Gubernur Mirza Dorong Teknologi Tepat Guna Percepat Hilirisasi Komoditas Lampung

4 hours ago 5

INFO TEMPO - Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mendorong penguatan riset dan inovasi sains terapan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mempercepat hilirisasi komoditas berbasis desa.

Hal tersebut disampaikan Gubernur saat memberikan sambutan pembuka dalam Seminar Nasional IPTEK Terapan (SIPTEKTERA) bertema “Sinergi Inovasi Sains Terapan dan Transformasi Digital dalam Akselerasi Sustainable Development Goals (SDGs)” di Gedung Serba Guna Politeknik Negeri Lampung, Sabtu, 29 Agustus 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Gubernur Mirza menilai tema SIPTEKTERA relevan dengan arah pembangunan Lampung. Menurutnya, tantangan pembangunan bukan sekadar menghasilkan pengetahuan dan penemuan baru, tetapi memastikan hasilnya dapat diterapkan sebagai solusi atas persoalan masyarakat.

“Kita tidak hanya bicara bagaimana menghasilkan pengetahuan, tetapi bagaimana pengetahuan dan penemuan itu harus bisa menjadi solusi bagi persoalan yang dihadapi masyarakat,” ujar Gubernur Mirza.

Dalam kesempatan tersebut, Mirza memaparkan besarnya potensi sumber daya pangan yang dimiliki Lampung. Dengan luas daratan sekitar 3,3 juta hektare dan jumlah penduduk sekitar 9,6 juta jiwa, Lampung memiliki basis ekonomi kuat pada sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan.

Lampung merupakan salah satu sentra pangan utama nasional dengan produksi padi sekitar 3,5 juta ton per tahun. Provinsi ini juga memiliki berbagai komoditas unggulan, antara lain jagung, singkong, nanas, pisang, kopi, lada, tebu, kakao, kelapa sawit, karet, serta hasil peternakan dan perikanan.

“Kekayaan Provinsi Lampung ini murni adalah pangan. Kita punya sekitar 1,7 juta petani. Artinya, ketika harga komoditas bagus, petaninya akan makmur. Tetapi kalau harga komoditas rendah, kita sangat bergantung pada harga komoditas,” jelasnya.

Menurut Mirza, pertumbuhan ekonomi Lampung dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan perkembangan positif, salah satunya karena membaiknya harga sejumlah komoditas pertanian. Namun, kondisi tersebut tidak boleh membuat Lampung terus bergantung pada pergerakan harga komoditas.

Momentum pertumbuhan ekonomi harus dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing daerah.

“Pertumbuhan ekonomi yang sekarang ini tidak kita pakai untuk menaikkan harga lagi, tetapi menjadi waktu bagi kita untuk memperkuat daya saing,” katanya.

Salah satu tantangan utama Lampung adalah masih terbatasnya pengolahan komoditas pangan. Sebagian besar komoditas masih dijual dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah dan peluang penciptaan lapangan kerja belum sepenuhnya dinikmati masyarakat setempat.

Mirza mencontohkan komoditas kopi yang sebagian besar masih diekspor dalam bentuk *green bean*. Kondisi serupa juga terjadi pada sejumlah komoditas yang dikirim ke luar daerah untuk menjalani proses pengolahan lebih lanjut.

Karena itu, Pemprov Lampung mendorong hilirisasi yang tidak hanya bertumpu pada industri berskala besar, tetapi juga dikembangkan secara inklusif hingga tingkat desa.

“Kita mendorong hilirisasi, tetapi hilirisasinya harus sesuai dengan struktur dan sumber daya yang kita miliki. Ke depan, yang belum dihilirisasi ini harus kita desain agar inklusif dan mampu menyerap tenaga kerja,” katanya.

Gubernur menilai industri besar memiliki keterbatasan dalam menyerap tenaga kerja karena proses produksinya semakin modern dan terotomatisasi. Di sisi lain, Lampung setiap tahun memiliki lulusan SMA, SMK, perguruan tinggi, dan pendidikan vokasi yang membutuhkan lapangan pekerjaan.

Pengembangan ekonomi berbasis desa dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk menciptakan pekerjaan sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.

Salah satu langkah yang disiapkan Pemprov Lampung adalah membangun fasilitas pengering atau *dryer* komoditas di desa. Kehadiran fasilitas tersebut memungkinkan hasil pertanian diproses sebelum dijual dan dilanjutkan ke tahap pengolahan berikutnya, termasuk produksi pakan ternak.

“Setelah dibuat *dryer*, kita kasih pencetak pakan. Akhirnya desa bisa membuat pakan ayam dan kemudian mengembangkan peternakan ayam. Jadi yang tadinya di desa hanya ada komoditas mentah, ke depan ada beras, pakan, ayam, ikan, telur, dan produk lainnya,” jelasnya.

Konsep tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kedaulatan pangan dari tingkat desa. Desa tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi berkembang sebagai pusat produksi dan pengolahan yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakatnya.

“Ketika ada desa yang menghasilkan padi, maka desa itu harus bisa memberi makan masyarakatnya sendiri. Bukan hanya gabahnya, tetapi berasnya. Ketika ada jagung, desa harus bisa mengolahnya menjadi pakan untuk masyarakatnya. Itu namanya berdaulat pangan,” ujarnya.

Untuk mewujudkan konsep tersebut, Mirza menekankan pentingnya dukungan sains, riset, inovasi, dan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Menurutnya, teknologi tidak seharusnya dipaksakan kepada masyarakat, tetapi dirancang berdasarkan ekosistem usaha, karakter komoditas, dan kebutuhan penggunanya.

“Teknologi harus kita sesuaikan dengan ekosistem. Riset, sains, dan teknologi ke depan harus disesuaikan dengan kebutuhan, sehingga nilai tambah yang dihasilkan bisa terintegrasi sampai ke level paling bawah,” katanya.

Dalam konteks tersebut, Gubernur berharap Politeknik Negeri Lampung dan perguruan tinggi lainnya dapat mengambil peran lebih besar sebagai pusat pengembangan teknologi terapan.

Sejumlah teknologi yang dibutuhkan meliputi *dryer*, mesin pencetak pakan, mesin pencampur atau *mixer*, mekanisasi pertanian, serta teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi produksi dan pengolahan komoditas di desa.

“Saya ingin Poltek menjadi di garis terdepan. Saya sering meminta bantuan Poltek, misalnya *dryer*, mesin pakan, *mixer*, dan beberapa mesin yang kita butuhkan ke depan,” ungkapnya.

Selain teknologi, penguatan sumber daya manusia menjadi kunci dalam menjalankan transformasi ekonomi berbasis desa. Menurut Mirza, Lampung telah memiliki sumber daya alam, dukungan pembiayaan, dan pasar. Aspek yang masih harus diperkuat adalah ketersediaan SDM yang mampu mengelola teknologi serta mengembangkan usaha.

“Yang kita punya sumber daya alam, pendanaan dari perbankan ada, pasar juga ada. Yang kurang adalah SDM. Karena itu, kita harus menyiapkan SDM yang kuat,” ujarnya.

Gubernur turut menyampaikan rencana dukungan beasiswa bagi mahasiswa melalui skema yang diarahkan untuk memperkuat kapasitas SDM desa. Para penerima beasiswa diharapkan kembali dan memberikan kontribusi kepada desa setelah menyelesaikan pendidikan.

Generasi muda juga harus dipersiapkan agar tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan, tetapi mampu menciptakan dan mengembangkan lapangan kerja melalui pemanfaatan potensi lokal.

“Kita jangan hanya menciptakan mahasiswa-mahasiswa untuk mencari lapangan pekerjaan. Kita harus menciptakan SDM yang menjadi motor hilirisasi di desa,” tegasnya.

Gubernur berharap sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, perbankan, dan masyarakat dapat membangun ekosistem ekonomi baru yang tumbuh dari desa.

Melalui pemanfaatan teknologi tepat guna, penguatan SDM, dan pengolahan komoditas di tingkat lokal, hilirisasi diharapkan mampu memperluas lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, mengurangi kemiskinan, serta memperkuat daya saing Lampung. (*)

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |