3 Ayat Al-Qur'an tentang Larangan Berputus Asa dari Rahmat Allah, Membangun Optimisme

2 days ago 18

Liputan6.com, Jakarta - Dalam kehidupan modern yang penuh tekanan, rasa putus asa seringkali menghantui individu, bahkan berujung pada tindakan ekstrem seperti depresi dan bunuh diri. Namun ayat Al-Qur’an tentang larangan berputus asa dari rahmat Allah bisa menjadi penguat spiritual sekaligus i'tibar agar lebih optimis bahwa rahmat Allah Maha Luas. 

Islam, sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin, menawarkan solusi mendasar melalui ajaran optimisme dan larangan keras terhadap keputusasaan. Al-Qur’an, sebagai pedoman hidup, berulang kali menegaskan bahwa berputus asa dari rahmat Allah merupakan sikap yang tercela dan hanya dimiliki oleh orang-orang yang kafir.

Dari jurnal Optimisme dan Larangan Berputus Asa dalam Tafsir Al-Azhar: Telaah Tematik atas Ajaran Islam dalam Kehidupan Modern karya Wais Al Qurni dkk. kita dapat menggali penafsiran humanis dan kontekstual dari Buya Hamka terhadap ayat-ayat tentang larangan berputus asa.

Artikel Liputan6.com ini akan memaparkan ayat-ayat tersebut, yang tidak hanya menekankan aspek teologis, tetapi juga psikologis dan sosial. Berikut ini adalah ayat Al-Qur’an tentang larangan berputus asa dari rahmat Allah.

Ayat Al-Qur’an tentang Larangan Berputus Asa dari Rahmat Allah

1. Surah Yusuf Ayat 87

Ayat ini menunjukkan keteladanan Nabi Ya‘qub dalam memimpin keluarga dengan optimisme spiritual. Perintah "jangan berputus asa" adalah modal keyakinan bahwa rahmat Allah bersifat mutlak, melampaui keadaan duniawi. Seorang beriman harus yakin bahwa kasih sayang Allah pasti datang, meski dalam situasi paling sulit sekalipun.

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْئَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Artinya: “Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya, dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang kafir.” (QS. Yusuf: 87)

Penjelasan Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar:Ayat ini menceritakan Nabi Ya‘qub yang memerintahkan anak-anaknya untuk mencari Yusuf dan Bunyamin dengan penuh keyakinan bahwa keduanya masih hidup.

Buya Hamka menegaskan bahwa perintah “jangan berputus asa dari rahmat Allah” adalah pegangan spiritual yang diberikan seorang ayah (pemimpin) kepada keluarganya. Beliau menekankan bahwa rahmat Allah tidak terbatas pada yang tampak di dunia, tetapi lebih luas lagi di akhirat. Dengan demikian, orang beriman harus senantiasa optimis dan tidak putus asa dalam situasi apa pun, karena Allah pasti memberikan kasih sayang-Nya kepada hamba yang beriman.

Buya Hamka menekankan bahwa ayat ini mengandung pelajaran kepemimpinan spiritual. Nabi Ya'qub sebagai ayah dan pemimpin keluarga memberikan "pegangan spiritual" kepada anak-anaknya. Menurut Hamka, "rauh Allah" (روح الله) dalam ayat ini berarti "rahmat Allah yang menghidupkan hati dan memberikan jalan keluar".

Beliau menulis:

"Perintah 'jangan berputus asa' adalah modal dasar seorang mukmin. Nabi Ya'qub mengajarkan bahwa selama masih ada iman, selama itu pula harapan tidak boleh padam. Putus asa adalah pengakuan bahwa kita lebih tahu daripada Allah tentang akhir suatu perkara." (Tafsir Al-Azhar Jilid 12, hlm. 89).

2. Surah Az-Zumar Ayat 53

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53)

Ayat ini merupakan seruan Allah kepada hamba yang berdosa agar tidak putus asa dari ampunan-Nya yang maha luas. Menurut riwayat Ibnu Abbas, ayat ini turun sebagai respons terhadap sekelompok orang yang merasa dosanya terlalu besar sehingga mengira Allah tidak akan mengampuni mereka. Ayat ini merupakan "jaminan pengampunan" langsung dari Allah.

Buya Hamka menyebut ayat ini sebagai “panggilan untuk pulang” – seruan bagi mereka yang tersesat dan merasa dosanya terlalu besar. Beliau menggambarkan rahmat Allah bagaikan samudra yang luas, sedangkan dosa manusia hanya sebutir pasir yang akan lenyap diterpa ampunan-Nya.

Dengan demikian, sebesar apa pun kesalahan, selama ada keinginan untuk bertobat, seseorang tidak boleh putus asa. Optimisme akan ampunan Allah harus tetap menyala, karena itulah tanda keimanan.

3. Surah Al-Hijr Ayat 56

قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ

Artinya: (Ibrahim) berkata, “Dan tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat.” (QS. Al-Hijr: 56).

Ayat ini adalah respons Nabi Ibrahim ketika malaikat menyampaikan kabar gembira tentang kelahiran Ishak. Ibrahim yang sudah tua dan istrinya mandul, justru bertanya: "Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut?" (QS. Al-Hijr: 54). Ayat ini adalah jawaban terhadap keraguan tersebut.

Buya Hamka dalam berbagai karyanya menegaskan bahwa putus asa adalah ciri orang yang jauh dari hidayah. Iman sejati akan selalu disertai harapan, karena Allah tidak pernah menutup pintu rahmat bagi hamba-Nya yang berusaha.

Hamka dalam karya-karyanya lain menegaskan bahwa ayat ini menunjukkan sifat dasar orang beriman. Menurutnya, Nabi Ibrahim mewakili kepribadian mukmin sejati yang:

  • Mengakui keterbatasan diri ("usia telah lanjut")
  • Tetap percaya kemungkinan (menerima kabar gembira)
  • Mendefinisikan putus asa sebagai kesesatan

Alasan Kenapa Muslim Dilarang Putus Asa, Perspektif Tafsir Al-Azhar

Berdasarkan penafsiran Buya Hamka, larangan berputus asa dari rahmat Allah didasarkan pada beberapa prinsip:

1. Rahmat Allah Maha Luas 

Tidak terbatas oleh ruang dan waktu, meliputi dunia dan akhirat.

2. Iman sebagai Pondasi 

Putus asa adalah tanda lemahnya iman, sedangkan optimisme adalah buah dari keyakinan yang kuat.

3. Konsekuensi Sosial-Psikologis 

Putus asa dapat melumpuhkan semangat hidup, menghambat kreativitas, dan berpotensi merusak tatanan sosial.

4. Spiritual Resilience

Dengan tidak putus asa, seorang Muslim mengembangkan ketahanan spiritual yang membantunya menghadapi ujian hidup.

Kiat-Kiat Mencegah Putus Asa Menurut Tafsir Al-Azhar

Buya Hamka tidak hanya menjelaskan larangan, tetapi juga memberikan solusi praktis:

1. Memperkuat Iman dan Keyakinan

Iman yang kokoh menjadi benteng dari keputusasaan.

2. Bertawakal setelah Berikhtiar

Usaha maksimal diikuti dengan penyerahan diri kepada Allah.

3. Belajar dari Kisah Para Nabi

Keteladanan Nabi Yusuf, Ayub, Zakariya, dan Musa menunjukkan bahwa kesabaran dan optimisme akhirnya membawa kemenangan.

4. Konsisten Menjaga Hati

Menjaga pikiran dan hati dari prasangka buruk terhadap takdir Allah.

Hikmah Ayat-Ayat Al-Qur'an tentang Larangan Berputus Asa dari Rahmat Allah

1. Membangun Ketahanan Mental dengan Iman

Larangan putus asa berfungsi sebagai spiritual shield (perisai spiritual) yang melindungi dari depresi dan keputusasaan. Dengan berpegang pada keyakinan bahwa rahmat Allah tak terbatas, individu mengembangkan faith-based resilience (ketahanan berbasis iman) yang lebih kuat daripada optimisme sekuler semata.

2. Mengokohkan Konsep Tuhan Maha Pengasih

Ayat-ayat ini menegaskan bahwa sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim Allah bersifat absolut dan tak terkondisi. Putus asa berarti meragukan atau membatasi sifat pengasih Allah, sementara larangan ini menguatkan keyakinan bahwa rahmat Allah melampaui segala dosa dan keterbatasan manusia.

3. Menciptakan Masyarakat Saling Mendukung

Larangan ini mendorong terbentuknya community of hope (komunitas pengharapan) di mana anggota masyarakat saling mengingatkan dan menguatkan. Sikap optimis kolektif mencegah isolasi sosial dan menciptakan safety net (jaring pengaman) emosional-spiritual dalam menghadapi krisis.

4. Menjaga Etos dan Produktivitas

Dengan melarang putus asa, Islam menjaga momentum produktivitas dan inovasi. Kegagalan dilihat sebagai proses belajar, bukan akhir perjalanan. Ini menciptakan growth mindset (pola pikir berkembang) yang mendorang perbaikan terus-menerus tanpa takut gagal.

5. Mencegah Keputusan Destruktif

Ayat-ayat ini berfungsi sebagai spiritual intervention (intervensi spiritual) yang mencegah tindakan destruktif seperti bunuh diri atau keputusan berbahaya lain. Dengan memberikan perspektif transenden, individu menemukan makna dalam kesulitan dan memilih solusi konstruktif.

People also Ask:

Qs az-zumar ayat 53 menjelaskan tentang apa?

Isi kandungan utama Surat Az-Zumar ayat 53 adalah seruan kepada seluruh manusia, terutama yang berbuat dosa, agar tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT, karena Allah Maha Pengampun dan akan mengampuni semua dosa (kecuali syirik) jika mereka bertobat, memohon ampunan, serta kembali kepada-Nya dengan penuh harapan dan optimisme. Ayat ini menekankan luasnya ampunan dan kasih sayang Allah, mengajak untuk bertaubat, dan menjadi motivasi untuk terus berbuat baik serta memperbaiki diri.

Qs Yusuf ayat 87 tentang apa?

Surat Yusuf ayat 87 berisi perintah dari Nabi Ya'qub kepada anak-anaknya untuk mencari berita tentang Yusuf dan Bunyamin, serta pesan penting untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah, karena hanya orang kafir yang berputus asa dari rahmat-Nya, menekankan pentingnya harapan, keyakinan, dan usaha dalam mencari kebenaran.

Jangan putus asa dari rahmat Allah surat apa?

Allah SWT berfirman dalam Q.S. Az-Zumar ayat 53: "Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.

Surat Yusuf ayat 28 apa artinya?

Surat Yusuf ayat 28 artinya adalah saat suami wanita (Al-Aziz) melihat baju Yusuf koyak di belakang, ia berkata, "Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu dayamu adalah besar," yang menunjukkan pengakuan atas kehebatan tipu daya wanita dalam kasus tersebut, serta menjadi titik balik terungkapnya kebenaran fitnah terhadap Nabi Yusuf.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |