6 Hadist tentang Pentingnya Menjaga Lisan dan Perbuatan, Simak Penjelasannya

15 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Lisan (lidah) adalah karunia Allah SWT yang sangat vital bagi manusia. Ia menjadi alat komunikasi, penyampai ilmu, dan media beribadah. Namun, di balik manfaatnya, lisan juga menyimpan potensi bahaya besar jika tidak dijaga. Oleh karena itu, umat Islam perlu memahami hadist tentang pentingnya menjaga lisan dan perbuatan.

Rasulullah SAW bersabda bahwa keselamatan seorang muslim banyak tergantung pada kemampuannya mengendalikan perkataan.

Dalam kajian Jurnal Perintah Menjaga Lisan dalam Perspektif Hadis, oleh Gery Hummamul Hafid dan Muflihah, dijelaskan menjaga lisan tidak hanya mencakup perkataan, tetapi juga berkaitan erat dengan perbuatan, karena ucapan seringkali menjadi cerminan niat dan tindakan. Studi ini juga mengkaji hadis-hadis terkait menjaga lisan melalui pendekatan takhrij dan syarah untuk memastikan keabsahan dan memahami konteks pengamalannya.

Berikut ini adalah hadis-hadis pentingnya menjaga lisan dan perbuatan.

Hadis 1: Ancaman Perkataan yang Dianggap Remeh

وَحَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ السَّمَّانِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ: إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا فِي الْجَنَّةِ

Artinya: “Telah menceritakan kepadaku Malik dari Abdullah bin Dinar dari Abu Shalih as-Samman, dia mengabarkan kepadanya bahwa Abu Hurairah berkata: ‘Sungguh, seseorang mengucapkan suatu kalimat yang ia anggap remeh, tetapi justru membuatnya terjatuh ke dalam neraka Jahannam. Dan sungguh, seseorang mengucapkan suatu kalimat yang ia anggap remeh, tetapi justru mengangkat derajatnya ke surga.’”Status Hadis:Berdasarkan takhrij yang dilakukan peneliti, hadis ini memiliki kualitas shahih. Sanadnya bersambung (muttashil) dan seluruh perawinya dinilai tsiqah (terpercaya) oleh ulama jarh wa ta'dil seperti Ibnu Hajar al-Asqalani, adz-Dzahabi, dan lainnya.

Imam an-Nawawi dalam Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadis ini menjadi peringatan agar setiap muslim berhati-hati dalam berbicara, karena satu kalimat baik dapat membawa pahala besar, dan satu kalimat buruk dapat menjerumuskan ke neraka.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-Ulum wa al-Hikam menekankan bahwa “meremehkan” di sini berarti tidak menyadari konsekuensi perkataan di hadapan Allah.

Hadis 2: Menjaga Lisan sebagai Jalan Menuju Surga

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ، قَالَ: لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْ عَظِيمٍ، وَإِنَّهُ لَيَسِيرٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ: تَعْبُدُ اللَّهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ، وَتَحُجُّ الْبَيْتَ. ثُمَّ قَالَ: أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ، وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ، وَصَلَاةُ الرَّجُلِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ. ثُمَّ تَلَا: {تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ} [السجدة: 16]، ثُمَّ قَالَ: أَلَا أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الْأَمْرِ وَعَمُودِهِ وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ، وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ. ثُمَّ قَالَ: أَلَا أُخْبِرُكَ بِمَلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ وَقَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا. قُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ فَقَالَ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟

Artinya: Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata: “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, beritahukan aku tentang amalan yang dapat memasukkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka.’ Beliau bersabda: ‘Engkau telah menanyakan sesuatu yang sangat penting, dan sungguh itu mudah bagi orang yang dimudahkan Allah: Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah.’ Kemudian beliau bersabda: ‘Maukah kuberitahukan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, sedekah memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalatnya seseorang di tengah malam.’ Kemudian beliau membaca: ‘Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya...’ (QS. As-Sajdah: 16). Kemudian beliau bersabda: ‘Maukah kuberitahukan kepadamu tentang pokok urusan, tiangnya, dan puncaknya?’ Aku jawab: ‘Tentu, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda: ‘Pokok urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.’ Kemudian beliau bersabda: ‘Maukah kuberitahukan kepadamu tentang kunci semua itu?’ Aku jawab: ‘Tentu, wahai Rasulullah.’ Maka beliau memegang lisannya dan bersabda: ‘Jagalah ini!’ Aku bertanya: ‘Wahai Nabi Allah, apakah kita akan dihukum karena apa yang kita ucapkan?’ Beliau menjawab: ‘Celaka engkau! Tidaklah manusia tersungkur di neraka di atas wajah mereka atau di atas hidung mereka melainkan karena hasil panen lidah mereka.’” (HR. At-Tirmidzi, no. 2616)Status Hadis:Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dinilai hasan shahih oleh beberapa ulama.

Imam At-Tirmidzi dalam Sunan at-Tirmidzi menyatakan bahwa hadis ini hasan shahih dan menjadi dalil bahwa menjaga lisan adalah kunci keselamatan amal.

Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi menjelaskan bahwa “hasil panen lidah” (hashaid alsinah) adalah metafora untuk segala ucapan buruk seperti ghibah, fitnah, dusta, dan perkataan sia-sia yang akan menuai siksa di akhirat.

3. Menjaga Lisan untuk Keselamatan Manusia

Dengan menjaga lisan, keselamatan manusia akan terjamin. Hal ini telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW pada salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Dalam hadis tersebut menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

سلامة الإنسان في حفظ اللسان

Artinya: "Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan." (HR. Bukhari).

Berdasarkan hadis di atas, dapat disimpulkan bahwa menjaga lisan penting untuk dilakukan demi menjaga keselamatan dari seluruh umat manusia.

4. Perintah Berkata Baik bagi Orang Beriman

Dalam hadis yang disanadkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW pernah bersabda untuk memerintahkan orang-orang yang beriman agar senantiasa berkata baik atau menjaga lisannya (diam).

Artinya, dengan menjaga lisan serta berkata baik dapat meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Berikut bunyi dari hadis tersebut:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

Artinya: "Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam; barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya; barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya."(HR. Bukhari dan Muslim).

5. Menjaga Lisan Dapat Terhindar dari Api Neraka

Pada hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ، يَنْزِلُ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

Artinya: "Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kalimat tanpa dipikirkan terlebih dahulu, dan karenanya dia terjatuh ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat." (HR. Muslim )

Hadis di atas menerangkan bahwa jika seseorang berbicara tanpa memikirkan apa yang hendak ia katakan, ia akan terjerumus ke dalam neraka.

Untuk menghindari hal ini, umat Islam tentunya dianjurkan untuk senantiasa menjaga lisannya agar terhindar dari api neraka.

6. Menjaga Lisan Dapat Jaminan Masuk Surga

Rasulullah SAW pernah menjelaskan bahwa apabila seseorang bisa menjaga lisan serta kemaluannya, maka orang tersebut akan memperoleh jaminan untuk masuk ke surga.

Adapun hadis yang menjelaskan hal ini ialah sebagai berikut:

مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

Artinya: "Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya (mulut) dan dua kakinya (kemaluan), maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga". (HR. Bukhari).

People Also Ask:

1. Menyelamatkan dari Siksa Neraka & Meraih Surga

Setiap ucapan dan perbuatan memiliki konsekuensi akhirat. Hadis Abu Hurairah (Muwatha' Malik No. 1563) menegaskan bahwa satu kalimat yang dianggap remeh bisa menjerumuskan ke neraka atau mengangkat ke surga. Hikmahnya, dengan menjaga lisan dan tindakan, seseorang secara langsung mengamankan dirinya dari azab dan membuka pintu menuju rahmat Allah.

2. Menjaga Keselamatan dan Kehormatan Diri

Lisan yang tidak terkendali ibarat pedang bermata dua—bisa melukai orang lain dan juga diri sendiri. Ghibah, fitnah, dan adu domba akan kembali merugikan pelakunya di dunia (seperti permusuhan, kehilangan kepercayaan) dan di akhirat. Dengan diam atau berkata baik, seseorang melindungi kehormatan dan harga dirinya.

3. Menguatkan dan Memurnikan Iman

Menjaga lisan adalah bukti nyata dan buah dari keimanan. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa kunci segala kebaikan amal adalah menjaga lisan (HR. Tirmidzi). Hikmahnya, pengendalian ucapan dan perbuatan menjadi indikator kesehatan iman seseorang—iman yang kuat akan menghasilkan tutur kata dan tindakan yang terpuji.

4. Menciptakan Kedamaian Sosial dan Menjauhkan Kerusakan

Banyak konflik sosial—seperti tawuran, permusuhan antarwarga, hingga perpecahan di level elite—berawal dari ucapan provokatif, fitnah, atau ghibah. Dengan menjaga lisan, seseorang berkontribusi pada terciptanya ketenteraman masyarakat, menjaga ukhuwah, dan mencegah tersebarnya keburukan.

5. Mendapatkan Derajat Tinggi di Sisi Allah & Manusia

Orang yang mampu menahan lidahnya dari keburukan dan mengisinya dengan dzikir, nasihat, atau kata-kata yang bermanfaat, akan diangkat derajatnya oleh Allah. Di dunia, ia juga akan dihormati dan dipercaya sebagai pribadi yang dapat menahan diri dan bijak dalam bersikap.

People also Ask:

Apa hadis tentang menjaga lisan?

Hadis mengenai perintah menjaga lisan ini sangat melimpah. Antara lain hadis riwayat Ibnu Majah, Nabi Saw. bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah Swt. dan hari akhir, hendaknya mengatakan perkataan yang baik atau lebih baik diam” (Saltanera, 2015).

Ayat al-Qur'an manakah yang berisi perintah Allah SWT terkait memelihara lisan?

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar” [Al-Ahzab : 70-71].

Bukankah manusia diseret ke neraka di atas wajah mereka disebabkan oleh hasil ucapan lisan mereka?

Tidaklah manusia tersungkur di neraka di atas wajah atau di atas hidung mereka melainkan dengan sebab lisan mereka. '” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih). [HR. Tirmidzi, no. 2616 dan Ibnu Majah, no. 3973. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan hadits ini hasan].

Apa hadits tentang menjaga kebersihan?

Hadits tentang kebersihan sangat banyak dan menekankan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman (الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ), yang berarti kebersihan fisik merupakan cerminan keimanan spiritual seseorang, mencakup diri, pakaian, lingkungan, dan tempat ibadah. Rasulullah SAW juga bersabda, "Sesungguhnya Allah itu baik dan menyukai kebaikan, bersih dan menyukai kebersihan... karena itu bersihkanlah lingkunganmu," mendorong kebersihan sebagai bagian dari ibadah dan akhlak terpuji.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |