9 Kebiasaan Kecil yang Bisa Mengurangi Pahala Sedekah Tanpa Disadari

23 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Sedekah merupakan salah satu amalan mulia yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Allah SWT menjanjikan pahala berlipat ganda bagi siapa pun yang menafkahkan hartanya di jalan-Nya. Namun, umat Islam harus hati-hati. Sebab, ada beberapa kebiasaan kecil yang bisa mengurangi pahala sedekah tanpa disadari.

Fenomena ini menarik untuk dikaji mengingat banyaknya kaum muslimin yang telah bersedekah dengan niat baik, tetapi keliru dalam cara pelaksanaannya. Al-Qur’an secara tegas mengingatkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 264:

“Wahai orang-orang yang beriman, jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia,..".

Berikut ini adalah beberapa kebiasaan kecil yang bisa mengurangi pahala sedekah, merujuk Buku Bukan Dosa Ternyata Dosa karya Abduh Al-Baraq, jurnal Varian Makna Dosa dalam Al-Qur’an: Studi Tafsir tentang Lafadh Al-Dhanb dan Al-Ithm karya Ahmad Fakhruddin Fajrul Islam dan M. Nur Salim, serta berbagai literatur Islam lainnya.

1. Kebiasaan Mengungkit-Ungkit Sedekah (Al-Mann)

Kebiasaan pertama, dan mungkin paling umum terjadi, adalah mengungkit-ungkit sedekah yang telah diberikan. Dalam istilah fikih, perilaku ini disebut al-mann.

Seseorang yang telah memberi sedekah kemudian terus-menerus menyebut-nyebut pemberiannya kepada penerima atau orang lain. Misalnya, mengingatkan penerima bahwa “dulu saya yang membantu Anda” atau menceritakan kebaikannya di hadapan publik agar mendapat pujian.

Kebiasaan ini dapat muncul dalam berbagai bentuk: pamer di media sosial, memberi dengan gaya “panggung”, atau sekadar menceritakan ulang sedekah yang telah dilakukan tanpa tujuan membagikan inspirasi.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 262: “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan tidak dengan menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”

Ayat ini secara implisit menunjukkan bahwa kebalikannya, menyebut-nyebut pemberian, akan menghilangkan pahala. Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa al-mann yang sebenarnya adalah ketika orang yang memberi merasa dirinyalah yang berjasa kepada yang diberi, dan perasaan itu ditunjukkan dalam perbuatan.

Padahal, seharusnya orang yang memberi merasa bahwa orang fakir yang diberi itulah yang telah berjasa kepadanya, karena ia telah menerima hak Allah SWT darinya.

Syekh Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi dalam kitab Fadhilah Sedekah menambahkan bahwa menyakiti perasaan si penerima terjadi karena pemberi telah berbuat kebaikan kepadanya lalu meremehkan dan menganggapnya sebagai orang hina.

Bahkan Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan masuk surga tiga golongan: pengungkit pemberian, penderhaka kepada ibu bapa, dan penagih arak.” (HR al-Nasa’i).

Seseorang yang gemar mengungkit-ungkit sedekah tidak akan mendapatkan apa-apa dari perbuatan baiknya di dunia maupun di akhirat. Di dunia, ia menjadi sasaran kebencian. Di akhirat, kedudukannya sama tarafnya dengan orang yang riak karena tidak ikhlas.

2. Menyakiti Hati Penerima (Al-Adza)

Kebiasaan kedua yang tak kalah berbahaya adalah menyakiti hati penerima sedekah, baik melalui ucapan, sikap, maupun tindakan.

Menyakiti hati penerima bisa terjadi dalam banyak bentuk: merendahkan martabatnya, menghardik, menunjukkan ekspresi wajah yang tidak ramah, mengucapkan kata-kata yang menyakitkan, atau memperlakukan penerima sebagai orang yang “mengemis” padahal ia diberi dengan sukarela. Sering kali hal ini dilakukan tanpa kesadaran penuh, sekadar karena rasa lelah atau kesal sesaat.

Firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 264 secara jelas menggandengkan larangan menyakiti hati dengan larangan menyebut-nyebut sedekah. Syekh Maulana dalam Fadhilah Sedekah menjelaskan bahwa menyakiti perasaan si penerima adalah ketika pemberi meremehkan penerima dan menganggapnya sebagai orang hina setelah berbuat kebaikan kepadanya.

Al-Qur’an bahkan memberikan perumpamaan yang sangat keras tentang orang yang bersedekah dengan menyakiti hati penerima: “Perumpamaan mereka itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah ia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan…” (QS. Al-Baqarah: 264).

Artinya, sedekah yang disertai sikap menyakiti hati akan luluh lantak, tak tersisa pahala sama sekali.

Sedekah yang diberikan dengan rasa kesal dan kurang ikhlas bukan hanya tidak dihargai oleh Allah SWT, tetapi juga dapat melukai hati si penerima, merusak hubungan sosial, dan menimbulkan rasa sakit hati yang berkepanjangan.

3. Riya’, Pamer dalam Bersedekah

Kebiasaan ketiga adalah riya’, yaitu melakukan sedekah dengan tujuan agar dilihat dan dipuji oleh manusia, bukan karena Allah SWT.

Riya’ dalam sedekah bisa terjadi ketika seseorang memberikan sumbangan di depan banyak orang, mengunggah kegiatan sedekahnya ke media sosial dengan tujuan pamer, atau memberi karena takut disebut pelit di depan publik. Tanpa disadari, banyak orang terjebak dalam perilaku ini di era digital saat ini.

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 264, Allah SWT secara eksplisit menyebut orang yang bersedekah karena riya’ sebagai orang yang “tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir”.

Orang yang riya’ sesungguhnya tidak menghendaki sedekahnya diredhai Allah dan memperoleh pahala. Ia tidak beriman kepada Allah dan hari akhirat sehingga menjadikan sedekahnya terhapus.

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa berbuat riya’, maka Allah akan membalasnya dengan riya’ itu saja (tanpa pahala).”

Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an al-‘Azim menjelaskan bahwa perumpamaan orang yang riya’ dalam bersedekah adalah seperti batu licin yang ditimpa hujan lebat, amalnya tidak membekas sama sekali di sisi Allah.

Pahala sedekah menjadi hangus total. Allah SWT tidak menerima sedekah orang-orang yang berniat riya’ atau mengharapkan pujian dari penerima dan orang yang menyaksikan.

4. Sum’ah: Membesar-besarkan Sedekah

Kebiasaan keempat adalah sum’ah, yaitu tindakan menceritakan dan membesar-besarkan amal yang pernah dilakukan agar mendapat perhatian dan dianggap istimewa.

Sum’ah berbeda dengan riya’ dalam hal sasaran. Jika riya’ bertujuan agar dilihat, sum’ah bertujuan agar didengar. Pelaku sum’ah akan bercerita panjang lebar tentang sedekahnya, menyebutkan nominal yang besar, atau melebih-lebihkan pengorbanannya agar orang lain terkesan dan memujinya.

Dalam buku Sedekah Maha Bisnis dengan Allah karya Amirulloh Syarbini, sum’ah diartikan sebagai tindakan menceritakan dan membesar-besarkan amal yang pernah dilakukan agar mendapat perhatian dan keistimewaan.

Meskipun menceritakan kebaikan dengan tujuan menginspirasi tidaklah terlarang, sum’ah memiliki niat yang keliru, mengharapkan pujian dan popularitas, bukan ridha Allah.

Seseorang yang bersedekah dengan sum’ah seperti membangun istana di atas pasir, bangunannya tampak megah di mata manusia, tetapi akan runtuh saat dihadapkan kepada Allah.

5. Takabur: Merasa Lebih Baik dari Penerima

Kebiasaan kelima adalah takabur atau kesombongan, yaitu merasa diri lebih tinggi derajatnya dibanding penerima sedekah.

Ketika seseorang bersedekah, tanpa disadari ia bisa merasa “lebih baik”, “lebih sukses”, atau “lebih mulia” dibanding penerima. Sikap ini tercermin dari bahasa tubuh, nada bicara, atau cara memandang yang merendahkan.

Takabur adalah sikap yang sangat dibenci Allah. Dalam Surah Luqman ayat 18, Allah berfirman: “Janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.”

Sikap takabur ini juga disebut sebagai ujub, merasa bangga dan kagum terhadap diri sendiri hingga melupakan bahwa segala nikmat berasal dari Allah.

Takabur tidak hanya mengurangi pahala sedekah, tetapi juga membuat pelakunya dijauhkan dari rahmat Allah. Sedekah yang dilandasi kesombongan kehilangan esensinya sebagai wujud kepedulian dan kerendahan hati.

6. Sedekah dari Harta Haram

Kebiasaan keenam berkaitan dengan sumber harta yang disedekahkan. Tanpa disadari, banyak orang bersedekah dari harta yang tidak halal, baik karena cara memperolehnya maupun zatnya.

Harta haram dapat berupa hasil korupsi, suap, mencuri, menipu, riba, judi, atau pekerjaan haram lainnya. Sayangnya, masih banyak orang yang berpikir bahwa “yang penting bersedekah”, tanpa memeriksa asal-usul hartanya.

Abduh Al-Baraq dalam Bukan Dosa Ternyata Dosa secara tegas menempatkan berbagai bentuk harta haram, termasuk harta hasil korupsi dan riba, sebagai sesuatu yang tidak akan mendatangkan pahala meskipun disalurkan untuk sedekah.

Dalil dan Penjelasan UlamaRasulullah SAW bersabda: “Allah tidak menerima shalat tanpa thaharah (bersuci) dan sedekah dari hasil menipu.” (HR Muslim).

Dalam hadis lain: “Tidak ada orang yang memperoleh harta dengan cara haram lalu diinfakkan kemudian diberkahi, atau disedekahkan lalu diterima sedekahnya… melainkan hanya akan lebih mendekatkan dirinya ke neraka.” (HR Ahmad).

Hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menyebutkan: “Barangsiapa mendapatkan harta haram kemudian bersedekah dengannya, ia tidak mendapatkan pahala di dalamnya dan dosa menjadi miliknya.” (HR Ibnu Hibban).

Bukannya mendapat pahala, pelaku justru mendapatkan dosa tambahan. Sedekah dengan harta haram diibaratkan seperti memberi makanan najis kepada orang miskin—tidak mendatangkan berkah, malah menambah mudarat.

7. Memberi Sedekah dengan Harta yang Buruk

Kebiasaan ketujuh adalah memilih harta yang buruk atau kurang berkualitas untuk disedekahkan, sementara untuk diri sendiri disimpan yang terbaik.

Allah SWT secara tegas melarang perilaku ini. Misalnya, memberi makanan yang sudah basi, pakaian yang sudah sobek dan tidak layak pakai, atau barang-barang yang sebenarnya tidak bermanfaat lagi bagi penerima.

Dalil dan Penjelasan UlamaFirman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 267: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah di jalan Allah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik… Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya…” (QS. Al-Baqarah: 267)

Sedekah dengan harta yang buruk tidak memenuhi syarat diterimanya sedekah. Allah hanya menerima yang baik-baik, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Allah tidak menerima kecuali yang baik.”

8. Sedekah yang Salah Sasaran

Kebiasaan kedelapan adalah memberikan sedekah kepada pihak yang justru akan menggunakan harta tersebut untuk kemaksiatan.

Memberi sedekah kepada ahli maksiat seperti pecandu judi, peminum khamar, atau pelaku zina dikhawatirkan hartanya akan digunakan untuk hal-hal haram. Ini termasuk bentuk sedekah yang tidak tepat sasaran.

Para ulama menekankan bahwa meskipun niatnya baik, sedekah harus disalurkan kepada pihak-pihak yang benar-benar membutuhkan dan akan menggunakan harta tersebut untuk kebaikan.

Sedekah menjadi tidak bernilai pahala karena secara tidak langsung turut serta dalam dosa penerimanya.

Ghibah (Menggunjing) dan Hasad (Dengki)

Kebiasaan kesembilan dan kesepuluh ini mungkin tampak tidak berhubungan langsung dengan sedekah. Namun kedua perbuatan ini dapat menggerus pahala seluruh amal kebaikan—termasuk sedekah.

Ghibah adalah membicarakan keburukan orang lain yang tidak hadir. Hasad adalah rasa dengki terhadap nikmat yang dimiliki orang lain. Sering kali seseorang yang rajin bersedekah tetap gemar menggunjing tetangganya atau iri terhadap rezeki orang lain, tanpa sadar bahwa pahala sedekahnya bisa berpindah kepada orang yang ia gunjingkan.

Rasulullah SAW bersabda: “Jauhilah hasad (dengki). Karena hasad dapat memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar.” (HR Abu Dawud).

Dalam Surah Al-Hujurat ayat 12, Allah melarang ghibah dengan perumpamaan yang mengerikan: “… dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.”

Pahala sedekah yang telah dikumpulkan bisa habis berpindah kepada orang lain. Inilah yang disebut sebagai “kebangkrutan pahala” di akhirat kelak.

Tips Menghindari Kebiasaan-Kebiasaan Perusak Pahala

Agar sedekah tetap bernilai pahala sempurna di sisi Allah SWT, berikut beberapa tips praktis yang dapat diterapkan:

1. Perbaharui Niat Sebelum, Saat, dan Sesudah Bersedekah

Niat adalah pondasi utama. Luruskan niat setiap kali akan bersedekah: “Ya Allah, aku bersedekah ini semata-mata karena-Mu.” Perbaharui niat secara berkala, terutama setelah bersedekah, untuk memastikan tidak ada riya’ yang menyusup.

2. Jaga Rahasia Sedekah

Sedekah yang terbaik adalah yang diberikan secara sembunyi-sembunyi (sirr), sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 271. Jika memungkinkan, berikanlah sedekah tanpa diketahui orang lain. Hindari memotret atau merekam kegiatan sedekah untuk dipublikasikan kecuali dengan niat menginspirasi—dan itupun dengan sangat berhati-hati. Profesional dalam pengelolaan zakat dan sedekah di era digital menekankan pentingnya menahan diri dari “pamer sedekah” di media sosial.

3. Jaga Lisan dan Sikap

Latih diri untuk selalu berkata lembut dan menghormati penerima sedekah. Ingatlah bahwa mereka bukan “pengemis”, melainkan saudara seiman yang sedang Allah uji dengan kekurangan. Gunakan tangan kanan saat memberi dan sampaikan dengan senyuman.

4. Periksa Sumber Harta

Pastikan harta yang disedekahkan berasal dari sumber yang halal dan baik. Jangan sampai sedekah dari harta haram justru menambah dosa. Sebaiknya taubat terlebih dahulu dan bersihkan diri dari harta haram sebelum bersedekah.

5. Pilih Penerima yang Tepat

Pastikan sedekah diberikan kepada golongan yang benar-benar berhak (mustahik) dan tidak akan menggunakan harta tersebut untuk kemaksiatan.

6. Biasakan Introspeksi Diri (Muhasabah)

Abduh Al-Baraq dalam Bukan Dosa Ternyata Dosa mengutip perkataan Umar bin Khattab, “Hisablah dirimu sebelum dihisab di akhirat kelak.”. Evaluasi secara rutin apakah dalam bersedekah terdapat kebiasaan-kebiasaan buruk yang terselip.

7. Jauhi Ghibah dan Hasad

Sadari bahwa ghibah dan hasad dapat memakan pahala sedekah. Jika memiliki kebiasaan ini, segera bertobat dan perbanyak istigfar. Rasulullah SAW menjamin bahwa sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah yang bertobat.

8. Ingat Tujuan Sedekah: Pembersih Harta

Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengingatkan bahwa orang yang memberi seharusnya merasa orang fakir itulah yang berjasa kepadanya, karena ia telah menerima hak Allah SWT darinya dan menjadi sebab bersihnya harta bendanya serta menyelamatkan dari azab jahannam. Renungkan makna ini sebelum bersedekah.

Pertanyaan Seputar Topik

Apa saja perbuatan yang menghilangkan pahala bersedekah?

Pahala Sedekah Terancam Hilang, Waspada! 5 Niat Tersembunyi yang Bisa MenghapusnyaIngin Dipuji (Riya) ...2. Biar Dianggap Orang Berada atau Sukses (Sum'ah) ...Mengingat-ingat dan Menyebut-nyebut Sedekah yang Sudah Diberikan (Al-Mann) ...Meyakiti Hati Penerima (Al-Adza)

3 Contoh sedekah yang Tidak Diterima Allah?

Jenis Sedekah yang Tidak Dibolehkan Dalam IslamSedekah Orang Memiliki Hutang. Sedekah berarti memberikan sesuatu kepada orang lain, baik dalam bentuk barang maupun harta. ...2. Sedekah Dari Harta Haram. Dilarang bersedekah menggunakan uang hasil curian, Sumber: pikiran-rakyat.com. ...3. Sedekah Selain Untuk Allah.

Apa saja 5 hal yang dapat merusak amal saleh?

6 Perkara Pemusnah AmalSyirik kepada Allah. Syirik adalah mempersekutukan Allah dengan sesuatu, baik dalam ibadah, keyakinan, maupun niat. ...Riya (Pamer Amal) ...Kufur Nikmat. ...Mengungkit-ungkit Sedekah (Mann) dan Menyakiti Penerima. ...Hasad (Iri dan Dengki) ...Berbuat Zalim.

Perbuatan yang dapat menghapus nilai pahala sedekah yang telah kita berikan?

Hal-hal yang Dapat Menghilangkan Pahala Sedekah.

Sedekah dengan Harta Haram. ...Sedekah untuk Pamer. ...Menyakiti Hati Penerima Sedekah. ...Meminta Kembali Sedekah yang Telah Diberikan. ...Menyebut-nyebut Sedekah. ...Berharap Imbalan Duniawi. ...Melakukan Sedekah dengan Terpaksa. ...Sedekah untuk Mendapat Simpati.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |