Liputan6.com, Jakarta - Dalam kehidupan sosial yang semakin kompleks, nilai-nilai adab islami dan akhlak seringkali terpinggirkan oleh kepentingan individu. Padahal, Islam menempatkan akhlak sebagai inti dari kesempurnaan iman, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Hibban)
Muhammad Abdul ‘Aziz al-Khuly, dalam kitab Al-Adab an-Nabawy, mengumpulkan dan menjelaskan 130 hadis Nabi yang fokus pada adab sehari-hari. Melalui penelitian Raihan Rasyid (2021), ditemukan bahwa banyak adab Islami yang sering terlupakan, padahal memiliki dampak besar dalam membangun harmoni sosial.
Adab-adab Islami bukanlah norma masa lalu, melainkan panduan hidup yang relevan hingga kini. Nilai-nilai ini sering terlupakan, padahal menjadi kunci terwujudnya masyarakat yang harmonis, penuh rahmat, dan beradab.
Berikut ini Liputan6.com ulas 13 adab islami dalam kehidupan sehari-hari yang sering dilupakan, lengkap dalil dan penjelasannya.
1. Larangan Menyakiti Tetangga
Al-Khuly menekankan bahwa menyakiti tetangga, baik dengan perkataan, perbuatan, atau sikap, adalah pelanggaran serius terhadap hak sosial. Nabi bahkan menyatakan bahwa seseorang tidak sempurna imannya jika tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِي جَارَهُ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya.” (HR. Bukhari, Muslim)
Imam Nawawi dalam Riyadhush Shalihin mengkategorikan menyakiti tetangga sebagai dosa sosial yang dapat mengurangi pahala ibadah. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari juga menjelaskan bahwa “tidak menyakiti” mencakup menjaga perasaan, kehormatan, dan hak property tetangga.
2. Anjuran Mempermudah Urusan, Bukan Memersulit
Dalam hadis ke-38, Al-Khuly menjelaskan bahwa Nabi selalu memilih jalan kemudahan dalam interaksi sosial. Ini mencakup mempermudah transaksi, memaafkan kesalahan, dan tidak membebani orang lain dengan tuntutan berlebihan.
يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا
“Permudahlah dan jangan kalian persulit, berilah kabar gembira dan jangan kalian buat orang lari.” (HR. Bukhari)
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebutkan bahwa “mempermudah urusan orang lain” adalah bagian dari ta’awun (tolong-menolong) yang diperintahkan Allah.
Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin juga menegaskan bahwa sikap mempersulit adalah bentuk kezaliman terselubung.
3. Menghormati Tamu
Al-Khuly menyebutkan bahwa menghormati tamu tidak hanya sekadar menyajikan hidangan, tetapi juga memberikan perhatian, senyuman, dan rasa aman. Tamu adalah anugerah dan ujian dari Allah atas keramahan pemilik rumah.
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari, Muslim)
Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menjelaskan bahwa hak tamu termasuk dalam hak sesama muslim yang wajib dipenuhi. Bahkan dalam tradisi Arab pra-Islam, menghormati tamu sudah dianggap sebagai kemuliaan, apalagi dalam Islam yang mensyariatkannya.
4. Larangan Berprasangka Buruk dan Memata-matai
Al-Khuly mengutip hadis-hadis yang melarang tajassus (mata-mata) dan su’uzhan (prasangka buruk). Keduanya merusak hubungan sosial dan menimbulkan permusuhan tanpa dasar yang jelas.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan bahwa prasangka buruk adalah “penyakit hati” yang dapat merusak ukhuwah. Syeikh Muhammad Abduh juga menegaskan bahwa Islam mengajarkan untuk selalu berhusnuzhan (berprasangka baik) selama tidak ada bukti nyata.
5. Kontrol Diri dari Marah
Marah adalah pintu setan yang dapat menghancurkan hubungan sosial dalam sekejap. Nabi mengajarkan untuk diam, duduk, atau berwudhu ketika marah.
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari, Muslim)
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami’ul Ulum wal Hikam menyebutkan bahwa mengendalikan marah adalah ciri ketakwaan. Imam Al-Mawardi juga menulis dalam Adabud Dunya wad Din bahwa kesabaran adalah fondasi akhlak mulia.
6. Tidak Banyak Bertanya yang Tidak Perlu
Bahwa banyak bertanya hal yang tidak penting dapat membuka pintu keraguan, perdebatan, dan fitnah. Nabi mencontohkan untuk fokus pada hal yang bermanfaat.
إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثًا: قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ
“Sesungguhnya Allah membenci tiga hal bagi kalian: gosip, banyak bertanya (yang tidak perlu), dan menyia-nyiakan harta.” (HR. Bukhari, Muslim)
Imam Asy-Syathibi dalam Al-Muwafaqat mengingatkan bahwa terlalu banyak bertanya dapat membebani diri dan orang lain. Syeikh Abdul Aziz bin Baz juga menyarankan untuk bertanya hanya pada hal yang diperlukan untuk ibadah atau muamalah.
7. Adab Berbicara: Menghindari Ghibah & Namimah (Adu Domba)
Di era media sosial, ghibah dan namimah sering terjadi dalam bentuk komentar negatif, penyebaran chat pribadi, atau konten yang mempermalukan orang lain.
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
“Dan janganlah ada di antara kalian yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kalian merasa jijik.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Imam Nawawi dalam Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa ghibah (membicarakan keburukan orang lain) termasuk dosa besar yang merusak ukhuwah. Sementara namimah (adu domba) lebih berbahaya karena memecah belah persaudaraan.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin membahas panjang lebar tentang bahaya lisan dan menyebut ghibah sebagai “penyakit sosial yang menyebar seperti api”.Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menegaskan bahwa ghibah tidak hanya tentang fakta, tetapi juga menyebutkan aib orang lain meski benar.
8. Adab terhadap Orang Tua (Birrul Walidain) di Luar Kebutuhan Materi
Banyak anak yang sudah memenuhi kebutuhan finansial orang tua, tetapi lupa memberi perhatian emosional, waktu berkualitas, atau bersikap sopan dalam komunikasi.
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isra: 23)
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menekankan bahwa birrul walidain tidak hanya tentang materi, tetapi juga sopan santun, merendahkan suara, dan tidak memotong pembicaraan mereka.Imam Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad meriwayatkan hadis bahwa “ridha Allah tergantung ridha orang tua, dan murka Allah tergantung murka orang tua.”
Syeikh Abdullah bin Jibrin dalam Fatawa Al-Mar'ah menyebutkan bahwa mengunjungi orang tua secara rutin, menelepon, dan mendengarkan cerita mereka adalah bentuk birrul walidain yang sering dilupakan.
9. Adab terhadap Tetangga yang Non-Muslim
Di masyarakat multikultural, sering terjadi pengabaian hak tetangga hanya karena perbedaan agama atau keyakinan.
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan.” (QS. Al-Insan: 8)
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa “tawanan” dalam ayat ini termasuk non-Muslim, dan berbuat baik kepada mereka adalah bentuk akhlak universal Islam.Imam Ash-Shan'ani dalam Subulus Salam menegaskan bahwa hak tetangga tidak tergantung pada agamanya.
Nabi bersabda: “Dia tetap tetanggamu yang memiliki hak.”Dr. Yusuf Al-Qaradawi dalam Fikih Prioritas menyatakan bahwa berbuat baik kepada tetangga non-Muslim adalah dakwah bil hal (dakwah dengan perbuatan) yang lebih efektif.
10. Adab dalam Berselisih Pendapat (Ikhtilaf)
Di media sosial, perbedaan pendapat sering berujung pada saling mencaci, unfollow, atau tudingan sesat tanpa dasar ilmiah.
وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: 'Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang terbaik. Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka.’” (QS. Al-Isra: 53)
Imam Asy-Syathibi dalam Al-Muwafaqat menulis bab khusus tentang adab ikhtilaf, di antaranya: tidak memaksa pendapat, tidak mengklaim kebenaran mutlak, dan menghormati pihak yang berbeda.
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' mencatat bahwa ulama salaf sering berbeda pendapat tapi tetap saling menghormati dan mengunjungi.
Syeikh Wahbah Az-Zuhaili dalam Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu menekankan bahwa perbedaan pendapat dalam furu'iyyah (cabang) adalah rahmat, bukan laknat.
11. Adab terhadap Hewan & Lingkungan
Isu lingkungan sering dilihat sekadar isu global, padahal Islam sudah menekankan pentingnya menjaga alam sejak 14 abad lalu.
وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
“Dan apabila dia berpaling (dari kamu), dia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman dan keturunan. Dan Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS. Al-Baqarah: 205)
Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan hadis tentang perempuan yang masuk neraka karena mengurung kucing sampai mati, dan perempuan yang masuk surga karena memberi minum anjing kehausan.
Imam As-Suyuthi dalam Al-Itqan menulis bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari tugas kekhalifahan manusia di bumi.
Syeikh Ali Jumu'ah, mantan Mufti Mesir, dalam Al-Kalim At-Thayyib menegaskan bahwa polusi, pemborosan air, dan menyakiti hewan tanpa alasan syar'i adalah pelanggaran adab terhadap makhluk Allah.
12. Adab dalam Memanfaatkan Waktu
Kebiasaan scrolling media sosial tanpa tujuan, menunda-nunda pekerjaan, atau menghabiskan waktu untuk hiburan berlebihan adalah bentuk pemborosan waktu yang sering dianggap normal.
وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Al-Fawa'id menulis bab khusus tentang “menjaga waktu dari sia-sia”. Beliau menyebut waktu adalah modal kehidupan yang lebih berharga dari emas.
Imam Al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah menegaskan bahwa menghabiskan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat adalah bentuk kefasikan.
Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam Qimah Az-Zaman ‘Inda Al-Ulama’ mencatat bagaimana ulama salaf sangat menghitung detik-detik waktu mereka untuk ilmu dan ibadah.
13. Adab dalam Berpenampilan (Tidak Israf & Tidak Menyerupai Lawan Jenis)
Tren fashion berlebihan, pakaian ketat transparan, atau gaya unisex yang kaburkan batas gender sering diabaikan sebagai masalah adab.
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)
Imam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' Al-Fatawa menegaskan bahwa Islam mengatur pakaian untuk menutup aurat, tidak israf (berlebihan), dan tidak menyerupai lawan jenis (tasyabbuh).
Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj menjelaskan bahwa pakaian tidak boleh terlalu mewah hingga menyombongkan diri, juga tidak terlalu lusuh hingga merendahkan diri.
Syeikh Muhammad Al-Mukhtar Asy-Syinqithi dalam Syarh Zad Al-Mustaqni' menyebut bahwa menyerupai lawan jenis dalam pakaian atau perilaku adalah haram karena menghilangkan identitas gender alami.
People also Ask:
Apa saja adab dalam kehidupan sehari-hari?
Adab-adab itu antara lain
(1) adab berpakaian,
(2) adab makan-minum,
(3) adab berbicara,
(4) adab berdoa,
(5) adab mencari ilmu,
(6) ada tidur,
(7) adab mandi,
(8) adab kepada orang tua,
(9) adab bertamu,
(10) adab membaca kitab suci Al-Qur'an, dan lain-lain.
Apa saja bentuk adab yang harus kita tunjukkan kepada orang tua dalam kehidupan sehari-hari?
Perilaku hormat dan taat kepada orang tua bisa dilakukan dengan banyak hal seperti : membantu meringankan pekerjaan orang tua dengan mencuci piring sendiri, berdo'a belajar dengan rajin agar menjadi anak yang berprestasi, membantu membersihkan rumah, menjaga etika sopan santu baik ucapan, perbuatan dan lain sebagainya.
Adab islami apa saja yang harus diterapkan dalam pergaulan remaja di kehidupan sehari-hari?
- Menjaga sopan santun. Sopan santun diperlukan dalam bertindak dan berucap.
- Mengerti dan memahami.
- Selalu mengajak ke arah kebaikan.
- Saling membantu.
- Jujur dan Adil.
- Berjuang mencari ilmu.
Mengapa orang yang beradab lebih mulia ketimbang orang yang berilmu?
Kesimpulannya, ungkapan “beradab lebih utama daripada berilmu” mengingatkan kita bahwa ilmu yang kita miliki harus sejalan dengan perilaku baik dan moral yang tinggi. Dengan adab yang baik, ilmu bisa menjadi kekuatan yang positif untuk diri kita dan masyarakat.
Sebutkan 5 contoh adab kepada Allah?
Lima contoh adab kepada Allah adalah taat pada perintah-Nya, bersyukur atas nikmat-Nya, berzikir dan berdoa dengan khusyuk, ikhlas dalam beribadah, serta merasa diawasi Allah (muraqabah), yang semuanya mencerminkan ketundukan, penghormatan, dan keyakinan penuh kepada-Nya.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5121926/original/039550200_1738729829-1738723823107_muamalah-adalah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5423024/original/045605200_1764051067-Membaca_ayat_suci_al_quran__pexels_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417694/original/055901700_1763543336-Kultum_Singkat_tentang_Sabar.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4628436/original/095598200_1698637528-8712637.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2978888/original/058603600_1574829310-20191127-Lowongan-Pekerjaan-Dibuka-di-Job-Fair-Jakarta-TALLO-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3998634/original/078503800_1650277026-20220418-Tadarus_Al-Quran_di_Bulan_Ramadhan-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3097896/original/057966000_1586407258-concrete-dome-buildings-during-golden-hour-2236674.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5067115/original/068159000_1735273362-1735270416030_kata-kata-mutiara-islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4858180/original/029627600_1717939832-WhatsApp_Image_2024-05-29_at_10.56.30.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5309824/original/049461300_1754640312-56c16cba-d65e-4d65-9a2f-45a2fa7bdd9a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490521/original/051406700_1770014009-Ilustrasi_Puasa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3381448/original/032968300_1613719892-wooden-spoon-fork-as-clock-hands-white-plate_49149-1007.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5365523/original/042845000_1759199598-Dua_wanita_muslimah_membaca_buku.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490999/original/014133400_1770040826-Masjid_Agung_Demak.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5082627/original/054307600_1736234976-1736231853819_apa-itu-nisfu-syaban.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5326255/original/074223700_1756094319-pexels-mahmut-33108520.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4975448/original/020264400_1729564664-nisfu-syaban-adalah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490150/original/098329000_1770000559-Gemini_Generated_Image_pf6br7pf6br7pf6b.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429248/original/019447900_1618459697-pexels-michael-burrows-7129429.jpg)





























