6 Materi Ceramah Subuh Acara Rutin Masjid Penuh Motivasi Iman

11 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Waktu subuh merupakan waktu yang memiliki nilai spiritualitas tinggi, di mana ketenangan jiwa dan kejernihan pikiran berada pada puncaknya. Mengisi jeda setelah shalat berjamaah dengan materi ceramah subuh yang penuh dengan motivasi menjadi salah satu pilihan.

ceramah atau kuliah tujuh menit (kultum) rutin menjadi madrasah ruhaniyah bagi umat. Kegiatan ini berfungsi sebagai sarapan batin sebelum seorang muslim melangkah menghadapi dinamika dan hiruk-pikuk kehidupan duniawi sepanjang hari.

Kehadiran majelis ilmu di waktu fajar terbukti efektif dalam mempererat ukhuwah islamiyah antarjamaah sekaligus menjadi benteng akidah yang mengokohkan pemahaman keagamaan masyarakat di tengah arus informasi yang serba cepat dan seringkali melalaikan.

Materi ceramah subuh acara rutin masjid penuh motivasi iman bertujuan mencetak pribadi mukmin yang tidak hanya shaleh secara ritual di dalam masjid, namun juga memiliki ketangguhan mental dan integritas moral yang tinggi saat berinteraksi di ruang publik. Berikut ini adalah 7 materi ceramah subuh penuh motivasi iman.

Materi Ceramah Subuh 1: Merawat Semangat Melalui Keutamaan Shalat Subuh

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil 'alamin, was sholatu was salamu 'ala asyrafil anbiya'i wal mursalin, sayyidina Muhammadin, wa 'ala alihi wa sahbihi ajma'in. Amma ba'du. Segala puji bagi Allah yang telah membangunkan kita dari tidur dan mengizinkan kita bersujud di waktu fajar yang mulia ini.

Jamaah Subuh yang dirahmati Allah, kehadiran kita di masjid ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bukti keimanan yang nyata. Waktu subuh adalah waktu yang berat bagi orang munafik, namun menjadi waktu yang nikmat bagi orang mukmin. Di saat orang lain terlelap, Allah memilih Bapak/Ibu sekalian untuk menjadi tamu-Nya.

Mari kita renungkan sebuah hadis yang memberikan motivasi luar biasa tentang dua rakaat sebelum subuh, apalagi shalat subuhnya itu sendiri. Rasulullah SAW bersabda mengenai keutamaan waktu fajar ini dengan janji yang lebih baik dari dunia seisinya.

Dalil yang menjadi landasan kita pagi ini adalah Hadis Riwayat Muslim:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Artinya: "Dua rakaat fajar (shalat sunnah qobliyah subuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya." (HR. Muslim no. 725).

Jika shalat sunnahnya saja lebih bernilai dari dunia dan seisinya—lebih berharga dari emas, jabatan, dan gedung pencakar langit—maka bagaimana dengan nilai shalat fardhu Subuh yang kita kerjakan berjamaah ini? Tentu pahalanya jauh lebih besar dan tak terhingga di sisi Allah SWT.

Imam An-Nawawi, seorang ulama besar mazhab Syafi'i, memberikan penjelasan yang sangat indah mengenai hadis ini dalam kitab syarah beliau, Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim. Beliau menukil perkataan para ulama mengenai makna "lebih baik dari dunia".

Dalam kitab Al-Minhaj, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa kenikmatan dunia itu sifatnya fana (sementara) dan penuh dengan kepayahan. Sedangkan pahala dua rakaat fajar adalah kekal di akhirat dan murni kenikmatan tanpa rasa lelah.

Oleh karena itu, orang yang cerdas secara spiritual tidak akan menukar kenikmatan abadi ini dengan kantuk yang sesaat. Motivasi ini harus kita tanamkan kuat-kuat dalam hati agar kaki kita ringan melangkah ke masjid setiap pagi.

Bayangkan jika setiap pagi kita diberi uang satu miliar, pasti kita akan bangun paling awal. Padahal, janji Allah "lebih baik dari dunia dan seisinya" nilainya jauh melampaui nominal uang tersebut. Ini adalah logika iman yang harus kita bangun.

Jamaah sekalian, istiqamah di waktu subuh juga menjadi penjamin jaminan keamanan dari Allah. Rasulullah bersabda bahwa barangsiapa yang shalat subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah (dhimmatillah).

Maka, jadikanlah subuh ini sebagai momentum kebangkitan hidup kita. Jika kita sukses menaklukkan subuh, insya Allah kita akan sukses menaklukkan tantangan kehidupan di siang hari hingga malam nanti.

Mari kita jaga semangat ini. Jangan biarkan shaf shalat subuh ini menyusut. Ajak keluarga, tetangga, dan sahabat untuk meraih garansi langit yang Allah tawarkan setiap fajar.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita taufiq dan hidayah untuk bisa terus istiqamah memakmurkan masjid di waktu subuh hingga akhir hayat kita.

Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat, wal mu'minina wal mu'minat, al ahya'i minhum wal amwat. Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina 'adzaban nar. Ya Allah, terimalah shalat kami, sujud kami, dan jadikanlah cahaya subuh ini penerang bagi kubur kami kelak.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

  Materi 2: Tawakkal: Kunci Ketenangan Menjemput Rezeki

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah, Dzat Yang Maha Memberi Rezeki (Ar-Razzaq), yang tidak pernah tidur mengurus makhluk-Nya. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, teladan terbaik dalam berserah diri kepada Allah.

Jamaah Subuh yang dimuliakan Allah, pagi hari adalah waktu dimulainya aktivitas kehidupan. Banyak manusia yang bangun pagi dengan hati cemas memikirkan rezeki, pekerjaan, atau hutang. Padahal, sebagai seorang mukmin, kita memiliki senjata ampuh bernama tawakkal.

Tawakkal bukan berarti diam tanpa usaha, melainkan menyandarkan hati sepenuhnya kepada Allah setelah melakukan ikhtiar maksimal. Hati yang bertawakkal tidak akan gelisah, karena ia tahu bahwa jatah rezekinya tidak akan tertukar.

Rasulullah SAW memberikan perumpamaan yang sangat indah tentang tawakkal ini dengan seekor burung. Burung tidak memiliki lumbung padi, tidak punya gaji tetap, namun ia selalu kenyang setiap hari.

Rasulullah SAW bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Artinya: "Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan dicukupkan rezekinya sebagaimana burung; ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang." (HR. Tirmidzi no. 2344).

Imam Al-Ghazali dalam mahakaryanya, Ihya' Ulumuddin, membahas bab khusus tentang At-Tawakkal. Beliau menjelaskan hakikat tawakkal adalah perpaduan antara ilmu, keadaan hati, dan amal perbuatan.

Dalam Ihya' Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa tawakkal adalah meyakini bahwa tidak ada yang memberi, menghalangi, membahayakan, atau memberi manfaat selain Allah. Keyakinan ini melahirkan ketenangan, sehingga seseorang tidak terlalu sedih saat gagal dan tidak sombong saat berhasil.

Burung dalam hadis tersebut mengajarkan kita konsep "Taghdu" (pergi di pagi hari). Burung tidak diam di sarang menunggu makanan datang. Ia terbang, ia berusaha, ia berikhtiar. Itulah syariatnya, namun hatinya bergantung pada Allah, itulah hakikatnya.

Maka, Bapak/Ibu sekalian, setelah shalat subuh ini, bertebaranlah di muka bumi untuk mencari karunia Allah. Bukalah toko, berangkatlah ke kantor, pergilah ke sawah dengan semangat "burung" tadi.

Ingatlah, rezeki bukan hanya uang. Kesehatan yang membuat kita bisa berjalan ke masjid, anak-anak yang sholeh, hati yang tenang, itu semua adalah rezeki yang sering kita lupakan karena terlalu fokus pada angka.

Jangan biarkan kekhawatiran akan masa depan merusak kebahagiaan hari ini. Allah yang mengurus rezeki kita saat di dalam rahim ibu tanpa kita minta, mana mungkin Dia menelantarkan kita saat kita sudah bisa bersujud meminta kepada-Nya?

Mari kita luruskan niat bekerja hari ini sebagai ibadah. Bekerja bukan untuk menumpuk harta, tapi untuk mencari bekal ibadah dan menafkahi keluarga sebagai kewajiban dari Allah SWT.

Ya Allah, cukupkanlah kami dengan rezeki-Mu yang halal agar kami terhindar dari yang haram. Jadikanlah kami hamba yang kaya hati dan selalu bersyukur atas setiap butir nasi yang Engkau berikan.

Rabbana la tuzigh qulubana ba'da idz hadaitana wahab lana min ladunka rahmah, innaka antal wahhab.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Materi 3: Ikhlas, Ruh dari Setiap Ibadah

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman dan islam. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

Jamaah rahimakumullah, subuh ini kita berkumpul bukan untuk dipuji manusia, bukan untuk dianggap alim, melainkan semata-mata mengharap ridha Allah. Inilah inti dari materi kita hari ini: Ikhlas.

Ikhlas adalah pekerjaan hati yang paling berat namun paling agung. Tanpa keikhlasan, ibadah sebesar gunung uhud pun akan menjadi debu yang beterbangan di hadapan Allah. Ikhlas adalah ruh, dan amal adalah jasadnya. Jasad tanpa ruh adalah bangkai.

Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sebuah hadis yang sangat masyhur, yang menjadi pembuka banyak kitab ulama, bahwa segala sesuatu bergantung pada niatnya.

Sabda Nabi Muhammad SAW:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Artinya: "Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan." (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Madarijus Salikin, memberikan penjelasan yang mendalam tentang kedudukan ikhlas. Beliau menempatkan ikhlas sebagai salah satu tangga utama (madarij) menuju Allah.

Dalam Madarijus Salikin, Ibnu Qayyim menyebutkan bahwa ikhlas adalah melupakan pandangan makhluk karena sibuk melihat kepada Al-Haq (Allah). Orang yang ikhlas tidak peduli apakah amalnya dipuji atau dicela, karena tujuannya hanya satu: Ridha Allah.

Seringkali kita lelah dalam beribadah atau berbuat baik karena kita masih mengharap ucapan "terima kasih" dari manusia. Saat ucapan itu tidak datang, kita kecewa dan berhenti berbuat baik. Itu tanda keikhlasan kita masih perlu diperbaiki.

Mari kita belajar dari filosofi surat Al-Ikhlas. Di dalam surat Al-Ikhlas tidak ada kata "Ikhlas". Itu mengajarkan bahwa keikhlasan itu tidak perlu diucap, tidak perlu diproklamirkan "saya ikhlas lho", tapi cukup dibuktikan dengan kemurnian hati.

Jamaah sekalian, perbaiki niat kita sekarang. Mengapa kita shalat subuh? Mengapa kita bersedekah? Jika masih ada secuil keinginan dipuji tetangga, mari istighfar dan luruskan kembali: Lillahi Ta'ala.

Ikhlaslah seperti gula di dalam kopi. Ia larut tak terlihat, namun rasanya membuat kopi menjadi manis dan nikmat. Biarlah amal kita tersembunyi, tapi dampaknya dirasakan oleh banyak orang dan dicatat oleh malaikat.

Semoga Allah membersihkan hati kita dari penyakit riya', sum'ah, dan ujub. Semoga setiap lelah kita menjadi Lillah, dan setiap keringat kita menjadi pemberat timbangan kebaikan di yaumil hisab.

Allahumma inna na'udzu bika an nusyrika bika syai-an na'lamuh, wa nastaghfiruka lima la na'lamuh. Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu padahal kami tahu, dan kami memohon ampun dari apa yang tidak kami ketahui.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Materi 4: Sabar Sebagai Penolong dalam Ujian Hidup

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahilladzi ja'ala ash-shabra diya'a. Segala puji bagi Allah yang menjadikan kesabaran sebagai cahaya. Shalawat dan salam untuk Rasulullah SAW, manusia paling sabar dalam menghadapi ujian dakwah dan kehidupan.

Jamaah Subuh yang dirahmati Allah, hidup di dunia ini adalah rangkaian ujian. Ada yang diuji dengan kekurangan harta, ada yang diuji dengan sakit, ada pula yang diuji dengan kenakalan anak atau tetangga. Tidak ada satu pun manusia yang luput dari masalah.

Namun, Allah SWT tidak menurunkan masalah tanpa menyertakan solusinya. Solusi langit yang Allah tawarkan kepada kita ada dua: Sabar dan Shalat. Sabar adalah fondasi ketahanan mental seorang mukmin.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 153, memerintahkan kita untuk menjadikan sabar sebagai penolong.

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 153).

Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsir beliau, Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim, menjelaskan ayat ini dengan sangat menyentuh. Beliau menjelaskan mengapa sabar dan shalat digandengkan.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa sabar adalah sarana untuk menahan diri dari keputusasaan dan emosi, sedangkan shalat adalah sarana untuk menghubungkan diri dengan kekuatan Allah. Ketika sabar dan shalat bersatu, maka masalah seberat apapun akan terasa ringan karena Allah "bersama" (ma'iyah) kita.

Sabar itu ada tiga macam menurut para ulama: Sabar dalam ketaatan (seperti sabar bangun subuh ini), sabar menjauhi maksiat, dan sabar menghadapi takdir yang pahit. Ketiganya membutuhkan kekuatan iman.

Sabar bukanlah tanda kelemahan atau pasrah tanpa usaha. Sabar adalah menahan lisan dari mengeluh, menahan hati dari marah kepada takdir, dan menahan anggota badan dari perbuatan yang dimurkai Allah saat musibah datang.

Mungkin saat ini ada di antara Jamaah yang sedang sakit, sedang terlilit hutang, atau sedang ada masalah keluarga. Ingatlah ayat tadi, "Innallaha ma'a ash-shabirin". Anda tidak sendirian. Allah bersama Anda.

Dunia ini hanya sebentar, Jamaah sekalian. Ujian ini ada batas waktunya. Balasan bagi orang yang sabar itu tanpa batas (bighairi hisab). Jangan sampai kita kehilangan pahala besar itu hanya karena kita tidak sabar sesaat.

Mari kita latih kesabaran kita mulai dari hal kecil. Sabar mengantri, sabar menahan amarah, dan sabar dalam beribadah. Semoga Allah meluaskan dada kita seluas samudera untuk menampung segala ketetapan-Nya.

Rabbana afrigh 'alaina shabran wa tsabbit aqdamana wansurna 'alal qauwmil kafirin. Ya Allah, tumpahkanlah kesabaran kepada kami, kokohkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

  Materi 5: Dahsyatnya Dzikir Penenang Hati

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang hanya dengan mengingat-Nya hati menjadi tenang. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang lisannya tak pernah kering dari berdzikir kepada Allah.

Jamaah Subuh yang dimuliakan Allah, di era modern ini, penyakit yang paling banyak menyerang manusia bukan hanya penyakit fisik, tapi penyakit psikis: stres, cemas (anxiety), dan kegelisahan. Banyak orang mencari ketenangan di tempat hiburan, namun pulang dengan hati yang tetap hampa.

Islam menawarkan obat yang murah, mudah, namun sangat ampuh untuk mengobati kegelisahan jiwa, yaitu Dzikrullah (mengingat Allah). Dzikir adalah nutrisi bagi hati sebagaimana makanan adalah nutrisi bagi tubuh.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Ra'd ayat 28 yang menjamin ketenangan bagi ahli dzikir.

 الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28).

Syekh Abdurrahman As-Sa'di dalam kitab tafsirnya, Taisir Karimir Rahman, menjelaskan makna ayat ini dengan indah. Beliau mengatakan bahwa hati manusia memang diciptakan untuk mengenal pencipta-Nya.

Dalam Tafsir As-Sa'di dijelaskan, ketika hati mengingat Allah, maka hilanglah segala kegundahan dan ketakutan, digantikan dengan kebahagiaan dan ketenangan. Karena hati menyadari bahwa ia bersandar pada Dzat Yang Maha Kuat dan Maha Pengasih.

Bapak/Ibu sekalian, dzikir pagi dan petang (Al-Ma'tsurat) adalah benteng seorang mukmin. Luangkan waktu sejenak setelah subuh ini, jangan buru-buru beranjak. Bacalah tasbih, tahmid, dan tahlil.

Ibarat ikan yang membutuhkan air, hati kita membutuhkan dzikir. Jika ikan keluar dari air, ia akan mati menggelepar. Begitu pula hati yang jauh dari dzikir, ia akan mati, keras, dan mudah gelisah terserang masalah.

Dzikir juga bukan hanya di lisan, tapi dihadirkan dalam hati. Saat mengucap Subhanallah, rasakan keagungan Allah. Saat mengucap Alhamdulillah, rasakan nikmat-Nya yang tak terhitung.

Mari kita jadikan lisan kita basah dengan dzikir di sela-sela aktivitas kita. Saat menyetir, saat memasak, saat bekerja, selipkan dzikir. Itu akan membuat pekerjaan terasa lebih ringan dan berkah.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan Ulul Albab, yaitu orang-orang yang senantiasa mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring.

Allahumma a'inna 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik. Ya Allah, tolonglah kami untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadah kepada-Mu.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Materi 6: Mengingat Mati sebagai Motivasi Amal

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahilladzi khalaqal mauta wal hayata liyabluwakum ayyukum ahsanu 'amala. Puji bagi Allah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji siapa yang terbaik amalnya. Shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad SAW.

Jamaah Subuh yang dirahmati Allah, materi terakhir dalam seri motivasi iman ini adalah tentang nasihat yang paling diam namun paling tajam: Kematian. Mengingat mati bukanlah untuk membuat kita takut dan pesimis, tapi justru agar kita produktif dalam beramal sholeh.

Cerdas menurut Rasulullah bukanlah yang IQ-nya tinggi atau yang gelarnya berderet, melainkan mereka yang paling banyak mengingat mati dan mempersiapkan bekal untuknya. Kematian adalah satu-satunya kepastian yang sering kita lupakan.

Rasulullah SAW memberikan resep agar hati kita tidak lalai dan tidak terlalu cinta dunia yang menipu ini.

Dalil Hadis Riwayat Tirmidzi:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

Artinya: "Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan (yaitu kematian)." (HR. Tirmidzi no. 2307).

Imam Al-Qurthubi dalam kitab monumentalnya, At-Tadzkirah bi Ahwalil Mauta wa Umuril Akhirah, mengupas tuntas tentang kematian. Beliau menjelaskan bahwa mengingat mati memiliki faedah yang sangat besar bagi keimanan seseorang.

Dalam At-Tadzkirah, Imam Al-Qurthubi menyebutkan bahwa orang yang banyak mengingat mati akan dimuliakan dengan tiga hal: Segera bertaubat, hati yang qana'ah (merasa cukup), dan semangat dalam beribadah. Sebaliknya, orang yang melupakan mati akan menunda taubat dan tamak terhadap dunia.

Bayangkan jika kita diberitahu bahwa subuh ini adalah shalat terakhir kita. Pasti kita akan shalat dengan khusyuk, kita akan menangis dalam sujud, dan kita akan memaafkan semua orang.

Pertanyaannya, siapa yang menjamin kita masih hidup sampai dzuhur nanti? Tidak ada. Maka, hiduplah seolah-olah kita akan mati besok, dan beribadahlah seolah-olah ini ibadah terakhir kita.

Mengingat mati akan membuat masalah dunia terasa kecil. Dihina orang? Tidak masalah, toh nanti kita mati. Kehilangan harta? Tidak masalah, toh tidak dibawa mati. Fokus kita hanya satu: Bagaimana menghadap Allah dengan wajah berseri.

Jamaah sekalian, mari kita persiapkan "koper" kita. Jangan sampai saat malaikat Izrail datang, koper amal kita masih kosong, sementara dosa kita menumpuk. Mari gunakan sisa umur ini untuk kebaikan.

Semoga Allah mewafatkan kita dalam keadaan Husnul Khotimah, diwafatkan saat sedang beramal sholeh, dan dijauhkan dari Su'ul Khotimah.

Rabbana atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina 'adzaban nar. Subhana rabbika rabbil 'izzati 'amma yasifun, wa salamun 'alal mursalin, wal hamdulillahi rabbil 'alamin.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

People Also Ask:

Apa keutamaan sholat subuh berjamaah di masjid?

“Artinya, dengan menjalankan salat Subuh berjamaah, tepat waktu, dan khusyuk maka Allah akan melindungi kita dari sifat munafik. Kita ketahui munafik merupakan sifat yang akan membawa kita ke dalam neraka Jahanam,” ujar politisi PKS ini.

Bagaimana contoh kalimat pembuka ceramah?

Ringkasan AIContoh pembukaan ceramah mencakup salam pembuka (seperti "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh"), puji syukur kepada Tuhan, shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, ucapan terima kasih kepada hadirin dan panitia, serta pengantar singkat ke topik utama, membangun suasana khidmat dan menarik perhatian jamaah sebelum masuk ke inti materi.

Orang yang jamaah subuh bagaikan ibadah apa?

Dan barang siapa melaksanakan shalat subuh berjamaah, maka seolah-olah ia telah melaksanakan shalat semalaman penuh.” (HR Muslim: 656) Maka, betapa besar kerugian bagi seorang muslim yang meninggalkan shalat berjamaah, terutama isya dan subuh yang pahalanya melebihi ibadah malam berjam-jam.

Apa saja isi ceramah?

Isi ceramah mencakup tiga struktur utama: Pendahuluan (salam, penghormatan, pengantar topik), Isi (pemaparan argumen, fakta, dan gagasan utama yang dikembangkan), serta Penutup (kesimpulan, permintaan maaf, salam penutup). Tujuannya untuk menyampaikan pesan secara persuasif, informatif, atau persuasif dengan bahasa yang baku, sopan, mudah dipahami, serta didukung data atau fakta yang relevan untuk menarik perhatian dan memberikan pemahaman kepada audiens.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |