un mengandung pesan-pesan fundamental tentang hakikat keimanan yang tidak dapat dipisahkan dari kepedulian sosial. Beberapa kandungan utamanya adalah:

Pertama, surat ini memberikan penjelasan mengenai orang-orang yang mendustakan hari pembalasan. Syaikh Muhammad Thahir Ibnu 'Asyura dalam At-Tahrir wan At-Tanwir menjelaskan bahwa kata tanya dalam ayat pertama digunakan untuk keheranan atas keadaan orang yang mendustakan hari pembalasan. Akibat pendustaan tersebut melahirkan buruknya sikap mereka.

Kedua, agama Islam tidak hanya menganjurkan ibadah vertikal kepada Allah SWT, tetapi juga ibadah sosial kepada sesama manusia. Surat Al-Ma'un mengajarkan bahwa iman kepada hari akhir harus berimplikasi pada kepedulian terhadap anak yatim dan fakir miskin.

Ketiga, terdapat penjelasan mengenai orang-orang yang tidak mengasihi anak yatim dan mengabaikan hak orang miskin. Fahrur Rasyid menyimpulkan bahwa secara keseluruhan pendusta agama yang digambarkan oleh surat Al-Ma'un antara lain: perilaku buruk terhadap anak yatim, tidak memberi makan orang miskin, enggan mengingatkan/menganjurkan pada kebaikan, lalai dalam mendirikan shalat, menipu diri dengan perbuatan ria, dan enggan berbuat baik.

Keempat, surat ini mengkritik perilaku individualisme, hanya mementingkan diri sendiri tanpa peduli akan keadaan sekitar. Ini tercermin dalam sikap enggan memberikan pinjaman barang-barang sederhana sekalipun.

Kelima, Allah menegaskan bahwa amal saleh harus dilakukan dengan ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji manusia. Orang yang berbuat ria termasuk dalam golongan pendusta agama.

Hikmah Memahami Makna Surah Al-Ma'un

1. Menumbuhkan Kepedulian Sosial terhadap Kaum Dhuafa

Surat Al-Ma'un mengajarkan bahwa keimanan tidak sempurna tanpa kepedulian terhadap anak yatim dan fakir miskin. Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah beriman kepadaku seseorang yang bermalam dalam keadaan kenyang, padahal tetangganya yang di sampingnya dalam keadaan lapar sedangkan ia mengetahuinya" (HR Thabrani).

2. Meluruskan Niat dalam Beribadah (Ikhlas)

Ayat tentang orang-orang yang berbuat ria mengingatkan kita agar setiap amal ibadah dilakukan semata-mata karena Allah. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Fathir ayat 15: "Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji."

3. Menghargai Kebaikan Kecil yang Terlihat Sepele

Kata al-ma'un mencakup segala bentuk pertolongan, sekecil apapun. Imam Al-Mawardi berkata bahwa al-ma'un mengandung pengertian pertolongan dengan sesuatu yang ringan dilakukan namun Allah memberikan balasan yang berat.

4. Menjaga Kualitas Shalat dari Kelalaian dan Kemunafikan

Surat ini mengajarkan bahwa shalat bukan sekadar gerakan fisik, tetapi harus dihayati dengan khusyuk dan tepat waktu. Orang yang lalai dari shalatnya—dengan menunda-nunda waktu, meninggalkan rukun, atau tidak khusyuk—termasuk dalam ancaman surat ini.

5. Mengintegrasikan Hablumminallah dan Hablumminannas

Surat Al-Ma'un mengajarkan keseimbangan antara hubungan vertikal kepada Allah dan hubungan horizontal kepada sesama manusia. Agama yang benar adalah agama yang mengajarkan cinta kasih dan kepedulian, bukan sekadar ritual tanpa makna sosial.

Pertanyaan Seputar Surah Al-Maun

1. Apa arti Al-Ma'un secara bahasa?

Al-Ma'un secara bahasa berarti "barang-barang yang berguna" atau "bantuan penting". Kata ini diambil dari akhir surat dan mencakup segala bentuk pertolongan, baik berupa harta, benda, maupun manfaat lainnya.

2. Siapa yang dimaksud dengan pendusta agama dalam Surat Al-Ma'un?

Pendusta agama dalam Surat Al-Ma'un adalah mereka yang menghardik anak yatim, tidak menganjurkan memberi makan orang miskin, lalai dalam shalat, berbuat ria, dan enggan menolong dengan barang berguna. Mereka adalah orang-orang yang mendustakan hari pembalasan dan tidak mengamalkan ajaran agama secara utuh.

3. Apa perbedaan antara lalai 'an shalatihim dan fi shalatihim?

Menurut Imam Al-Qurthubi dan Ibnu Katsir, 'an shalatihim berarti lalai dari shalat sehingga meninggalkannya—ini adalah perbuatan orang munafik atau fasik. Sedangkan fi shalatihim berarti kelalaian yang terjadi dalam shalat karena was-was syaitan atau bisikan nafsu—hal ini tidak lepas dari setiap muslim.

4. Bagaimana asbabun nuzul Surat Al-Ma'un?

Surat Al-Ma'un turun terkait beberapa peristiwa. Menurut Ibnu Abbas, turun berkenaan dengan Al-'Ash bin Wa'il. Menurut As-Saddi, berkenaan dengan Walid bin Al-Mughirah. Menurut Ibnu Juraij, berkenaan dengan Abu Sufyan yang menghardik anak yatim. Sementara ayat 4-7 turun berkenaan dengan orang-orang munafik yang riya dalam shalat.

5. Apa hikmah utama dari mempelajari Surat Al-Ma'un?

Hikmah utamanya adalah menyadarkan bahwa keimanan harus dibuktikan dengan kepedulian sosial. Surat ini mengajarkan keseimbangan antara ibadah vertikal dan horizontal, meluruskan niat dari riya, serta menghargai setiap bentuk kebaikan sekecil apapun.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |