Liputan6.com, Jakarta - Syukuran rumah baru, atau dikenal sebagai Walimatul Wakirah, dalam pandangan Islam merupakan manifestasi syukur atas nikmat tempat tinggal, bukan sekadar ajang pesta kemewahan. Ceramah acara syukuran rumah baru, menjadi salah satu menu yang diagendakan.
Menukil firman Allah dalam Al-Qur'an: "Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat ketenangan". (QS. An-Nahl: 80), inti dari ceramah dalam acara ini adalah mengajak penghuni untuk menjadikan rumah sebagai pusat ketenangan (sakinah) dan ibadah, serta memastikan bahwa setiap sudut bangunan tersebut digunakan untuk ketaatan, bukan kemaksiatan atau kesombongan.
Para ulama juga mengingatkan pentingnya membentengi rumah secara spiritual. Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menganjurkan penghuni rumah baru untuk memperbanyak doa perlindungan, seperti membaca A’udzu bi-kalimatillahi at-tammati min syarri ma khalaq untuk menjauhkan gangguan makhluk halus tanpa terjebak pada ritual khurafat atau klenik. Ceramah syukuran hendaknya menekankan nasihat Rasulullah SAW agar rumah tidak dijadikan seperti kuburan yang sunyi dari shalat dan bacaan Al-Qur'an.
Berikut ini adalah contoh teks ceramah acara syukuran rumah baru menurut Islam.
Teks Ceramah 1: Rumah Sebagai Wujud Syukur dan Amanah Allah
Tema: Menjadikan rumah baru sebagai sarana meningkatkan rasa syukur dan kesadaran bahwa harta adalah titipan.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Semoga keselamatan, rahmat, dan keberkahan Allah senantiasa tercurah kepada tuan rumah dan kita semua yang hadir di majelis yang mulia ini.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah yang telah memberikan tempat bernaung bagi hamba-hamba-Nya, yang melindungi kita dari terik matahari dan dinginnya malam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, sahabatnya, dan umatnya hingga akhir zaman.
Yang saya hormati tuan rumah, Bapak/Ibu sekalian, serta para hadirin, tetangga, dan kerabat yang dimuliakan Allah. Alhamdulillah, hari ini kita dapat berkumpul dalam rangka walimatul wakirah atau syukuran menempati rumah baru dalam keadaan sehat walafiat.
Hadirin yang dirahmati Allah, memiliki rumah adalah salah satu nikmat besar dari Allah SWT yang patut kita syukuri. Tidak semua orang diberikan rezeki dan kemudahan untuk memiliki tempat bernaung yang layak dan nyaman seperti ini. Oleh karena itu, momentum ini harus didasari dengan niat syukur yang tulus kepada Sang Pemberi Rezeki, bukan untuk berbangga diri di hadapan manusia.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an mengenai nikmat rumah dalam Surah An-Nahl ayat 80:
وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ سَكَنًا
Wallāhu ja'ala lakum mim buyūtikum sakanā.
Artinya: "Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal (tempat yang menenangkan)."
Ayat yang mulia ini menegaskan bahwa fungsi utama rumah adalah sakan atau ketenangan. Rumah bukan sekadar bangunan fisik yang megah, tetapi ia adalah tempat di mana hati dan jiwa penghuninya merasa tentram, damai, dan terlindungi setelah lelah beraktivitas di dunia luar.
Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, Al-Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini adalah penyebutan nikmat Allah yang sempurna kepada hamba-Nya. Allah memberikan kemampuan kepada manusia untuk membuat rumah sebagai penutup aib, pelindung dari bahaya, dan tempat beristirahat guna mengumpulkan tenaga untuk beribadah kembali.
Kita harus menyadari sedalam-dalamnya bahwa meskipun sertifikat tanah mungkin tertulis atas nama kita, namun hakikat pemilik sesungguhnya adalah Allah SWT. Kita hanyalah pemegang amanah yang dititipi untuk merawat dan menggunakan bangunan ini di jalan kebaikan selama kita hidup di dunia.
Cara terbaik mensyukuri rumah baru bukanlah dengan pesta pora yang berlebihan atau bermewah-mewahan, melainkan dengan menggunakannya untuk ketaatan. Undanglah orang-orang shaleh, tetangga, dan anak yatim untuk makan bersama, sebagaimana anjuran dalam Islam untuk berbagi kebahagiaan.
Saya ingin menasehati diri saya dan tuan rumah, jangan sampai rumah yang luas ini membuat kita lalai dari mengingat Allah. Seringkali terjadi, semakin besar rumahnya, semakin jauh jarak antar anggota keluarga, dan semakin jarang terdengar lantunan ayat suci Al-Qur'an karena sibuk dengan urusan masing-masing.
Rumah ini kelak akan menjadi saksi di yaumul hisab (hari perhitungan) nanti. Apakah dinding-dindingnya lebih sering mendengar dzikir dan tilawah, ataukah mendengar ghibah dan maksiat? Jadikanlah setiap sudut rumah ini sebagai saksi ketaatan kita kepada Allah SWT.
Maka, marilah kita jadikan momen syukuran ini sebagai titik awal untuk menata niat yang lurus. Rumah baru harus membawa semangat ibadah yang baru, kualitas keluarga yang lebih harmonis, dan rasa syukur yang semakin bertambah setiap harinya.
Mari kita doakan agar rumah ini diberkahi. Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menganjurkan membaca doa perlindungan saat menempati tempat baru:
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
A’udzu bi-kalimatillahi at-tammati min syarri ma khalaq.
Artinya: "Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan."
Ya Allah, berkahilah rumah ini bagi penghuninya. Jadikanlah rumah ini tempat bernaung yang aman, penuh rahmat, sakinah, mawaddah, wa rahmah, serta jauhkanlah dari marabahaya, gangguan syaitan, dan orang-orang yang berniat jahat. Kabulkanlah doa kami ya Rabb.
Demikian yang dapat saya sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini. Mohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Teks Ceramah 2: Menghidupkan Rumah dengan Cahaya Ibadah (Baiti Jannati)
Tema: Menjadikan rumah bercahaya dengan shalat sunnah dan bacaan Al-Qur'an agar tidak seperti kuburan.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Ahlan wa sahlan kepada para tamu undangan yang dirahmati Allah SWT, semoga langkah kaki bapak ibu ke tempat ini dicatat sebagai amal sholeh.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita hidayah iman dan islam, serta nikmat tempat tinggal yang nyaman. Shalawat serta salam mari kita haturkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah mengajarkan kita adab-adab mulia dalam menempati tempat tinggal.
Hadirin sekalian, hari ini kita menyaksikan kebahagiaan saudara kita yang menempati rumah baru. Rumah yang indah secara fisik dengan arsitektur menawan tentu idaman semua orang, namun rumah yang indah secara spiritual adalah tujuan utama seorang mukmin sejati.
Rumah yang islami tidak dinilai dari mahalnya perabot atau luasnya tanah, melainkan dari "hidup" atau tidaknya syiar agama di dalamnya. Rasulullah SAW mengingatkan kita agar tidak membiarkan rumah kosong dari ibadah, seolah-olah tak berpenghuni.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Muslim:
لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ
Artinya: "Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah di dalamnya."
Hadits ini sangat tegas memberikan perumpamaan. Rumah yang di dalamnya tidak pernah didirikan shalat dan tidak pernah dibacakan Al-Qur'an, ibarat kuburan—gelap, sunyi dari rahmat, sempit, dan menakutkan secara spiritual meski terang benderang oleh lampu listrik.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari (Syarah Shahih Bukhari) menjelaskan bahwa maksud "jangan jadikan seperti kuburan" adalah anjuran memperbanyak shalat sunnah (nawafil) di rumah. Shalat fardhu bagi laki-laki utamanya di masjid, namun shalat sunnah terbaik adalah dikerjakan di rumah untuk memberkahi tempat tinggal tersebut.
Cahaya (Nur) rumah seorang mukmin juga berasal dari tilawah Al-Qur'an. Suara lantunan ayat suci akan mengundang malaikat rahmat untuk masuk, membawa ketenangan, dan membuat setan merasa gerah serta tidak betah untuk tinggal mengganggu penghuninya.
Implementasinya bagi tuan rumah sangat sederhana namun bermakna. Hiasilah ruang tamu dengan keramahan kepada tetangga, hiasilah ruang keluarga dengan majelis ilmu kecil bersama anak-anak, dan hiasilah kamar tidur dengan shalat tahajud di sepertiga malam.
Sebaliknya, hindarilah mengisi rumah baru ini dengan hal-hal yang dimurkai Allah. Jangan memutar musik-musik yang melalaikan atau memajang patung dan gambar makhluk bernyawa yang diagungkan, karena hal tersebut dapat menghalangi masuknya malaikat rahmat ke dalam rumah kita.
Disunnahkan pula ketika memasuki rumah baru untuk mengucapkan salam, baik ada orang maupun tidak ada orang di dalamnya. Salam adalah doa keselamatan dan keberkahan dari Allah untuk penghuni rumah tersebut.
Jika rumah diisi dengan ibadah, penghuninya akan merasakan sakinah (ketenangan jiwa). Masalah seberat apapun di tempat kerja atau di luar rumah, akan terasa ringan dan hilang begitu melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah yang penuh cahaya iman.
Ya Allah, jadikanlah rumah ini Baiti Jannati (Rumahku Surgaku). Jadikanlah ia tempat di mana nama-Mu selalu disebut, tempat sujud yang khusyuk, dan tempat di mana anak-anak yang sholeh dan sholehah dibesarkan dengan kasih sayang.
Semoga rumah ini menjadi saksi amal sholeh tuan rumah dan menjadi kendaraan menuju surga-Mu kelak. Selamat menempati rumah baru dengan semangat ibadah yang baru, semoga Allah memberkahi setiap jengkalnya.
Semoga bermanfaat apa yang saya sampaikan. Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Teks Ceramah 3: Adab Bertetangga di Lingkungan Baru
Tema: Etika sosial dan kewajiban menjalin hubungan baik dengan tetangga saat pindah rumah.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Semoga keberkahan melimpah kepada tuan rumah dan seluruh tetangga yang hadir pada kesempatan kali ini.
Alhamdulillah was syukru lillah. Kita bersyukur bisa berkumpul dalam suasana kekeluargaan yang hangat ini. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, teladan terbaik dalam kehidupan bermasyarakat dan bertetangga.
Pindah rumah berarti masuk ke dalam komunitas dan lingkungan yang baru. Dalam Islam, memiliki rumah bukan hanya urusan pribadi di dalam pagar kita sendiri, tetapi juga urusan sosial. Kita memiliki kewajiban baru yang melekat, yaitu menunaikan hak-hak tetangga.
Sebelum membeli atau membangun rumah, para ulama terdahulu sering menasehatkan sebuah kaidah: Al-Jaar qablad Daar (Lihatlah tetangga sebelum memilih rumah). Ini menunjukkan betapa krusialnya peran tetangga dalam kehidupan seorang Muslim demi kenyamanan ibadah dan sosial.
Rasulullah SAW bersabda tentang wasiat Jibril dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim:
مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
Artinya: "Jibril senantiasa menasehatiku tentang (berbuat baik kepada) tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian warisan."
Hadits ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan tetangga dalam syariat Islam. Saking seringnya Malaikat Jibril mengingatkan Nabi untuk berbuat baik pada tetangga, Nabi sampai berprasangka bahwa tetangga mungkin akan dimasukkan dalam daftar ahli waris saking dekatnya hubungan tersebut.
Dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Bukhari, terdapat bab khusus tentang larangan menyakiti tetangga. Bahkan, beliau meriwayatkan bahwa tidak sempurna iman seseorang jika tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya, baik gangguan lisan maupun perbuatan.
Sebagai pendatang baru, hendaknya tuan rumah yang lebih dahulu menyapa, memperkenalkan diri, dan bersikap rendah hati. Jangan menutup diri dengan pagar yang terlalu tinggi atau sikap yang eksklusif hingga memutus silaturahmi dengan warga sekitar.
Salah satu sunnah indah saat menempati rumah baru atau memasak makanan yang baunya tercium tetangga adalah membaginya. Nabi bersabda, "Jika engkau memasak kuah, perbanyaklah airnya dan perhatikan tetanggamu." Ini adalah bentuk perhatian sosial yang sederhana namun menyentuh hati.
Hidup berdampingan pasti ada gesekan, itu wajar. Mungkin masalah parkir kendaraan, suara anak-anak bermain, atau debu renovasi. Islam mengajarkan kita untuk bersabar atas gangguan tetangga dan memaafkan kesalahan mereka, serta menyelesaikan masalah dengan musyawarah.
Acara syukuran ini sejatinya adalah momen ta'aruf (perkenalan) yang sangat baik. Tuan rumah secara simbolis memohon izin bergabung menjadi warga baru, dan para tetangga menerima dengan tangan terbuka dan doa restu.
Rumah yang berkah adalah rumah yang penghuninya menjadi sumber keamanan dan kenyamanan bagi sekitarnya. Jangan sampai kehadiran kita justru membuat tetangga resah, terganggu, atau merasa tidak nyaman. Jadilah "kunci kebaikan" bagi lingkungan ini.
Mari kita berdoa agar Allah melembutkan hati kita semua, menyatukan hati warga di lingkungan ini, menjauhkan kita dari perselisihan, permusuhan, dan sifat individualis. Semoga kerukunan ini terjaga hingga ke surga-Nya.
Kepada Bapak/Ibu tuan rumah, selamat bergabung di lingkungan ini. Semoga menjadi tetangga yang baik dan mendapatkan perlakuan yang baik pula dari tetangga. Mari kita bangun lingkungan yang harmonis dan islami.
Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan di hati hadirin sekalian.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Teks Ceramah 4: Benteng Spiritual Rumah (Menolak Khurafat)
Tema: Cara melindungi rumah dari gangguan gaib sesuai syariat dan menghindari ritual bid'ah/klenik.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Semoga Allah melindungi kita semua dari segala keburukan, baik yang nampak maupun yang ghaib, serta menjaga akidah kita tetap lurus.
Alhamdulillah, kita memuji Allah yang Maha Pelindung lagi Maha Penjaga. Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW yang telah mengajarkan doa-doa perlindungan yang murni dari kesyirikan dan ketergantungan kepada selain Allah.
Hadirin yang dimuliakan Allah. Seringkali ketika menempati rumah baru, atau menempati rumah yang sudah lama kosong, muncul rasa takut akan gangguan makhluk halus atau hal-hal mistis. Sayangnya, ketakutan ini sering direspon dengan ritual yang menyimpang seperti menanam kepala kerbau, menabur garam dengan mantra, atau memasang jimat di atas pintu.
Islam melarang keras segala bentuk tamimah (jimat) dan ritual tolak bala yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah. Hal ini justru bisa mengundang murka Allah dan membuat syaitan semakin berani mengganggu karena kita meminta tolong kepada selain Allah.
Allah SWT mengajarkan kita untuk berlindung hanya kepada-Nya, sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Falaq ayat 1-2:
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ . مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
Artinya: "Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai waktu subuh, dari kejahatan makhluk-Nya."
Surat Al-Falaq dan An-Nas (Al-Mu’awwidzatain) adalah senjata ampuh yang diajarkan Allah langsung kepada kita. Kita tidak butuh "pagar gaib" dari dukun atau "orang pintar". Cukup Allah sebagai pelindung dengan perantara ayat-ayat-Nya yang agung.
Ulama besar Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa ruqyah dan doa-doa dari Al-Qur'an dan Sunnah adalah obat yang paling bermanfaat. Beliau menekankan bahwa kekuatan doa bergantung pada keyakinan hati pembacanya; semakin yakin kita kepada Allah, semakin kuat benteng tersebut.
Cara membentengi rumah baru yang sesuai syariat adalah dengan membacakan surat Al-Baqarah sampai selesai. Ini bisa dilakukan sendiri oleh pemilik rumah atau diputar melalui audio murottal jika belum lancar membaca, namun membacanya langsung tentu lebih utama dan lebih berkah.
Selain itu, periksalah isi rumah kita. Apakah ada patung, lukisan makhluk bernyawa yang diagungkan, atau anjing (selain untuk keperluan jaga/berburu)? Malaikat rahmat tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat hal-hal tersebut, sehingga rumah menjadi rentan gangguan.
Hidupkanlah amalan dzikir pagi dan petang di dalam rumah. Suara dzikir yang rutin dikumandangkan adalah benteng yang kokoh yang tidak bisa ditembus oleh sihir maupun 'ain (pandangan mata jahat).
Janganlah takut berlebihan kepada makhluk halus. Jangan biarkan rasa takut kepada hantu atau jin melebihi takut kita kepada Allah. Ingatlah firman Allah bahwa tipu daya syaitan itu sebenarnya lemah (inna kaidaas syaithaani kaana dho'iifa).
Salah satu cara menolak bala yang paling efektif adalah dengan sedekah. Syukuran hari ini dengan memberi makan tetangga, kerabat, dan fakir miskin adalah bentuk sedekah yang insya Allah mampu menolak keburukan dan mengundang rahmat Allah.
Mari kita baca doa yang diajarkan Nabi saat singgah di tempat baru:
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
Semoga Allah menjaga rumah ini dari gangguan jin, manusia jahat, binatang berbisa, bencana alam, dan segala marabahaya lainnya.
Tuan rumah yang dirahmati Allah, gantungkan tawakkal hanya kepada Allah semata. Jadikan rumah ini benteng tauhid yang kokoh, bukan sarang khurafat. Semoga Allah memberikan keamanan lahir dan batin bagi keluarga ini.
Semoga Allah senantiasa menjaga iman dan keselamatan kita semua.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Teks Ceramah 5: Qana'ah dan Kesederhanaan di Rumah Baru
Tema: Mengingat bahwa dunia hanya sementara dan rumah di surga lebih utama, serta anjuran hidup sederhana.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Semoga kedamaian, kesejahteraan, dan ketenangan hati menyertai kita semua yang hadir di tempat yang berbahagia ini.
Alhamdulillah, segala puji milik Allah yang memberi kekayaan dan kecukupan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, sosok yang paling sederhana hidupnya namun paling kaya hatinya, teladan bagi kita dalam menyikapi harta dunia.
Selamat kepada Tuan Rumah atas hunian barunya. Memiliki rumah yang bagus, bersih, dan nyaman adalah kebahagiaan duniawi yang sah-sah saja. Namun, sebagai Muslim, kita perlu memiliki rem di hati agar tidak terlena oleh kemegahan dunia yang menipu.
Rasulullah SAW senantiasa mengingatkan bahwa bagi orang beriman, dunia (dan segala kemewahannya) hanyalah tempat persinggahan sementara, bukan tujuan akhir perjalanan kita. Rumah di dunia adalah sarana, bukan tujuan.
Allah SWT berfirman mengingatkan tentang bahaya bermegah-megahan dalam Surah At-Takathur ayat 1-2:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ . حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
Artinya: "Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur."
Ayat ini menegur manusia yang sibuk memperbanyak harta dan memperbagus bangunan hingga lupa waktu, lupa ibadah, dan lupa bahwa mereka akan mati. Rumah di dunia, sekuat apapun betonnya, pasti akan ditinggalkan oleh pemiliknya atau hancur dimakan zaman.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin pada bab Dzammud Dunya (Tercelanya Cinta Dunia), menjelaskan bahwa zuhud (sederhana) bukan berarti tidak boleh punya harta atau rumah bagus, tapi hati tidak boleh terikat pada harta tersebut. Jika rumahnya hancur atau hilang, imannya tidak ikut hancur.
Milikilah sifat Qana'ah, yaitu merasa cukup dengan pemberian Allah. Rumah baru ini harus disyukuri, namun jangan sampai membuat kita memandang rendah orang lain yang rumahnya lebih kecil, atau membuat kita terus merasa kurang ingin renovasi ini dan itu hingga lupa hak fakir miskin.
Ingatlah bahwa rumah masa depan kita yang abadi ada di akhirat. Sahabat Ibnu Umar r.a. berkata: "Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau pengembara." Rumah ini hanyalah tenda pengembara untuk berteduh sejenak sebelum melanjutkan perjalanan panjang menuju Allah.
Gunakan ruang tamu untuk memuliakan tamu, gunakan dapur untuk berbagi masakan dengan tetangga, dan pastikan tidak ada barang-barang mubazir yang ditumpuk tanpa manfaat, karena setiap barang akan dihisab pertanggungjawabannya.
Hindari pula sifat sombong atau riya'. Jangan memposting foto-foto setiap sudut kemewahan rumah di media sosial dengan niat pamer. Hal ini bisa menimbulkan penyakit 'Ain dan hasad (dengki) dari orang lain yang melihatnya, yang justru membahayakan penghuni rumah.
Rumah Nabi SAW sangat sederhana, atapnya dari pelepah kurma yang bisa disentuh tangan, namun di dalamnya turun wahyu dan keberkahan yang melimpah. Kita boleh punya rumah besar, tapi pastikan "isi" hati penghuninya tetap tawadhu (rendah hati) seperti Nabi.
Mari kita berdoa memohon rumah yang sesungguhnya di akhirat kelak, sebagaimana doa istri Fir'aun yang diabadikan dalam Al-Qur'an Surah At-Tahrim ayat 11:
رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
Rabbibni lī 'indaka baitan fil-jannah.
Artinya: "Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga."
Semoga rumah ini membawa kebahagiaan, namun tetap membuat penghuninya rendah hati, dermawan, dan ingat kampung akhirat. Semoga Allah memberkahi rezeki tuan rumah dan menjadikannya sarana mendekatkan diri kepada-Nya.
Terima kasih atas perhatian hadirin sekalian. Mohon maaf atas segala khilaf dan kekurangan dalam penyampaian.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
People also Ask:
Bagaimana cara mengadakan acara syukuran rumah baru dalam Islam?
House warming Ceremony in Islam It is a common practice of ...Dalam Islam tidak ada penyebutan tentang upacara pindah rumah. Umumnya umat Muslim di India biasa melantunkan lagu-lagu Maulid, yang tidak diperbolehkan dalam Islam. Ada kepercayaan bahwa merebus susu sebelum memasuki rumah baru akan membawa kemakmuran bagi kehidupan mereka; kepercayaan ini sangat mirip dengan mengikat Taweez dan dianggap sebagai syirik dalam Islam.
Apa saja yang dibaca saat selamatan rumah baru?
Untuk syukuran rumah baru, bacaan doa yang utama adalah memohon kebaikan dan perlindungan, seperti doa saat masuk rumah, doa khusus menempati rumah baru, dan membaca surat-surat Al-Qur'an seperti Al-Baqarah untuk menjauhkan gangguan setan, serta memperbanyak zikir dan shalawat sebagai ungkapan syukur.
Kenapa rumah baru harus syukuran?
Tujuan utamanya adalah mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan atas rumah baru dan berharap agar rumah tersebut menjadi tempat yang aman, nyaman, serta membawa rezeki bagi penghuninya. Syukuran biasanya disertai dengan makan bersama dan doa-doa.
Bolehkah syukuran rumah baru menurut Islam?
MENGADAKAN SYUKURAN DI RUMAH BARU
Para ulama membolehkan kegiatan semacam ini selama tak diikuti ritual-ritual tertentu di luar ketentuan syariat Islam.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/744355/original/077375600_1412055173-ihram.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417717/original/026810000_1763544372-Ilustrasi_Sholawat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5379321/original/037457900_1760341735-sholawat_fatih.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5487326/original/073426000_1769661836-paket_unik.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5404200/original/010661400_1762398082-sholawat_mansub_sendiri.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5068928/original/026798500_1735285005-147116947457b043c25600c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3551921/original/049297800_1629963863-muslim-woman-pray-hijab-praying-mat-indoors_73740-638__5_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4195529/original/072417900_1666083849-062171100_1628127938-pexels-themrdan-4331578.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5377515/original/045535000_1760099331-Solat_Sunnah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417359/original/042139100_1763531098-ilustrasi_sholat_jenazah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5080366/original/098387100_1736160174-1736156793388_caption-quotes-islami-singkat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5411947/original/069430700_1763026620-Kultum_Islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3416616/original/004756200_1617207185-utang_puasa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4858180/original/029627600_1717939832-WhatsApp_Image_2024-05-29_at_10.56.30.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4758315/original/039700600_1709260395-front-view-person-reading-from-holy-book.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5136138/original/060086900_1739846594-20250218-Tradisi_Nyadran-AFP_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3360466/original/061604200_1611722074-the-dancing-rain-N1xBagwnR1E-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5487330/original/067858300_1769662270-Gemini_Generated_Image_xzzxxgxzzxxgxzzx_2.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5153029/original/005485600_1741320049-islamic-family-with-delicious-food-medium-shot.jpg)





























