Kumpulan Dzikir Terbaik di Bulan Ramadhan untuk Menenangkan Hati dan Pikiran

14 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Ramadan adalah madrasah ruhiyah yang bertujuan membentuk pribadi bertakwa, yang salah satu indikator utamanya adalah ketenangan jiwa. Dzikir terbaik di bulan Ramadhan untuk menenangkan hati merupakan amalan mengingat Allah yang dilakukan dengan penuh kesadaran, melalui lisan dan hati.

Islam menawarkan solusi agar hati tenang melalui dzikir dan doa. Allah berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28). Ayat ini menjadi dalil bahwa dzikir merupakan  kebutuhan fitrah manusia untuk meraih kedamaian batin.

Merujuk jurnal Zikir dan Ketenangan Jiwa: Telaah atas Pemikiran Al-Ghazali, karya Rahmat Ilyas, Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya' Ulumuddin menjelaskan, dzikir yang dilakukan secara kontinyu akan membersihkan hati dari kotoran duniawi dan membuka hijab yang selama ini menghalangi penglihatan batin seorang hamba. Ketenangan jiwa (al-muthmainnah) hanya dapat diraih ketika seseorang mampu mengendalikan hawa nafsu melalui dzikir yang mendalam.

Berikut ini adalah kumpulan dzikir terbaik di bulan Ramadhan untuk menenangkan hati merujuk studi modern dan pandangan ulama kontemporer.

Beberapa dzikir pendek namun agung ini sangat dianjurkan untuk diamalkan, terutama di bulan Ramadan, karena kemudahan dan kedahsyatan dampaknya bagi jiwa.

1. Dzikir Utama: Kalimat Tauhid

 لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Latin: Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadiir.

Artinya: "Tidak ada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya lah kekuasaan dan milik-Nya lah segala pujian. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Kalimat tauhid adalah inti dari seluruh ajaran Islam. Dalam kitab Tanbihul Masyi karya Syekh Abdur Rauf Singkel, ulama besar Aceh abad ke-17, dijelaskan bahwa kalimat "La ilaha illallah" memuat semua derajat tauhid yang empat.

Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitabnya Kasyifatus Saja (halaman 14) menyatakan, "Wa fadha'iluha la tuhsha, minha qauluhu shallallahu 'alaihi wa sallam: 'Man qala la ilaha illallah tsalasa marratin fi yawmihi kanat lahu kaffaratun likulli dzambin ashabahu fi dzalikal yaum'."

Artinya, "Dan keutamaan-keutamaannya (kalimat tauhid) tidak terhitung. Di antaranya adalah sabda Rasulullah SAW: 'Barang siapa membaca dzikir La ilaha illallah tiga kali dalam sehari, maka dosa-dosa yang diperbuatnya pada hari itu akan dihapuskan'".

2. Dzikir saat Cemas dan Gelisah

 حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ

Latin: Hasbunallah wani’mal wakil ni’mal maula wani’man nasir.

Artinya: "Cukuplah Allah sebagai Pelindung kami, Dia sebaik-baik Wakil, dan Dia sebaik-baik Penolong yang kami harapkan."

Dzikir ini bukan sekadar ucapan, melainkan pernyataan ketergantungan total kepada Allah. Ulama menjelaskan bahwa dzikir ini dianjurkan dibaca oleh orang yang berada dalam kesulitan agar diberi pertolongan langsung dari Allah SWT.

Bahkan, Syekh Abul Hasan Assyadzily, seorang ulama besar, menyusun satu kitab kecil yang secara khusus menerangkan khasiat dari wirid ini.

Secara historis, kalimat ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim AS ketika beliau hendak dibakar oleh Raja Namrud. Sebagaimana dijelaskan dalam tafsir Ibnu Katsir, keyakinan ini pula yang membuat para sahabat Nabi tetap teguh ketika diancam oleh musuh, sebagaimana direkam dalam QS. Ali Imran: 173.

Dzikir ini berfungsi menstabilkan jiwa dengan menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya tempat bersandar.

3. Benteng Diri: Ayat Kursi

Ayat Kursi (QS. Al-Baqarah: 255) adalah dzikir yang sangat agung. Membacanya akan memberikan energi positif dan perlindungan dari segala keburukan.

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ

Latin: Allāhu lā ilāha illā huw, al-ḥayyul-qayyụm, lā ta'khużuhụ sinatuw wa lā na'ụm, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man żallażī yasyfa'u 'indahū illā bi'iżnih, ya'lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭụna bisyaiim min 'ilmihī illā bimā syā, wasi'a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā ya`ụduhụ ḥifẓuhumā, wa huwal-'aliyyul-'aẓīm .

Artinya: "Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung."

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-'Utsaimin dalam kitabnya Tafsir Ayatul Kursi menjelaskan bahwa setiap kalimat dalam ayat ini mengandung makna kebesaran, kekuasaan, dan kemampuan Allah yang sempurna dan tidak terbatas.

Keyakinan inilah yang melahirkan perasaan khauf (takut akan murka Allah) dan raja' (harap akan rahmat Allah) secara seimbang dalam hati seorang muslim, sehingga jiwanya menjadi tenang dan terlindungi dari keburukan.

4. Dzikir Memperkuat Keyakinan

 اللَّهُ اللَّهُ رَبِّي لَا شَرِيكَ لَهُ

Latin: Allaahu allaahu rabbi laa syariika lah.

Artinya: "Ya Allah, ya Allah, ya Tuhanku, tak ada sesuatu yang disekutukan bagi-Nya." (HR. Abu Dawud & Tirmidzi).

Dzikir ini merupakan bentuk pengakuan bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb (Tuhan, Pemelihara). Dalam tradisi tarekat, seperti yang diajarkan Syekh Abdur Rauf Singkel, dzikir dengan menyebut Isim Dzat (seperti "Allah, Allah") bertujuan untuk menegaskan keberadaan Allah dalam hati, melampaui sekadar bentuk dan huruf.

Metode ini termasuk dalam kategori dzikir sirr (perlahan) yang dapat dilakukan dengan mengikuti ritme nafas, sebagai upaya untuk terus-menerus menghadirkan Allah dalam kesadaran.

5. Doa Penghulu Istighfar (Sayyidul Istighfar)

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَني وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُودُ بِكَ مِن شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتَكَ عَلَى، وَأَبُوءُ بِذَنْي فَاغْفِرْ لِي؛ فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الدُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

Latin: Allahumma anta Rabbi, la ilaha illa anta, khalaqtani wa ana 'abduka, wa ana 'ala 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu. A'udzu bika min syarri ma sana'tu. Abu'u laka bini'matika 'alayya, wa abu'u bi dzanbi faghfir li, fa innahu la yaghfirudz dzunuba illa anta.

Artinya: "Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau. Engkaulah yang menciptakan aku, sedang aku adalah hamba-Mu. Aku setia pada perjanjian-Mu sedaya mampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang telah kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau."

Sayyidul Istighfar dinilai sebagai istighfar paling utama karena mencakup pengakuan atas ketuhanan Allah, ikrar perjanjian hamba, pengakuan atas nikmat, dan pengakuan atas dosa. Menurut Syekh Jamaluddin Muhammad bin ‘Abdur Rahman al-Hubaisyi dalam kitab al-Barakah fi Fadhlis Sa’yi wal Harakah, amalan ini dapat menjauhkan manusia dari neraka Allah sekaligus mendekatkannya pada surga-Nya.

Keutamaannya sangat besar, sebagaimana sabda Nabi dalam Shahih Bukhari, bahwa siapa yang membacanya di siang hari dengan penuh keyakinan lalu mati sebelum sore, maka ia termasuk ahli surga.

Doa Mohon Kebaikan Dunia dan Akhirat

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Latin: Rabbana aatina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina 'adzaban-nar.Artinya: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Al-Baqarah: 201).

Doa ini adalah salah satu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW . Para ulama tafsir memberikan elaborasi mendalam tentang makna hasanah (kebaikan) di dalamnya. Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Al-Tafsir Al-Kabir menyatakan bahwa kebaikan dunia meliputi hidup aman, anak saleh, pasangan berakhlak mulia, rezeki mencukupi, dan rasa aman.

Sementara itu, Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menambahkan bahwa kebaikan dunia juga mencakup tubuh yang sehat, ilmu bermanfaat, amal saleh, serta kehormatan diri yang terjaga . Di akhirat, kebaikan puncaknya adalah surga dan kebahagiaan abadi.

Waktu-Waktu Mustajab untuk Dzikir dan Berdoa di Bulan Ramadan

Para ulama sepakat bahwa ada waktu-waktu khusus di bulan Ramadan di mana doa sangat mustajab dikabulkan. Raih dan manfaatkan momen-momen ini:

  • Saat Sahur: Waktu sepertiga malam terakhir adalah saat Allah turun ke langit dunia dan bertanya, "Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan?".
  • Menjelang Berbuka Puasa: Doa orang yang berpuasa saat berbuka adalah doa yang tidak tertolak.
  • Sepertiga Malam: Waktu yang paling tenang untuk bermunajat.
  • Di Antara Azan dan Iqamah: Doa di antara dua seruan ini tidak akan ditolak.
  • Pada Hari Jumat di Bulan Ramadan: Terdapat satu waktu yang mustajab.
  • Sepanjang Waktu Berpuasa: Secara umum, orang yang berpuasa memiliki doa yang mustajab.
  • Malam Lailatul Qadar: Malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Keutamaan Berdoa dan Berzikir di Bulan Ramadan

Menggabungkan ibadah puasa dengan doa dan dzikir melipatgandakan keutamaannya, baik secara spiritual maupun psikologis.

  • Jaminan Pengampunan dan Pahala Besar: Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Ahzab: 35, laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir, Allah sediakan ampunan dan pahala yang besar.
  • Mencegah dari Kelalaian: Zikir yang kontinyu menjadikan seorang hamba tidak lupa dan lalai kepada Allah. Ini sejalan dengan perintah dalam QS. Al-Ankabut: 45, bahwa shalat dan mengingat Allah mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.
  • Menenangkan dan Membersihkan Jiwa: Inilah inti dari semua ibadah. Zikir menjadi sarana komunikasi dengan Allah yang menghasilkan ketenteraman batin. Al-Ghazali menyebutnya sebagai buah dari mahabbah (cinta) kepada Allah, yang merupakan puncak rasa suka cita dalam jiwa.
  • Memberikan Semangat dan Kekuatan: Doa dan dzikir menjadi sumber kekuatan spiritual dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan. Keyakinan bahwa Allah adalah sebaik-baik Pelindung memberikan ketenangan dalam setiap langkah.
  • Menjadi Perisai dari Godaan: Zikir yang dibaca dengan penuh keyakinan akan mengusir setan, mengalahkannya, dan melindungi pelakunya dari bisikan jahat.

People also Ask:

Zikir apa yang bisa menenangkan hati dan pikiran?

Zikir Penenang Hati dan Pikiran, Yuk Amalkan!Zikir penenang hati dan pikiran mencakup bacaan seperti Tasbih, Tahmid, Takbir (Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar), Istighfar (Astaghfirullah), Tahlil (La Ilaha Illallah), serta doa-doa perlindungan dari kebingungan dan kesedihan, seperti yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, yang semuanya berfungsi menenangkan jiwa karena hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram, seperti firman-Nya dalam Al-Qur'an.

Zikir apa yang bikin hati tenang?

Perbanyak dzikir dan istighfar

Mengucapkan dzikir dan istighfar secara rutin bisa membantu menenangkan hati. Bacaan seperti Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar membawa efek positif pada pikiran dan emosi.

Zikir apa yang paling dahsyat?

Dzikir Yang Paling Utama – Tadabbur DailyDzikir paling dahsyat mencakup beberapa bacaan utama seperti "Laa ilaaha illallah" (kalimat tauhid), "Subhanallah wabihamdihi, subhanallahil adzim" (paling disukai Allah dan berat timbangan), dan kombinasi "Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar", serta "Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah" (harta karun surga), karena semuanya memiliki keutamaan besar dalam menggugurkan dosa, meningkatkan pahala, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Kunci ketenangan hati itu apa?

Kunci ketenangan hati adalah mengingat Allah (dzikir), bersyukur, bertawakal, dan taat beribadah, yang dipadukan dengan mengendalikan pikiran (berhenti membandingkan, kelola emosi), menjaga hubungan baik, dan berbuat baik, sesuai dengan. Dengan menjadikan Allah sebagai tujuan utama, hati akan merasa tenteram melalui dzikir, doa, serta menjauhi hal negatif dan maksiat.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |