Ayat Al-Qur’an tentang Berserah diri Kepada Allah Lengkap Arti dan Tafsirnya

3 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Ayat Al-Qur’an tentang berserah diri kepada Allah merupakan konsep spiritual yang disebut tawakal. Tawakal adalah manifestasi keyakinan di dalam hati yang memberikan motivasi kepada manusia dengan kuat untuk menggantungkan harapan kepada Allah SWT, sekaligus menjadi ukuran tingginya iman seseorang.

Tawakal bukanlah pasrah tanpa usaha. Dalam kitab Mu’jam al-Mufahras li al-Fazh al-Qur’an al-Karim, Muhammad Fuad Abdul Baqi mencatat bahwa kalimah tawakkal dari akar kata wakala terhitung di dalam Al-Qur’an sebanyak 84 kali dalam 22 surah. Hal ini menunjukkan betapa sentralnya konsep ini dalam bangunan keimanan seorang muslim.

Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa tawakal adalah bagian dari keimanan, dan seluruh bagian keimanan tidak akan terbentuk melainkan dengan ilmu, keadaan, dan perbuatan. Tawakal adalah menyandarkan diri kepada Allah tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepada-Nya dalam kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa dan hati yang tenang.

Tawakal merupakan amalan dan penghambaan hati dengan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah SWT semata, percaya terhadap-Nya, berlindung hanya kepada-Nya, dan ridha atas sesuatu yang menimpa dirinya, dengan tetap melaksanakan sebab-sebab serta usaha keras untuk memperolehnya. Dengan demikian, ayat Al-Qur’an tentang berserah diri kepada Allah mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar maksimal dan kepasrahan kepada Sang Pencipta.

Ayat-Ayat Al-Qur’an tentang Berserah Diri kepada Allah

1. Surah Ali ‘Imran, Ayat 159

Teks Arab, Latin, dan Terjemah:

Arab: فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Latin: Fa bimā raḥmatim minallāhi linta lahum, walau kunta faẓẓan galīẓal-qalbi lanfaḍḍū min ḥaulik, fa‘fu ‘anhum wastagfir lahum wa syāwirhum fil-amr, fa iżā ‘azamta fa tawakkal ‘alallāh, innallāha yuḥibbul-mutawakkilīn.

Artinya: "Maka berkat rahmat Allah, engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu, maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakkal."

Syeikh Muhammad Mutawalli as-Sya’rawi dalam Tafsir as-Sya’rawi menjelaskan bahwa tawakal pada ayat ini adalah keutamaan iman, yaitu beramal dengan anggota badan dan bertawakkal dengan hati. Beliau menganalogikannya seperti bercucuk tanam: ada benih yang baik, tanah yang bagus, dan air yang cukup—itulah usaha.

Maka untuk membuahkan hasil dari pohon itu adalah dengan bertawakkal kepada Allah. Sya’rawi menegaskan bahwa orang yang memahami tawakal dengan meninggalkan usaha adalah keliru; itu adalah kemalasan, bukan tawakal.

2. Surah Al-Maidah, Ayat 11

Arab: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ هَمَّ قَوْمٌ اَنْ يَّبْسُطُوْٓا اِلَيْكُمْ اَيْدِيَهُمْ فَكَفَّ اَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ

Latin: Yā ayyuhal-lażīna āmanużkurū ni‘matallāhi ‘alaikum iż hamma qaumun ay yabsuṭū ilaikum aidiyahum fa kaffa aidiyahum ‘ankum, wattaqullāh, wa ‘alallāhi fal yatawakkalil-mu’minūn.

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah nikmat Allah (yang diberikan) kepadamu, ketika suatu kaum bermaksud hendak menyerangmu dengan tangannya, lalu Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah-lah hendaknya orang-orang beriman itu bertawakkal."

Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar menjelaskan bahwa di ujung ayat ini Allah SWT memberi peringatan kepada orang yang beriman bahwa Rasulullah SAW terlepas dari segala macam bahaya karena beliau tetap berpegang kepada dua syarat perjuangan: pertama takwa, dan kedua tawakkal, yaitu dua alat hati yang sekali-kali tidak boleh berpisah.

Dengan takwa, hubungan dengan Allah tetap terpelihara; dan disamping itu selalu bertawakkal, yaitu menyerahkan diri kepada-Nya.

3. Surah Al-Anfal, Ayat 49

Arab: اِذْ يَقُوْلُ الْمُنٰفِقُوْنَ وَالَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ غَرَّ هٰٓؤُلَۤاءِ دِيْنُهُمْ ۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Latin: Iż yaqūlul-munāfiqūna wal-lażīna fī qulūbihim maraḍun garra hā’ulā’i dīnuhum, wa may yatawakkal ‘alallāhi fa innallāha ‘azīzun ḥakīm.

Artinya: "(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata, 'Mereka itu (orang mukmin) ditipu agamanya.' (Allah berfirman), 'Barang siapa bertawakkal kepada Allah, ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.'"

Dalam Tafsir as-Sya’rawi, Syeikh as-Sya’rawi menjelaskan bahwa ayat ini turun ketika Perang Badar. Orang-orang munafik dan orang yang hatinya sakit merasakan was-was melihat bilangan tentera musuh yang banyak dan orang mukmin yang sedikit

Namun Allah menjawab bahwa orang-orang mukmin itu bukanlah ditipu oleh agama mereka, akan tetapi karena mereka bertawakkal kepada Allah. Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya.

4. Surah At-Taubah, Ayat 129

Arab: فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ

Latin: Fa in tawallau fa qul ḥasbiyallāhu lā ilāha illā huwa, ‘alaihi tawakkaltu wa huwa rabbul-‘arsyil-‘aẓīm.

Artinya: "Maka jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah (Muhammad), 'Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arasy (singgahsana) yang agung'."

Syeikh as-Sya’rawi menjelaskan bahwa tawakal pada ayat ini adalah doa yang diajarkan Allah kepada Rasul-Nya setelah berbagai kesulitan yang dihadapi baginda dalam dakwah. Sya’rawi berkata bahwa kebanyakan manusia salah dalam memahami tawakal.

Sesungguhnya tawakal itu adalah sebab yang Allah ciptakan kepada makhluk-Nya, dan doa yang benar menjadi sebab akan tercapainya natijahnya, yaitu Allah SWT melenyapkan kesulitan. Adapun makna tawakal itu adalah bergantung atau bersandar kepada Allah yang memberi pertolongan kepada hamba-Nya setelah pelbagai usaha yang dilakukan akan membuahkan hasil.

5. Surah Al-Ahzab, Ayat 3

Arab: وَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ وَكِيْلًا

Latin: Wa tawakkal ‘alallāh, wa kafā billāhi wakīlā.

Artinya: "Dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah menjadi pentadbir urusanmu."

Syeikh as-Sya’rawi menjelaskan bahwa pada ayat ini at-tawakkul adalah menampakkan kelemahan seseorang dalam sesuatu perkara, maka ia pergi kepada orang yang kuat dan bergantung kepadanya. Inilah syarat sebab yang telah diciptakan Allah dalam diri hamba-Nya. Maka at-tawakkul itu berusaha dengan anggota badan dan berserah dengan hati.

Beliau juga mengutip hadis yang diriwayatkan dari Umar al-Khattab bahwa Rasulullah SAW memberikan contoh tawakal dengan seekor burung: "Jika kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, maka Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberikan rezeki kepada burung, ia pergi dengan perut kosong dan pulang dengan perut kenyang".

Kandungan Ayat Al-Qur’an tentang Berserah Diri kepada Allah

Ayat-ayat Al-Qur’an tentang berserah diri kepada Allah mengandung beberapa prinsip fundamental yang dapat diuraikan sebagai berikut:

Pertama, tawakal adalah perintah Allah yang harus diiringi dengan usaha maksimal. Ayat-ayat di atas secara konsisten mendahulukan perintah berusaha sebelum perintah bertawakal. Dalam Surah Ali ‘Imran ayat 159, Allah memerintahkan bermusyawarah terlebih dahulu, kemudian setelah membulatkan tekad, barulah bertawakal. Ini menunjukkan bahwa tawakal bukanlah pengganti usaha, melainkan penyempurnaan dari usaha tersebut.

Kedua, tawakal adalah manifestasi tauhid yang murni. Tawakal hanya boleh ditujukan kepada Allah semata, tidak kepada selain-Nya. Allah berfirman dalam Surah Al-Maidah ayat 23: "Dan hanya kepada Allah-lah hendaklah kamu bertawakkal, apabila kamu benar-benar menjadi orang yang beriman." Ayat ini menegaskan bahwa tawakal adalah ciri khas orang beriman yang tidak menggantungkan harapan kepada makhluk.

Ketiga, tawakal membuahkan ketenangan jiwa dan ketenteraman hati. Orang yang bertawakal yakin bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman kekuasaan Allah. Ia tidak lagi dihantui rasa cemas berlebihan karena percaya bahwa Allah adalah sebaik-baik pengatur. Hati yang tawakal akan selalu damai, karena ia yakin bahwa Allah akan mencukupkan segala keperluan hamba-Nya.

Keempat, tawakal harus disertai dengan syukur dan sabar. Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar menjelaskan bahwa tawakal mesti diiringi dengan syukur dan sabar: syukur jika apa yang dikehendaki tercapai, sabar jika hasil yang didapat masih mengecewakan dan ikhlas menyerahkan diri kepada Allah, sehingga hidayah-Nya selalu turun.

Kelima, tawakal adalah puncak keimanan. Buya Hamka menyebutkan bahwa tawakal adalah puncak dari iman sebagaimana yang ditempuh oleh Rasulullah SAW. Pengakuan iman belum berarti kalau belum tiba di puncak tawakkal. Apabila seseorang mukmin telah bertawakkal, berserah diri kepada Allah SWT, terlimpah dalam dirinya sifat ‘Aziz yang ada pada Allah SWT.

Hikmah Memahami Ayat Al-Qur’an tentang Berserah Diri kepada Allah

Memahami dan mengamalkan ayat-ayat tentang berserah diri kepada Allah membawa hikmah yang sangat besar bagi kehidupan seorang muslim, baik secara spiritual maupun sosial:

1. Tawakal Membawa Ketenangan Hati

Salah satu hikmah tawakal kepada Allah SWT yang paling besar adalah tercapainya ketenangan hati. Ketika seseorang telah berusaha dengan sungguh-sungguh dan menyerahkan hasilnya kepada Allah, ia tidak lagi dihantui rasa cemas berlebihan.

2. Tawakal Menumbuhkan Keikhlasan dalam Beramal

Seseorang yang benar-benar bertawakal akan berbuat baik tanpa berharap pujian manusia. Ia sadar bahwa segala amal yang dilakukannya adalah karena Allah semata, dan hasilnya pun diserahkan kepada-Nya.

3. Tawakal Menghilangkan Keangkuhan dan Putus Asa

Dengan tawakal akan hilang keangkuhan dan putus asa pada diri manusia. Mereka tidak akan menyakiti diri, stres, sakit jiwa, bahkan bunuh diri karena tidak dapat mencapai cita-cita yang diinginkan. Seorang yang bertawakal akan tetap tabah dengan kondisi yang ada, walau memiliki kekurangan dan keterbatasan.

4. Tawakal Melahirkan Keberanian dan Optimisme

Tawakal akan mendorong seseorang supaya memiliki rasa optimis dan keberanian dalam menghadapi segala persoalan kehidupan. Ia yakin bahwa Allah akan menolong hamba-Nya yang bertawakkal, sebagaimana Allah berfirman: "Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya)" (QS. At-Talaq: 3).

4. Tawakal Memperkuat Ukhuwah dan Tanggung Jawab Sosial

Pemahaman tawakal yang benar mendorong seseorang untuk tetap berusaha dan bekerja keras, sekaligus menyerahkan hasilnya kepada Allah. Dalam konteks pandemi Covid-19, tawakal diwujudkan dengan mematuhi protokol kesehatan sebagai bentuk ikhtiar, kemudian berserah diri kepada Allah setelah semua upaya maksimal dilakukan.

6. Tawakal Adalah Buah dari Tauhid yang Benar

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyatakan bahwa tawakal adalah buah dari tauhid. Orang yang percaya sepenuhnya kepada Allah SWT, dia pasti akan bersikap tawakal. Tawakal adalah sikap mental yang bersumber dari hati, namun ketika mewujud dalam tindakan, tawakal selalu berbarengan dengan ikhtiar.

Pertanyaan Seputar Tawakal

1. Apa perbedaan tawakal dengan tawakul (bergantung tanpa usaha)?

Tawakal yang benar adalah berserah diri kepada Allah setelah melakukan usaha maksimal, sedangkan tawakul (istilah yang sering disalahartikan) adalah sikap bergantung tanpa usaha yang benar. Syeikh as-Sya’rawi menjelaskan bahwa tawakal adalah satuan usaha dan berserah kepada Allah akan keputusannya, sedangkan tawakul adalah membebaskan diri dari segala ketergantungan kepada selain Allah dan menyerahkan keputusan segala sesuatu hanya kepada Allah SWT.

2. Apakah tawakal berarti meninggalkan usaha dan hanya berdoa saja?

Tidak. Tawakal justru mengharuskan adanya usaha. Rasulullah SAW bersabda kepada seorang lelaki yang bertanya apakah ia harus melepaskan untanya atau mengikatnya sambil bertawakal: "Ikatlah untamu dan bertawakkallah kepada Allah" (HR. Tirmidzi). Hadis ini menjadi dalil bahwa tawakal harus didahului dengan ikhtiar.

3. Ayat Al-Qur’an mana yang paling utama tentang tawakal?

Setiap ayat memiliki keutamaan masing-masing. Namun, Surah Ali ‘Imran ayat 159 sering dijadikan rujukan utama karena mengandung prinsip tawakal setelah azam (tekad yang bulat). Buya Hamka menjelaskan bahwa ayat ini adalah pegangan hidup bagi Rasul dan bagi tiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

4. Bagaimana cara menerapkan tawakal dalam kehidupan sehari-hari?

Penerapan tawakal dapat dilakukan dengan: (1) melakukan usaha maksimal sesuai kemampuan, (2) berdoa kepada Allah, (3) menyerahkan hasil kepada Allah setelah usaha dilakukan, (4) bersyukur jika hasilnya baik, dan (5) bersabar serta husnuzan kepada Allah jika hasilnya kurang memuaskan.

5. Apa hikmah tawakal yang paling besar?

Hikmah tawakal yang paling besar adalah tercapainya ketenangan hati dan ketenteraman jiwa. Orang yang bertawakal yakin bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman kekuasaan Allah, sehingga ia tidak lagi dihantui rasa cemas berlebihan. Hati yang tawakal akan selalu damai, karena ia yakin bahwa Allah adalah sebaik-baik pengatur.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |