Hari Raya Idul Adha Apakah Puasa? Simak Hukum dan Penjelasannya

21 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Idul Adha adalah salah satu hari raya yang paling ditunggu umat Islam. Pertanyaan yang muncul adalah, Pada hari raya Idul Adha apakah puasa?

Secara umum, bulan Dzulhijjah merupakan bulan yang sarat dengan keutamaan dan ibadah agung. Di dalamnya terdapat rangkaian amalan yang sangat dicintai oleh Allah Swt., mulai dari puasa sunnah di awal bulan, pelaksanaan ibadah haji, hingga puncaknya pada hari raya Idul Adha dan hari-hari Tasyrik.

Namun, kerap muncul pertanyaan di kalangan umat Islam: apakah pada hari raya Idul Adha diperbolehkan berpuasa? Bagaimana hukumnya jika seseorang berpuasa pada tanggal 10 Dzulhijah?

Artikel ini akan membahas pertanyaan tersebut beserta amalan-amalan utama di bulan Dzulhijah, merujuk ebook Bekal-bekal di Dalam Menyambut Idul Adha, karya Ustadz Abū Salmâ al-Atsarî, Jurnal Wawasan As-Sunnah tentang Qurban dan Idul Adha, Sulidar, dan sumber relevan lainnya.

Hukum Puasa pada Hari Raya Idul Adha

Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah merupakan hari yang diharamkan untuk berpuasa. Larangan ini didasarkan pada dalil-dalil yang shahih dari Rasulullah Saw. serta telah menjadi kesepakatan (ijma‘) para ulama.

Dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Saw. melarang berpuasa pada dua hari: hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha.” (HR. Muslim no. 1138)

Tak hanya itu, dari Khalifah Umar bin al-Khaththab RA, beliau bersabda: “Dua hari ini adalah hari yang Rasulullah Saw. larang untuk berpuasa di dalamnya, yaitu Idul Fitri, hari di mana kalian berbuka dari puasa kalian, dan hari lainnya yaitu Idul Adha di mana kalian memakan hasil sesembelihan kalian.” (HR. Bukhari no. 1990 dan Muslim no. 1137)

Para ulama telah bersepakat (berijma‘) tentang haramnya berpuasa pada kedua hari raya tersebut. Sebagaimana ditegaskan oleh Imam asy-Syaukani dalam kitab Ad-Darar al-Madhiyah Syarh ad-Durar al-Bahiyah (hlm. 220) bahwa kaum muslimin telah sepakat tentang keharaman puasa pada Idul Fitri dan Idul Adha.

Hikmah Larangan Berpuasa di Hari Raya Idul Adha

Larangan berpuasa pada hari raya Idul Adha mengandung hikmah yang mendalam. Syekh Ibnu Hajar al-‘Asqalani menjelaskan bahwa fungsi penetapan larangan ini adalah untuk memberikan tanda pemisah (al-fashl) dari puasa, menampakkan kesempurnaan ibadah, dan mengukuhkan syariat penyembelihan kurban yang dagingnya dimakan pada hari tersebut.

Seandainya puasa diperbolehkan pada hari itu, niscaya tidak akan ada makna dari disyariatkannya penyembelihan kurban. Hari tersebut adalah hari untuk berbuka, makan, minum, bergembira, melaksanakan salat Id, dan menyembelih kurban, bukan untuk berpuasa.

Tak hanya pada hari raya Idul Adha, larangan berpuasa juga berlaku pada hari Tasyrik, yakni tiga hari setelah 10 Dzulhijah. Yaitu, pada tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijah.

Berikut ulasannya.

Larangan Puasa pada Hari Tasyrik

Tidak hanya tanggal 10 Dzulhijjah, puasa juga diharamkan pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah yang disebut dengan ayyam at-tasyriq (hari-hari tasyrik). Hari-hari ini merupakan kelanjutan dari hari raya, di mana umat Islam masih diperbolehkan menyembelih kurban dan dianjurkan untuk memperbanyak makan, minum, serta zikir kepada Allah.

Rasulullah Saw. bersabda: “Hari-hari tasyrik adalah hari makan, minum, dan berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim no. 1141)

Bahkan, dari ‘Amr bin ‘Ash diriwayatkan bahwa hari-hari tasyrik merupakan hari ketika Rasulullah Saw. memerintahkan umatnya untuk berbuka dan melarang berpuasa.

Syekh Zainuddin al-Malibari dalam kitab Fathul Mu‘in dengan tegas menyatakan: “Puasa pada hari tasyrik dan dua hari raya adalah haram.”

Pengecualian:

Terdapat keringanan bagi jamaah haji yang melaksanakan haji tamattu‘ tetapi tidak memiliki hewan kurban (hadyu), mereka diperbolehkan berpuasa pada hari-hari tasyrik. Pendapat ini dipegang oleh Imam Malik, al-Auza‘i, Ishaq, dan Imam asy-Syafi‘i dalam salah satu pendapatnya. Namun untuk selain mereka, puasa pada hari tasyrik tetap haram hukumnya.

Amalan Hari Raya Idul Adha

Meski ada larangan berpuasa, pada Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah) ada amalan-amalan khusus yang disyariatkan:

1. Mandi, Berpakaian Terbaik, dan Memakai Wangi-wangian

Disunnahkan untuk mandi sebelum berangkat ke tanah lapang (masjid), mengenakan pakaian yang terbaik, dan memakai wewangian (bagi laki-laki). Ini merupakan bentuk penghormatan terhadap hari raya dan kebersamaan dalam ketaatan kepada Allah.

2. Mengakhirkan Makan hingga Setelah Salat Id

Berbeda dengan Idul Fitri yang disunnahkan makan terlebih dahulu sebelum salat, pada Idul Adha disunnahkan untuk tidak makan terlebih dahulu hingga selesai salat Id. Setelah salat, barulah menyembelih kurban dan memakan dagingnya. Hal ini mengikuti sunnah Rasulullah Saw. yang tidak makan pada pagi hari raya Idul Adha hingga beliau kembali dari salat.

3. Salat Idul Adha

Salat Idul Adha disunnahkan dilaksanakan di tanah lapang (lebih utama). Namun, di Indonesia umumnya di masjid. Hukumnya juga sah-sah saja.

4. Mendengarkan Khutbah

Setelah salat Id, disunnahkan untuk mendengarkan khutbah dengan saksama. Khutbah Idul Adha biasanya berisi nasihat tentang takwa, keutamaan berkurban, serta semangat berbagi dengan sesama.

5. Bertakbir dengan Keras (Terutama di Jalan Menuju Mushalla)Disunnahkan untuk mengeraskan suara takbir dalam perjalanan menuju mushalla. Ini merupakan bentuk syiar Islam dan kegembiraan menyambut hari raya.

6. Saling Mengucapkan Selamat (Tahni’ah)

Disunnahkan untuk mengucapkan selamat kepada sesama muslim pada hari raya, seperti Taqabbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian). Ucapan ini memiliki pijakan dari para sahabat.

7. Berkurban bagi yang Mampu

Ibadah kurban merupakan puncak amalan Idul Adha. Bagi muslim yang memiliki kemampuan (kecukupan harta), disunnahkan untuk berkurban. Pendapat yang lebih kuat (rajih) menyatakan bahwa kurban hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan), meskipun sebagian ulama berpendapat wajib bagi yang mampu.

8. Membagikan Daging Kurban

Daging kurban hendaknya dibagi menjadi tiga bagian: sebagian untuk dimakan oleh keluarga yang berkurban, sebagian untuk disedekahkan kepada fakir miskin (baik yang meminta maupun yang tidak meminta), dan sebagian lagi untuk dihadiahkan kepada tetangga dan kerabat.

9. Meninggalkan Hal-Hal yang Dilarang

Beberapa hal yang perlu dihindari pada hari raya Idul Adha:

  • Berpuasa (karena haram, sebagaimana telah dijelaskan)
  • Meninggalkan salat Id tanpa uzur yang dibenarkan
  • Bertabarruj (bersolek berlebihan) dan bercampur baur antara laki-laki dan wanita bukan mahram
  • Meniru-niru orang kafir dalam berpakaian dan perayaan
  • Mendengarkan musik yang diharamkan (yang diperbolehkan hanya duff atau rebana)
  • Menghambur-hamburkan harta (tabdzir).

People Also Ask:

Apakah saat Idul Adha puasa?

Namun penting untuk dicatat, bahwa pada tanggal 10 Dzulhijjah, yaitu Hari Raya Idul Adha, dan tiga hari setelahnya (11–13 Dzulhijjah) yang disebut sebagai hari-hari Tasyrik, umat Islam diharamkan berpuasa.

Apakah di Hari Raya Idul Adha boleh makan?

Hal ini berbeda dengan Idul Fitri, di mana makan sebelum shalat merupakan sunnah yang dianjurkan. Alasannya karena pada Idul Adha, umat Islam disunahkan untuk menyembelih hewan kurban setelah shalat Idul Adha. Dengan demikian, umat Islam dapat makan dari daging kurban.

Apakah boleh puasa di hari lebaran Idul Adha?

Ringkasan AIHukum berpuasa pada hari raya Idul Adha (10 Dzulhijjah) dan hari Tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah) adalah haram. Hari-hari tersebut merupakan waktu yang ditetapkan Allah untuk makan, minum, dan merayakan kurban, sehingga puasa (baik sunnah maupun qadha) tidak diperbolehkan.

Apakah berpuasa saat Idul Adha dilarang?

Dilarang berpuasa pada tanggal 10 Dzul Hijjah , yaitu hari raya Idul Adha. Jika Anda tidak mampu berpuasa selama sembilan hari penuh di bulan Dzul Hijjah, maka usahakan untuk berpuasa minimal pada tanggal 9 Dzul Hijjah, yaitu Hari Arafah.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |