Liputan6.com, Jakarta - Surat An-Nas adalah surat penutup dalam mushaf Al-Qur'an yang sarat dengan makna perlindungan dan ketauhidan. Surat an nas ayat 1-6 beserta arti dan manfaat membacanya mengajarkan umat Islam untuk senantiasa berlindung kepada Allah SWT dari segala bentuk kejahatan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Dalam khazanah Islam, surat yang terdiri dari enam ayat ini menjadi amalan perlindungan dari godaan dan gangguan setan yang terus-menerus membisikkan kejahatan ke dalam dada.
Surat An-Nas termasuk golongan surat Makkiyah, meskipun sebagian ulama berpendapat bahwa surat ini turun di Madinah karena turun beriringan dengan Surat Al-Falaq. Nama "An-Nas" sendiri berarti "manusia", yang diulang beberapa kali dalam surat ini sebagai penegasan bahwa manusia adalah objek perlindungan sekaligus subjek yang membutuhkan pertolongan Allah.
Surat An-Nas bersama Surat Al-Falaq dikenal sebagai Al-Mu'awwidzatain, yakni dua surat yang digunakan untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT dari segala kejahatan makhluk. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa tiga ayat pertama Surat An-Nas merupakan bagian dari sifat-sifat Allah SWT, yaitu sifat Rububiyah (Tuhan), sifat Al-Mulk (Raja), dan sifat Uluhiyyah (Yang disembah).
Bacaan Surat An-Nas Ayat 1-6: Arab, Latin, dan Artinya
Berikut adalah teks lengkap Surat An-Nas ayat 1-6 beserta transliterasi dan terjemahannya:
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (١)
Latin: Qul a'ūżu birabbin-nās
Artinya: "Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Aku berlindung kepada Tuhan manusia'"
مَلِكِ النَّاسِ (٢)
Latin: Malikin-nās
Artinya: "Raja manusia"
إِلَٰهِ النَّاسِ (٣)
Latin: Ilāhin-nās
Artinya: "Sembahan manusia"
مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (٤)
Latin: Min syarril-waswāsil-khannās
Artinya: "Dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi"
الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (٥)
Latin: Allażī yuwaswisu fī ṣudūrin-nās
Artinya: "Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia"
مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (٦)
Latin: Minal-jinnati wan-nās
Artinya: "Dari (golongan) jin dan manusia"
Tafsir Surat An-Nas Ayat 1-6
Ayat 1: "Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Tuhan manusia'"
Pada ayat pertama, Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW dan seluruh umatnya agar memohon perlindungan kepada Allah yang menciptakan, menjaga, menumbuhkan, mengembangkan, dan menjaga kelangsungan hidup manusia dengan nikmat dan kasih sayang-Nya.
Kata Rabb di sini bermakna Tuhan yang memelihara dan menguasai, yang senantiasa mengurus dan mendidik hamba-hamba-Nya. Ini adalah pengakuan bahwa hanya Allah-lah tempat berlindung yang sesungguhnya.
Ayat 2: "Raja manusia"
Allah menjelaskan bahwa Dia adalah Raja manusia, yang mengatur semua urusan mereka, dan Dia Mahakaya sehingga tidak membutuhkan manusia. Dalam ayat ini, Allah menegaskan bahwa Dia adalah yang memiliki dan yang mengatur semua syariat, yang membuat undang-undang, peraturan-peraturan, dan hukum-hukum agama.
Barang siapa yang mematuhinya akan berbahagia hidup di dunia dan di akhirat. Sifat Malik (Raja) menunjukkan kekuasaan mutlak Allah atas seluruh alam semesta.
Ayat 3: "Sembahan manusia"
Allah menambah penjelasan bahwa Dia adalah yang menguasai jiwa manusia dengan kebesaran-Nya. Manusia tidak mengetahui kekuasaan Allah secara keseluruhan dan mereka tunduk kepada-Nya dengan sepenuh hati.
Hanya manusia yang memiliki akal akan menyadari bahwa hanya kepada Allah mereka harus tunduk dan hanya Dia saja yang berhak untuk disembah. Sifat Ilah (Sembahan) menegaskan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.
Ayat 4: "Dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi"
Allah memerintahkan manusia untuk berlindung dari kejahatan bisikan setan yang bersembunyi (al-khannās). Setan disebut khannās karena ia selalu bersembunyi dan mundur ketika manusia mengingat Allah (berzikir), namun kembali lagi ketika manusia lalai. Ini menunjukkan betapa liciknya setan dalam menggoda manusia.
Ayat 5: "Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia"
Setan menyebarkan keburukan dan keraguan ke dalam dada manusia. Bisikan ini masuk ke dalam hati dan pikiran manusia, menimbulkan was-was, keraguan, dan godaan untuk berbuat dosa. Setan selalu berusaha menghiasi perbuatan-perbuatan buruk hingga kelihatan baik di mata manusia.
Ayat 6: "Dari (golongan) jin dan manusia"
Allah menegaskan bahwa godaan dapat berasal dari dua sumber: jin dan manusia. Setan dari golongan jin tidak terlihat, sedangkan setan dari golongan manusia dapat terlihat dan sering kali lebih berbahaya. Kata (min) pada awal ayat ini mengandung makna "sebagian", karena tidak semua manusia dan jin melakukan bisikan-bisikan negatif.
Ada setan manusia dan setan jin yang sama-sama menggoda dan mengajak kepada kemaksiatan. Secara utuh, Surat An-Nas mengingatkan manusia akan musuh-musuhnya dan mendorong untuk memohon perlindungan kepada Allah.
Asbabun Nuzul Surat An-Nas
Asbabun nuzul atau sebab turunnya Surat An-Nas berkaitan erat dengan peristiwa sakitnya Rasulullah SAW akibat sihir. Dalam kitab Lubabun Nuqul fii Asbabin Nuzul karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi, diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW pernah menderita sakit parah.
Dikisahkan bahwa datanglah dua malaikat, yang satu duduk di samping kepala beliau dan yang satunya lagi duduk di samping kaki beliau. Malaikat yang duduk di samping kaki Rasulullah kemudian bertanya kepada malaikat yang duduk di samping kepala beliau, "Apa yang dapat engkau lihat?" Malaikat itu menjawab, "Beliau terkena guna-guna." "Guna-guna itu apa?" tanya malaikat yang lain. "Guna-guna itu sihir," jawabnya.
Peristiwa inilah yang menjadi latar belakang turunnya Surat Al-Falaq dan Surat An-Nas sebagai dua surat perlindungan (Al-Mu'awwidzatain) yang diajarkan Allah kepada Rasulullah SAW untuk memohon perlindungan dari sihir dan segala kejahatan. Mayoritas ulama berpendapat bahwa kedua surat ini turun di Mekkah (Makkiyah), meskipun ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa surat ini adalah Madaniyah karena turun beriringan dengan Surat Al-Falaq.
Manfaat Membaca Surat An-Nas Ayat 1-6
1. Perlindungan dari Godaan Setan dan Bisikan Jahat
Manfaat utama membaca Surat An-Nas adalah sebagai benteng perlindungan dari godaan setan yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia. Setan selalu berusaha menggoda manusia melalui bisikan was-was dan keraguan, dan Surat An-Nas adalah senjata ampuh untuk menangkalnya.
2. Perlindungan dari Sihir dan Guna-Guna
Surat An-Nas bersama Surat Al-Falaq turun sebagai obat dari sihir yang menimpa Rasulullah SAW. Kedua surat ini menjadi doa perlindungan dari sihir dan segala bentuk gangguan gaib. Membaca keduanya secara rutin diyakini dapat melindungi diri dari pengaruh sihir dan guna-guna.
3. Menenangkan Hati dan Pikiran
Membaca Surat An-Nas dapat menenangkan hati dan pikiran dari rasa takut atau was-was. Ketika seseorang merasa cemas, gelisah, atau takut, membaca surat ini dengan penuh keyakinan akan mengembalikan ketenangan karena ia sadar bahwa Allah adalah pelindung yang sejati.
4. Bagian dari Al-Mu'awwidzatain (Dua Surat Perlindungan)
Surat An-Nas bersama Surat Al-Falaq merupakan Al-Mu'awwidzatain yang sangat dianjurkan untuk dibaca, terutama sebelum tidur dan setelah salat. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk membaca kedua surat ini sebagai benteng perlindungan dari segala kejahatan.
5. Termasuk dalam Al-Mufashshal yang Diberikan kepada Nabi
Surat An-Nas termasuk dalam Al-Mufashshal, yaitu kumpulan surat-surat pendek yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai keistimewaan dibandingkan nabi-nabi sebelumnya. Keutamaan ini menambah kemuliaan surat ini di sisi Allah.
6. Penutup Al-Qur'an yang Sempurna
Sebagai surat terakhir dalam mushaf Al-Qur'an, Surat An-Nas menjadi penutup yang sempurna bagi firman Allah. Kandungannya yang mengajarkan perlindungan kepada Allah dari segala kejahatan merupakan pesan akhir yang sangat bermakna bagi seluruh umat manusia.
Pertanyaan Terkait Surat An-Nas Ayat 1-6
1. Apa arti Surat An-Nas secara keseluruhan?
Surat An-Nas secara keseluruhan berisi perintah kepada manusia untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT dari segala macam kejahatan, baik yang berasal dari jin maupun manusia. Surat ini mengajarkan bahwa Allah adalah Rabb (Tuhan Pemelihara), Malik (Raja/Penguasa), dan Ilah (Tuhan yang Berhak Disembah) bagi seluruh manusia. Perlindungan dimohonkan secara spesifik dari kejahatan bisikan setan yang bersembunyi dan membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia.
2. Mengapa Surat An-Nas dan Al-Falaq disebut Al-Mu'awwidzatain?
Surat An-Nas dan Al-Falaq disebut Al-Mu'awwidzatain karena kedua surat ini berisi permohonan perlindungan (ta'awwudz) kepada Allah SWT. Kedua surat ini turun bersamaan sebagai obat dari sihir yang menimpa Rasulullah SAW. Al-Mu'awwidzatain artinya "dua surat perlindungan" yang sangat dianjurkan untuk dibaca sebagai benteng dari segala kejahatan.
3. Siapa yang dimaksud dengan al-waswas al-khannas dalam Surat An-Nas?
Al-Waswas al-Khannas adalah setan yang membisikkan was-was dan kejahatan ke dalam hati manusia. Setan disebut khannas (yang bersembunyi) karena ia selalu mundur dan bersembunyi ketika manusia mengingat Allah (berzikir), namun kembali lagi ketika manusia lalai. Setan ini tidak pernah berhenti menggoda manusia melalui bisikan-bisikan halus yang masuk ke dalam dada.
4. Apa perbedaan setan dari jin dan setan dari manusia?
Setan dari jin adalah makhluk halus yang tidak terlihat mata, sedangkan setan dari manusia adalah manusia yang memiliki sifat-sifat setan dan menggoda orang lain menuju kejahatan. Keduanya sama-sama membisikkan kejahatan dan mengajak kepada kemaksiatan. Tidak semua jin dan manusia adalah setan, karena kata (min) dalam ayat ini berarti "sebagian".
5. Kapan waktu terbaik membaca Surat An-Nas?
Surat An-Nas sangat dianjurkan untuk dibaca setiap saat, terutama sebelum tidur, setelah salat fardhu, dan sebagai ruqyah (pengobatan). Bersama Surat Al-Falaq dan Al-Ikhlas, Surat An-Nas sering dibaca dalam rangka memohon perlindungan Allah dari segala kejahatan. Imam Al-Ghazali menganjurkan pembacaan Surat An-Nas untuk berlindung dari bisikan setan dengan menghadirkan hati saat membacanya.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4374139/original/096709100_1679981555-pexels-alena-darmel-8164742.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3108176/original/099514400_1587459746-close-up-of-text-on-paper-318451__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5134162/original/012917000_1739593072-1739590048291_arti-doa-sholat-dhuha.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5396547/original/062855300_1761739604-Bepergian.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010958/original/004782000_1651214800-20220429-Itikaf-Lailatul-Qadar-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535602/original/003835300_1774065308-0L5A1309.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5382022/original/048339900_1760524874-Sholawat_dan_Berdzikir.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5423024/original/045605200_1764051067-Membaca_ayat_suci_al_quran__pexels_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5278961/original/000621400_1752123975-WhatsApp_Image_2025-07-10_at_12.01.04_PM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4735779/original/010114200_1707186914-elizabeth-lies-PIQCA1ReSgU-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8627020/original/000666700_1782622344-aoun-abbas-97o4XH0htUs-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8627023/original/022700000_1782622344-masjid-pogung-dalangan-GGtHPUYx6oI-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5755785/original/001679200_1778657765-andri-helmansyah-dzX6fui33UA-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3133009/original/069410900_1589908304-3482876.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5220347/original/094913800_1747281277-41961081_8976420.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5550896/original/089873500_1775711382-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-09T120454.556.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5382328/original/091326000_1760578848-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-10-15T134632.180.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5380783/original/022608800_1760432989-Ilustrasi_Qunut.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4697748/original/031327300_1703490526-20231225-Taman-Margasatwa-Ragunan-Herman-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2806807/original/084266200_1557976563-IMG-20190507-WA0082.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5640995/original/044596400_1778245881-haj1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6363680/original/024922800_1779238711-Tugas__15_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1336024/original/066771100_1472887334-20160903-Idul-Adha-Jakarta-Qurban-YR3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4725886/original/008571900_1706156981-madrosah-sunnah-XvJYidRmpUE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4081826/original/095015200_1657181935-eid-al-adha-g4b5ad3a7d_1920.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5215229/original/033266000_1746799361-4ff83da7-1538-4742-9157-6cfce7cd7661.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1336023/original/016338800_1472887334-20160903-Idul-Adha-Jakarta-Qurban-YR2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5575202/original/003079900_1778040737-WhatsApp_Image_2026-05-06_at_10.48.40_AM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3081754/original/022995900_1584692954-20200320-Suasana-Salat-Jumat-di--Masjid-Agung-Al-Azhar-Jakarta-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4864490/original/019606900_1718432505-Khusyuk_Wukuf_Jemaah_Haji_di_Padang_Arafah-AP__6_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4003293/original/062384100_1650614701-ibrahim-uz-3Z3RvzpVAqM-unsplash.jpg)