Kisah Inspiratif Silaturahmi yang Mendatangkan Keberkahan Hidup, Belajar dari Sahabat Nabi

6 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Dalam kehidupan modern yang serba individualistik, nilai-nilai kebersamaan dan hubungan kekerabatan seringkali terpinggirkan. Kisah inspiratif silaturahmi yang mendatangkan keberkahan hidup bisa menjadi teladan bagaimana umat Islam menjadikan silaturahmi menjadi bagian penting akhlakul karimah.

Di antara kisah inspiratif silaturahmi yang paling autentik tentu merujuk pada kisah di zaman Rasulullah SAW. Para sahabat menerapkan silaturahmi yang benar-benar mampu menghidupkan Islam secara keseluruhan.

Merujuk Jurnal Konsep Silaturahim dalam Alquran dan Implikasinya terhadap Pendidikan Agama Islam di Sekolah, oleh Utami Dewi, dkk, Al-Qur'an menegaskan bahwa silaturahmi adalah fondasi kehidupan yang membawa keberkahan. Silaturahmi dalam Alquran memiliki dimensi spiritual, sosial, dan edukatif yang mendalam.

Silaturahmi merupakan perintah Allah yang jika dilaksanakan akan mendatangkan rahmat, rezeki yang lapang, dan umur yang panjang. Sebaliknya, memutus silaturahmi membawa konsekuensi serius, baik di dunia maupun di akhirat.

Berikut ini liputan6.com rangkum kisah inspiratif silaturahmi yang mendatangkan keberkahan hidup bersumber dari ebook Kisah-Kisah Para Sahabat Rasul.

1. Silaturahmi Muhajirin dan Anshar, Ikatan yang Diikat Langsung oleh Allah dan Rasul-Nya

Setelah hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad SAW menyatukan kaum Muhajirin (yang meninggalkan harta dan keluarga di Mekkah) dengan Anshar (penduduk Madinah yang beriman) dalam ikatan ukhuwah Islamiyyah. Ikatan ini lebih kuat daripada ikatan darah, karena dibangun atas dasar iman.

Kisah Abdurrahman bin Auf dan Sa’ad bin Rabi’:

Sa’ad bin Rabi’, seorang Anshar dari suku Khazraj, dipersaudarakan dengan Abdurrahman bin Auf, seorang Muhajirin dari suku Quraisy yang sebelumnya hidup berkecukupan di Mekkah. Melihat saudara barunya tanpa harta, Sa’ad dengan tulus berkata:

“Saudaraku, aku adalah orang yang paling banyak hartanya di antara Anshar. Lihatlah, separuh hartaku aku berikan untukmu. Dan aku memiliki dua istri, pilihlah yang paling kau sukai, aku akan menceraikannya agar engkau dapat menikahinya.”

Abdurrahman bin Auf, dengan sikap penuh harga diri dan kepercayaan kepada Allah, menjawab dengan lembut:

“Semoga Allah memberkati hartamu dan istrimu. Aku tidak butuh itu. Tunjukkan saja padaku di mana letak pasar di kota ini.”

Dia kemudian pergi ke pasar, berdagang dengan kejujuran dan keuletan, hingga akhirnya menjadi salah seorang saudagar terkaya dalam sejarah Islam, namun tetap dermawan.

Kisah ini menunjukkan bahwa silaturahmi bukan tentang menggantungkan diri, tetapi tentang memberi ruang untuk kemandirian dengan dukungan moral dan kesempatan.

Ikatan ini melampaui materi. Anshar memberikan separuh harta tanpa pamrih, sementara Muhajirin menjaga kehormatan dengan tidak membebani. Inilah bentuk silaturahmi yang seimbang, yakni saling menguatkan, bukan saling memanfaatkan.

2. Abu Bakar Ash-Shiddiq, Menjalin Silaturahmi Meski Berbeda Keyakinan

Abu Bakar adalah sahabat yang sangat dekat dengan Nabi, namun ayahnya, Abu Quhafah, masih menganut agama nenek moyang. Meski berbeda akidah, Abu Bakar tidak pernah memutus hubungan sebagai anak.

Suatu ketika, setelah fathu Makkah (pembebasan Mekkah), Abu Bakar membawa ayahnya yang sudah tua dan buta menghadap Nabi untuk menyatakan masuk Islam. Nabi menyambutnya dengan hangat, dan berkata:

“Mengapa engkau tidak biarkan saja ayahmu tinggal di rumah, aku yang akan datang menemuinya?”

Abu Bakar menjawab:

“Wahai Rasulullah, lebih pantas dia yang datang kepadamu daripada engkau datang kepadanya.”

Di sini terlihat sikap menghormati orang tua tetap dijaga, meskipun dalam hal dakwah, Abu Bakar tegas. Bahkan setelah ayahnya masuk Islam, Abu Bakar tetap melayaninya dengan penuh bakti.

Silaturahmi dengan keluarga non-Muslim tidak boleh putus selama tidak berkaitan dengan pemurtadan akidah. Berbuat baik, menjenguk, dan menjaga komunikasi tetap dianjurkan selama dalam koridor kebaikan.

3. Umar bin Khattab, Khalifah yang Menyambung Silaturahmi dengan Rakyat Kecil

Sebagai khalifah, Umar tidak hanya memerintah, tetapi juga memastikan tidak ada rakyatnya yang tertinggal. Silaturahmi baginya adalah tanggung jawab sosial.

Pada suatu malam, Umar berkeliling kota untuk memastikan keadaan rakyatnya. Dia mendengar tangisan anak-anak dari sebuah gubuk. Setelah mendekat, dia melihat seorang janda sedang memasak air dengan batu, seakan-akan membuat sup, untuk menenangkan anak-anaknya yang kelaparan.

Umar langsung pergi ke Baitul Mal, mengambil tepung, kurma, dan minyak, lalu membawanya sendiri ke rumah janda itu. Dia bahkan turun tangan memasak untuk mereka.

Ketika ditanya oleh pembantunya:

“Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau tidak memerintahkan saja kami yang melakukannya?”

Umar menjawab:

“Jika aku menyerahkan urusan rakyatku pada kalian di dunia, siapa yang akan mempertanggungjawabkanku di akhirat nanti?”

Silaturahmi seorang pemimpin adalah dengan turun langsung, mendengar, dan bertindak. Hubungan tidak hanya di tingkat keluarga, tetapi meluas kepada semua orang yang membutuhkan. 

4. Utsman bin Affan, Menyambung Silaturahmi dengan Kebutuhan Dasar Umat

Sumur Raumah di Madinah dikuasai oleh seorang Yahudi yang menjual air dengan harga tinggi. Kaum muslimin kesulitan mendapatkan air bersih.

Utsman bin Affan mendatangi pemilik sumur dan menawarkan untuk membelinya. Pemilik itu menolak, tetapi bersedia menjual hak pengambilan air per hari.

Utsman membeli hak itu untuk satu hari penuh, lalu membebaskannya untuk umum. Keesokan harinya, orang-orang datang mengambil air gratis.

Melihat hal itu, pemilik sumur sadar bahwa “nilai sosial” sumurnya telah berkurang, akhirnya dia menjual seluruh sumur kepada Utsman dengan harga tinggi.

Utsman membelinya, lalu mewakafkannya untuk umat Islam selamanya.

Silaturahmi bisa diwujudkan dengan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Utsman tidak hanya menyambung hubungan antar manusia, tetapi juga menyambung kehidupan dengan sumber daya yang vital.

5. Ali bin Abi Thalib: Menjaga Silaturahmi di Tengah Konflik

Ali dikenal sebagai sosok yang sangat menjaga keutuhan keluarga, meski sering berada di tengah situasi politik yang panas.

Meski terlibat perselisihan politik dengan Muawiyah, Ali tetap mengajak dialog dan tidak memutus hubungan kekerabatan.

Bahkan dalam surat-suratnya, Ali sering mengingatkan Muawiyah tentang hubungan saudara seiman dan bahaya perpecahan.

Dalam salah satu suratnya, Ali menulis:

“Kita adalah saudara seiman, meski berbeda pendapat. Janganlah perbedaan ini memutuskan tali silaturahmi di antara kita.”

Ali juga dikenal sebagai pribadi yang mudah memaafkan dan lebih mengutamakan rekonsiliasi daripada balas dendam.

Silaturahmi harus tetap dijaga meski dalam situasi konflik. Perbedaan pendapat bukan alasan untuk memutus hubungan, terutama jika masih dalam ikatan keluarga atau sesama muslim.

Hikmah Silaturahmi untuk Keberkahan Hidup

1. Mendapat Rahmat Allah

Menjaga silaturahmi menjadikan seseorang dicintai Allah dan dilimpahi kasih sayang-Nya, baik di dunia maupun akhirat.

2. Rezeki Dilapangkan

Dengan mempererat hubungan kekerabatan, Allah membuka pintu rezeki yang tidak terduga, baik melalui bantuan saudara maupun jalan lainnya.

3. Umur Dipanjangkan dan Diberkahi

Silaturahmi tidak hanya memperpanjang usia secara biologis, tetapi juga membuat hidup lebih bermakna dan penuh berkah.

4. Terhindar dari Azab

Memutus silaturahmi mengundang kutukan dan siksaan, sementara menjaganya melindungi dari bencana sosial dan spiritual.

5. Memperkuat Jaringan Sosial dan Dukungan

Hubungan baik dengan keluarga dan sesama menciptakan sistem dukungan yang kuat dalam suka maupun duka.

6. Menjaga Akidah dan Akhlak

Silaturahmi mengingatkan manusia pada tanggung jawab kepada Allah dan sesama, sehingga memperkuat iman dan moralitas.

People Also Ask:

Silaturahmi akan memperpanjang umur dan membukakan pintu rezeki?

Hikmah Silaturahmi Membuka Pintu Rezeki

Salah satu hikmah silaturahmi yang paling dikenal adalah terbukanya pintu rezeki. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturahmi.”

Apa manfaat silaturahmi dalam kehidupan?

Silaturahmi dapat memperpanjang umur dan melapangkan rezeki. Hadits menyebutkan: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ (HR Bukhari – Muslim). - Allah memberikan rahmat kepada orang yang menyambung silaturahmi dan memutus rahmat bagi yang memutusnya.

3 Berkah Silaturahmi?

Fikih Silaturahmi (Bag. 3): Keutamaan Menyambung dan Bahaya ...Tiga berkah utama silaturahmi adalah dilapangkan rezeki, dipanjangkan umur, dan mempererat kasih sayang/persaudaraan, yang semuanya berpuncak pada keberkahan dunia dan akhirat karena merupakan ibadah yang mendatangkan rahmat dan pahala dari Allah SWT.

Apa janji Allah bagi orang yang menyambung silaturahmi?

Allah SWT sangat menyukai hambanya yang suka menjaga silaturahmi. Disebutkan dalam satu hadits, Allah SWT akan dekat kepada manusia yang ramah dan penuh perhatian kepada saudaranya. Pentingnya silaturahmi juga dapat menjauhkan kita dari neraka dan akan dimasukkan ke dalam surga kelak.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |