BEI: Penurunan IPO Tak Cerminkan Kepercayaan Investor Turun

7 hours ago 5

BURSA Efek Indonesia (BEI) menilai penurunan jumlah perusahaan yang melantai di bursa tidak serta-merta mencerminkan menurunnya kepercayaan investor maupun calon emiten terhadap pasar modal.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Saidu Solihin mengatakan jumlah permohonan pernyataan pendaftaran saham secara umum tidak mengalami penurunan. Namun, sebagian calon emiten membatalkan atau menunda rencana pencatatan saham, sementara sebagian lainnya tidak memperoleh persetujuan dari bursa.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Alasannya, karena pertimbangan kondisi keuangan, operasional, aspek hukum, hingga keberlangsungan usaha (going concern). “Meski demikian, aktivitas penerbitan obligasi dan atau sukuk serta instrumen efek lainnya di Bursa mengalami peningkatan,” kata Saidu kepada Tempo, Senin, 13 Juli 2026.

Saidu menjelaskan aktivitas penerbitan obligasi, sukuk, dan instrumen efek lainnya justru meningkat. Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan perusahaan tetap memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan, meski memilih instrumen yang berbeda sesuai kebutuhan masing-masing.

Dia menyampaikan keputusan untuk menjadi perusahaan terbuka merupakan langkah strategis yang dipengaruhi faktor internal maupun eksternal. Dari sisi internal, perusahaan harus memiliki kesiapan dari aspek kinerja keuangan, struktur organisasi, serta pemenuhan persyaratan yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI. Adapun dari sisi eksternal, keputusan IPO dipengaruhi oleh kondisi industri, perkembangan ekonomi global dan domestik, tingkat suku bunga, inflasi, kebijakan pemerintah, hingga dinamika geopolitik.

Meski jumlah IPO menurun, kata Saidu, nilai dana yang dihimpun justru meningkat. Pada 2025, sebanyak 26 perusahaan menghimpun dana sekitar Rp 18,1 triliun melalui IPO, lebih tinggi dibandingkan Rp 14,3 triliun yang diperoleh 41 perusahaan pada 2024. Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan perusahaan yang melantai memiliki skala pendanaan yang lebih besar.

Karena itu, BEI menilai keberhasilan pasar modal tidak hanya diukur dari jumlah perusahaan yang melakukan IPO, tetapi juga kualitas emiten yang masuk ke bursa. Dia menekankan bahwa hal terpenting bukan hanya jumlah perusahaan yang mencatatkan saham, tetapi juga bagaimana perusahaan tersebut memiliki fundamental yang baik, tata kelola yang kuat, dan mampu tumbuh secara berkelanjutan setelah menjadi perusahaan terbuka.

Untuk meningkatkan kualitas emiten, BEI telah memperbarui Peraturan Nomor I-A tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham pada Maret 2026. Regulasi tersebut ditujukan untuk memperkuat tata kelola perusahaan tercatat sekaligus meningkatkan perlindungan investor.

Selain penguatan regulasi, BEI juga terus memberikan edukasi dan pendampingan kepada perusahaan potensial melalui berbagai program, seperti Go Public Seminar, coaching clinic, masterclass, dan one-on-one meeting. Bursa juga menyediakan laman khusus bagi calon emiten sebagai sumber informasi mengenai proses dan persiapan IPO serta fasilitas diskusi awal dengan BEI untuk membahas kesiapan pencatatan saham.

Sebelumnya, ekonom sekaligus Capital Market Specialist and Founder LBP Enterprises, Lucky Bayu Purnomo, menilai keberlanjutan penawaran umum perdana saham menjadi indikator positif iklim investasi, benar secara kualitatif. Dengan masih adanya perusahaan berskala besar yang berani melantai di bursa di tengah tekanan ekonomi menunjukkan kepercayaan terhadap pasar modal.

Namun, secara kuantitatif, tren jangka menengah menunjukkan pendalaman pasar modal Indonesia dari sisi jumlah emiten baru justru melambat, bukan menguat. Kepercayaan investor lebih tepat dibaca dari kualitas pipeline, komposisi pipeline saat ini didominasi perusahaan skala aset besar, dengan sektor healthcare paling menonjol, ini sinyal positif karena investor mengejar kepastian arus kas, bukan sekadar cerita pertumbuhan.

“Secara prinsip benar, namun perlu dilihat secara proporsional. Data menunjukkan hingga 9 Juli 2026 realisasi IPO baru mencapai enam perusahaan dari target 50 perusahaan dalam RKAB 2026 BEI,” kata Lucky kepada Tempo, pada Ahad, 12 Juli 2026.

Angka itu, menurut dia, justru melanjutkan tren pelambatan struktural, yaitu jumlah emiten IPO terus menyusut dari 79 emiten pada 2023, menjadi 41 emiten pada 2024, dan hanya 26 emiten pada 2025.

Lucky melihat bahwa volatilitas dan ketidakpastian global sangat memengaruhi keputusan perusahaan untuk melaksanakan IPO. Menurut dia, kondisi tersebut sejalan dengan teori market timing dalam struktur modal, yakni perusahaan cenderung menunda IPO ketika biaya modal ekuitas (cost of equity) meningkat akibat volatilitas pasar, dan mempercepat pencatatan saham saat kondisi pasar lebih kondusif.

Ia menuturkan faktor geopolitik global juga menjadi salah satu pertimbangan utama dalam aktivitas penghimpunan dana di pasar modal tahun ini. Di sisi lain, tingginya suku bunga membuat biaya pendanaan melalui pinjaman meningkat sehingga penerbitan saham menjadi alternatif yang lebih rasional dibandingkan pembiayaan berbasis utang.

Lucky berpendapat bahwa investor kini jauh lebih selektif dalam memilih calon emiten. Investor dinilai lebih menyukai perusahaan yang memiliki pertumbuhan pendapatan yang jelas, rencana penggunaan dana yang produktif, valuasi yang wajar, serta struktur pengendali yang kuat. Tidak hanya itu, penerbitan instrumen utang masih lebih mendominasi dibandingkan IPO.

Hingga saat ini, kata dia, terdapat 71 emisi Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) dari 43 perusahaan dengan nilai penghimpunan dana mencapai Rp 76,1 triliun, jauh lebih besar dibandingkan dana yang dihimpun melalui IPO saham. Kondisi tersebut menunjukkan pelaku usaha masih menjadikan instrumen utang sebagai sumber pendanaan utama di tengah gejolak pasar ekuitas.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |