6 Judul Khutbah Jumat tentang Menjaga Persatuan Umat di Era Digital, Tema Pilihan

15 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Di era digital yang serba cepat, arus informasi sering kali membawa potensi perpecahan yang nyata. Media sosial yang sejatinya menjadi jembatan silaturahmi, kini kerap berubah menjadi medan tempur ujaran kebencian dan hoaks yang mengancam kohesi sosial umat. Oleh karena itu, judul khutbah Jumat tentang menjaga persatuan umat di era digital menjadi urgen.

Menjaga persatuan di tengah gempuran algoritma yang memicu polarisasi sudah menjadi kewajiban moral. Allah SWT secara tegas memerintahkan dalam QS. Ali 'Imran ayat 103, "Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai". Ayat ini menjadi fondasi mutlak bahwa ukhuwah adalah benteng pertahanan utama umat Islam dari degradasi moral di dunia maya.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya' 'Ulumuddin menegaskan, keteraturan agama (nizam al-din) tidak akan tegak tanpa adanya keteraturan dunia (nizam al-dunya) yang berbasis pada persatuan dan keamanan sosial. Mimbar Jumat memiliki peran vital sebagai sarana edukasi literasi digital berbasis iman untuk meredam konflik tersebut.

Oleh karena itu, pemilihan materi dakwah yang relevan sangat krusial. Berikut ini adalah 6 judul khutbah jumat tentang menjaga persatuan umat di era digital.

Judul Kutbah Jumat 1: Moderasi Agama sebagai Kunci Persatuan Umat di Era Digital

KHUTBAH I

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ أُمَّةَ الْإِسْلَامِ أُمَّةً وَسَطًا، وَأَمَرَهَا بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَنَهَاهَا عَنِ الْغُلُوِّ وَالشَّطَطِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، الدَّاعِي إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Hadirin Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,

Segala puji bagi Allah yang telah mentakdirkan kita hidup di zaman yang penuh kemudahan teknologi, namun juga penuh ujian keimanan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, teladan moderasi yang mengajarkan kita untuk tidak ekstrem dalam beragama.

Mengawali khutbah ini, khatib berwasiat untuk meningkatkan takwa. Takwa adalah satu-satunya bekal yang tidak akan habis dimakan zaman, dan satu-satunya sinyal yang menghubungkan hamba dengan Tuhannya di saat sinyal duniawi sering kali melalaikan.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Kita kini hidup di era digital, sebuah era di mana batas geografis seolah sirna. Informasi dari belahan dunia lain bisa kita akses dalam hitungan detik. Namun, kemudahan ini datang dengan harga yang mahal. Kita menyaksikan fenomena di mana agama sering kali dijadikan komoditas untuk memecah belah, bukan menyatukan. Caci maki berbungkus dalil, dan kebencian berkedok semangat membela agama sering kali viral di media sosial.

Di sinilah relevansi ayat yang saya bacakan tadi, Surah Al-Baqarah ayat 143. Allah SWT menyebut umat Islam sebagai Ummatan Wasathan (umat pertengahan). Wasathiyah atau moderasi beragama bukanlah sikap plin-plan, bukan pula meremehkan syariat. Moderasi adalah sikap adil, seimbang, dan proporsional. Tidak ghuluw (berlebihan/ekstrem) dan tidak pula tafrith (menggampangkan).

Di era digital, sikap ekstrem sering muncul dalam bentuk fanatisme buta. Seseorang merasa kelompok pengajian onlinenya paling benar, ustadz youtubenya paling alim, lalu dengan mudah mengkafirkan atau menyesatkan saudara seiman yang berbeda pandangan. Sikap merasa paling benar inilah yang merobek tenun kebangsaan dan persatuan umat.

Padahal, Islam mengajarkan Tawasuth (mengambil jalan tengah). Ketika kita melihat perbedaan pendapat di media sosial, sikap moderat mengajarkan kita untuk menahan diri. Tidak langsung memvonis, melainkan mencari titik temu (Kalimatun Sawa). Ingatlah, bahwa algoritma media sosial didesain untuk memanaskan emosi kita, maka lawanlah dengan kepala dingin yang didasari iman.

Hadirin yang Berbahagia,

Implementasi moderasi agama di dunia maya bisa dimulai dengan mengubah cara kita berkomentar. Jika dulu lisan adalah harimau, kini jari adalah harimau. Seorang moderat akan berpikir beribu kali sebelum mengetik komentar pedas. Ia sadar bahwa jejak digital itu abadi, dan lebih menakutkan lagi, catatan malaikat Raqib dan Atid tidak pernah terhapus.

Persatuan umat tidak akan tercapai jika kita masih gemar menyebarkan konten provokatif. Moderasi menuntut kita untuk menjadi "filter", bukan sekadar "router" yang meneruskan pesan. Saring sebelum sharing. Cek kebenaran sebelum menyebarkan kegaduhan.

Mari kita jadikan moderasi sebagai gaya hidup digital kita. Berislamlah dengan gembira, bukan dengan amarah. Tampilkan wajah Islam yang ramah di internet, bukan Islam yang marah. Dengan demikian, kehadiran kita di dunia maya membawa kesejukan, mendamaikan yang berseteru, dan merekatkan yang retak. Inilah esensi menjadi Ummatan Wasathan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH 2

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَسَمِعَتْ أُذُنٌ بِخَبَرٍ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتَنِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ الزَّمَانِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ وَسَائِلِ التَّوَاصُلِ الَّتِي تُفَرِّقُ بَيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Judul Khutbah Jumat 2: Menguatkan Ukhuwah Islamiyah di Tengah Arus Polarisasi Media

KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ فَأَصْبَحُوْا بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، خَيْرُ مَنْ دَعَا إِلَى الْمَحَبَّةِ وَالْوِفَاقِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Ketakwaan adalah benteng utama seorang mukmin. Di tengah gempuran fitnah akhir zaman, takwalah yang menjaga kita tetap waras dan selamat. Hari ini, kita berbicara tentang tantangan berat ukhuwah Islamiyah. Arus polarisasi media begitu kuat. Kita dikepung oleh narasi "Kami vs Mereka". Media sosial, dengan algoritmanya, sering kali menjebak kita dalam ruang gema (echo chamber), di mana kita hanya mendengar apa yang kita sukai, dan menutup telinga dari kebenaran pihak lain.

Akibatnya, hati umat Islam menjadi keras terhadap saudaranya sendiri. Hanya karena beda organisasi, beda pilihan politik, atau beda idola, kita tega memutus silaturahmi. Saling unfriend, saling blokir, bahkan saling melapor ke polisi. Padahal Allah berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 10: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara..."

Persaudaraan ini adalah ikatan akidah, yang lebih kuat dari ikatan darah. Jangan sampai ikatan suci ini putus hanya karena jempol kita yang tidak terkendali. Polarisasi sering kali diawali dari berita bohong atau hoaks. Di sinilah pentingnya sikap Tabayyun.

Allah berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 6: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

"Wahai orang beriman, jika datang orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti..."

Di era digital, orang fasik itu bisa berupa akun anonim, situs abal-abal, atau pesan broadcast yang tidak jelas sumbernya. Jika kita langsung menelan mentah-mentah dan menyebarkannya, kita berpotensi menjadi agen pemecah belah umat. Kita menjadi perpanjangan tangan setan untuk mengadu domba (Namimah).

Rasulullah SAW bersabda dengan tegas: Laa yadkhulul jannata Nammam (Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba). Maka, mari kita dinginkan suasana. Jika ada berita panas, tahan dulu. Verifikasi. Jika benar pun, tanyakan pada hati nurani: "Apakah menyebarkan ini membawa manfaat bagi umat, atau justru memecah belah?"

Menguatkan ukhuwah di era polarisasi butuh kelapangan dada. Kita harus belajar berbeda pendapat tanpa harus membenci. Kita harus belajar berdiskusi tanpa harus mencaci. Kembalikanlah semangat saling mencintai karena Allah. Rangkul kembali saudara yang sempat renggang. Sapa kembali kawan yang sempat berseteru di grup WhatsApp. Dunia ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan permusuhan.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَسَمِعَتْ أُذُنٌ بِخَبَرٍ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتَنِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ الزَّمَانِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ وَسَائِلِ التَّوَاصُلِ الَّتِي تُفَرِّقُ بَيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Judul Khutbah Jumat 3: Kesalehan Digital dan Etika Menutup Aib di Media Sosial

KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلَّهِ السَّتَّارِ، الَّذِي سَتَرَ عُيُوْبَنَا وَأَمَرَنَا بِحِفْظِ الْأَلْسِنَةِ وَالْأَبْصَارِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ لِإِتْمَامِ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Tema kita hari ini sangat dekat dengan keseharian kita: Kesalehan Digital. Kesalehan tidak lagi cukup diukur dari berapa lama kita di masjid, tapi juga bagaimana perilaku kita di dunia maya. Salah satu indikator utama kesalehan digital adalah kemampuan kita menutup aib saudara kita.

Hari ini, aib telah menjadi komoditas industri hiburan. Akun-akun gosip bertebaran, konten membongkar keburukan orang lain mendulang jutaan penonton. Kita seolah lupa ancaman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 12 yang menyamakan Ghibah (menggunjing) dengan memakan bangkai saudara sendiri.

Di media sosial, ghibah bertransformasi menjadi screenshot percakapan, penyebaran video masa lalu seseorang, atau komentar jahat di kolom komentar. Sadarkah kita, ketika kita menekan tombol "share" pada konten aib orang lain, kita sedang mentransfer dosa jariyah? Dosa yang terus mengalir selama konten itu dilihat orang.

Rasulullah SAW bersabda: مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ

"Barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama muslim, maka Allah akan mencari-cari aibnya." (HR. Tirmidzi).

Bayangkan jika Allah yang Maha Mengetahui membongkar aib kita di hadapan khalayak ramai sebagai balasan. Tentu kita tidak akan sanggup menanggung malunya. Maka, rumus kesalehan digital itu sederhana: perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Kita ingin aib kita ditutup, maka tutuplah aib orang lain.

Jika kita melihat sebuah skandal viral, berhentilah di kita. Jangan ikut berkomentar, jangan ikut menyebarkan. Jadikan gadget kita sebagai alat zikir dan dakwah, bukan alat namimah dan ghibah.

Ingatlah, setiap ketikan adalah doa, dan setiap postingan adalah kesaksian. Jangan biarkan status media sosial kita menjadi pemberat timbangan keburukan di Yaumul Hisab kelak. Jadilah netizen yang bertakwa, yang bijak, dan yang senantiasa menjaga kehormatan sesama.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَسَمِعَتْ أُذُنٌ بِخَبَرٍ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتَنِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ الزَّمَانِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ وَسَائِلِ التَّوَاصُلِ الَّتِي تُفَرِّقُ بَيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Judul Khutbah Jumat 4: Menjaga Moral dan Membangun Generasi Cakap Digital

KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لَنَا الذُّرِّيَّةَ وَجَعَلَهُمْ أَمَانَةً وَفِتْنَةً. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ النَّصِيْحُ الْأَمِيْنُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْآبَاءُ وَالْأُمَّهَاتُ، اِتَّقُوا اللهَ فِي أَوْلَادِكُمْ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

Hadirin Sidang Jumat yang Berbahagia,

Anak adalah investasi akhirat terbesar kita. Namun di era digital ini, tantangan mendidik anak menjadi berkali-kali lipat lebih berat. Anak-anak kita adalah digital native, mereka lahir ketika internet sudah ada. Gawai (gadget) sudah menjadi perpanjangan tangan mereka.

Namun, internet ibarat hutan belantara. Di sana ada ilmu, tapi di sana juga ada binatang buas berupa pornografi, kekerasan, judi online, dan ideologi menyimpang. Ayat di atas memerintahkan kita: "Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." Dalam konteks kekinian, menjaga keluarga dari api neraka berarti menjaga mereka dari kerusakan moral akibat salah guna teknologi.

Banyak orang tua yang bangga anaknya diam anteng memegang HP, padahal jiwanya sedang diracuni oleh tontonan yang tidak pantas. Banyak anak kehilangan adab kepada orang tua karena lebih menghormati tokoh fiksi di gamenya. Ini adalah musibah moral.

Generasi cakap digital bukan hanya generasi yang pandai coding atau membuat konten. Generasi cakap digital adalah generasi yang memiliki Digital Quotient (kecerdasan digital) yang dibalut dengan akhlakul karimah. Mereka tahu kapan harus online dan kapan harus offline untuk beribadah.

Tugas kitalah sebagai orang tua untuk mendampingi. Jangan biarkan anak berselancar sendirian tanpa pengawasan. Tanamkan tauhid di dada mereka. Katakan pada mereka: "Nak, Ayah dan Ibu mungkin tidak melihat apa yang kamu buka di HP-mu, tapi Allah Maha Melihat. CCTV Allah tidak pernah mati."

Pendidikan adab harus didahulukan daripada pemberian teknologi. Ajarkan mereka etika berkomentar, etika berbagi informasi, dan etika menjaga pandangan (Ghadul Bashar). Jika fondasi moral ini kuat, insya Allah gawai di tangan mereka akan menjadi wasilah dakwah dan kebaikan, bukan wasilah kemaksiatan.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَسَمِعَتْ أُذُنٌ بِخَبَرٍ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتَنِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ الزَّمَانِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ وَسَائِلِ التَّوَاصُلِ الَّتِي تُفَرِّقُ بَيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Judul Khutbah Jumat 5: Takwa dan Iman: Benteng Umat dari Dampak Negatif Internet

KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى، وَيُحْصِي عَلَى الْعِبَادِ أَعْمَالَهُمْ وَإِنْ دَقَّتْ وَخَفِيَتْ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْمُهَيْمِنُ الرَّقِيْبُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Salah satu sifat internet adalah memberikan ilusi "privasi". Seseorang bisa bersembunyi di balik akun palsu, atau mengakses situs terlarang sendirian di dalam kamar yang terkunci. Tidak ada manusia yang melihat, tidak ada polisi yang menangkap. Di sinilah, satu-satunya yang bisa mengerem kemaksiatan adalah Iman dan Takwa.

Ayat yang saya bacakan tadi sangat singkat namun menggetarkan: "Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat?" (QS. Al-Alaq: 14). Ini adalah konsep Muraqabah, merasa selalu diawasi Allah.

Dampak negatif internet seperti kecanduan pornografi, judi online, hingga penipuan, semua bermula dari hilangnya rasa Muraqabah ini. Kita takut CCTV manusia, tapi tidak takut pengawasan Allah. Kita malu aib kita diketahui tetangga, tapi tidak malu bermaksiat di hadapan Allah yang Maha Mengetahui.

Takwa adalah benteng. Ia adalah firewall spiritual yang memblokir virus-virus dosa. Ketika iman seseorang kuat, ia akan sadar bahwa riwayat penelusuran (browser history) mungkin bisa dihapus dari HP, tapi tidak bisa dihapus dari Catatan Amal di Lauhul Mahfuzh.

Rasulullah SAW pernah memperingatkan tentang kaum yang membawa pahala sebesar gunung Tihamah, namun Allah jadikan debu berterbangan. Siapakah mereka? Nabi menjawab: "Mereka adalah orang yang jika bersendiri dengan larangan-larangan Allah, mereka melanggarnya." (HR. Ibnu Majah).

Internet adalah ujian khalwat (kesendirian) terbesar abad ini. Mari kita perkuat iman kita dengan memperbanyak zikir, mendekat pada Al-Qur'an, dan berkumpul dengan orang-orang saleh. Jadikan rasa takut kepada Allah sebagai pengendali jari-jemari kita. Gunakan teknologi untuk mendekat kepada-Nya, bukan untuk menantang murka-Nya.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَسَمِعَتْ أُذُنٌ بِخَبَرٍ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتَنِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ الزَّمَانِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ وَسَائِلِ التَّوَاصُلِ الَّتِي تُفَرِّقُ بَيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Judul Khutbah Jumat 6: Jaga Persatuan dan Kesatuan Walau Beda Pilihan di Media Sosial

KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْمُؤْمِنِينَ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ دَعَا بِدَعْوَتِهِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوا.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Perbedaan adalah keniscayaan (Sunnatullah). Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, dengan pemikiran yang berbeda-beda. Namun, perbedaan pilihan—baik itu dalam urusan politik, organisasi, maupun pandangan sosial—di media sosial sering kali disikapi secara berlebihan.

Perdebatan di kolom komentar, saling serang antar pendukung, dan caci maki menjadi pemandangan biasa. Kita lupa peringatan Allah dalam Surah Al-Anfal ayat 46: "Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu..."

Perpecahan membuat umat Islam lemah. Energi kita habis untuk bertengkar sesama sendiri, sementara tantangan kemiskinan dan kebodohan di depan mata terabaikan.

Kunci menjaga persatuan dalam perbedaan adalah Adab al-Ikhtilaf (etika berbeda pendapat). Di media sosial, jika kita berbeda pilihan dengan teman, tetaplah santun. Jangan merendahkan pilihannya. Pilihan politik itu sifatnya ijtihadiyah dan sementara (hanya 5 tahunan), sedangkan persaudaraan sesama muslim adalah urusan dunia akhirat.

Rasulullah SAW memberikan jaminan surga bagi orang yang menghindari perdebatan meskipun ia benar. Beliau bersabda: أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا "Aku menjamin rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan debat kusir meskipun ia di pihak yang benar." (HR. Abu Daud).

Meninggalkan debat di media sosial bukan berarti kalah, tapi menang melawan hawa nafsu. Menang melawan ego yang ingin diakui. Mari kita tunjukkan kedewasaan. Hiasi dinding media sosial kita dengan pesan perdamaian. Fokuslah pada persamaan kita sebagai hamba Allah, sebagai umat Nabi Muhammad, dan sebagai anak bangsa. Biarlah kita berbeda warna baju atau bendera, asalkan hati kita tetap satu dalam kalimat Laa ilaha illallah.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.

KHUTBAH KEDUA 

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَسَمِعَتْ أُذُنٌ بِخَبَرٍ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتَنِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ الزَّمَانِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ وَسَائِلِ التَّوَاصُلِ الَّتِي تُفَرِّقُ بَيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

People Also Ask:

Khutbah ke-2 isinya apa saja?

Bacaan Khutbah Kedua Jumat, Tulisan Latin, Arab, dan ArtinyaIsi khutbah kedua meliputi pujian kepada Allah (hamdalah), salawat kepada Nabi Muhammad SAW, wasiat takwa, pembacaan ayat Al-Qur'an (biasanya di khutbah pertama, tapi bisa juga di kedua), dan doa-doa memohon ampunan, hidayah, serta kesejahteraan bagi seluruh umat Islam. Khutbah kedua lebih berfokus pada doa untuk kebaikan dunia dan akhirat, memohon perlindungan dari azab neraka, serta memohon agar pemimpin kaum Muslimin senantiasa mendapat taufik dan berada di jalan yang diridhai Allah.

Tata cara khutbah Jumat singkat?

Untuk khutbah Jumat singkat, fokus pada satu tema utama, gunakan bahasa sederhana yang mudah dipahami, sampaikan inti pesan dengan ringkas, serta tetap memenuhi rukun-rukun khutbah (puji-pujian, shalawat, wasiat takwa, ayat Al-Qur'an, doa), dan akhiri dengan ringkasan yang jelas agar jamaah mudah menangkap poin pentingnya.

Diantara 2 khutbah baca apa?

Di antara dua khutbah Jumat, waktu ini adalah waktu mustajab untuk berdoa, jadi jamaah dianjurkan berdoa apa saja dengan suara pelan, seperti Sayyidul Istighfar, sementara khatib disunahkan membaca Surat al-Ikhlas atau doa lain sesuai sunah, berdasarkan hadis Nabi yang membaca Al-Qur'an saat jeda tersebut. Tidak ada bacaan wajib tunggal, tetapi doa dan dzikir pribadi sangat dianjurkan.

Apakah boleh berbicara saat khutbah Jumat?

Jawaban. Boleh berbicara saat khatib belum memulai khutbahnya serta di antara dua khutbah. Dan diharamkan berbicara ketika khatib sedang berhutbah. Apabila engkau mengatakan kepada saudaramu pada hari jum'at “Diamlah,” padahal khatib sedang berkhutbah, berarti engkau telah melakukan perbuatan sia-sia.

Apa bedanya khutbah 1 dan 2?

Perbedaan utama antara khutbah pertama dan kedua terletak pada doa untuk kaum mukminin, yang khusus dibaca pada khutbah kedua, sementara rukun lainnya seperti pujian kepada Allah, shalawat, dan wasiat takwa ada di kedua khutbah, dengan pembacaan ayat Al-Qur'an dianjurkan di khutbah pertama. Selain itu, duduk di antara kedua khutbah adalah rukun yang memisahkan keduanya dalam khutbah Jumat, yang tidak ada dalam khutbah Idul Fitri atau Idul Adha.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |