7 Contoh Kultum Subuh tentang Menjaga Lisan di Era Media Sosial, Tema Pilihan

23 hours ago 10
  • Apa bahaya utama ghibah di media sosial?
  • Bagaimana prinsip 'berkata baik atau diam' diterapkan di media sosial?
  • Mengapa penting melakukan tabayyun terhadap informasi di media sosial?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Referensi contoh kultum subuh tentang menjaga lisan di era media sosial menjadi begitu penting di tengah derasnya arus informasi digital. Waktu subuh merupakan momentum spiritual yang tepat untuk menanamkan komitmen dalam menjaga etika berkomunikasi agar setiap interaksi di dunia maya tidak tergelincir ke dalam jurang kemaksiatan.

Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." Dalil shahih ini menjadi panduan bagi muslim, agar setiap status, caption, maupun komentar di platform digital selalu mengandung maslahat dan nilai kebaikan.

Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengingatkan bahwa lisan adalah anggota tubuh yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam kehancuran jika tidak dikendalikan dengan iman. Di era siber, lisan telah bertransformasi menjadi ketikan jari yang memiliki dampak kerusakan lebih luas dan masif jika digunakan untuk menyebar fitnah.

Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah tujuh contoh kultum subuh tentang menjaga lisan di era media sosial.

Kultum 1: Bahaya Ghibah Digital

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillahirabbil ‘alamin, washalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, wa ‘ala alihi wasahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Jamaah shalat Subuh yang dirahmati Allah Swt, puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah atas segala nikmat-Nya, terutama nikmat iman, Islam, dan kesehatan sehingga kita bisa menunaikan shalat Subuh berjamaah. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad Saw.

Pada kesempatan subuh yang penuh berkah ini, mari kita merenungkan satu fenomena yang sangat dekat dengan keseharian kita saat ini, yakni interaksi di media sosial. Di era digital ini, lisan kita sering kali digantikan oleh jempol dan jari-jari tangan kita saat mengetik status atau komentar.

Sayangnya, kemudahan bermedia sosial sering memancing kita untuk jatuh ke dalam dosa ghibah atau membicarakan keburukan orang lain secara daring. Allah Swt berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 12:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

(Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka, karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang).

Ayat tersebut secara tegas melarang kita untuk mencari-cari kesalahan orang lain dan melakukan ghibah. Ghibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudara sendiri, sebuah perumpamaan yang sangat menjijikkan untuk menunjukkan betapa besarnya dosa tersebut di sisi Allah.

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar memberikan penjelasan yang sangat mendalam mengenai batasan ghibah. Beliau menegaskan bahwa ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang ada pada diri seorang muslim, yang mana jika saudaramu itu mendengarnya, ia tidak akan menyukainya, baik terkait fisik, agama, dunia, jiwa, akhlak, hingga pakaiannya.

Dalam konteks media sosial, penjelasan Imam An-Nawawi ini sangat relevan untuk menjadi pengingat kita. Ghibah digital bisa terjadi dengan sangat mudah hanya dengan membagikan foto aib seseorang, me-retweet cuitan yang merendahkan, atau ikut mengetik komentar negatif di akun-akun gosip.

Bahaya dari ghibah digital ini jauh lebih besar daripada ghibah lisan secara langsung. Jejak digital sangat sulit dihapus, dan setiap kali postingan tersebut dibaca ulang atau dibagikan oleh orang lain, maka dosa jariyah akan terus mengalir kepada orang yang pertama kali memulai dan menyebarkannya.

Oleh karena itu, kita harus sangat berhati-hati dalam menggunakan media sosial. Jangan sampai pahala shalat Subuh kita hari ini, pahala puasa, dan sedekah kita habis di akhirat nanti karena dibagikan kepada orang-orang yang kita ghibahi di Facebook, Instagram, atau WhatsApp.

Mari kita jadikan media sosial sebagai sarana untuk menyambung silaturahmi, berbagi ilmu, dan menebarkan kebaikan, bukan sebagai ladang dosa. Saring sebelum sharing, dan tahan jempol kita dari mengetik hal-hal yang tidak bermanfaat.

Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat, wal mu'minina wal mu'minat, al-ahya'i minhum wal amwat. Ya Allah, ampunilah dosa kami, jaga lisan dan jari-jari kami dari menyakiti saudara kami, dan bimbinglah kami ke jalan yang Engkau ridhai. Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina 'adzaban-nar.

Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kultum 2: Berkata Baik atau Diam di Dunia Maya

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bismillah walhamdulillah, washalatu wassalamu ‘ala rasulillah, Sayyidina Muhammad ibni Abdillah, wa ‘ala alihi washohbihi wa man walah. Amma ba’du.

Hadirin jamaah shalat Subuh yang dimuliakan Allah, mari kita awali pagi yang berkah ini dengan memperbanyak rasa syukur ke hadirat Allah Swt atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya. Tak lupa shalawat dan salam kita sanjungkan kepada teladan umat, Nabi Muhammad Saw beserta keluarga dan para sahabatnya.

 Kemajuan teknologi telah menempatkan dunia maya dan lautan informasi di dalam genggaman tangan kita. Melalui media sosial, seseorang dapat berbicara, beropini, dan berkomentar tentang apa saja, kapan saja, dan kepada siapa saja tanpa harus bertatap muka.

Kebebasan ini sering kali membuat orang lupa daratan, sehingga sangat mudah mengeluarkan kata-kata kasar atau komentar negatif. Padahal Rasulullah Saw telah memberikan kaidah emas untuk lisan kita, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

(Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diamlah).

Hadits ini adalah pondasi utama dalam membangun akhlak yang mulia. Nabi Muhammad Saw secara langsung mengaitkan kesempurnaan dan kualitas keimanan seseorang kepada Allah dan Hari Kiamat dengan kemampuannya mengendalikan lisannya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari menjelaskan hadits ini dengan sangat rinci. Beliau menerangkan bahwa ucapan itu terbagi dua: ucapan yang kebaikannya jelas, dan ucapan yang belum jelas kebaikannya. Jika kebaikannya sudah jelas, maka berbicaralah, namun jika ragu atau justru berpotensi membawa keburukan, maka menahan diri (diam) adalah kewajiban yang harus ditempuh.

Konsep "berkata baik atau diam" dari penjelasan Ibnu Hajar ini harus kita terapkan sebagai prinsip "mengetik baik atau matikan layar gawai" di era media sosial. Sebelum memposting sesuatu, tanyakan pada diri sendiri secara jujur: apakah tulisan ini bernilai kebaikan, atau justru memicu perdebatan yang sia-sia?

Banyak netizen merasa bebas menghujat di internet dengan menggunakan akun anonim karena merasa tidak ada manusia yang melihat. Padahal Allah Yang Maha Mengetahui terus mengawasi setiap ketikan jari kita, dan malaikat Raqib serta Atid tidak pernah luput mencatat satu huruf pun.

Diamnya kita dari perdebatan online atau komentar provokatif bukanlah sebuah tanda kekalahan, melainkan sebuah kemenangan besar dalam mengendalikan hawa nafsu. Menahan diri dari berkomentar negatif akan menyelamatkan hati kita dari penyakit dendam dan menjaga kehormatan saudara Muslim lainnya.

Oleh karena itu, mari kita latih diri dan keluarga kita untuk menjadi pengguna media digital yang bijak. Jadikan kolom status, tweet, dan komentar kita sebagai taman-taman kebaikan yang menyebarkan kedamaian bagi siapa saja yang membacanya.

Ya Allah, Ya Muqallibal qulub, tsabbit qulubana ‘ala diinik. Ya Allah, sucikanlah hati kami dari kebencian, bimbinglah jari-jari kami agar hanya menuliskan kebenaran dan kebaikan, serta jauhkan kami dari fitnah lisan di akhir zaman. Rabbana taqabbal minna innaka antas-sami'ul 'alim.

Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kultum 3: Bahaya Hoaks dan Kewajiban Tabayyun

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahilladzi hadana lihadza wama kunna linahtadiya laula an hadanallah. Washalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa shohbihi wa man walah. Amma ba’du.

Kaum muslimin jamaah Subuh yang dirahmati Allah, tiada kata yang pantas mengawali hari selain kalimat Alhamdulillah, sebagai wujud syukur atas nafas dan kesehatan yang masih Allah pinjamkan. Shalawat dan salam senantiasa teriring untuk Nabi agung Muhammad Saw yang telah menuntun umat dari kegelapan menuju cahaya Islam.

Setiap pagi saat kita bangun tidur, ribuan pesan dan informasi membanjiri smartphone kita melalui berbagai grup obrolan dan platform digital. Di antara derasnya arus informasi tersebut, bertebaran pula berita dusta atau hoaks yang sengaja diciptakan untuk memicu ketakutan dan permusuhan.

Sebagai seorang Muslim yang berakal, kita dilarang keras menelan mentah-mentah setiap informasi tanpa menelitinya terlebih dahulu. Allah Swt memperingatkan kita dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

(Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu).

Perintah Tabayyun (meneliti atau klarifikasi) dalam ayat ini adalah prosedur standar keamanan pergaulan dalam syariat Islam. Tujuannya sangat mulia, yakni untuk mencegah terjadinya fitnah, kezaliman, dan perpecahan di tengah umat akibat informasi yang menyesatkan.

Imam Al-Ghazali dalam kitab mahakaryanya, Ihya Ulumuddin, membahas bahaya lisan yang salah satunya adalah kebiasaan menyebarkan setiap hal yang didengar. Beliau menegaskan bahwa dusta tidak hanya terjadi ketika seseorang berbohong langsung, tetapi juga ketika ia menceritakan (atau menyebarkan) segala kabar burung yang ia terima tanpa memverifikasi kepastian kebenarannya.

Penjelasan Imam Al-Ghazali ini seolah menjadi teguran keras bagi kebiasaan kita yang gemar memencet tombol share (bagikan) hanya karena membaca judul berita yang provokatif. Tindakan terburu-buru menyebarkan berita yang belum valid sumbernya bisa menjerumuskan kita pada dosa sebagai agen penyebar kedustaan.

Dampak dari penyebaran hoaks di media sosial sangatlah mengerikan dan bersifat massal. Hoaks terbukti bisa menghancurkan reputasi seseorang, memicu kepanikan warga, merusak kerukunan beragama, hingga menyebabkan pertumpahan darah antarkelompok.

Maka dari itu, alat penyaring pertama sebelum sebuah informasi menyebar luas ada pada keimanan dan akal sehat kita. Jika kita menerima sebuah tautan berita, tahan jempol kita sejenak, cek kebenarannya di sumber-sumber terpercaya, dan pikirkan ulang apakah informasi tersebut membawa maslahat atau mudarat.

Mari kita putuskan rantai berita bohong mulai dari layar ponsel kita sendiri. Jadilah pendakwah cerdas yang bersikap kritis, bijaksana, dan selalu mengedepankan adab tabayyun dalam menyikapi simpang siurnya dunia maya.

Allahumma arinal haqqa haqqan warzuqnat-tiba'ah, wa arinal bathila bathilan warzuqnaj-tinabah. Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu benar agar kami dapat mengikutinya, dan tunjukkanlah yang batil itu batil agar kami dapat menjauhinya, serta selamatkan kami dari fitnah informasi yang menyesatkan.

Akhirul kalam, billahit taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kultum 4: Menjaga Jempol, Menyelamatkan Kehormatan Muslim

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil 'alamin, wabihi nasta'inu 'ala umuriddunya waddin. Washalatu wassalamu 'ala asyrafil mursalin, wa 'ala alihi washohbihi ajma'in. Amma ba'du.

 Jamaah Subuh rahimakumullah, segala puji hanyalah milik Allah, penguasa semesta alam yang telah mempertemukan kita dalam keadaan sehat wal afiat di waktu subuh yang mulia ini. Shalawat serta salam mari bersama kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Saw, penunjuk jalan keselamatan menuju surga-Nya.

 Sadar atau tidak, di zaman modern ini durasi interaksi kita dengan sesama manusia telah banyak berpindah dari ruang tamu ke layar ponsel. Sayangnya, kemudahan berinteraksi secara anonim di media sosial ini sering kali tidak diimbangi dengan kedewasaan akhlak, sehingga memunculkan fenomena caci maki dan ujaran kebencian.

Sebagian orang merasa sangat berkuasa untuk mencela, menghina fisik, atau merundung seseorang lewat kolom komentar. Padahal, Rasulullah Saw telah memberikan ancaman yang sangat keras mengenai caci maki lisan dalam sabdanya riwayat Imam Muslim:

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

(Mencaci maki seorang muslim adalah perbuatan fasik, dan membunuhnya adalah perbuatan kufur).

Melalui hadits ini, Baginda Nabi meletakkan perbuatan mencaci maki pada derajat kefasikan. Orang yang fasik adalah orang yang keluar dari rel ketaatan, secara sadar merobek kehormatan saudaranya, dan mengabaikan peringatan Allah Swt.

Imam Al-Qurthubi dalam kitab Tafsir Al-Qurthubi ketika menafsirkan Surah Al-Humazah (Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela), memberikan penjelasan yang komprehensif. Beliau menegaskan bahwa mengumpat dan mencela itu haram secara mutlak karena tujuannya merendahkan martabat orang lain, dan perbuatan ini dinilai berdosa baik dilakukan melalui lisan secara langsung, isyarat mata, maupun tulisan.

Penjelasan Imam Al-Qurthubi ini menuntun kita pada satu pemahaman teguh bahwa mencibir penampilan orang lain, melontarkan sumpah serapah, atau ikut mem-bully target viral di media sosial adalah bentuk nyata dari perbuatan pencela zaman modern yang diancam dengan neraka Huthamah.

Luka fisik di tubuh manusia mungkin bisa disembuhkan dengan obat dalam hitungan hari, namun luka batin akibat caci maki kejam dalam bentuk tulisan digital bisa membekas seumur hidup. Tidak sedikit korban cyberbullying yang mengalami depresi berat hingga kehilangan arah masa depannya.

Oleh karena itu, jika kita melihat konten yang tidak kita sukai, cukup lewati saja dan doakan kebaikannya. Jangan biarkan jari-jari kita menjadi mesin penghancur karakter orang lain yang kelak akan memberatkan timbangan keburukan kita di pengadilan Allah.

Mari kita hisab diri dan ketikan kita sendiri sebelum kita dihisab pada Hari Kiamat. Periksa kembali riwayat tulisan kita di media sosial; jika pernah ada caci maki atau hinaan, segeralah hapus dan memohon maaflah kepada yang bersangkutan mumpung masih ada usia.

Ya Allah yang Maha Pengampun, ampunilah kejahilan kami, kekasaran lisan kami, dan kecerobohan tulisan kami selama ini. Lembutkanlah hati kami untuk senantiasa berkasih sayang kepada sesama muslim. Rabbana zhalamna anfusana wa in lam taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal khasirin.

Wabillahi taufiq wal hidayah, wal afwu minkum, Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kultum 5: Tulisan Berkedudukan Sama dengan Lisan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, alladzi bini'matihi tatimmush shalihat. Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli 'ala sayyidina muhammad wa 'ala alihi wa shohbihi ajma'in. Amma ba'du.

Kaum muslimin jamaah shalat Subuh yang berbahagia, mari kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt yang tiada henti mencurahkan kasih sayang-Nya kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga senantiasa tersampaikan kepada pelita umat, Rasulullah Saw, serta para keluarga dan sahabatnya.

Salah satu ujian berat sekaligus tanggung jawab besar di era informasi adalah kemampuan kita dalam merangkai dan menyebarkan kalimat ke ruang publik. Ada sebuah paradoks di masyarakat kita: banyak orang yang begitu pendiam, sopan, dan ramah di dunia nyata, namun menjadi pribadi yang kasar dan provokatif saat memegang keyboard di dunia maya.

Mereka beranggapan bahwa tulisan maya tidak memiliki hukum yang sama dengan ucapan lisan, sehingga merasa terbebas dari dosa. Pemahaman ini keliru, sebab Rasulullah Saw mengingatkan kita dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

(Seorang muslim (yang sejati) adalah orang yang mana muslim lainnya selamat dari bahaya lisan dan tangannya).

Hadits yang agung ini secara spesifik menyebutkan organ "lisan dan tangan" sebagai potensi penyebar bahaya. Jika lisan menyakiti lewat ucapan suara, maka tangan menyakiti lewat pukulan fisik atau lewat ketikan huruf yang menghasilkan fitnah, adu domba, dan penipuan di media daring.

Ulama ahli fiqih terkemuka, Ibnu Abidin, dalam kitab Radd al-Muhtar 'ala Ad-Durr al-Mukhtar menguraikan sebuah kaidah fiqih masyhur yang berbunyi: الكِتَابَةُ كَالخِطَابِ (Tulisan itu kedudukannya sama dengan ucapan lisan). Beliau menegaskan bahwa hukum syariat yang berlaku pada ucapan mulut—seperti sumpah, talak, ghibah, caci maki, dan janji—juga berlaku sah dan mengikat jika diekspresikan dalam bentuk tulisan.

Kaidah fiqih dari Ibnu Abidin ini sangat vital untuk kita pegang teguh saat berselancar di Facebook, Instagram, X, atau TikTok. Fitnah atau kebohongan yang kita ketik memiliki status dosa yang sama dengan berbohong secara langsung, bahkan efek dosanya lebih eksponensial karena jangkauan pembacanya lintas negara.

Tulisan yang kita unggah di internet akan terekam dalam server selamanya dan berpotensi disalin ulang oleh jutaan orang dalam hitungan detik. Jika tulisan itu berisi provokasi maksiat, maka tanpa sadar kita sedang membangun pabrik dosa yang beroperasi penuh 24 jam nonstop.

Untuk itu, ubahlah paradigma kita dengan menjadikan jari-jari tangan sebagai agen syiar dan kedamaian. Ketiklah nasihat agama, doa, ilmu pengetahuan, serta kalimat-kalimat optimis yang bisa membangkitkan harapan orang-orang yang membacanya di tengah kesulitan.

Keselamatan seorang muslim di era siber sangat diukur dari kemampuannya membatasi jempolnya agar tidak ikut campur dalam urusan yang tidak bermanfaat. Mari awasi pergerakan jari dan tulisan kita agar tidak menjelma menjadi tali yang menyeret kita ke dalam api neraka.

Ya Allah, jadikanlah tangan dan jari-jari kami sebagai saksi amal kebaikan yang menerangi kami di akhirat kelak. Jauhkanlah kami dari perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain lewat lisan serta tulisan kami. Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina 'adzaban-nar.

Demikian yang dapat saya sampaikan, kurang lebihnya mohon maaf.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kultum 6: Dosa Jariyah dari Jejak Digital Buruk

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Innal hamdalillah, nahmaduhu wanasta’inuhu wanastaghfiruh. Wa na'udzubillahi min syururi anfusina wamin sayyi'ati a'malina. Mayyahdihillahu fala mudhillalah, wamayyudhlil fala hadiyalah. Amma ba'du.

Jamaah Subuh yang senantiasa berada dalam naungan rahmat Allah, marilah kita perbarui rasa syukur kita atas nikmat usia dan kelapangan waktu yang kita rasakan pagi ini. Shalawat serta salam teruntuk baginda penutup para nabi, Muhammad Saw, beserta keluarga, sahabat, dan umatnya yang istiqamah hingga akhir zaman.

Seiring majunya teknologi informasi, kita diperkenalkan pada istilah "jejak digital". Secara sederhana, segala hal yang pernah kita unggah, komentar yang kita layangkan, gambar yang kita bagikan, akan menempel secara permanen di lautan data internet dan tidak akan benar-benar hilang meskipun kita telah mencoba menghapusnya.

Rekam jejak digital di internet ini sangat selaras dengan konsep pencatatan rekam jejak amal dalam ajaran Islam. Allah Swt telah berfirman dan mengingatkan kita dalam Surah Yasin ayat 12:

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

(Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata).

Melalui ayat ini, Allah Swt menegaskan bahwa malaikat tidak hanya mencatat amal yang wujudnya sedang kita kerjakan, tetapi juga mencatat dengan detail "bekas-bekas" atau efek lanjutan dari perbuatan kita yang masih tertinggal dan ditiru setelah kita mati.

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim ketika menafsirkan lafazd wa aatsaarahum (dan bekas-bekas mereka), menjelaskan maknanya adalah jejak amal kebaikan atau keburukan yang diikuti oleh orang lain. Beliau memperingatkan, jika seseorang meninggalkan jejak keburukan yang kemudian ditiru generasi setelahnya, maka dosa orang-orang yang meniru itu akan dilimpahkan juga kepadanya tanpa putus.

Penjelasan Imam Ibnu Katsir ini menjadi alarm darurat bagi kita dalam bermedia sosial. Konten berbau maksiat, ujaran kebencian antargolongan, atau hoaks yang kita pelopori dan kita unggah adalah jejak digital yang berpotensi melahirkan dosa jariyah yang terus memukul dan mengazab kita di alam barzah.

Bayangkan betapa ruginya jika seseorang memposting panduan berbuat curang atau gambar membuka aurat, lalu dilihat serta disebarkan oleh jutaan pasang mata. Betapa banyak pundi-pundi dosa maksiat yang akan ditransfer tanpa ampun ke catatan amal si pengunggah, padahal jasadnya sudah menyatu dengan tanah.

Sebaliknya, ini adalah kabar gembira jika jejak digital yang kita tinggalkan berupa rekaman murattal, tulisan pengingat shalat, dan penyebaran ilmu agama. Konten tersebut akan bermetamorfosis menjadi amal jariyah yang pahalanya mengucur deras tiada henti menerangi alam kubur kita.

Oleh sebab itu, mulailah berbenah pagi ini untuk meninjau ulang dan membersihkan rekam jejak digital kita. Hapuslah postingan-postingan lama di akun media sosial kita yang tidak bermanfaat atau melanggar syariat, dan gantilah dengan untaian kebaikan yang kelak menolong kita di padang Mahsyar.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami di masa lalu, baik yang kami lakukan secara sembunyi, di alam nyata, maupun terang-terangan di media sosial. Lindungilah jasad kami dari siksa akibat dosa jariyah yang memberatkan timbangan kami di akhirat kelak. Allahummaghfir lana warhamna wajburna warfa'na warzuqna wahdina wa 'afina wa'fu 'anna.

Hadanallahu wa iyyakum ajma'in.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kultum 7: Media Sosial Sebagai Ladang Amal dan Syiar Kebaikan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah, wash shalatu was salamu 'ala rasulillah, wa 'ala alihi wa ash-habihi wa man walah, wa la haula wa la quwwata illa billah. Amma ba'du.

Jamaah shalat Subuh yang dirahmati dan dicintai Allah, mengawali pergantian hari ini mari kita perbanyak kalimat tahmid dan syukur kepada Sang Pencipta, Allah Swt. Shalawat dan salam semoga selalu menggema dan tercurah kepada panglima dakwah kita, Nabi Muhammad Saw, yang telah membawa risalah kedamaian bagi seluruh alam.

Setelah pada hari-hari sebelumnya kita banyak merenungkan berbagai ancaman dosa akibat kelalaian lisan dan jari di dunia maya, hari ini kita harus membangkitkan optimisme. Kita tidak boleh menutup mata terhadap potensi raksasa dari media sosial jika dioptimalkan dengan cara yang benar, adab yang santun, dan niat yang ikhlas karena Allah.

Media digital dapat kita sulap dari sekadar sarana hiburan menjadi mesin raksasa pencetak pahala amal jariyah. Hal ini sangat sejalan dengan motivasi luar biasa dari Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ

(Barangsiapa merintis suatu kebiasaan yang baik dalam Islam, maka ia mendapat pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sesudahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun).

Kabar gembira dari lisan suci Nabi ini memberikan dorongan bagi setiap muslim untuk mengambil peran sebagai agen kebaikan (pelopor). Pahala yang terus berlipat ganda menanti mereka yang memprakarsai kebiasaan positif dan membagikannya ke ruang publik untuk menginspirasi orang lain.

Imam An-Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim mengulas hadits ini dengan pandangan yang visioner. Beliau menyatakan bahwa hadits ini adalah dalil sahih anjuran untuk memulai dan mempelopori berbagai bentuk perbuatan amal shaleh yang kreatif, di mana sang pelopor akan menjadi pemegang saham pahala utama bagi setiap orang yang mengikutinya di kemudian hari.

Penjelasan Imam An-Nawawi ini adalah sebuah grand design (kerangka besar) dakwah yang sangat aplikatif di abad ke-21 ini. Saat kita membuat poster kutipan ayat suci, mengunggah doa harian, atau membagikan video nasihat singkat di status WhatsApp kita, kita sedang mencontohkan "sunnah hasanah" (kebiasaan baik) kepada followers kita.

Kita tidak boleh meremehkan kekuatan satu klik tombol share yang berisi seruan kebaikan. Sangat mungkin terjadi, karena satu tulisan ringan kita tentang keutamaan sedekah subuh, ada teman jauh yang membacanya lalu tersentuh hatinya untuk bersedekah, dan dari situlah turun rahmat Allah kepadanya dan kepada kita.

Maka dari itu, manfaatkanlah akun media sosial kita sebagai perpanjangan lidah dakwah Islam yang rahmatan lil 'alamin. Penuhilah beranda dan timeline masyarakat dengan ajakan ketaatan, toleransi, empati, dan konten-konten edukatif yang mendidik, agar meredup dan tenggelamlah berbagai konten maksiat yang merusak moral.

Demikianlah fungsi hakiki dari sebuah teknologi di tangan orang yang beriman. Ia bukanlah wadah untuk pamer atau saling menghujat, melainkan perahu cepat untuk mengantarkan hidayah ke setiap sudut dunia; mari kita berlomba-lomba menebar syiar Islam di ranah digital dengan penuh keteladanan.

Ya Allah Yang Maha Dermawan, karuniakanlah kepada hati kami keikhlasan yang murni dalam beramal. Jadikanlah setiap unggahan, ketikan, dan aktivitas media sosial kami sebagai ibadah syiar yang Engkau ridhai dan mendatangkan manfaat bagi umat. Rabbana la tuzigh qulubana ba'da idz hadaitana wahab lana min ladunka rahmatan, innaka antal-wahhab.

Wabillahi taufiq wal hidayah, wal inayah. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |