Liputan6.com, Jakarta - Pesantren Kilat (Sanlat) bukan sekadar rutinitas mengisi liburan sekolah di bulan suci, menjadi kesempatan untuk menanamkan karakter disiplin ibadah pada generasi muda secara intensif. Kultum Ramadhan dapat menjadi salah satu media dakwah yang relevan.
Penanaman disiplin dalam ibadah, mulai dari shalat tepat waktu, tilawah rutin, hingga pengendalian lisan, merupakan esensi utama dari pendidikan karakter Islami yang ingin dicapai melalui Sanlat. Tanpa kedisiplinan, ibadah hanya akan menjadi gerakan ritual tanpa jiwa yang rentan ditinggalkan saat kesibukan duniawi kembali melanda.
Oleh karena itu, narasi dalam setiap sesi kultum perlu dirancang untuk mengubah pola pikir peserta bahwa ketepatan waktu dalam menghadap Sang Pencipta adalah cerminan integritas tertinggi seorang hamba, yang dampaknya akan terasa dalam keteraturan aspek kehidupan lainnya.
Imam An-Nawawi dalam kitab syarah hadits monumentalnya, Riyadhus Shalihin, menjelaskan bahwa amalan yang dilakukan dengan disiplin (dawam) dan berkesinambungan, meskipun volumenya kecil, jauh lebih utama dibandingkan ibadah yang banyak namun terputus. Berikut ini adalah 7 Kultum Ramadhan acara pesantren kilat tentang disiplin ibadah.
Kultum Ramadhan 1: Disiplin Shalat Tepat Waktu (Pondasi Disiplin)
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin, wash-sholatu was-salamu 'ala asyrofil anbiya wal mursalin, wa 'ala alihi wa shohbihi ajma'in. Amma ba'du.
Adik-adik peserta Pesantren Kilat yang dirahmati Allah, serta Bapak/Ibu guru yang saya hormati. Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman dan kesehatan sehingga bisa berkumpul di bulan mulia ini.
Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas hal paling mendasar dalam disiplin seorang muslim, yaitu disiplin shalat. Ramadan bukan hanya soal menahan lapar, tapi melatih kita untuk tepat waktu. Jika saat berbuka kita bisa sangat tepat waktu menunggu azan maghrib, mengapa untuk shalat lima waktu kita sering menunda-nunda?
Disiplin waktu dalam shalat adalah cermin dari prioritas hidup kita. Allah SWT tidak hanya memerintahkan shalat, tetapi juga menekankan waktunya. Ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan manajemen waktu yang sangat ketat dan teratur melalui ibadah shalat.
Mari kita perhatikan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surah An-Nisa ayat 103 berikut ini:
إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتْ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ كِتَٰبًا مَّوْقُوتًا
Artinya: "Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (QS. An-Nisa: 103).
Ayat di atas menegaskan bahwa shalat memiliki "mauquta" atau batasan waktu tertentu. Kita tidak bisa shalat Zhuhur di waktu Ashar tanpa alasan syar'i, atau shalat Subuh saat matahari sudah tinggi. Ketetapan ini melatih kita untuk disiplin dan tidak menyepelekan janji pertemuan dengan Allah.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, seorang ulama besar, pernah menjelaskan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah shalat di awal waktu. Beliau menekankan bahwa menunda shalat tanpa uzur adalah tanda lemahnya iman dan kurangnya disiplin rohani dalam diri seorang hamba.
Oleh karena itu, adik-adik sekalian, mari jadikan Ramadan ini sebagai titik balik. Ketika mendengar azan, segera tinggalkan aktivitas bermain, gadget, atau obrolan. Jadikan panggilan Allah sebagai prioritas utama di atas segalanya.
Jika kita bisa disiplin shalat di awal waktu selama 30 hari Ramadan, insya Allah kebiasaan ini akan terbawa di sebelas bulan lainnya. Orang yang sukses dalam urusan dunia dan akhirat biasanya adalah mereka yang paling menghargai waktu shalatnya.
Marilah kita tutup kultum ini dengan doa bersama. Allahummaj'alna min muqimis shalah. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendirikan shalat dan menjaga waktu-waktunya dengan disiplin dan khusyuk. Amin ya Rabbal 'alamin.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kultum 2: Disiplin Menjaga Lisan saat Berpuasa
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah yang telah mensyariatkan puasa untuk menyucikan jiwa kita. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada teladan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya.
Teman-teman peserta Pesantren Kilat yang saya banggakan. Hari ini kita memasuki pembahasan tentang disiplin yang seringkali lebih sulit daripada menahan lapar, yaitu disiplin menjaga lisan atau ucapan.
Seringkali kita melihat orang yang kuat tidak makan dan minum dari subuh sampai maghrib, namun lisannya tidak berhenti menggunjing, berbohong, atau berkata kasar. Padahal, inti dari puasa adalah al-imsak atau menahan diri, termasuk menahan lisan dari hal yang sia-sia.
Rasulullah SAW memberikan peringatan keras tentang hal ini. Beliau mengingatkan bahwa puasa bukan hanya sekadar memindahkan jam makan, tetapi sebuah paket disiplin totalitas tubuh dan rohani.
Simaklah hadits Rasulullah SAW berikut ini:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Artinya: "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan." (HR. Bukhari).
Hadits ini sangat menohok. Penjelasan para ulama menyebutkan bahwa Allah tidak membutuhkan "diet" kita. Jika lisan masih kotor, pahala puasa bisa gugur dan yang tersisa hanyalah rasa lapar dan dahaga semata. Ini adalah kerugian yang sangat besar.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin membagi puasa menjadi tiga tingkatan. Tingkatan puasa yang paling tinggi adalah puasanya hati dan anggota badan dari dosa. Beliau menekankan bahwa menjaga lisan dari ghibah dan dusta adalah syarat mutlak untuk mencapai derajat puasa khawas (orang-orang khusus/shaleh).
Maka dari itu, disiplin lisan di bulan Ramadan harus kita latih. Sebelum bicara, pikirkan dulu: apakah ini benar? Apakah ini baik? Apakah ini bermanfaat? Jika tidak, maka diam adalah pilihan emas.
Mari kita hiasi lisan kita dengan dzikir dan tilawah, bukan dengan keluhan atau ejekan kepada teman. Jadikan Ramadan sebagai madrasah untuk melatih tutur kata yang sopan dan santun.
Ya Allah, jagalah lisan kami dari perkataan kotor, dusta, dan ghibah. Masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang puasanya Engkau terima dengan sempurna.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kultum 3: Disiplin Tilawah Al-Qur'an (Target Khatam)
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillahilladzi anzala 'ala 'abdihil kitab. Segala puji bagi Allah yang menurunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk. Semoga shalawat tercurah kepada Nabi Muhammad SAW sang pembawa wahyu kebenaran.
Adik-adik santri kilat yang dimuliakan Allah. Ramadan disebut juga sebagai Syahrul Qur'an atau bulannya Al-Qur'an. Maka, disiplin ibadah kita tidak akan lengkap tanpa adanya target membaca Al-Qur'an.
Banyak dari kita yang merasa berat membaca satu juz sehari, padahal kita sanggup menatap layar HP berjam-jam. Disiplin tilawah membutuhkan pemaksaan diri di awal, yang lama-kelamaan akan menjadi kebutuhan dan kenikmatan.
Rasulullah SAW sangat menganjurkan kita untuk dekat dengan Al-Qur'an, karena ia akan menjadi sahabat setia kita di hari kiamat nanti saat tidak ada pertolongan lain.
Mari kita renungkan hadits nabi berikut:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
Artinya: "Bacalah Al-Qur'an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat memberi syafaat (pertolongan) bagi sahabat-sahabatnya (pembacanya)." (HR. Muslim).
Kata "sahabat" dalam hadits di atas menyiratkan kebersamaan yang intens dan disiplin. Kita tidak disebut sahabat jika hanya bertemu setahun sekali. Begitu juga dengan Al-Qur'an, kita harus disiplin membacanya setiap hari agar ia mengenali kita di hari kiamat.
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa para Salafus Shalih (orang-orang terdahulu yang shaleh) memiliki disiplin luar biasa terhadap Al-Qur'an di bulan Ramadan. Bahkan Imam Syafi'i mampu mengkhatamkan Al-Qur'an berkali-kali di bulan ini, bukan karena terburu-buru, tapi karena keberkahan waktu yang Allah berikan pada orang yang disiplin.
Untuk adik-adik, mulailah dengan target yang realistis namun konsisten. Misalnya, One Day One Juz atau minimal 5 lembar setiap selesai shalat fardhu. Kuncinya adalah istiqamah (konsisten), bukan kecepatan.
Jangan biarkan hari berlalu tanpa membuka mushaf. Jadikan tilawah sebagai istirahatnya jiwa kita dari hiruk-pikuk dunia dan media sosial.
Ya Allah, sinarilah hati kami dengan cahaya Al-Qur'an, jadikanlah Al-Qur'an sebagai imam, cahaya, petunjuk, dan rahmat bagi kami. Terimalah bacaan kami di bulan suci ini.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kultum 4: Disiplin Qiyamul Lail (Tarawih & Tahajjud)
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Bismillah, walhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah yang menghidupkan malam-malam Ramadan dengan cahaya ibadah. Shalawat dan salam untuk Rasulullah SAW, ahli qiyamul lail sejati.
Peserta Pesantren Kilat yang saya cintai. Salah satu ciri khas Ramadan adalah shalat Tarawih. Namun, tantangan terbesarnya adalah disiplin. Biasanya, shaf masjid penuh di awal Ramadan, namun semakin maju tanggalnya, shaf semakin maju (semakin sedikit).
Disiplin Qiyamul Lail (shalat malam) adalah ujian kesungguhan cinta kita kepada Allah. Saat orang lain tidur nyenyak, orang yang disiplin akan berdiri tegak menghadap Rabb-nya, melawan rasa kantuk demi ampunan dosa.
Shalat malam memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Ini adalah sarana paling ampuh untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menghapus dosa-dosa yang telah lalu.
Perhatikan janji Rasulullah SAW dalam hadits berikut:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: "Barangsiapa melakukan qiyam Ramadan (shalat tarawih/malam) karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini menggunakan kata "qama" (berdiri/bangun) yang menyiratkan aktivitas fisik yang membutuhkan usaha. Syaratnya adalah Imanan (karena iman) dan Ihtisaban (ikhlas mengharap ridho Allah), bukan karena malu dengan tetangga atau teman.
Seorang ulama Tabi'in, Hasan Al-Basri, pernah ditanya oleh seseorang yang sulit bangun malam. Beliau menjawab, "Dosa-dosamu telah mengikatmu." Artinya, ketidakdisiplinan kita bangun malam bisa jadi karena banyaknya dosa yang memberatkan langkah kita.
Maka, mari kita lawan rasa malas itu. Jangan tinggalkan Tarawih hanya karena alasan capek bermain atau kekenyangan berbuka. Sempurnakan dengan witir, dan jika mampu, bangunlah untuk Tahajjud sebelum sahur.
Disiplin qiyamul lail di bulan Ramadan adalah latihan militer bagi jiwa. Siapa yang lulus bulan ini, ia akan menjadi pribadi yang tangguh di bulan-bulan lainnya.
Ya Allah, berilah kami kekuatan untuk menegakkan malam-malam Ramadan dengan sujud dan rukuk kepada-Mu. Hapuskanlah dosa-dosa kami melalui kelelahan ibadah kami.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kultum 5: Disiplin Sedekah (Melawan Kikir)
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang Maha Kaya dan Maha Pemberi Rezeki. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang kedermawanannya melebihi angin yang berhembus.
Adik-adik sekalian yang dirahmati Allah. Disiplin ibadah tidak hanya hubungan kita dengan Allah (Hablumminallah), tapi juga hubungan dengan sesama manusia (Hablumminannas). Salah satu wujudnya adalah disiplin bersedekah.
Ramadan adalah bulan kedermawanan. Setan menakut-nakuti kita dengan kemiskinan agar kita pelit, tetapi Allah menjanjikan ampunan dan karunia bagi mereka yang disiplin menyisihkan hartanya, sekecil apapun itu.
Allah menjamin bahwa harta yang disedekahkan tidak akan berkurang, justru akan bertambah dan berkembang dengan keberkahan yang berlipat ganda.
Simaklah firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 261:
مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ
Artinya: "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki." (QS. Al-Baqarah: 261).
Para ulama, seperti Ibnu Rajab Al-Hanbali, menjelaskan bahwa kedermawanan Nabi SAW di bulan Ramadan mencapai puncaknya. Menggabungkan puasa dan sedekah adalah salah satu sebab dijaminnya surga dan dijauhkannya dari neraka.
Disiplin sedekah bagi pelajar tidak harus menunggu kaya. Kalian bisa menyisihkan uang jajan, berbagi takjil dengan teman, atau memasukkan infaq ke kotak amal masjid setiap hari walau hanya seribu rupiah.
Yang dinilai Allah bukan nominalnya, tapi keistiqamahan dan keikhlasannya. Membiasakan tangan di atas (memberi) sejak dini akan membentuk karakter muslim yang peduli dan tidak egois.
Mari kita targetkan, tiada hari di bulan Ramadan ini tanpa sedekah, sekecil apapun bentuknya. Semoga ini menjadi bukti bahwa kita tidak diperbudak oleh harta.
Ya Allah, bersihkanlah harta kami dengan zakat dan sedekah. Jadikanlah kami hamba-Mu yang dermawan, dan jauhkanlah kami dari sifat kikir dan tamak.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kultum 6: Disiplin Sahur (Mengambil Berkah)
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah yang memberikan keberkahan di dalam bulan suci ini. Shalawat serta salam mari kita haturkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Teman-teman Pesantren Kilat yang berbahagia. Mungkin ada di antara kita yang malas bangun sahur karena mengantuk, atau merasa kuat puasa tanpa sahur. Namun, dalam Islam, makan sahur bukan sekadar mengisi perut, melainkan sebuah ibadah sunnah yang sangat dianjurkan.
Disiplin bangun sahur melatih kita untuk mengatur waktu tidur dan bangun lebih awal. Ini adalah waktu istimewa di mana doa-doa dikabulkan dan malaikat memohonkan ampunan bagi mereka yang bersahur.
Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan sahur dan memerintahkan umatnya untuk bersahur meskipun hanya dengan seteguk air, karena di dalamnya terdapat "Barakah".
Mari kita dengarkan hadits Rasulullah SAW:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
Artinya: "Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam makanan sahur itu terdapat keberkahan." (HR. Bukhari dan Muslim).
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Baari menjelaskan bahwa keberkahan sahur bisa bermakna ganda: berkah secara fisik (kuat beribadah dan puasa) dan berkah secara rohani (mendapatkan pahala sunnah dan waktu mustajab untuk berdoa di sepertiga malam).
Jadi, jangan biarkan rasa kantuk mengalahkan keberkahan ini. Disiplin sahur mengajarkan kita untuk tidak menuruti hawa nafsu tidur. Bangunlah, makanlah secukupnya, lalu manfaatkan waktu yang tersisa untuk istighfar dan shalat subuh berjamaah.
Jangan sampai kita begadang semalaman lalu tidur setelah subuh. Itu adalah pola yang salah. Pola yang benar adalah tidur lebih awal, bangun untuk sahur, dan menjaga shalat Subuh.
Semoga disiplin bangun sahur ini melatih kita menjadi pribadi yang siap bangun pagi dan menjemput rezeki serta ilmu di pagi hari yang berkah.
Ya Allah, berkahilah kami di bulan Ramadan ini, berilah kekuatan fisik dan rohani untuk menjalankan puasa, dan bangunkanlah kami di waktu-waktu terbaik untuk menyembah-Mu.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kultum 7: Istiqamah Pasca Ramadan (Puncak Disiplin)
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah yang telah membimbing kita menjalani hari-hari Ramadan. Shalawat dan salam untuk Baginda Rasulullah SAW.
Adik-adik peserta Pesantren Kilat yang saya banggakan. Ini adalah materi terakhir kita tentang disiplin ibadah. Pertanyaan terbesarnya adalah: Apa yang terjadi setelah Ramadan pergi? Apakah masjid akan kembali sepi? Apakah Al-Qur'an akan kembali berdebu?
Ukuran keberhasilan Ramadan seseorang bukan dilihat dari seberapa baru baju lebarannya, tapi seberapa membekas disiplin ibadahnya setelah Ramadan usai. Inilah yang disebut dengan Istiqamah.
Allah SWT menjanjikan kedudukan yang mulia bagi mereka yang istiqamah, tidak goyah imannya meskipun suasana Ramadan telah berlalu.
Allah berfirman dalam Surah Fussilat ayat 30:
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Tuhan kami ialah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: 'Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu'." (QS. Fussilat: 30).
Sahabat Nabi, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, mendefinisikan istiqamah dengan kalimat yang tegas: "Istiqamah adalah engkau lurus dalam perintah dan larangan, tidak berbelok-belok seperti liukannya musang."
Artinya, disiplin itu harus lurus dan konsisten. Jangan sampai kita rajin ibadah hanya karena musim Ramadan, lalu menjadi ahli maksiat di bulan Syawal. Jadilah Rabbani (hamba Allah yang taat setiap saat), bukan Ramadhani (hamba yang taat hanya di bulan Ramadan).
Oleh karena itu, mari kita buat tekad. Jika di Ramadan kita bisa shalat 5 waktu berjamaah, pertahankan itu. Jika kita bisa baca Quran setiap hari, lanjutkan walau hanya 1 halaman. Pertahankan disiplin ini sampai ajal menjemput.
Semoga Pesantren Kilat ini menjadi batu loncatan bagi kita untuk menjadi pribadi yang lebih disiplin dan bertakwa sepanjang tahun, tidak hanya musiman.
Ya Allah, wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu. Anugerahkanlah kami keistiqamahan hingga akhir hayat. Amin ya Rabbal 'alamin.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
People also Ask:
Apa saja judul kultum Ramadhan?
30 Ide Kultum Ramadan untuk Inspirasi Selama PuasaPuasa sebagai Perisai Diri dari Dosa.Rahasia Keistimewaan Ramadhan.Hubungan Puasa dan Takwa.Keutamaan Sahur dan Berkahnya.Orang yang Berpuasa Akan Mendapat Dua Kebahagiaan.Pahala Besar bagi Orang yang Memberi Makan Berbuka.Puasa sebagai Pintu Menuju Surga Ar-Rayyan.
Apa saja kegiatan pesantren kilat Ramadhan?
Selain membahas mengenai ibadah puasa, pada pesantren kilat ini juga ada kegiatan lainnya, seperti membahas mengenai salam, ceramah keislaman, tadarus Al-Qur'an, dan sesi tanya jawab oleh para siswa.
Apakah kultum harus 7 menit?
Tidak, kultum tidak harus selalu tepat 7 menit, meskipun "kultum" adalah singkatan dari Kuliah Tujuh Menit, namun durasinya fleksibel, bisa 5, 7, atau bahkan 10 menit, tergantung kebutuhan acara; yang terpenting adalah pesan moral dan agama tersampaikan secara padat, singkat, dan mudah dipahami.
Apa saja 4 keistimewaan di bulan Ramadhan?
Apa saja keutamaan Bulan Suci Ramadhan?Bulan Diturunkannya Kitab Suci Al – Qur'an. ...Pahala yang Dilipatgandakan. ...Malam Lailatul Qadar. ...Dikabulkannya Doa. ...Pintu Surga Dibuka.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/744355/original/077375600_1412055173-ihram.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417717/original/026810000_1763544372-Ilustrasi_Sholawat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5379321/original/037457900_1760341735-sholawat_fatih.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4725886/original/008571900_1706156981-madrosah-sunnah-XvJYidRmpUE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5487326/original/073426000_1769661836-paket_unik.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5404200/original/010661400_1762398082-sholawat_mansub_sendiri.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5068928/original/026798500_1735285005-147116947457b043c25600c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3551921/original/049297800_1629963863-muslim-woman-pray-hijab-praying-mat-indoors_73740-638__5_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4195529/original/072417900_1666083849-062171100_1628127938-pexels-themrdan-4331578.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5377515/original/045535000_1760099331-Solat_Sunnah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417359/original/042139100_1763531098-ilustrasi_sholat_jenazah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5080366/original/098387100_1736160174-1736156793388_caption-quotes-islami-singkat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3416616/original/004756200_1617207185-utang_puasa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4858180/original/029627600_1717939832-WhatsApp_Image_2024-05-29_at_10.56.30.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4758315/original/039700600_1709260395-front-view-person-reading-from-holy-book.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5136138/original/060086900_1739846594-20250218-Tradisi_Nyadran-AFP_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3360466/original/061604200_1611722074-the-dancing-rain-N1xBagwnR1E-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5487330/original/067858300_1769662270-Gemini_Generated_Image_xzzxxgxzzxxgxzzx_2.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5153029/original/005485600_1741320049-islamic-family-with-delicious-food-medium-shot.jpg)





























