Liputan6.com, Jakarta - Tawaf merupakan rukun utama ibadah haji dan umrah. Tanpa tawar, kedua ibadah tersebut tidaklah sah. Namun, terkadang ada kesalahan jamaah saat thawaf yang sering terjadi pada pemula.
Padahal, kesalahan itu dapat mengurangi pahala, bahkan membatalkan tawaf itu sendiri. Maka, yang perlu dipahami pertama kali adalah rukun tawaf itu sendiri, seperti niat, suci dari hadas/najis, menutup aurat, berjalan kaki, memulainya dari Hajar Aswad, menjadikan Ka'bah di sisi kiri, hingga berada di luar Hijir Ismail.
Pemahaman tersebut menjadi dasar dan panduan agar tak melakukan kesalahan yang bisa berakibat fatal. Dengan begitu, tawaf absah menjadi bagian rukun haji atau umrah.
Merujuk Buku Manasik Haji dan Umroh Rasulullah, Imam Ghazali Said dan Tuntunan Manasik Haji dan Umrah terbitan Kemenag, berikut delapan kesalahan paling fatal yang sering terjadi, lengkap dengan dalil, pandangan ulama, dan solusi perbaikannya.
1. Memulai Tawaf Bukan dari Titik Hajar Aswad
Ini adalah kesalahan paling fundamental. Banyak jemaah mulai berlalu dari titik mana pun, menganggap bahwa tawaf bisa dimulai dari sudut mana saja. Padahal, syarat utama tawaf adalah dimulai tepat di titik lurus Hajar Aswad.
Firman Allah QS. Al-Hajj ayat 29 memerintahkan "melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)". Nabi SAW memulai tawaf dengan mencium, mengusap, atau memberi isyarat ke Hajar Aswad; jika tidak dimulai dari titik tersebut, tawaf dianggap belum dimulai.
Memulai tawaf sebelum Hajar Aswad, sedang yang wajib haruslah dimulai dari Hajar Aswad adalah kekeliruan yang serius. Start awal tawaf terhitung dari Hajar Aswad, sehingga tidak dianggap putaran tawaf yang sah jika memulai sebelum sampai Hajar Aswad.
- Konsekuensi: Jika memulai dari titik lain, putaran pertama tidak sah. Jika terus berlanjut, seluruh tawaf bisa tidak sah.
- Tips Menghindari: Pastikan berdiri tepat sejajar dengan Hajar Aswad sebelum memulai. Jika tidak bisa mendekat, gunakan isyarat tangan ketika tubuh berada tepat di arah Hajar Aswad.
2. Melewati Hijir Ismail (Tawaf di dalam Hijir)
Area setengah lingkaran yang berdempetan dengan dinding utara Ka'bah, bernama Hijir Ismail atau al-Hatim, adalah bagian integral dari Ka'bah itu sendiri. Masuk ke dalamnya saat tawaf berarti hanya mengitari sebagian Ka'bah, bukan seluruhnya. Ini adalah kesalahan yang paling tidak disadari sekaligus paling membatalkan.
Firman Allah QS. Al-Hajj ayat 29, kata "bilbait" berarti mengelilingi seluruh bangunan. Hijir Ismail termasuk "al-bait". Jika masuk ke dalamnya, ia berada di dalam Ka'bah, sehingga tidak dianggap mengelilinginya.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata "Ini merupakan kekeliruan besar sekali. Sebagian jamaah masuk Hjir Ismail saat thawaf, lalu keluar dari pintu lainnya saat sangat sesak. Dia pikir cara ini lebih mudah dan cepat. Ini kekeliruan besar. Karena apa yang dia lakukan tidak dianggap thawaf. Apabila seseorang melakukan thawaf dari dalam Hijir Ismail, maka dia tidak dianggap thawaf di seputar Ka'bar, maka thawafnya tidak sah".
Dalam syarat tawaf dijelaskan bahwa posisi Ka'bah harus di sebelah kiri dengan mengelilingi Ka'bah, di luar Syadzarwan dan Hijr Ismail berlawanan dengan arah jarum jam.
- Konsekuensi: Tawaf BATAL (tidak sah) karena tidak mengelilingi Ka'bah secara utuh. Ini masalah besar, terutama jika tawaf tersebut adalah tawaf rukun (tawaf umrah atau tawaf ifadhah).
- Tips Menghindari: Pahami dengan jelas bahwa Hijir Ismail adalah bagian dari Ka'bah. Selalu berputar di luarnya. Saat area sangat padat, jangan mencari pintas dengan menerobos.
3. Raml (Berlari-lari Kecil) pada Seluruh Putaran
Raml adalah berlari-lari kecil dengan langkah pendek. Banyak pemula melakukannya di semua tujuh putaran karena menganggapnya wajib. Padahal, raml hanya dilakukan pada tiga putaran pertama dari tawaf qudum (tawaf selamat datang) bagi laki-laki dan tawaf umrah.
HR. Bukhari dari Salim: "Aku melihat Rasulullah ﷺ tatkala sampai di Mekah, beliau mengusap Hajar Aswad ketika pertama kali tawaf, yang pertama beliau berlari-lari kecil tiga kali di antara tujuh putaran". Pada tawaf ifadhah (tawaf haji setelah wukuf), raml tidak disyariatkan.
Raml (berjalan cepat dengan langkah-langkah pendek) pada seluruh putaran yang tujuh adalah kekeliruan. Raml hanya untuk tiga putaran pertama dan hanya dalam tawaf qudum atau tawaf umrah.
- Konsekuensi: Tidak membatalkan, tetapi menyelisihi sunah dan mengganggu kekhusyukan.
- Tips Menghindari: Lakukan raml hanya untuk tiga putaran pertama. Jika tawaf ifadhah, tidak perlu raml sama sekali.
4. Berdesakan dan Memaksakan Diri Mencium Hajar Aswad
Menyentuh atau mencium Hajar Aswad adalah sunah, bukan wajib. Namun, banyak pemula nekat berdesak-desakan, saling mendorong, hingga memukul sesama jemaah hanya demi mencium Hajar Aswad. Jika sulit dijangkau, cukup memberikan isyarat dari jauh.
Berdesak-desakkan untuk dapat mencium Hajar Aswad, kadang-kadang sampai pukul memukul dan saling mencaci maki. Hal itu tidak boleh, karena dapat menyakiti sesama muslim. Tidak mencium Hajar Aswad tidak membatalkan tawaf, thawafnya tetap sah sekalipun tidak menciumnya. Maka cukuplah dengan berisyarat (melambaikan tangan) dan bertakbir saat berada sejajar dengan Hajar Aswad, walaupun dari jauh.
Jika Hajar Aswad sangat ramai, seseorang cukup menghadap ke arahnya, mengangkat tangan, dan bertakbir.
- Konsekuensi: Perbuatan ini bisa menyakiti muslim lain, bahkan mengundang dosa.
- Tips Menghindari: Sediakan tongkat kecil. Jika tidak bisa menyentuh, berisyarat dengan tangan atau tongkat dari kejauhan.
5. Mengusap Seluruh Dinding atau Setiap Rukun Ka'bah
Banyak pemula yang mengusap-usap seluruh dinding Ka'bah atau keempat rukunnya dengan maksud "mendapat berkah". Ini tidak memiliki dasar dalam syariat. Yang disunahkan hanyalah menyentuh (istilam) Hajar Aswad dan mengusap Rukun Yamani (jika memungkinkan).
Menjamah seluruh pojok Ka'bah, bahkan kadang-kadang menjamah dan mengusap-usap seluruh dindingnya. Padahal Rasulullah SAW tidak pernah menjamah bagian-bagian Ka'bah kecuali Hajar Aswad dan Rukun Yamani saja. Ini adalah bid'ah (sesuatu yang diada-adakan dalam agama), tidak mempunyai dasar sama sekali dalam syari'at Islam.
- Konsekuensi: Perbuatan bid'ah yang tidak diajarkan Rasulullah SAW.
- Tips Menghindari: Cukup usap atau beri isyarat ke Hajar Aswad di awal setiap putaran. Jika memungkinkan, usap Rukun Yamani. Jangan usap yang lain.
6. Menentukan Doa Khusus Setiap Putaran yang Berbeda-beda
Beredar buku-buku doa tawaf yang menyediakan doa khusus berbeda untuk putaran pertama hingga ketujuh. Ini menimbulkan anggapan keliru bahwa setiap putaran memiliki doa wajib tertentu. Padahal, tidak ada satu hadis pun yang mengajarkan hal itu.
Menentukan doa khusus untuk setiap putaran dalam tawaf. Karena hal itu tak pernah dilakukan oleh Nabi SAW. Meyakini bahwa setiap putaran Ka'bah ada doa khusus adalah kesalahan, karena doa khusus hanya dipanjatkan ketika berada di antara Rukun Yamani hingga Hajar Aswad. Selain di tempat itu, kita bebas berdoa apa pun.
- Konsekuensi: Tidak membatalkan, tetapi menyebabkan jemaah sibuk membaca buku daripada menghayati ibadah.
- Tips Menghindari: Cukup baca doa pendek yang diajarkan Rasulullah SAW di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad: "Rabbana atina fid-dunya hasanah..." (QS. Al-Baqarah: 201).
7. Tidak Suci dari Hadas (Wudu Batal) saat Tawaf
Banyak jemaah menganggap tawaf bisa dilakukan tanpa wudu. Padahal, menurut jumhur ulama (mazhab Syafi'i, Maliki, Hanbali), tawaf tidak sah kecuali dalam keadaan suci dari hadas kecil maupun besar.
Dalil Al-Qur'an dan Sunah: QS. Al-Hajj ayat 29 secara khusus mensyaratkan kesucian untuk melakukan tawaf. Syekh Ibnu Utsaimin menyatakan bahwa syarat sah tawaf adalah suci dari hadas dan najis di badan, pakaian, dan tempat.
Syarat tawaf nyaris sama dengan syarat salat, karena tawaf mengelilingi Baitullah itu sama seperti shalat.
- Konsekuensi: Tawaf BATAL. Wajib berhenti, berwudu, lalu melanjutkan dari putaran yang batal, dan yang terbaik mengulang dari awal.
- Tips Menghindari: Pastikan berwudu sempurna sebelum tawaf. Jika batal di tengah tawaf, segera keluar area, wudu, lalu lanjutkan dari putaran yang terbatal.
8. Memposisikan Ka'bah Bukan di Sisi Kiri (Termasuk Menghadap Ka'bah)
Dalam tawaf, Ka'bah harus selalu berada di sisi kiri jemaah. Kesalahan terjadi saat jemaah berputar berlawanan arah (arah jarum jam) atau berjalan dengan posisi membelakangi Ka'bah. Ini sering terjadi saat mengatur rombongan besar atau menjaga keluarga.
Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menyatakan, di antara syarat sahnya thawaf adalah apabila menjadikan Ka'bah di sebelah kirinya. Jika dia menjadikan Ka'bah di belakangnya atau di hadapannya atau menjadikannya di sebelah kanannya (kebalikan arah thawaf), maka thawafnya tidak sah. Ini adalah kekeliruan besar yang mengakibatkan tawaf tidak terhitung.
- Konsekuensi: Putaran yang dilakukan dengan posisi salah TIDAK SAH, karena bukan mengitari Ka'bah.
- Tips Menghindari: Pastikan bahu kiri selalu mengarah ke Ka'bah. Hindari berjalan mundur atau membelakangi Ka'bah saat mengatur rombongan.
Hikmah Mengetahui dan Menghindari Kesalahan Saat Tawaf
- Tawaf Menjadi Sah secara Formal dan Substansial: Dengan menghindari kesalahan yang membatalkan (Hijir Ismail, wudu, posisi kiri), jemaah terhindar dari keharusan mengulang tawaf yang mungkin sulit dilakukan.
- Ibadah Terjaga Kekhusyukannya: Menghindari perbuatan bid'ah (mengusap dinding, doa berlebih) mengembalikan tawaf pada esensinya sebagai dialog intim hamba dengan Tuhannya, dengan doa apa pun yang dirasakan, tanpa beban ritual tambahan.
- Selamat dari Dosa karena Menyakiti Sesama: Menghindari berdesakan untuk mencium Hajar Aswad berarti tidak menyakiti jemaah lain. Sikap ini sejalan dengan akhlak mulia, di mana menahan diri dari menyakiti orang lain lebih utama daripada mengejar kesunahan yang tidak wajib.
- Tidak Terjebak Ritualisme yang Berlebihan: Dengan tidak mengusap seluruh dinding dan tidak menyakralkan doa khusus, tawaf dilaksanakan secara proporsional. Khusyuk tidak diukur dari seberapa banyak ritual tambahan, tetapi seberapa hadir hati di hadapan Allah.
- Mengikuti Tuntunan Rasulullah dengan Tepat: Seluruh koreksi di atas mengarahkan jemaah kepada praktik tawaf yang sesuai sunah. Dengan semakin dekat tawafnya dengan tawaf Rasulullah ﷺ, peluang untuk meraih predikat mabrur juga semakin terbuka lebar.
Pertanyaan Umum tentang Topik
Rukun tawaf apa saja?
Rukun TawafNiat.Melaksanakan Tawaf sambil berjalan kaki.Memulai Tawaf dari Hajar Aswad.Baitullah berada di samping kirinya.Memasukkan Hijir Ismail dalam Tawaf.Semua badan harus berada di luar Baitullah. Apabila seseorang berjalan di atas trap Ka'bah maka tidak sah Tawafnya.
7 Putaran tawaf Doa Apa Saja?
Setiap 7 Putaran Thowaf Mengandung Doa, Doa Apa Aja Sih?Putaran Pertama – Doa untuk Diri Sendiri. ...Putaran Kedua – Doa untuk Orang Tua. ...Putaran Ketiga – Doa untuk Urusan Dunia. ...Putaran Keempat – Doa untuk Keluargai. ...Putaran Kelima – Doa untuk Teman dan Orang yang Berjasa.
Apa saja syarat thawaf?
Syarat Melakukan TawafSuci dari Hadats Kecil dan Besar. ...2. Tutup Aurat. ...Mulai Tawaf dari Hajar Aswad. ...Menempatkan Ka'bah di Sebelah Kiri. ...Mensejajarkan Pundak Kiri di Hajar Aswad. ...6. Anggota Badan dan Pakaian Ada di Luar Bangunan Ka'bah. ...7. Melakukan Tawaf Tujuh Kali.
Kenapa tawaf harus 7 kali putaran?
Dalam konteks Tawaf, tujuh putaran melambangkan tujuh tingkatan yang harus dilalui seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT, dari meninggalkan dosa hingga mencapai puncak ketaatan.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3161656/original/025764700_1593013512-20200624-Menengok-Suasana-Makkah-Jelang-Ibadah-Haji-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3283640/original/066176300_1604212715-20201101-Hari-Ini_-Jemaah-Umrah-Indonesia-Bertolak-ke-Mekah-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5933770/original/078360100_1778831227-unnamed__12_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3081754/original/022995900_1584692954-20200320-Suasana-Salat-Jumat-di--Masjid-Agung-Al-Azhar-Jakarta-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2876075/original/030089700_1565230144-20190807-Masjidil-Haram-Dipadati-Jemaah-Jelang-Puncak-Haji-AFP-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4083449/original/086153800_1657339571-Wukuf-Haji-Arafah-AP-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4482256/original/047264300_1687826755-20230627-Haji_Mina-AP-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5415967/original/010208000_1763436950-jamaah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3110450/original/059507500_1587634731-Praying_Hands_With_Faith_In_Religion_And_Belief_In_God__Power_Of_Hope_And_Devotion___1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4370308/original/064241200_1679646015-Shalot-Jumat-Pertama-Ramadhan-Di-Masjid-Istiqlal-Angga-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4397210/original/034811800_1681628824-Malam_25_Ramadan__Ribuan_Jemaah_Khusyuk_Menjemput_Lailatul_Qadar_di_Masjid_Istiqlal-ARBAS_4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5437364/original/025119000_1765250413-Muslimah_bersedekah__Pexels_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5122106/original/013813800_1738730856-1738725871402_riya-adalah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4725886/original/008571900_1706156981-madrosah-sunnah-XvJYidRmpUE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5575202/original/003079900_1778040737-WhatsApp_Image_2026-05-06_at_10.48.40_AM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5300160/original/022808400_1753862331-pexels-christina99999-28430652.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4083445/original/054251000_1657339567-Wukuf-Haji-Arafah-AP-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4864490/original/019606900_1718432505-Khusyuk_Wukuf_Jemaah_Haji_di_Padang_Arafah-AP__6_.jpg)














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3977835/original/066021800_1648524608-pexels-ahmed-aqtai-2233416_1_.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456521/original/033087800_1766898100-Gemini_Generated_Image_xyevcgxyevcgxyev_2.png)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5158657/original/067229400_1741665557-kata-mutiara-pagi-hari-islami.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3381448/original/032968300_1613719892-wooden-spoon-fork-as-clock-hands-white-plate_49149-1007.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4174191/original/099991100_1664358430-bacaan-doa-setelah-adzan-beserta-arti-dan-keutamaannya.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5385863/original/035777200_1760946460-KIP_Kuliah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3997589/original/057397300_1650185585-20220417-Masjid-Agung-Demak-1.jpg)