Surat Al Isra Ayat 23 Beserta Arti, Perintah Beribadah dan Birrul Walidain

3 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Surat Al-Isra ayat 23 beserta arti merupakan memiliki kedudukan istimewa karena menggabungkan dua perintah dalam Islam, tauhid dan birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua). Allah SWT menempatkan perintah beribadah hanya kepada-Nya secara langsung bersanding dengan perintah berbuat baik kepada ibu dan bapak.

Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kedudukan orang tua dalam Islam, sehingga ketaatan kepada mereka ditempatkan sejajar dengan ketaatan kepada Allah SWT, selama tidak bertentangan dengan perintah-Nya.

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-Azhim menegaskan bahwa kata qadha dalam ayat ini bermakna perintah, bukan sekadar ketetapan. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan ihsan, yaitu berbuat baik melebihi apa yang menjadi kewajiban.

Dari sinilah lahir pemahaman bahwa berbakti kepada orang tua bukan sebatas kewajiban formal, melainkan panggilan jiwa yang dilandasi kasih sayang dan penghormatan yang tulus.

Abdul Hamid dalam jurnal Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Al-Qur'an Surah Al-Isra Ayat 23-24 menjelaskan, penyebutan ibadah kepada Allah dengan perintah berbakti kepada orang tua dan adabnya menunjukkan bahwa birrul walidain menjadi kewajiban mutlak tiap muslim dan harus ditanamkan sejak dini.

Surat Al-Isra Ayat 23 Teks Arab, Latin dan Artinya

Berikut bacaan lengkap Surat Al-Isra ayat 23 dalam tulisan Arab, latin, dan terjemahannya:

Arab:

۞ وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Latin: Wa qaḍā rabbuka allā ta'budū illā iyyāhu wa bil-wālidaini iḥsānā, immā yabluganna 'indakal-kibara aḥaduhumā au kilāhumā fa lā taqul lahumā uffiw wa lā tan-har-humā wa qul lahumā qaulang karīmā

Artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.

Tafsir Surat Al-Isra Ayat 23

1. Perintah Meng-Esakan Allah SWT

Ayat diawali dengan perintah tegas agar manusia tidak menyembah selain Allah. Kata qadha menurut Imam Ibnu Katsir bermakna penetapan hukum wajib, bukan sekadar anjuran. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa tauhid adalah fondasi segala amal—tanpanya, ibadah tidak bernilai di sisi Allah.

2. Perintah Berbuat Ihsan kepada Orang Tua

Setelah tauhid, Allah memerintahkan berbuat ihsan kepada orang tua. Menurut Ibnu Katsir, Allah mengaitkan ibadah kepada-Nya dengan bakti kepada orang tua, sebagaimana dalam QS. Luqman: 14. Quraish Shihab menekankan bahwa ihsan lebih luas dari sekadar adil—memberi lebih dari hak dan mengambil lebih sedikit. Berbakti berarti mengutamakan orang tua di atas kepentingan pribadi.

3. Larangan Mengucapkan "Ah" dan Membentak

Allah menyebut kondisi orang tua di usia lanjut sebagai ujian kesabaran anak. Dua larangan ditegaskan: jangan mengucapkan "ah" dan jangan membentak. Imam Al-Qurtubi menyebut dua alasan: (1) usia lanjut membutuhkan perlakuan baik karena kelemahan fisik; (2) semakin lama bersama anak bisa membuat anak terbebani sehingga berkurang baktinya. Larangan ini mengajarkan menjaga lisan dari perkataan yang menyakiti hati orang tua.

4. Perintah Mengucapkan Perkataan Mulia

Allah memerintahkan qaulan karima—perkataan penuh penghormatan, lembut, dan sopan. Imam Jalalain menafsirkannya sebagai perkataan baik dan sopan. Umar bin Khattab memberi contoh praktis: memanggil orang tua dengan "wahai bapak" atau "wahai ibu" serta tidak mengeraskan suara di hadapan mereka.

Asbabun Nuzul Surat Al-Isra Ayat 23

Berdasarkan penelusuran para ulama, Surat Al-Isra ayat 23-24 tidak memiliki asbabun nuzul (sebab turun) yang khusus. Ayat ini turun sebagai bagian dari rangkaian ajaran pokok dalam surah Al-Isra yang bersifat universal, bukan sebagai respons terhadap suatu peristiwa tertentu.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa asbabun nuzul yang terkait dengan surah Al-Isra secara keseluruhan adalah peristiwa Isra Mi'raj, yaitu perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa.

Namun, ayat 23-24 sendiri tidak memiliki sebab turun yang spesifik. Ini justru menunjukkan bahwa pesan yang terkandung di dalamnya bersifat universal dan berlaku sepanjang masa, untuk seluruh umat manusia tanpa terkecuali.

Meskipun tidak memiliki asbabun nuzul khusus, ayat ini turun dalam konteks surah Al-Isra yang secara keseluruhan berbicara tentang pokok-pokok keimanan, akidah, dan akhlak. Surah ini dinamai Al-Isra karena ayat pertamanya menceritakan perjalanan malam Nabi Muhammad SAW, dan juga dinamai Bani Israil karena menyebutkan kisah Bani Israil.

Ayat 23-24 merupakan bagian dari ajaran moral yang diletakkan setelah pembahasan tentang tauhid dan sebelum pembahasan tentang berbagai larangan dan perintah lainnya.

Makna Mendalam Surat Al-Isra Ayat 23

1. Tauhid sebagai Fondasi Segala Amal

Surat Al-Isra ayat 23 mengajarkan bahwa tauhid bukanlah urusan teoretis semata, melainkan fondasi yang harus terwujud dalam setiap aspek kehidupan. Menyembah hanya kepada Allah SWT berarti mengakui bahwa hanya Dia yang berhak diibadahi, dimintai tolong, dan dipasrahkan segala urusan. Tauhid yang benar akan melahirkan kepasrahan total kepada Allah SWT dan membebaskan manusia dari perbudakan kepada selain-Nya.

2. Ihsan: Berbuat Baik Melebihi Kewajiban

Kata ihsan dalam ayat ini mengajarkan bahwa hubungan dengan orang tua tidak boleh sekadar memenuhi kewajiban minimal. Seorang anak dituntut untuk berbuat baik melebihi apa yang menjadi kewajibannya—memberi lebih dari yang diminta, bersabar lebih dari yang dibutuhkan, dan mencintai lebih dari yang diharapkan. Ini adalah standar tertinggi dalam berbakti yang diajarkan Islam.

3. Menjaga Lisan di Masa Tua Orang Tua

Penekanan pada kondisi orang tua yang telah lanjut usia mengandung pesan mendalam. Di masa tua, orang tua mengalami berbagai kelemahan yang dapat menguji kesabaran anak. Namun justru pada saat inilah seorang anak dituntut untuk menunjukkan kesabaran, kelembutan, dan penghormatan tertinggi. Larangan mengucapkan "ah" dan membentak menunjukkan betapa Islam sangat menjaga perasaan orang tua, hingga sekadar keluhan ringan pun tidak diperkenankan.

4. Qaulan Karima sebagai Standar Komunikasi

Perintah mengucapkan qaulan karima mengajarkan bahwa komunikasi dengan orang tua harus selalu dalam koridor penghormatan dan kemuliaan. Ini bukan hanya tentang memilih kata-kata yang baik, tetapi juga tentang nada suara, bahasa tubuh, dan sikap yang menyertainya. Bahkan ketika orang tua melakukan kesalahan atau meminta sesuatu yang tidak mungkin dipenuhi, seorang anak tetap harus menolak dengan cara yang santun dan penuh hormat.

5. Keterkaitan Tauhid dan Birrul Walidain

Penempatan perintah tauhid dan perintah berbakti kepada orang tua dalam satu ayat menunjukkan bahwa keduanya saling terkait erat. Orang yang benar-benar bertauhid akan menyadari bahwa berbakti kepada orang tua adalah bagian dari ibadah kepada Allah SWT. Sebaliknya, durhaka kepada orang tua adalah bentuk kemaksiatan yang dapat mengurangi bahkan menghilangkan nilai ibadah seseorang di sisi Allah SWT.

Hikmah Memahami Surat Al-Isra Ayat 23

1. Menumbuhkan Kesadaran bahwa Berbakti kepada Orang Tua adalah Bagian dari Ibadah

Memahami ayat ini mengajarkan bahwa berbakti kepada orang tua bukan sekadar kewajiban moral atau budaya, melainkan bagian dari ibadah kepada Allah SWT. Setiap senyuman, setiap kata lembut, dan setiap bantuan yang diberikan kepada orang tua bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Kesadaran ini akan mendorong seorang anak untuk berbakti dengan ikhlas dan penuh kesungguhan, bukan karena takut dicela atau karena mengharap pujian.

2. Melatih Kesabaran dan Pengendalian Diri

Larangan mengucapkan "ah" dan membentak orang tua adalah latihan pengendalian diri yang sangat penting. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak situasi yang dapat memicu kemarahan atau kekesalan terhadap orang tua, terutama ketika mereka sudah lanjut usia dan sering kali lupa atau melakukan hal-hal yang merepotkan. Ayat ini mengajarkan untuk selalu menahan diri dan tidak meluapkan emosi dengan cara yang menyakiti hati mereka.

3. Menjaga Kualitas Komunikasi dalam Keluarga

Perintah mengucapkan qaulan karima mengajarkan pentingnya komunikasi yang berkualitas dalam keluarga. Kata-kata yang mulia bukan hanya menyenangkan hati orang tua, tetapi juga membangun suasana keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang. Sebaliknya, kata-kata kasar dan bentakan akan merusak hubungan dan menimbulkan luka batin yang mendalam.

4. Mengingat Jasa dan Pengorbanan Orang Tua

Penyebutan kondisi orang tua yang telah lanjut usia mengingatkan setiap anak pada jasa dan pengorbanan orang tua di masa lalu. Mereka yang dahulu merawat, mendidik, dan membesarkan dengan penuh kasih sayang kini berada dalam kondisi yang membutuhkan perawatan dan perhatian. Ini adalah momen untuk membalas budi dengan tulus dan penuh rasa syukur.

5. Mempersiapkan Diri Menjadi Orang Tua yang Baik

Memahami dan mengamalkan ayat ini juga menjadi bekal bagi seseorang untuk kelak menjadi orang tua yang baik. Dengan belajar bagaimana seharusnya seorang anak memperlakukan orang tua, seseorang akan terlatih untuk menjadi teladan bagi anak-anaknya kelak. Ini menciptakan siklus kebaikan yang berkelanjutan antar generasi dalam sebuah keluarga.

Pertanyaan Seputar Surat Al-Isra 

1. Apa isi kandungan Surat Al-Isra ayat 23?

Surat Al-Isra ayat 23 mengandung dua perintah utama: pertama, perintah untuk menyembah hanya kepada Allah SWT dan tidak mempersekutukan-Nya; kedua, perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Ayat ini juga memuat larangan mengucapkan kata "ah" dan membentak orang tua, serta perintah mengucapkan perkataan yang mulia kepada mereka.

2. Mengapa Allah menggabungkan perintah tauhid dengan perintah berbakti kepada orang tua dalam satu ayat?

Penggabungan ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam, ditempatkan langsung setelah perintah mengesakan Allah SWT. Ini juga mengajarkan bahwa ketaatan kepada orang tua adalah bagian dari ketaatan kepada Allah SWT, selama tidak bertentangan dengan perintah-Nya.

3. Apa makna kata "ihsan" dalam Surat Al-Isra ayat 23?

Kata ihsan berarti berbuat baik dengan sebaik-baiknya, melebihi apa yang menjadi kewajiban. Menurut M. Quraish Shihab, ihsan adalah memberi lebih banyak daripada yang harus diberikan dan mengambil lebih sedikit daripada yang seharusnya diambil. Dalam konteks orang tua, ihsan berarti memperlakukan mereka lebih baik daripada perlakuan terhadap diri sendiri.

4. Mengapa Allah melarang mengucapkan kata "ah" kepada orang tua?

Kata "ah" (uff) adalah bentuk keluhan atau ungkapan rasa kesal yang paling ringan sekalipun. Allah melarangnya untuk menunjukkan bahwa menghormati orang tua harus dilakukan dengan sempurna, tanpa ada ruang sedikit pun untuk menyakiti perasaan mereka. Ini mengajarkan bahwa seorang anak harus selalu menjaga lisannya dari perkataan yang dapat menyakiti hati orang tua.

5. Apa yang dimaksud dengan "qaulan karima" dalam Surat Al-Isra ayat 23?

Qaulan karima berarti perkataan yang mulia, yaitu perkataan yang diucapkan dengan lembut, sopan, penuh hormat, dan mengandung nilai-nilai kebaikan. Menurut Umar bin Khattab, ini berarti memanggil orang tua dengan panggilan yang hormat seperti "wahai bapak" atau "wahai ibu" dan tidak mengeraskan suara di hadapan mereka.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |