Sebaran Flu Burung Dipengaruhi Jarak dan Pergerakan Burung

4 hours ago 4

SEBUAH studi terbaru mengungkap bahwa penyebaran flu burung tidak hanya dipengaruhi migrasi jarak jauh, tapi juga pergerakan harian burung liar, seperti bebek, angsa, dan unggas air lainnya.

Penelitian yang melibatkan ilmuwan dari University of Georgia dan berbagai lembaga riset global ini menganalisis ribuan burung. Hasilnya menunjukkan bahwa lingkungan, aktivitas manusia, dan perilaku burung saling berkaitan dalam membentuk pola penyebaran penyakit.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Unggas air merupakan pembawa alami influenza avian (H5N1) yang menyebar saat burung terinfeksi berpindah tempat. Meski migrasi jarak jauh tetap berperan, studi yang telah dipublikasikan dalam jurnal Ecology Letters ini menyoroti pentingnya pergerakan jarak pendek, terutama pada musim berkembang biak dan musim dingin, yang juga memengaruhi dinamika penyebaran virus.

Peneliti menemukan bahwa pergerakan burung dipengaruhi kondisi lingkungan seperti tutupan lahan, vegetasi, cuaca, dan kepadatan manusia. Burung cenderung bergerak lebih jauh ketika makanan sulit ditemukan atau habitat terbatas, dan sebaliknya akan lebih menetap jika sumber daya tersedia di sekitarnya.

“Burung itu seperti kita. Mereka selalu merespons apa yang ada di sekitarnya, entah itu ketersediaan makanan atau gangguan dari manusia atau hewan lain,” kata Claire Teitelbaum, penulis utama studi, dikutip dari laporan Earth, 8 April 2026. 

Analisis terhadap lebih dari 4.600 burung dari 26 spesies di Belahan Bumi Utara juga menunjukkan bahwa burung bergerak jauh lebih sedikit di wilayah dengan keragaman habitat tinggi. Dalam lanskap yang lebih sederhana, pergerakan burung bahkan bisa meningkat hingga lebih dari enam kali lipat karena keterbatasan sumber daya. “Jika kita menyediakan habitat yang cukup beragam dan menarik, hewan-hewan ini mungkin akan memilih untuk tetap tinggal,” tuturnya.

Selain itu, aktivitas manusia turut memengaruhi pola pergerakan. Wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi yang memiliki taman, lahan basah, atau kawasan lindung dapat menarik burung, tapi infrastruktur seperti jalan dan bangunan juga dapat membatasi pergerakan mereka. Dalam kondisi ini, burung cenderung bergerak lebih sedikit dibandingkan di daerah terpencil.

Dalam pengukuran jarak, burung rata-rata menempuh sekitar 1,9 kilometer dalam 12 jam dan sekitar 7,6 kilometer dalam seminggu. Jarak ini meningkat hingga 2,5 kali pada musim dingin karena keterbatasan makanan, sementara pada musim berkembang biak burung cenderung tetap dekat sarang sehingga meningkatkan kepadatan di satu area.

Ketika dibandingkan dengan data kasus flu burung, peneliti menemukan bahwa semakin jauh burung bergerak, semakin luas pula penyebaran virus. Namun, pergerakan yang rendah juga memiliki risiko karena dapat meningkatkan penularan lokal akibat kepadatan tinggi. 

“Jika kita ingin mencegah flu menyebar, kita mungkin ingin mencari cara agar burung tetap di satu tempat, tapi ada sisi lain. Wabah terjadi ketika burung berada dalam kepadatan tinggi, sehingga penularan lokal bisa meningkat,” kata Teitelbaum.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |