Liputan6.com, Jakarta - Kuliah tujuh menit (kultum) singkat acara buka puasa bersama tentang keikhlasan menjadi salah satu opsi untuk mengisi ajang silaturahmi dan berbagi kebahagiaan di bulan suci tersebut. Memang, salah satu tradisi yang tak terpisahkan di bulan Ramadhan ini adalah acara buka puasa bersama.
Seringkali, dalam acara buka puasa, sembari menunggu maghrib, kerap diisi dengan kuliah tujuh menit (kultum) sebagai santapan rohani menjelang adzan Magrib. Namun, menyampaikan pesan mendalam seperti hakikat keikhlasan dalam durasi yang sangat terbatas sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi para penceramah. Sebab, keikhlasan merupakan ruh dari segala amal ibadah yang menentukan diterima atau ditolaknya ibadah seseorang di sisi Allah SWT.
Artikel ini menyajikan tujuh naskah kultum singkat acara buka puasa bersama tentang keikhlasan yang padat dan bermakna. Setiap naskah telah disusun secara sistematis, lengkap dengan dalil Al-Qur'an atau Hadits beserta artinya, serta referensi pendapat ulama mu'tabar dari berbagai kitab klasik seperti Ihya’ Ulumuddin hingga Riyadhus Shalihin.
Kultum 1: Ruh dari Segala Amal
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman dan Islam, serta kesempatan untuk berkumpul di majelis buka puasa yang penuh berkah ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Hadirin yang dirahmati Allah, momen berbuka puasa bukan sekadar membatalkan lapar dan dahaga, tetapi juga momen refleksi tentang kualitas puasa kita. Salah satu penentu diterimanya amal ibadah kita, termasuk puasa hari ini, adalah keikhlasan. Tanpa keikhlasan, amal sebesar apapun akan sia-sia bagaikan debu yang beterbangan.
Ikhlas adalah memurnikan tujuan beribadah hanya kepada Allah semata, membersihkan hati dari keinginan untuk dipuji makhluk atau mendapatkan keuntungan duniawi. Ikhlas adalah ruh atau nyawa dari setiap amal perbuatan; tanpanya, amal itu mati dan tidak bernilai di sisi Allah.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surah Al-Bayyinah ayat 5:
وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعْبُدُواْ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّين
Artinya: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus..."
Ayat ini menegaskan bahwa perintah utama dalam beragama adalah ketulusan atau kemurnian niat. Allah tidak membutuhkan gerakan fisik shalat kita atau rasa lapar puasa kita jika di dalamnya tidak ada ketulusan untuk menggapai ridha-Nya.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin memberikan nasihat yang sangat mendalam tentang hal ini. Beliau berkata: "Semua manusia akan celaka kecuali mereka yang berilmu. Orang yang berilmu akan celaka kecuali mereka yang beramal. Dan orang yang beramal akan celaka kecuali mereka yang ikhlas."
Pendapat Imam Al-Ghazali ini mengingatkan kita bahwa ilmu yang banyak dan amal yang menumpuk belum menjamin keselamatan jika tidak dibarengi dengan hati yang ikhlas. Ikhlas adalah penyaring terakhir yang menentukan apakah amal itu sampai ke langit atau tertolak.
Oleh karena itu, di sisa waktu Ramadhan ini, mari kita luruskan kembali niat kita. Jangan sampai puasa kita hanya menjadi rutinitas tahunan atau sekadar ikut-ikutan tradisi tanpa ada getaran keimanan di dalam hati.
Semoga Allah SWT membersihkan hati kita dari sifat riya’ (ingin dilihat) dan sum’ah (ingin didengar), serta menjadikan puasa kita hari ini sebagai pemberat timbangan kebaikan di akhirat kelak.
Allahumma taqabbal minna shiyamana wa qiyamana wa ruku'ana wa sujudana, waj'alna minal mukhlishin. (Ya Allah terimalah puasa kami, shalat kami, ruku kami, sujud kami, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang ikhlas).
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kultum 2: Menyembunyikan Amal Kebaikan
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah mempertemukan kita dalam suasana ukhuwah Islamiyah di acara buka puasa bersama ini. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah SAW, suri tauladan terbaik dalam keikhlasan dan pengabdian kepada Allah.
Saudaraku yang dimuliakan Allah, salah satu tanda keikhlasan yang paling tinggi adalah kemampuan seseorang untuk menyembunyikan amal kebaikannya, sebagaimana ia menyembunyikan aib-aibnya. Di zaman media sosial ini, tantangan menjaga keikhlasan semakin berat karena godaan untuk memamerkan ibadah sangatlah besar.
Ikhlas menuntut kita untuk tidak bergantung pada penilaian manusia. Seseorang yang ikhlas akan merasa cukup bahwa Allah Maha Melihat apa yang ia kerjakan. Ia tidak butuh "like" atau komentar pujian dari manusia untuk merasa amalnya berharga.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim:
وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ
Artinya: "...dan seseorang yang bersedekah dengan suatu sedekah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya."
Hadits ini adalah metafora yang indah tentang puncak keikhlasan. Menyembunyikan amal menjaga hati dari rasa bangga diri (ujub) dan menghindarkan kita dari mengharapkan balasan dari manusia.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa ikhlas adalah ketika seseorang tidak menuntut saksi atas amalnya selain Allah, dan tidak menuntut balasan atas amalnya selain dari Allah.
Beliau menekankan bahwa amal yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi memiliki kekuatan spiritual yang luar biasa untuk memadamkan kemurkaan Allah dan mengangkat derajat seorang hamba. Semakin tersembunyi sebuah amal, semakin besar potensi keikhlasannya.
Mari kita jadikan momen Ramadhan ini sebagai latihan untuk memiliki "amal rahasia". Entah itu sedekah yang tidak diketahui orang lain, dzikir di keheningan malam, atau doa tulus untuk saudara kita tanpa sepengetahuan mereka.
Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk menjaga kemurnian niat dan menerima segala amal ibadah yang kita lakukan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Rabbana taqabbal minna innaka antas sami'ul 'alim, wa tub 'alaina innaka antat tawwabur rahim. (Ya Tuhan kami, terimalah amal dari kami, sungguh Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dan terimalah taubat kami, sungguh Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang).
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kultum 3: Ikhlas di Tengah Pujian dan Celaan
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah, Dzat yang mengetahui segala isi hati, yang tidak pernah luput dari pengawasan-Nya sekecil apa pun niat hamba-Nya. Shalawat serta salam mari kita haturkan kepada Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan kita arti ketulusan sejati.
Hadirin sekalian, seringkali semangat beribadah kita naik ketika dipuji dan turun drastis ketika dicela atau tidak diperhatikan. Ini adalah tanda bahwa keikhlasan kita masih perlu diperbaiki. Orang yang benar-benar ikhlas memiliki stabilitas hati yang luar biasa.
Bagi seorang mukhlis (orang yang ikhlas), pujian manusia tidak menambah semangatnya karena bukan itu yang ia cari, dan celaan manusia tidak membuatnya berhenti berbuat baik karena bukan kepada manusia ia berharap. Hatinya telah terikat kuat hanya kepada penilaian Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-An'am ayat 162:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ
Artinya: "Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam."
Ikrar ini sering kita baca dalam doa Iftitah. Ini adalah janji bahwa seluruh aspek hidup kita, termasuk respon kita terhadap perlakuan orang lain, didedikasikan hanya untuk Allah. Jika sudah untuk Allah, maka komentar manusia menjadi tidak relevan lagi.
Ulama besar Fudhail bin Iyadh, sebagaimana dikutip oleh Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar (dan juga dalam Riyadhus Shalihin pada pembahasan niat), memberikan definisi yang menohok tentang ikhlas. Beliau berkata: "Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, dan beramal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas adalah apabila Allah menyelamatkanmu dari keduanya."
Nasihat Fudhail ini sangat tajam. Jika kita batal bersedekah karena takut dibilang pamer, itu juga bentuk ketidakikhlasan karena kita masih memikirkan pendapat orang. Ikhlas adalah fokus pada perintah Allah, melupakan "penonton" di sekitar kita.
Maka, dalam acara buka puasa ini, marilah kita belajar untuk tidak terpengaruh oleh suasana luar. Baik saat ramai dipuji maupun saat sepi tanpa apresiasi, ibadah kita harus tetap konsisten dan berkualitas.
Semoga Allah SWT meneguhkan hati kita di atas agama-Nya dan menjauhkan kita dari penyakit hati yang merusak amal.
Ya Muqallibal qulub, tsabbit qalbana 'ala dinik wa 'ala tha'atik. (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu).
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kultum 4: Mengharapkan Wajah Allah Semata
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah yang telah memberikan kita kekuatan untuk menyelesaikan puasa hari ini. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, beserta para sahabat yang hatinya jernih dari segala tendensi duniawi.
Saudaraku yang berbahagia, ikhlas sering diartikan sebagai "melakukan sesuatu tanpa pamrih". Namun dalam Islam, ikhlas bukan berarti tanpa pamrih sama sekali. Kita tetap boleh, bahkan harus punya pamrih, tetapi pamrih itu hanya ditujukan kepada Allah SWT, bukan kepada makhluk.
Kita berpuasa karena mengharap surga-Nya, takut neraka-Nya, dan ingin melihat Wajah-Nya. Itulah keikhlasan yang benar. Ketika kita memberi makan orang lain atau berbagi takjil, motivasi utamanya adalah karena kita ingin Allah ridha kepada kita.
Hal ini digambarkan Allah dalam Surah Al-Insan ayat 9, tentang perkataan orang-orang yang ikhlas saat memberi makan:
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَآءً وَلَا شُكُورًا
Artinya: "Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih."
Lihatlah betapa tingginya standar ikhlas ini. Bahkan ucapan "terima kasih" pun tidak mereka harapkan. Mereka memberi, lalu melupakannya, menyerahkan balasannya sepenuhnya kepada Allah.
Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim, menjelaskan ayat ini dengan berkata bahwa orang yang ikhlas melakukan kebaikan tanpa mempedulikan apakah penerima kebaikan itu akan membalas budi atau tidak. Mereka beramal semata-mata karena Wajah Allah.
Ini adalah tantangan besar dalam kehidupan sosial kita. Seringkali kita kecewa jika kebaikan kita dibalas dengan air tuba. Namun jika kita ikhlas seperti penjelasan Ibnu Katsir, kekecewaan itu tidak akan ada karena "transaksi" kita adalah dengan Allah, bukan dengan manusia tersebut.
Mari kita periksa hati kita saat berbagi di bulan Ramadhan ini. Apakah kita masih menunggu ucapan terima kasih? Jika ya, mari kita perbaiki lagi niat kita agar lelah kita bernilai pahala yang sempurna.
Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang tulus, yang memberi tanpa mengingat-ingat pemberian, dan beribadah tanpa mengharap pujian.
Allahumma inna nas'aluka ridhaka wal jannah, wa na'udzu bika min sakhatika wan nar. (Ya Allah, sesungguhnya kami memohon ridha dan surga-Mu, dan kami berlindung kepada-Mu dari murka dan neraka-Mu).
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kultum 5: Beratnya Perjuangan Menata Hati
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji hanya milik Allah SWT. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan memohon ampunan-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah SAW, teladan umat dalam kesabaran dan keikhlasan.
Hadirin rahimakumullah, berbicara tentang ikhlas memang mudah di lisan, tetapi sangat berat dalam pelaksanaannya. Ikhlas bukanlah sesuatu yang statis; ia bisa berubah-ubah setiap detik. Mungkin saat memulai shalat kita ikhlas, tapi di tengah shalat muncul rasa ingin dipuji karena bacaan kita bagus.
Ikhlas adalah perjuangan seumur hidup. Hati manusia itu berbolak-balik, dan setan tidak akan pernah berhenti berusaha merusak niat kita agar amal kita tertolak. Oleh karena itu, menjaga keikhlasan membutuhkan kewaspadaan yang terus-menerus (muraqabah).
Allah SWT mengingatkan kita untuk tidak menyekutukan-Nya dalam beribadah melalui Surah Al-Kahfi ayat 110:
فَمَن كَانَ يَرْجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا
Artinya: "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya."
Ayat ini menjadi dasar bahwa syarat bertemunya kita dengan Allah dalam keadaan baik adalah amal sholeh yang bersih dari syirik (menyekutukan Allah), termasuk syirik kecil yaitu riya'.
Yusuf bin Asbat, seorang ulama sufi terkemuka, pernah berkata (dikutip dalam kitab Jami’ul Ulum wal Hikam karya Ibnu Rajab): "Memurnikan niat (ikhlas) itu lebih berat bagi orang-orang yang beramal daripada (melakukan) amal itu sendiri."
Pernyataan ini menunjukkan bahwa lelahnya fisik saat puasa atau tarawih belum sebanding dengan lelahnya batin dalam menepis bisikan-bisikan ingin dipuji. Perjuangan menata hati adalah jihad yang sesungguhnya bagi seorang mukmin.
Maka, janganlah kita merasa aman dengan amal yang sudah kita lakukan. Teruslah berdoa dan perbarui niat setiap saat, agar Allah melindungi hati kita dari kotoran yang merusak pahala.
Semoga Allah SWT memberikan kita keistiqomahan hati dan melindungi kita dari fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi.
Allahumma a'inna 'ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatik. (Ya Allah, tolonglah kami untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu).
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kultum 6: Ikhlas Menghadirkan Ketenangan
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita kenikmatan berbuka puasa. Semoga setiap teguk air yang kita minum menjadi keberkahan. Shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan bahwa ketenangan hati bersumber dari keikhlasan.
Hadirin yang dimuliakan Allah, tahukah kita bahwa salah satu buah manis dari keikhlasan adalah ketenangan jiwa? Orang yang tidak ikhlas hidupnya penuh kecemasan. Ia cemas jika amalnya tidak diketahui orang, cemas jika citranya buruk, dan cemas jika tidak mendapatkan balasan duniawi.
Sebaliknya, orang yang ikhlas hidupnya tenang. Ia tidak memiliki beban sandiwara di hadapan manusia. Ia tampil apa adanya, karena ia sadar bahwa satu-satunya yang perlu ia senangkan adalah Allah SWT. Ketenangan inilah yang disebut sebagai kebahagiaan sejati.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits riwayat Muslim:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian."
Hadits ini menegaskan bahwa fokus utama penilaian Allah adalah hati. Ketika hati tenang dan tulus, maka amal perbuatan akan mengikutinya menjadi baik.
Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitabnya Fath Ar-Rabbani memberikan nasihat yang indah: "Jadilah kamu bersama Allah seakan-akan tidak ada makhluk, dan jadilah kamu bersama makhluk seakan-akan tidak ada nafsu. Jika kamu bersama Allah tanpa makhluk, kamu akan mendapati-Nya. Dan jika kamu bersama makhluk tanpa nafsu, kamu akan berlaku adil dan ikhlas."
Nasihat beliau mengajarkan kita cara mencapai ketenangan: lepaskan ketergantungan pada manusia saat beribadah, dan lepaskan ego saat bergaul dengan manusia. Inilah kunci keikhlasan yang membawa kedamaian.
Mari di momen buka puasa ini, kita lepaskan segala beban pikiran tentang penilaian orang lain. Mari kita nikmati ibadah kita hanya bersama Allah, agar Ramadhan ini benar-benar menjadi bulan penyucian jiwa.
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita hati yang muthmainnah (tenang) dan ridha dengan segala ketetapan-Nya.
Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina 'adzaban nar. (Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka).
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kultum 7: Allah Maha Kaya, Tidak Butuh Sekutu
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Puji syukur kehadirat Allah SWT, Rabb semesta alam yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah menyampaikan risalah Islam dengan penuh ketulusan dan pengorbanan.
Hadirin sekalian, Allah SWT adalah Dzat yang Maha Cemburu. Dia tidak mau diduakan dalam hal ibadah. Jika kita beribadah kepada Allah, tetapi di sudut hati kita juga menyelipkan niat untuk makhluk, maka Allah akan meninggalkan amal tersebut seluruhnya untuk makhluk itu.
Konsep ini sangat mengerikan jika kita renungkan. Bayangkan kita lelah berpuasa, menahan lapar dan dahaga seharian, namun karena ada sedikit riya’, Allah menolak seluruhnya. Allah tidak mau menerima "sisa" atau "sebagian" niat. Dia meminta semuanya atau tidak sama sekali.
Dalam sebuah Hadits Qudsi riwayat Imam Muslim, Allah SWT berfirman:
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Artinya: "Aku adalah Dzat yang paling tidak butuh sekutu. Barangsiapa melakukan suatu amalan yang di dalamnya ia menyekutukan Aku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya dan sekutunya itu."
Hadits ini adalah peringatan keras. Allah menyatakan ketidakbutuhan-Nya. Jika kita tidak ikhlas, Allah tidak rugi sedikitpun, kitalah yang merugi serugi-ruginya.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim ketika menjelaskan hadits ini menegaskan bahwa amalan yang bercampur dengan riya' adalah batil (sia-sia) dan tidak mendapat pahala. Beliau menekankan bahwa Allah hanya menerima yang murni untuk-Nya.
Oleh karena itu, marilah kita senantiasa memurnikan tauhid dan niat kita. Bersihkan hati dari tendensi duniawi saat beribadah. Biarlah puasa kita, shalat kita, dan sedekah kita menjadi rahasia indah antara kita dengan Allah saja.
Semoga di penghujung hari puasa ini, Allah membersihkan hati kita dan mencatat kita sebagai hamba-hamba-Nya yang mukhlisin.
Allahumma inna na'udzu bika an nusyrika bika syai-an na'lamuh, wa nastaghfiruka lima la na'lamuh. (Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampun kepada-Mu untuk sesuatu yang tidak kami ketahui).
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
People also Ask:
Tema kegiatan buka puasa bersama?
Buka Puasa Bersama Universitas Esa Unggul dengan tema ...Tema buka puasa bersama bisa bervariasi, mulai dari yang klasik dan religius (mengenang Rasulullah, khatam Al-Qur'an), modern dan kekinian (ala Gen Z, warna-warni, potluck kuliner Nusantara), hingga berbasis kepedulian (berbagi dengan anak yatim, galang dana) untuk mempererat silaturahmi dan kebersamaan di bulan Ramadan, dengan ide seperti "Ramadhan Penuh Warna," "Bukber Nusantara," atau "Baper (Buka Puasa Bareng Ceria)".
Apa saja judul ceramah di bulan puasa?
Ceramah 1: Keutamaan Ramadan dan Manfaatnya dalam Kehidupan.Ceramah 2: Makna Puasa dalam Membentuk Karakter Muslim.Ceramah 3: Ramadan sebagai Bulan Al-Qur'an.Ceramah 4: Keutamaan Lailatul Qadar dan Cara Meraihnya.Ceramah 5: Hikmah Ramadan dalam Kehidupan Sosial.
Apakah kultum harus 7 menit?
Tidak harus selalu 7 menit, tetapi "kultum" (kuliah tujuh menit) memang identik dengan durasi singkat, idealnya sekitar 5-7 menit, agar pesan tersampaikan padat dan jamaah tidak bosan. Durasi ini adalah standar umum untuk ceramah singkat, tetapi bisa sedikit lebih pendek atau lebih lama tergantung kebutuhan, yang penting isinya singkat, jelas, inspiratif, dan bermakna.
Keutamaan buka puasa bersama?
Kegiatan buka puasa bersama bukan hanya sekadar menikmati hidangan setelah seharian berpuasa, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi, berbagi rezeki, dan mempererat hubungan sosial.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500984/original/066237900_1770884136-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5146070/original/008459300_1740749107-20250228-Mantau_Hilal-MER_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4754808/original/009450500_1709018216-dates-6638825_1280.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3195813/original/076650300_1596187131-20200731-Hagia-Sophia-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5474897/original/001794600_1768542553-Paket_Sewa_Sound_System.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5377296/original/064898000_1760087029-Ilustrasi_Pria_Mengamalkan_Sholawat_Jibril.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4370308/original/064241200_1679646015-Shalot-Jumat-Pertama-Ramadhan-Di-Masjid-Istiqlal-Angga-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5377372/original/080560200_1760091737-Sholat_Sunnah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4449837/original/055086300_1685614290-WhatsApp_Image_2023-06-01_at_17.06.22.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3108148/original/088309000_1587459079-2642016.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5496928/original/016823400_1770609780-Cokelat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010958/original/004782000_1651214800-20220429-Itikaf-Lailatul-Qadar-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4146857/original/003557900_1662357864-pexels-rodnae-productions-7249372.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5382022/original/048339900_1760524874-Sholawat_dan_Berdzikir.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5066926/original/050970300_1735272788-1735270009668_100-kata-mutiara-islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/744355/original/077375600_1412055173-ihram.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417717/original/026810000_1763544372-Ilustrasi_Sholawat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5379321/original/037457900_1760341735-sholawat_fatih.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4725886/original/008571900_1706156981-madrosah-sunnah-XvJYidRmpUE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5487326/original/073426000_1769661836-paket_unik.jpg)





























