Liputan6.com, Jakarta - Menjelang hari raya Qurban, kerap muncul pertanyaan, apakah Idul Adha mengucapkan minal aidin? Pertanyaan sangat wajar mengingat ucapan 'minal aidin wal faizin' sering kali lebih akrab didengar saat Idul Fitri.
Sebelum membahas boleh dan tidaknya pengucapan pada Idul Adha, mari kita ketahui terlebih dahulu makna minal aidin. Secara bahasa, "Minal Aidin wal Faizin" (مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ) berarti "semoga kita termasuk orang-orang yang kembali (kepada fitrah) dan orang-orang yang menang (mendapat kemenangan)."
Ungkapan ini termasuk kategori tahniah, ucapan selamat yang diungkapkan di saat-saat gembira, yang dalam Islam diperbolehkan bahkan dianjurkan selama tidak mengandung unsur kemaksiatan.
Lantas, bolehkah seseorang mengucapkan minal aidin wal faizin pada lebaran Idul Adha? Mari simak ulasannya, merujuk ebook Bekal-bekal di Dalam Menyambut Idul Adha, Ustadz Abū Salmâ al-Atsarî, Jurnal Wawasan As-Sunnah tentang Qurban dan Idul Adha, Sulidar, kitab fikih dan sumber relevan lainnya.
Bolehkah Mengucapkan Minal Aidin pada Idul Adha?
Perlu dipahami, lafal "Minal Aidin wal Faizin" tidak ditemukan dalam Al-Qur’an maupun dalam satu pun hadis Nabi. Ucapan ini merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat, terutama di Nusantara, dan lebih populer digunakan saat Idul Fitri.
Beberapa ulama kontemporer menilai bahwa ucapan ini kurang tepat digunakan untuk Idul Adha, karena esensi Idul Adha bukanlah "kembali ke fitrah" setelah sebulan berpuasa, melainkan momentum pengorbanan dan ketaatan meneladani Nabi Ibrahim.
Namun, secara syariat, para ulama menjelaskan bahwa ucapan ini termasuk dalam kategori tahniah (ungkapan selamat di hari raya) yang secara garis besar diperbolehkan, asalkan tidak dianggap sebagai kewajiban ibadah yang harus dilaksanakan.
Hal ini berdasar pandangan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al-Majmu’ al-Fatawa, yang menyatakan bahwa seseorang boleh mengucapkan tahniah, sementara yang meninggalkannya juga tidak mengapa, karena hal ini bukan perkara yang disunnahkan maupun dilarang.
Meskipun diperbolehkan, perlu dipahami bahwa ucapan “minal aidin wal faizin” tidak ditemukan dalam dalil dari Rasulullah SAW maupun para sahabat.
Lafal Ucapan Idul Adha yang Lebih Sesuai Sunnah
Meski di hari raya Idul Adha, diperbolehkan mengucapkan "Minal Aidin wal Faizin" sebagai bentuk tradisi dan doa kebaikan. Namun, yang lebih utama dan lebih sesuai dengan tuntunan sunnah adalah mengucapkan “Taqabbalallāhu minnā wa minkum” (Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian), doa yang dipraktikkan oleh para sahabat dan disetujui oleh Rasulullah.
Hal ini berdasar Riwayat dari Jubair bin Nufair mengungkapkan praktik para sahabat ketika bertemu di hari raya. Mereka mengucapkan:
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
"Semoga Allah menerima (amal ibadah) dari kami dan dari kalian."
Al‑Hafizh Ibnu Hajar al‑‘Asqalani dalam Fath al‑Bārī (II/446) menyatakan sanad hadis ini hasan. Dalam riwayat lain, Khalid bin Ma‘dan bertemu Watsilah bin al‑Asqa‘ di hari raya dan mengucapkan “Taqabbalallāhu minnā wa minka.” Watsilah menjawab, “Aku pernah bertemu Rasulullah pada hari raya dan mengucapkan kalimat itu, lalu beliau menjawab: ‘Na‘am, taqabbalallāhu minnā wa minka’.” (HR. al‑Baihaqi). Inilah bentuk tahniah yang paling kuat sandarannya.
Perbedaan utama antara kedua ucapan ini terletak pada maknanya: "taqabbalallahu" secara spesifik mendoakan penerimaan ibadah, yang merupakan inti dari esensi hari raya, sementara "minal aidin" lebih umum dan merupakan tradisi budaya yang berkembang di masyarakat. Syaikh Ibnu Taimiyah juga meriwayatkan bahwa sekelompok sahabat mempraktikkan tahniah di hari raya, dan para ahli hadis seperti Imam Ahmad memberikan keringanan (tidak melarang) terhadap praktik ini.
Jika ingin menggabungkan keduanya, tidak ada larangan, selama diniatkan sebagai doa kebaikan.
Pandangan Ulama tentang Ucapan di Idul Adha
Para ulama berpendapat selama seseorang mendoakan kalimat‑kalimat yang positif sebagai bentuk kegembiraan di Idul Fitri dan Idul Adha maka itu boleh saja. Namun yang lebih utama adalah menggunakan kalimat yang diajarkan Nabi, yaitu Taqabbalallāhu minnā wa minkum.
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Bāz, Mufti Kerajaan Saudi Arabia, ketika ditanya tentang ucapan “Minal Aidin wal Faizin,” memberikan fatwa bahwa ucapan selamat dengan berbagai redaksi yang mengandung doa kebaikan diperbolehkan, selama tidak mengandung unsur syirik atau bid‘ah yang menyalahi syariat.
Hal ini ditegaskan dalam Fatāwā asy‑Syabkah al‑Islāmiyyah (V/2912), yang menyatakan tidak ada larangan menggunakan berbagai redaksi doa di hari raya, baik dengan “kullu ‘āmin wa anta bi khair” maupun redaksi serupa, karena hukum asal adat adalah boleh.
Syaikh Shalih al‑Fauzān (anggota Hai’ah Kibaril ‘Ulama, Saudi Arabia) dalam Syarh Bulūgh al‑Marām (jilid II) juga menyatakan bahwa tahniah di hari raya diperbolehkan, tetapi yang lebih utama adalah diamalkan sesuai dengan yang dicontohkan para salaf, yaitu mendoakan penerimaan amal (taqabbalallāhu) dan mendoakan keselamatan.
Apakah Termasuk Bid‘ah?
Ucapan selamat di hari raya, baik dengan redaksi "Taqabbalallāhu" maupun "Minal Aidin", tidak termasuk bid‘ah yang tercela, karena tidak ada dalil yang melarangnya dan termasuk kategori ‘urf (adat kebiasaan) yang baik.
Hal ini berdasar pandangan Imam asy‑Syāṭibī dalam al‑I‘tiṣām (I/324). Dia menjelaskan bahwa bid‘ah yang dilarang adalah ibadah yang dibuat‑buat tanpa dasar sama sekali. Sementara ucapan selamat di hari raya bukanlah ibadah mahdhah (murni) yang membutuhkan dalil khusus, karena merupakan tradisi yang mengandung doa dan nilai sosial. Oleh karena itu, para ulama dari berbagai mazhab —Syāfi‘iyyah, Ḥanafiyyah, dan Mālikiyyah— membolehkannya.
Di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam fatwanya juga menyatakan bahwa mengucapkan selamat di hari raya dengan redaksi apa pun yang mengandung doa kebaikan adalah diperbolehkan dan bahkan dianjurkan untuk mempererat ukhuwah Islamiyah.
Lebih dari itu, umat Islam dianjurkan juga memahami dan mengamalkan ibadah-ibadah dan amal utama pada hari Idul Adha. Berikut ulasannya.
Amalan‑Amalan Utama di Hari Raya Idul Adha
Setelah kita memahami bahwa ucapan selamat adalah pelengkap yang mubah (bahkan disukai), mari kita fokus pada inti perayaan: amalan‑amalan yang disunnahkan pada hari raya Idul Adha. Ibadah ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momen istimewa untuk meraih pahala berlimpah.
1.Takbīr (Mengagungkan Allah)
Mengumandangkan takbir merupakan amalan yang sangat dianjurkan pada malam Idul Adha hingga akhir hari tasyrik (13 Dzulhijjah). Anjuran ini berdasarkan firman Allah: “Dan agar kamu menyempurnakan bilangan (puasa) dan mengagungkan Allah atas petunjuk‑Nya yang diberikan kepadamu, dan mudah‑mudahan kamu bersyukur.” (QS. al‑Baqarah: 185).
2. Mandi, Berpakaian Terbaik, dan Memakai Wewangian
Rasulullah Saw. menganjurkan umatnya untuk membersihkan diri, memakai pakaian terbaik, dan menggunakan wewangian pada hari raya sebagai bentuk syukur dan penghormatan. Imam an‑Nawawi dalam al‑Majmū‘ (V/38) menegaskan bahwa mandi sebelum salat Id adalah sunnah mu’akkadah (sangat ditekankan). Dalam sebuah hadis, ‘Ali bin Abi Ṭālib meriwayatkan: “Rasulullah menyuruh kami memakai pakaian terbaik dan wewangian terbaik yang kami miliki pada dua hari raya.” (HR. al‑Ḥākim).
3. Makan Setelah Salat Id (Khusus Idul Adha)
Berbeda dengan Idul Fitri yang dianjurkan makan terlebih dahulu, pada Idul Adha disunnahkan untuk tidak makan sebelum salat Id, lalu setelah salat menyantap daging kurban (jika memiliki hewan kurban). Ibnu Qudāmah dalam al‑Mughnī (II/228) menjelaskan bahwa sunnah ini berlaku bagi yang memiliki kurban, sementara yang tidak memiliki kurban tidak mengapa makan terlebih dahulu. Hikmahnya adalah untuk menyegerakan pelaksanaan kurban dan mengonsumsi dagingnya sebagai wujud syukur.
4. Salat Idul Adha
Salat Id disunnahkan dilaksanakan di tanah lapang (lebih utama), untuk menampakkan syiar Islam. Hal ini berdasarkan hadis dari Abu Sa‘īd al‑Khudrī: “Rasulullah keluar pada hari Idul Adha atau Idul Fitri menuju mushalla.” (HR. al‑Bukhārī). Salat Id terdiri dari dua rakaat dengan 7 takbir pada rakaat pertama dan 5 takbir pada rakaat kedua, tanpa azan dan iqamah.
5. Mendengarkan Khutbah
Setelah salat, khatib menyampaikan khutbah yang berisi nasihat tentang ketakwaan, keutamaan kurban, dan semangat berbagi. Khutbah Idul Adha biasanya terdiri dari satu atau dua bagian dengan duduk sejenak di antara keduanya (menurut jumhur ulama). Mendengarkan khutbah dengan saksama merupakan bagian dari kesempurnaan ibadah.
6. Berkurban (Uḍḥiyah) bagi yang Mampu
Inilah puncak ibadah Idul Adha. Berkurban adalah sunnah mu’akkadah (sangat ditekankan) bagi muslim yang mampu secara finansial. Allah berfirman: “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS. al‑Kautsar: 2).
7. Menyambung Silaturahmi dan Mempererat Persaudaraan
Idul Adha adalah momentum untuk saling mengunjungi, memaafkan, dan berbagi kebahagiaan. Praktik ini sejalan dengan sabda Rasulullah: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. al‑Bukhārī). Dalam kitab Fatḥ al‑Bārī (X/458), Ibnu Hajar menjelaskan bahwa silaturahmi di hari raya termasuk sunnah yang memperkuat ikatan persaudaraan dan menjadi pelengkap ibadah.
People also Ask:
Apakah Idul Adha boleh mengucapkan mohon maaf lahir batin?
Ya, mengucapkan "mohon maaf lahir dan batin" saat Idul Adha boleh dan umum dilakukan di Indonesia sebagai bentuk silaturahmi. Meskipun fokus utamanya adalah ibadah kurban, momen ini tetap dianggap sebagai kesempatan baik untuk saling memaafkan. Ucapan selamat dan permohonan maaf saat hari raya dianjurkan dalam Islam.
Saat Idul Adha mengucapkan apa?
Berikut adalah kumpulan ucapan Idul Adha 1446 H/2025 M yang penuh makna, menyentuh hati, dan cocok dibagikan ke media sosial atau kerabat:Ucapan Singkat & Padat"Selamat Hari Raya Idul Adha 1446 H. Semoga semangat berkurban membawa keberkahan dan mendekatkan kita kepada Allah SWT.""Taqabbalallahu minna wa minkum. Selamat Idul Adha 2025, mohon maaf lahir dan batin."
Apakah minta maaf saat Idul Adha?
Ringkasan AIIdul Adha di Indonesia umum diwarnai tradisi maaf-maafan untuk mempererat silaturahmi. Meskipun secara hukum Islam tidak ada kewajiban atau dalil khusus untuk saling meminta maaf seperti saat Idul Fitri, tindakan ini dianggap baik, sopan, dan dianjurkan sebagai bagian dari tahniah (ucapan selamat) untuk menjalin keharmonisan.
Kalau lebaran Idul Adha ngucapin apa?
Berikut adalah kumpulan ucapan Selamat Hari Raya Idul Adha 1446 H/2025 M yang penuh makna, menyentuh hati, dan cocok untuk keluarga, kerabat, atau media sosial.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531527/original/052463700_1773619111-unnamed__8_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5548242/original/082432300_1775532139-WhatsApp_Image_2026-04-07_at_10.11.58.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3343121/original/038184100_1610024393-asian-young-woman-praying-with-al-qur-prayer-beads_8595-1178.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3187902/original/089581000_1595477323-eid-al-fitr-concept-with-people-eating-table_23-2147799467.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010962/original/065645500_1651214803-20220429-Itikaf-Lailatul-Qadar-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3187033/original/003171100_1595400533-makkah-kaaba-hajj-muslims_21730-6508.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3141447/original/083993800_1591071407-285249-P693SC-871.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5535275/original/081883700_1773974233-ketupat.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5534796/original/005967200_1773893358-unnamed__8_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5153352/original/098766700_1741323073-1741319504121_ucapan-untuk-lebaran-idul-adha.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5450229/original/030945800_1766134797-unnamed__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5381548/original/050788800_1760510065-pass6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531526/original/098176600_1773619110-unnamed__9_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1336024/original/066771100_1472887334-20160903-Idul-Adha-Jakarta-Qurban-YR3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4632662/original/081356900_1698897425-beris-creatives-ceNCWYqL8DY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3407493/original/089717300_1616386310-ramadan-2412453_1280.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5032502/original/048354500_1733145683-hadiahumrahsantripurbalingga.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5532110/original/069382900_1773642522-Halal_Bihalal_Keluarga_Muslim__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5525602/original/003097400_1773046669-unnamed__54_.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5448205/original/085550400_1766022443-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-12-18T084617.730.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010689/original/086569000_1651202668-pexels-rayn-l-3163677.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3381466/original/043629600_1613720800-photo-1512632578888-169bbbc64f33.jpg)







:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1626268/original/067647800_1497616352-Mantan-MenKes-Siti-Fadilah-Divonis-4-Tahun-Penjara-01.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5154231/original/041919200_1741337635-20250307-Tadarus-ANG_2.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5450038/original/011940800_1766126206-Gemini_Generated_Image_n0zy6on0zy6on0zy.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4199341/original/055639700_1666344669-bacaan-doa-untuk-orang-meninggal-latin-dan-artinya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3360668/original/038739700_1611729329-abdullah-faraz-fj-p_oVIhYE-unsplash.jpg)