Liputan6.com, Jakarta - Konflik sosial merupakan fenomena yang tak terhindarkan dalam kehidupan masyarakat heterogen. Maka itu penting bagi umat Islam untuk mengetahui adab islami menghadapi konflik sosial di lingkungan sekitar.
Merujuk jurnal Peran agama dalam mengatasi konflik sosial yang terjadi di masyarakat oleh Mahmudatun Fudhla, perbedaan pandangan, kepentingan, ekonomi, keyakinan, dan nilai seringkali memicu ketegangan yang dapat mengganggu harmoni sosial.
Dalam perspektif Islam, konflik tidak hanya dilihat sebagai persoalan horizontal antarmanusia, tetapi juga menyangkut hubungan vertikal dengan Allah SWT. Oleh karena itu, agama Islam menawarkan seperangkat adab dan prinsip yang dapat digunakan untuk mengelola dan menyelesaikan konflik secara bijaksana dan berkeadilan.
Artikel Liputan6.com ini akan menguraikan adab Islami dalam menghadapi konflik sosial, dilengkapi dengan dalil-dalil Al-Qur’an, hadis, serta penjelasan dari para ulama, sebagai panduan praktis bagi masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang damai dan inklusif.
1. Mengedepankan Dialog dan Musyawarah (Asy-Syūrā)
Islam sangat menganjurkan penyelesaian konflik melalui dialog dan musyawarah. Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran (3): 159:
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.”Ayat ini menekankan pentingnya sikap lemah lembut dan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan, termasuk konflik. Rasulullah SAW diperintahkan untuk bermusyawarah dengan sahabat meski beliau seorang nabi, menunjukkan bahwa dialog adalah metode yang diajarkan Islam.
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan pentingnya sikap lemah lembut dan keterbukaan dalam bermusyawarah, bahkan dengan pihak yang berbeda pendapat. Dialog yang konstruktif dapat meredam emosi dan membuka jalan bagi solusi bersama.
2. Menjaga Sikap Adil (Al-‘Adl)
Keadilan adalah prinsip utama dalam Islam, termasuk dalam menyelesaikan konflik. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa’ (4): 135:
Ayat ini memerintahkan keadilan tanpa memandang hubungan pribadi atau kelompok. Dalam konflik, keadilan harus ditegakkan secara objektif agar tidak timbul rasa tidak diterima oleh salah satu pihak.
Syekh Muhammad Abduh dalam Tafsir Al-Manar menekankan bahwa keadilan harus ditegakkan tanpa memandang latar belakang, termasuk dalam konflik sosial. Keadilan mencegah diskriminasi dan memastikan semua pihak diperlakukan setara.
3. Menebar Salam dan Menjalin Silaturahmi
Islam mengajarkan bahwa salam adalah simbol perdamaian dan cinta sesama muslim. Dalam konflik, mengucapkan salam dapat mengurangi jarak dan memulai komunikasi yang positif.
Rasulullah SAW bersabda:
“Kamu tidak akan masuk surga hingga kamu beriman, dan kamu tidak beriman hingga kamu saling mencintai. Maukah kuberitahukan sesuatu yang jika kamu lakukan akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kamu.” (HR. Muslim).Imam An-Nawawi dalam Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa salam adalah simbol perdamaian dan pengikat persaudaraan. Dalam konflik, mengawali interaksi dengan salam dapat meredakan ketegangan dan membuka pintu rekonsiliasi.
4. Menghindari Prasangka dan Mencari Bukti (At-Tabayyun)
Islam mengajarkan bahwa salam adalah simbol perdamaian dan cinta sesama muslim. Dalam konflik, mengucapkan salam dapat mengurangi jarak dan memulai komunikasi yang positif.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat (49): 6:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu.”Ibnu Katsir dalam tafsirnya menegaskan pentingnya verifikasi informasi sebelum mengambil tindakan, terutama dalam situasi konflik. Prasangka buruk (su’uzhan) dapat memperkeruh situasi, sementara tabayyun (klarifikasi) membantu mencegah kesalahpahaman.
5. Mengutamakan Rekonsiliasi (Ishlah)
Islam mendorong ishlah (perdamaian) sebagai solusi terbaik. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat (49): 9:
“Dan jika ada dua golongan orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya.”Ayat ini memerintahkan umat Islam untuk mendamaikan pihak yang berselisih. Ishlah (rekonsiliasi) lebih diutamakan daripada membiarkan konflik berlanjut.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyatakan bahwa ishlah lebih utama daripada membiarkan permusuhan berkepanjangan. Tokoh agama atau pihak ketiga yang netral dapat berperan sebagai mediator untuk mendamaikan pihak yang berselisih.
6. Bersikap Pemaaf dan Menahan Amarah
Rasulullah SAW bersabda: “Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menggambarkan kekuatan sejati adalah kemampuan mengendalikan emosi. Dalam konflik, kemampuan menahan amarah dapat mencegah eskalasi dan membuka jalan penyelesaian yang lebih tenang.
Syekh Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa menahan amarah dan memaafkan adalah ciri ketakwaan yang dapat meredam konflik. Sikap pemaaf membuka jalan bagi penyelesaian yang lebih manusiawi.
7. Pendidikan dan Sosialisasi Nilai Damai
Pendidikan agama yang inklusif berperan penting dalam mencegah konflik. Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya memahami perbedaan, sebagaimana dalam hadis:
“Perbedaan umatku adalah rahmat.” (HR. Al-Baihaqi).
Hadis ini menegaskan bahwa perbedaan dalam umat adalah suatu rahmat, bukan alasan untuk konflik. Dengan memahami hal ini, umat Islam diajak untuk menerima keragaman sebagai bagian dari ketentuan Allah.
Buku Fiqh Sosial karya KH. Sahal Mahfudh menekankan bahwa pendidikan multikultural berbasis nilai Islam dapat membangun kesadaran akan keragaman dan mengurangi prasangka.
People also Ask:
Apa saja yang akan kamu lakukan untuk mengatasi konflik sosial di lingkungan sekitar?
- Fokus pada Penyelesaian Konflik.
- Menggunakan Kepala Dingin.
- Melakukan Diskusi.
- Memperjelas Pokok Masalah yang Ada.
- Menjadi Pendengar yang Baik.
Bagaimana solusi menghadapi konflik yang melibatkan antara agama di lingkungan masyarakat?
Untuk Mengatasi konflik agama memerlukan keterlibatan aktif dari masyarakat, pemimpin agama, dan pemerintah. Penting untuk mendorong dialog terbuka antar kelompok agama, meningkatkan pendidikan dan pemahaman tentang perbedaan keyakinan, serta mempromosikan nilai-nilai toleransi.
Bagaimana Islam mengajarkan kita untuk menyelesaikan konflik dengan teman?
Beberapa prinsip utama dalam mengatasi konflik dalam persahabatan yang dapat diambil dari Al-Qur'an dan Hadits adalah sebagai berikut:
- Sabar dan Menahan Diri.
- Menghindari Ghibah dan Fitnah.
- Musyawarah dan Berdialog dengan Baik.
- Meminta Maaf dan Memaafkan.
- Menjaga Ukhuwah dan Mengingat Tujuan Utama.
4 Apa saja yang harus dilakukan dalam mengatasi manajemen konflik?
Untuk mengatasi konflik, 4 hal utama yang harus dilakukan adalah Identifikasi dan Analisis Akar Masalah, Fasilitasi Komunikasi Terbuka, Cari Solusi Kolaboratif, dan Implementasi serta Evaluasi Tindak Lanjut, yang semuanya berfokus pada penyelesaian masalah secara adil dan membangun kembali hubungan kerja yang lebih baik.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3416616/original/004756200_1617207185-utang_puasa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4858180/original/029627600_1717939832-WhatsApp_Image_2024-05-29_at_10.56.30.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4758315/original/039700600_1709260395-front-view-person-reading-from-holy-book.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5136138/original/060086900_1739846594-20250218-Tradisi_Nyadran-AFP_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3360466/original/061604200_1611722074-the-dancing-rain-N1xBagwnR1E-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5487330/original/067858300_1769662270-Gemini_Generated_Image_xzzxxgxzzxxgxzzx_2.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5153029/original/005485600_1741320049-islamic-family-with-delicious-food-medium-shot.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5418109/original/055414400_1763603530-Screenshot_2025-11-20_084534.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4770582/original/005521900_1710298713-masjid-pogung-dalangan-quTgb4lMbKo-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4357195/original/092362700_1678761219-pexels-thirdman-7957066.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489909/original/080075800_1769946782-adab_tetangga.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5080366/original/098387100_1736160174-1736156793388_caption-quotes-islami-singkat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5158416/original/091724100_1741665130-kata-kata-indah-islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489091/original/015887800_1769822758-Niat_Puasa_Nisfu_Syaban_dan_Ayyamul_Bidh.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495802/original/072665000_1770436095-Gemini_Generated_Image_9p3ks89p3ks89p3k.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5158657/original/067229400_1741665557-kata-mutiara-pagi-hari-islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495293/original/030583500_1770363852-unnamed__6_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5095573/original/012538800_1736934827-pexels-helloaesthe-15707485.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3393767/original/089678900_1614925042-pexels-photo-318451.jpeg)





























